
Melda pulang ke rumah setelah kegiatan penting mereka, Dan William mengantarkannya sampai ke lobby karena dia tahu kalau mamanya akan segera tiba. Di sepanjang jalan menuju lobby, terutama saat mereka berdua di dalam lift, William selalu mencuri-curi kesempatan untuk mencium bibir Melda. Ah, andai mamanya tak meneleponnya, saat ini dia pasti masih bergelut di ranjangnya. William masih belum puas menikmati santapan gratis dari wanita yang ada di dekapannya ini. William benar-benar memanfaatkan segala kelebihannya untuk mendapatkan service gratis dari setiap wanita yang mendekatinya.
Setelah menghantarkan Melda masuk ke dalam taksi panggilannya, WIlliam melambaikan tangannya sambil memberikan ciuman jauh di saat mobil taksi tersebut mulai berlalu meninggalkan dirinya. Senyum nya memudar kala Melda sudah pergi dengan taksi tersebut. Cih, wanita seperti itu mengharapkan sesuatu yang lebih dariku, mimpi saja. Batinnya berkata seperti itu. Lalu tubuhnya berbalik untuk masuk kembali ke apartemennya.
Namun sebelum William melangkah menuju lift untuk masuk ke unit apartemennya, mobil roll royce berwarna hitam berhenti di depan lobby apartemen. Dia berbalik untuk melihat kedatangan mobil yang terlihat familier. Setelah mobil itu berhenti, supir turun terlebih dahulu, kemudian dia membukakan pintu belakang agar sang nyonya nya dapat keluar segera.
William tertegun, Ish, cepat sekali mak lampir ini sampai. Untung saja wanita tadi sudah pergi. Batin William. Lalu William melangkah mendekati mobil tersebut dan menyambut sang empunya. "Mah, pagi-pagi kok sudah absen ke sini?" Tanya William tanpa sungkan.
"Kenapa? Tidak boleh mama datang ke sini?" ujar mama Berta sinis. "Mama sedang sidak hari ini. Awas saja kalau mama lihat kau membawa wanita pulang ke apartemenmu. Habis sudah empritmu itu!"
"Mah.. kenapa harus emprit sih. Punyaku sudah jadi cucak rowo, bukan emprit lagi. Jangan memalukan putramu.."
"Cih, tetap tak akan bisa menandingi milik papamu." ucap mama Berta bangga.
"Oke.. aku mengalah.. Ayo kita masuk ma." Ucap William sambil menggandeng tangan mamanya menuju ke lift.
Tiba di unit apartemennya, William membukakan pintu utama dan lebih dulu mempersilahkan mamanya masuk. Mereka masuk menuju ruang utama, dan sekilas bertemu dengan asisten rumah tangga yang baru. Badannya langsing memakai kaos kedodoran dan celana panjang kombor, dan tidak lupa seperangkat masker yang selalu menempel di wajahnya. Wanita itu menundukkan kepalanya untuk menghormati nyonya dan tuannya yang baru saja masuk. William hanya melirik sekilas dan berdehem. Begitupun juga mama Berta yang tidak begitu mempedulikan keberadaan asisten rumah tangga putranya itu. Dia hanya melirik sekilas dan terus berjalan ke arah tangga untuk menuju ke kamar putranya. Pikiran mama Berta saat ini adalah tentang tingkah polah putranya yang selalu membawa tong sampah masuk ke kamarnya. Dan inilah yang membuat mama Berta tidak memperhatikan sekitar. Mama Berta sudah tidak sabar untuk menemukan kejanggalan yang akan ia temukan di kamar putranya. Para pengawalnya tidak mungkin berbohong saat mengatakan kalau William tengah membawa tong sampah ke dalam apartemennya. Ya.. tong sampah, tempat pembuangan kecebong dari dalam diri putranya itu. Mama Berta benar-benar sudah geram dengan segala kenakalan putra satu-satunya ini. Dan saat ini dia tidak akan mengampuni William apabila menemukan sesuatu yang janggal.
Setelah sampai ke depan pintu kamar William, mama Berta segera membukanya. Bola matanya mengitari seluruh ruangan kamar putranya. Anak nakal ini, ternyata cerdik juga. Dia sudah membersihkan kamar tidurnya, Tak putus asa, mama Berta mengelilingi kamar. Entah mengapa matanya tertuju pada laci meja nakas yang tidak tertutup rapat. Lalu ia buka laci itu, dan mengambil barang aneh yang ada di dalamnya. Dia angkat benda itu mendekati wajahnya kemudian tertegun. Anak sialan ini!
"William! Bisa kau jelaskan apa ini!"
"Astaga! Apa itu."
__ADS_1
Mama Berta melempar barang yang di ambilnya dari laci nakas, kemudian berlari menuju William dengan mengangkat tas jinjingnya dan memukulkannya ke kepala putra nakalnya itu. "William! mama akan membunuhmu sekarang!"
Mama Berta berusaha mengejar William yang terus menghindar dari pukulan mamanya. "Mah! ini kdrt namanya." ujar William sambil berlari mengitari kamarnya dengan mama Berta di belakangnya.
"Mama tidak peduli! Kau benar-benar nakal! Mama yakin kamu pasti tertukar di rumah sakit!"
"Mah, kalau aku tertukar, mana mungkin wajahku mirip mama dan papa?" ucap William sambil berdiri di atas kasurnya. "Ampun mah...sudah. Kepalaku sakit kena gesper tas mama."
"Mbok Rum!!!" teriak Wiliiam.
************************
Dan di sinilah mereka berada saat ini. Mama Berta duduk di atas sofa di ruang utama. William berlutut di bawah dengan beralaskan karpet di ruangan utama. Dan mbok Rum dan Angel berdiri tidak jauh dari mama Berta.
"Nyo, nyonya... saya tidak tahu maksud nyonya." jawab mbok Rum sambil menundukkan kepalanya.
"Siapa yang membersihkan kamar William?"
Mbok Rum melirik Angel yang saat ini tubuhnya bergetar ketakutan. Angel takut karena ia mengira ia tidak becus membersihkan kamar tidur tuannya. Padahal tadi dia sudah berusaha untuk membereskan semua kotoran yang berceceran di kamar tersebut. Dia juga merasa gagal dengan tanggung jawab yang sudah mbok Rum percayakan padanya.
"Ampun nyonya, saya yang membersihkan." Jawab Angel sambil berlutut dan menundukkan kepalanya.
"kamu asisten rumah tangga William yang baru kan?"
__ADS_1
"I--iya nyonya."
"Kenapa kamu memakai masker?"
Angel terkesiap dengan pertanyaan itu. "Ehm, saya sedang flu nyonya. Kan sekarang sedang musim korona."
"Baiklah, baiklah,, siapa namamu?"
"Ehm nama saya Siti nyonya.." jawab Angel sambil melirik mbok Rum.
"Baik Siti, sekarang saya tanya. Apa yang kamu temukan saat kamu membersihkan kamar William tadi?"
"Pertama saya masuk, kamar berantakan sekali seperti habis perang bantal nyonya. Lalu sprei tuan yang jamuran sudah saya ganti. Dan tisu-tisu yang berserakan di lantai juga sudah saya bersihkan."
"Cih, kamu masih belum bicara jujur rupanya."
"Ampun nyonya... saya tidak mengambil barang apapun di kamar tuan. Bahkan balon-balon kecil mainan tuan juga saya simpan kembali ke laci tuan. Sungguh nyonya, saya tidak bohong."
Mbok Rum terperangah dan akhirnya tepuk jidat mendengar Angel bicara mengenai balon-balon kecil tersebut. Gusti..kok ada anak gadis bentukan kaya gini lugunya. Tuan muda bakalan disunat lagi ini ceritanya.
"Haa.. balon-balon kecil?"
"Iya nyonya,, balon kecil mainan tuan." tutur Angel lagi dengan lugunya.
__ADS_1
"Hahahahaha!!!" Mama Berta tertawa keras saat mendengar jawaban polos asisten rumah tangga putranya tadi. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa anak gadis sebesar itu tidak tahu kon**m. Mama Berta yang tadinya ingin memukul kepala William karena ketahuan nakalnya, jadi ia urungkan saat mendengar kata-kata jenaka asisten rumah tangga barunya, namun sayangnya asisten rumah tangganya tersebut sudah pasti tidak tahu sebab dari tawa menggelegar yang keluar dari mulut nyonya nya.