
Keesokan harinya, di saat fajar menyingsing namun langit masih terlihat ranum. Telepon di nakas tempat tidur William berbunyi nyaring. Dengan mengangkat tangannya, dia raba meja nakasnya untuk mengambil ponsel itu.
"Halo.." Jawab William.
"Willi! Mama akan datang ke rumahmu dan menggantungmu sekarang juga! Jangan kau kira bisa mengelabui mama!"
"****!" William tertohok dan menegakkan tubuhnya saat mendengar suara mamanya yang nyaring. Dia tutup teleponnya dan segera bangun dari tidurnya. Dia menoleh melihat Melda, wanita yang masih terlelap di sebelahnya. Lalu dia menggoyangkan bahu Melda untuk membangunkannya. "Baby, plis bangun sekarang."
"Hmm..sayang, aku masih lelah. Kau benar-benar membuat badanku remuk."
"Plis baby, kau harus pergi dari sini."
"What!" Melda membuka matanya dan menatap William heran. "Apa maksudmu sayang? Apa kau mengusirku setelah menggunakanku?"
"No.. tidak baby, tapi ada hal penting yang akan terjadi di rumah ini. Mamaku akan segera datang. Dia akan benar-benar menggantungku kalau dia tahu ada kau di sini. Kau tahu kan bagaimana mamaku."
"Ya sudah biarkan mamamu melihat kita seperti ini. Lebih baik orangtuamu tahu sejak awal agar mereka menikahkan kita." Jawab Melda sambil mendudukkan dirinya tegak.
"Baiklah kalau itu yang kau harapkan. Namun jangan menyesal kalau aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Mamaku akan langsung mencoret namaku dari kartu keluarga kami." sahut William dingin.
"Hiss.. kalian ini keluarga yang aneh. Jaman sekarang beginilah cara hubungan pria wanita seharusnya. Kalau itu tabu di mata mereka, mereka bisa menikahkan kita kan. Kenapa harus begitu rumit." ucap Melda jengkel.
"Tidak baby, keluargaku sangat menjunjung tinggi harga diri."
"Maksudmu, aku tidak punya harga diri?"
"No.. maksudku bukan begitu. Keluargaku menganggap wanita yang bisa menjaga tubuhnya hanya untuk suaminya adalah wanita bermartabat dan punya harga diri yang tinggi."
__ADS_1
"****! Itu sama saja William! Kalian memang aneh!" Ucap Melda marah sembari memunguti pakaiannya untuk segera dipakainya lagi. "Aku akan segera pergi dari sini. Dan jangan harap kita berjumpa lagi. Kau benar-benar sudah merendahkan diriku Wil..!" Telunjuk Melda menunjuk ke depan wajah William dengan sengit.
William menyugarkan rambutnya ke belakang dan meraupkan tangannya di wajah, "Ah..sial!" ucapnya pelan dan hanya berdiam diri saat melihat teman kencannya itu berlalu keluar kamar dan meninggalkan dirinya. Dia mengikuti Melda keluar kamar dan menuju pintu utama apartemen.
William meraih tangan Melda dengan cepat sebelum dia berhasil menyentuh gagang pintu. Tubuh Melda tersentak dan memutar ke belakang. "Baby, plis don't angry with me. Semua akan baik-baik saja nanti, oke.." ucap William merayu sambil memeluk pinggang Melda erat. Dia menatap intens wajah Melda yang kuyu karena kelelahan melayaninya semalaman. Ya, tadi malam dia bagaikan singa kelaparan yang mengoyak mangsanya berkali-kali.
"Oke, aku tak akan marah lagi. Tapi tidak ada kata lain kali Wil." Sambut Melda tegas.
Tatapan mata mereka bertemu. Saling memandang dengan penuh kasih. Kemudian William mengambil inisiatif lebih dulu untuk mencium bibir pucat dan sedikit bengkak itu. Dia ******* dan menghisap dengan lembut bibir wanita seksi itu. Begitupun Melda, dia menyambut ******* William dengan sukarela. Saling menghisap dan berperang lidah dengan semangat.
Tak berapa lama, William menyudahi kegiatan itu sebelum dia kehilangan kendalinya. "Aku akan mengantarmu ke bawah, tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu. Mamaku akan segera tiba. Are you oke?" ujar William lembut.
"Oke, fine. Tapi kau harus janji akan menghubungiku setelah keadaan sudah baik kembali." jawab Melda manja.
Sebelum William turun ke lobby apartemen untuk mengantar Melda pergi, William memberikan perintah ke mbok Rum untuk membersihkan kamarnya dengan cepat.
Angel memunguti bantal dan guling yang berserakan. Ia menaruhnya di atas kasur namun terkejut kemudian. "Astaga, sprei tuan kenapa ada bercak-bercaknya gini sih? Masa sprei nya bisa jamuran gini? Aku ganti saja spreinya." ujar Angel sembari mengambil sprei baru di dalam laci.
Belum hilang keterkejutannya, Angel kembali terperangah saat melihat benda kecil berserakan. Dia ambil benda itu dan mengangkatnya untuk melihatnya lebih jelas. "Eh, kok ada balon di sini? Apa tadi malam tuan bermain balon sama temennya? Tapi kok balonnya lengket gini? ada airnya pula. Ini tisu juga kenapa banyak banget sih. Apa tuan muda lagi flu ya.."
Angel membersihkannya dengan giat. Dia tidak mau mengecewakan mbok Rum selaku guru yang mengajarkannya pekerjaan rumah. Dia pasang sprei baru di tempat tidur tuannya, lalu dia bersihkan debu-debu yang menempel di sekitar dengan vacum cleaner. Tidak lupa dia tempatkan balon-balon kecil tuan mudanya itu di laci nakas tempat tidur. Angel takut kalau membuang balon-balon itu, tuannya akan marah besar dan dia akan diusir. Setelah semuanya selesai, dia segera keluar dari kamar tuan mudanya, dan berjalan menuruni tangga untuk kembali ke dapur.
Tidak lama setelah Angel sampai di lantai bawah, pintu utama apartemen terbuka. Ada tuan mudanya yang masuk ke dalam bersama seorang wanita berusia lima puluhan yang masih sangat cantik. Wanita dengan perawakan tinggi sesuai khas nya sebagai wanita barat. Mereka berpapasan di ruang utama, Angel menundukkan kepalanya sambil menyapa ke dua orang yang dia tahu adalah tuan muda dan nyonya nya. William hanya berdehem tanpa menoleh sambil berbicara panjang lebar dengan mamanya.
"Tumben kau menyambut kedatangan mama di lobby bawah?" ucap mama Berta dengan sinis.
"Oh ayolah ma.. apa aku selalu buruk di matamu?"
__ADS_1
"Hmm.. mama tak bisa menjawabnya sekarang sebelum mama memeriksa kamarmu." jawab mama Berta penuh curiga.
William terkejut namun tetap memasang senyum manisnya. Dia dengan percaya diri mengantarkan mamanya untuk menuju kamar tidurnya. Untung saja dia sudah memerintahkan asisten rumah tangganya untuk segera membersihkan kamar tidurnya. Jadi mamanya tak akan curiga karena kamar tidurnya sudah bersih dari sisa kegiatannya semalam.
Sedangkan Angel yang tersenyum puas dengan pekerjaan yang baru saja dilakukannya, telah kembali ke dapur menemui mbok Rum yang sibuk menyiapkan sarapan untuk tuannya. "Mbok, aku sudah membereskan semua kekacauan di kamar tuan muda. Hebat kan aku mbok, dengan waktu singkat aku bisa membersihkan seluruh ruangan." ujar Angel dengan bangga.
"Hmm, bagus kau mengingat semua yang mbok ajarkan. Kejadian tadi akan terus terulang hampir setiap malam. Jadi kamu harus siap sedia untuk mengerjakan perintah tuan sewaktu waktu."
"Eh mbok tapi tuan itu aneh ya. Kamar tidurnya berantakan banget seperti abis perang bantal. Trus spreinya juga jamuran loh mbok, tapi tadi sudah aku ganti kok mbok."
"Ha.. perang bantal?
"Iya,, aku sama abang kalau abis main perang bantal pasti kamar jadi kacau gitu. Bukankah teman tuan muda menginap semalam? Pasti mereka main perang bantal seperti aku lakukan sama abang."
Mbok Rum yang mendengarnya cuma geleng-geleng kepala, tak menyangka betapa polosnya gadis kecil ini. "Lalu apa tadi maksudmu dengan sprei jamuran? Sprei tempat tidur tuan muda itu mahal dan berkualitas tinggi ngel, jadi mana ada jamuran?"
"Iya mbok..emang jamuran. Orang ada bercak-bercak kekuningan kok."
"Astaga nduk... itu bukan jamuran tapi... Ah susah jelasinnya ke anak kecil."
"Nah, yang lebih aneh lagi, tuan muda ternyata suka main balon mbok... Masa di lantai berceceran balon-balon kecil yang berisi air. Lengket pula airnya itu mbok. Semalam pasti tuan muda sama temannya seru banget mainnya ya mbok. sama kaya aku dan sahabatku kalau kami lagi gabut di rumah. Tapi tenang mbok, aku udah simpan balon-balon kecil itu ke dalam laci nakas nya tuan muda kok. Siapa tahu tuan nanti nyariin buat dipake main lagi sama temen-temennya." jelas Angel dengan senyum lebarnya.
Mendengar itu mbok Rum terperangah dengan mulut terbuka. Sprei jamuran... Balon-balon kecil.. apalagi ini gusti...
Belum sempat mbok Rum memberikan penjelasan, terdengar suara keras dari kamar atas.
"Mbok Rum!!!!!!!!!
__ADS_1