
Keesokan harinya terdengar suara ketukan pintu apartemen William. Dengan sigap mbok Rum maraih gagang pintu dan memutar untuk membuka pintu itu. Setelah pintu terbuka, mbok Rum mempersilahkan tamu itu masuk.
“silahkan masuk tuan Toni. Tuan sudah menunggu di ruang kerjanya.”
Toni sang asisten pribadi sekaligus sahabat William semenjak remaja, segera berjalan ke arah ruang ruang kerja sang atasan. Sampai di depan ruangan itu, ia mengetuk pintu tiga kali. Setelah mendapat jawaban dari seorang yang ada di dalamnya, Toni bergegas masuk.
“Ini yang kau minta.” Ucap Toni langsung. Setelah menyerahkan sebuah dokumen yang diminta William, Toni menggeser kursi yang berhadapan dengan kursi William, dan duduk di sana.
William membuka dokumen itu tanpa melihat wajah Toni. Lalu dia membacanya dengan seksama. Senyum tipis tersungging di bibirnya, sangat tipis sampai tak ada yang menyadarinya.
“Apakah ada info yang tak kau masukkan dalam dokumen ini? Aku tidak mau ada sedikit saja yang terlupakan.
“Hem, ya, ini soal kakak kandung gadis itu. Orang itu sudah ada di cina untuk mencari jejak adiknya. Aku baru saja mendapatkan infonya pagi tadi. Dan sepertinya dia akan segera menemukan gadis ini. Aku tahu gadis ini ada di apartemenmu kan? Dia gadis yang salah masuk kamar.”
William melemparkan penanya tiba-tiba ke wajah Toni. “Apa maksudmu salah masuk kamar? Kau kira dia gadis seperti apa?”
“Wooo relaks boy.. santai. Itu hanya kiasan. Ngomong-ngomong kenapa ada dua penjaga di depan apartemenmu?”
“Kerjaan mamaku.”
“Jangan bilang kalau kau ketahuan lagi main dengan wanita.”
“Begitulah. Sebulan aku dipingit. Mereka terlalu menyayangiku sampai berbuat seperti itu.”
“Cih! Orang tuamu bukannya terlalu sayang. Mereka hanya tidak mau kau terus terusan membuat malu keluarga.”
“Kau benar-benar ingin jadi pengangguran?”
“Hahahaa silahkan kalau mau memecatku. Memang kau bisa hidup tanpaku? Belagu. Mana gadis itu? Aku mau melihatnya.”
“Kata-katamu sudah seperti perintah saja. Tidak boleh! Kau tidak boleh melihatnya. Awas kau macam-macam.”
__ADS_1
“Pelit! Biasanya kau menawariku bekasmu?”
“Yang ini masih ori. Tidak akan kubiarkan kadal sepertimu mendekatinya.”
“Tapi dia sekarang ada di apartemen seorang buaya. Bukannya lebih baik dia bersamaku?” ujar Toni sambil menaikkan sebelah alisnya.
William tak menjawabnya, dia hanya menaikkan satu jari tengahnya ke depan wajah Toni sebagai ejekan. Toni yang melihatnya hanya tertawa keras. Dia sangat suka menggoda sahabatnya di luar jam kantor seperti ini.
William menghela nafas pelan dan berucap, “Ton, handle semua pertemuan penting di perusahaan, bawa semua dokumen penting perusahaan ke apartemenku bila memerlukan tanda tanganku. Lalu... handle masalah kakak Angel. Tutup semua informasi mengenai keberadaan Angel di rumah ini. Pastikan keluarganya tidak akan bisa menemukannya kecuali aku sendiri yang mengijinkannya.” Senyum licik terlintas di bibirnya, dan membuat Toni berdecak.
“Aku makin penasaran tentang gadis ini? Makin keras kau menyembunyikannya, makin kuat keinginanku untuk melihatnya.”
“Nanti, aku akan mengenalkannya bila sudah waktunya.”
Setelah urusan Toni selesai, dia segera meninggalkan apartemen William. William hanya meliriknya sekilas lalu beralih ke jendela besar di sebelah meja kerjanya. Dia berdiri di depannya sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya.
Dia melihat ke arah luar jendela kaca besarnya. Ada sesosok gadis cantik yang tengah bermain dengan seekor kucing di taman bunga samping kolam renang. Tawa lebar menghiasi wajah cantiknya. Gadis itu dengan senangnya mengelus dan menciumi tubuh kucing tersebut.
‘Wil, dia hanya seorang gadis kecil yang polos. Kau tak berpikir untuk memangsanya bukan? Jangan sampai kau di cap sebagai pedofil. Ah.. aku iri dengan kucing itu. Andaikan yang ia ciumi bukan tubuh kucing itu. Andaikan aku yang.. Ah, William, kau benar-benar gila. Apa sebegitunya kau haus akan belaian?
Angel bertugas membersihkan taman dengan menyiangi rumput-rumput liar di sana. Lalu suara asing terdengar. Angel menoleh mengelilingi sekitar mencari asal suara itu. Dia melihat ada kucing yang terjebak di tepian balkon yang terletak di sebelah unit apartemen William. Angel terkejut karena mengkhawatirkan keadaan kucing cantik itu bila terjatuh. Dengan ketinggian beberapa puluh meter bisa dipastikan kucing itu akan mati bila terjatuh.
Area kolam renang dan taman ada di bagian belakang, yang kebetulan dekat dengan balkon milik tetangga unit apartemen. Ada sisi balkon yang kebetulan tidak ada sekat, jadi Angel bisa melihat jelas keberadaan kucing itu bergelantungan. Sepertinya kucing itu jatuh tanpa sengaja.
Tanpa berpikir panjang, Angel menaiki sisi balkon yang tingginya sekitar dua meter. Setelah ia berdiri di tepian pagar, kakinya sedikit melangkah di tepian tembok yang kebetulan sedikit menonjol sebagai pijakan. Ia panggil kucing itu agar mendekat karena tangannya tak dapat meraih tubuh kucing itu.
“Pusss.. ayo sini, ikut kakak. Lompat sini bisa kan..” rayu Angel kepada si puss. Kucing yang tadinya terus mengeluarkan suaranya sebagai tanda permintaan tolong, segera diam memandang tangan yang melambai tak jauh darinya. Entah karena dia menyadari kode yang diberikan Angel atau karena dia capek sendirian di sana, namun kucing itu benar-benar melompat ke arah Angel.
Dengan sigap dan cepat Angel spontan mengulurkan tangannya tanpa mengetahui kalau kakinya menjauh dari pijakannya. Angel berhasil menangkap tubuh kucing itu, namun tubuhnya juga berhasil ditangkap oleh seseorang. Tubuh Angel yang terhuyung untuk segera meluncur ke bawah segera ditahan oleh tangan kekar seorang pria.
William yang berada di balkon kamarnya, sedari awal selalu memperhatikan tiap gerak gerik tubuh Angel yang sedang mengerjakan tugasnya membersihkan taman. Melihatnya mencabuti rumput liar sambil bersenangdung pelan. Apalagi saat tangannya menggapai bunga mawar yang mekar di taman itu, Angel selalu mendekatkan hidungnya untuk menciumi bunga itu sembari tersenyum bahagia.
__ADS_1
Melihat senyum manis gadis kecil itu, William terpesona. Senyum tulus dan polos ternyata sangat menawan baginya yang selama ini hanya mendapatkan senyum kepalsuan dari para wanita yang mendekatinya. Ya, mereka semua mendekatinya hanya karena dia kaya. Mereka semua mendekatinya hanya karena kedudukan dan kekuasaan yang dimilikinya. Sangat memuakkan!
Tapi gadis ini lain. Gadis ini melakukan segala sesuatu dengan tulus, sepenuh hati. Apapun yang orang bilang mengenai kepolosannya, tapi justru itulah pesonanya berada. Di jaman sekarang, sudah jarang dijumpai gadis cantik yang begitu polos dan tulus. Ya, gadis ini sesuai dengan kata-kata orang diluaran yang mengatakan tentang kecantikan dalam sesuai dengan kecantikan di luarnya.
Namun saat matanya melihat gadis kecil itu melompati tembok tepian balkon, dia terhenyak dari segala pikirannya. ‘Apa yang dilakukannya?’
Saat tubuh Angel mengarah maju seiring majunya langkah kakinya yang tengah menyentuh lengkungan tembok pembatas, William segera lari secepat mungkin untuk mencegah sesuatu hal yang tak diinginkan. Dia berlari ke area taman, dan menaiki tembok tepi balkon juga untuk mendekati Angel.
Dan di saat yang tepat ia dapat merengkuh tubuh Angel sewaktu tubuh Angel terhuyung menjauhi tembok dan siap untuk terjun dari lantai tiga puluh apartemen tersebut. Ia tarik pinggang Angel dengan keras sampai mereka berdua akhirnya terjatuh di taman.
Brug! “Auch!” teriak William yang tubuhnya jatuh dengan posisi tubuh Angel yang berada di atasnya.
“Gila! Apa kau mau mati ha!” teriak William lagi dengan memegangi keningnya yang terkena benturan dari kepala Angel saat jatuh di atas tubuhnya.
“Ma—maaf tuan. Maafkan saya.” Ucap Angel sambil menundukkan badannya berkali-kali. “Tuan gimana? Apanya yang sakit? Maaf tuan, maaf...” ucap Angel sekali lagi dengan panik saat melihat kening William yang memar. Lalu matanya beralih memandang kucing yang ada di pelukannya. “Puss, kamu baik-baik saja kan?
William yang mendengar itu, langsung terhenyak dan mengalihkan pandangan matanya menuju makhluk hidup yang berada di pelukan Angel. “Sh*t! Kamu mengambil kucing itu tadi? Sampai mau mati?! Kamu itu bisa mikir tidak sih??!!!” teriak William kesal.
Angel mendengar kemarahan William Cuma bisa menundukkan kepalanya sambil memeluk erat kucing yang baru diselamatkannya. Dia baru menyadari keteledorannya yang mungkin bisa mencelakai dirinya juga. Dan bisa dia bayangkan bagaimana kalau dia benar-benar jatuh dari apartemen William.
Lalu dia mengeluarkan air matanya tanpa sadar. Dia teringat dengan keluarganya, bagaimana kalau dia benar-benar jatuh dan mati? Bagaimana dengan keluarganya? Apalagi saat ini tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Kalau itu terjadi, mungkin tubuhnya yang tanpa identitas akan jadi rebutan banyak orang. Organ dalamnya akan diambil dan dijual. Ah bayangan Angel terlalu jauh.
“Untuk apa kamu mengambil kucing itu?” pertanyaan William membuyarkan lamunan Angel.
“Maaf tuan, kasihan dia terjebak di sana. Kalau jatuh gimana?”
“Kamu tidak mau kucing itu jatuh, tapi kamu mau menjatuhkan dirimu sendiri. Begitu?”
“Tuan, lihatlah, di dekat balkon tetangga ada rangkaian listrik, nanti kalau dia kesetrum gimana?” ujar Angel sambil mengarahkan telunjuknya ke atas.
“Astaga gadis kecil, itu komponen ac! Tidak akan membuatnya kesetrum! Apalagi komponen ac itu sudah dilapisi penutup sebagai pelindung. Ya tuhan.. apa yang akan terjadi kalau kamu mati di sini?” jelas William dengan penuh penekanan sembari menyugarkan rambutnya ke belakang.
__ADS_1
“Hiks! Kalau Angel mati, tuan tidak akan menjual organ tubuh Angel kan? Jangan ya tuan.. Biar Angel kasih alamat rumah Angel dulu biar tuan bisa mengembalikan Angel ke rumah. Kasihan mama papa pasti sedih."
William terkejut dengan kata-kata Angel. Matanya melotot saat orang seperti William dituduh menjual organ tubuh. “Hei! Dengarkan aku, aku ini kaya raya bukan karena menjual organ tubuh manusia! Kamu ini benar-benar bikin aku... argh!.” ucap William sambil mengeratkan giginya.