
Melihat Gongyu membawa Melda menghampiri nenek dan kakeknya, Willi pun memutuskan membawa Angel menemui kakek dan neneknya.
Di sinilah mereka. Kakek dan nenek mengapit cucu perempuan terkecil mereka yang bersandar manja di bahu nenek. Gongyu dan Melda duduk bersebelahan, dan Angel duduk di sisi William. Kakek dan nenek terlihat bahagia seluruh keluarganya datang di malam tahun baru ini.
Xialin yang menatap William pun bertanya. "Kakak sepupu, apakah dia calon istrimu?" Tanya Xialin sambil melirik Angel.
"Iya, namanya Angel." jawab William dingin sambil meletakkan cangkir tehnya yang baru saja ia minum.
"Cantik sekali. Lalu di mana Toni?" Tanya Xialin sekali lagi. Namun sebelum William menjawabnya, jari nenek sudah mendarat di kening Xialin untuk menyentilnya.
"Auhk! Nenek sakit.."
"Kau itu centil sekali. Jaga sikapmu." ucap nenek sebal.
"Oh ayolah nenek, lihatlah semua kakakku sudah mempunyai pasangan. Sedangkan aku? Ayah dan ibu sepertinya tak ingin aku menikah."
"Mana mungkin seperti itu. Ayah dan ibumu hanya melindungimu. Kamu itu cantik, kamu itu permata keluarga, jadi wajar kalau semua berusaha melindungimu. Lagipula kau masih kecil."
Xialin menghela nafas panjang. "Nek, aku sudah dua puluh tahun dan belum pernah berpacaran. Jangankan berpacaran, melirik pria lain saja, ayah sudah memarahiku." Xialin menghembuskan nafas panjang dan melirik Angel, mengernyitkan kening. "Kak Willi, kekasihmu tampak masih muda. Berapa umurnya?"
"Delapan belas tahun."
"Apa! delapan belas tahun?? Gila! muda sekali. Bahkan lebih muda dariku. Lihatlah nek.. kekasih Willi saja masih kecil, masa aku tidak diijinkan punya pacar."
Gongyu menyeringai lalu menyahut, "Xialin, jaman sekarang banyak remaja yang mencari sugar daddy."
"Xialin mengerutkan keningnya tanda tak paham. "Sugar daddy? apa itu kak?"
"Sugar daddy adalah laki-laki dengan usia yang matang yang mempunyai kekasih dengan usia jauh dibawahnya. Dan wanitanya disebut sugar baby. Banyak remaja yang rela menjadi simpanan bahkan istri ke sekian hanya untuk mendapatkan materi lebih."
"Oh ya..? Jadi kalau aku mendekati Toni, apakah aku juga disebut sugar baby?"
Nenek kembali menyematkan cubitannya pada lengan Xialin gemas.
__ADS_1
"Ahk! Nenek.."
"Kau itu kenapa suka sekali menggoda Toni? Dia sudah dewasa, mana mungkin dia mau dengan gadis manja sepertimu." ucap nenek kesal.
"Aku tidak menggodanya nek. Aku benar-benar suka padanya. Kak Willi, ayolah dekatkan aku dengannya. Paksa dia untuk menerimaku."
William menatap Xialin lekat dan berucap. "Akupun tidak rela memberikanmu pada pria seperti Toni. Walaupun dia mempunyai latar belakang keluarga yang baik, tapi dia selalu bermain dengan banyak wanita."
"Cih! apa bedanya denganmu? Angel, ya Angel kan namamu? Apa kau tahu bagaimana tingkah laku kak WIlli selama ini?"
Angel pun terhenyak saat Xialin bertanya padanya. Dia menoleh ke arah William, kemudian menatap Xialin kembali. "Iya aku tahu. Bahkan aku yang membereskan kamarnya saat dia selesai bermain dengan tante itu."
Membereskan kamarnya?
Tante itu?
Dua kalimat kunci yang membuat semua yang ada di meja bundar itu bertanya-tanya.
Angel nampak biasa saat semua tatapan mata tertuju padanya. Lalu ia melanjutkan, "Iya, aku yang membersihkan kamar Willi karena aku asisten rumah tangganya. Dan saat dia membawa pulang tante itu, aku juga tahu."
Gongyu makin tersenyum puas saat Angel membuka sendiri jati dirinya. "Astaga Wil, seleramu makin rendah. Asisten rumah tangga kau kencani. Sangat tidak layak."
Melda yang mendengar pun ikut mencibir. William yang seorang cassanova mengencani asisten rumah tangganya dan membuang dirinya yang sangat berkualitas ini. Melda makin membusungkan dadanya sombong.
Xialin memandang semua orang di sana, dan merasa kasihan terhadap Angel. Dia membayangkan kalau dia ada di posisi Angel yang saat ini dipermalukan. Lalu pandangannya beralih pada Angel yang terlihat biasa saja.
"Ehm, kakak, jangan menghinanya. Apa salahnya dengan asisten rumah tangga. Mereka juga manusia." ucap Xialin dengan nada iba.
"Haiya, cucu kecilku ini memang sangat baik. Kau, Gongyu, jangan sembalangan belbicala." sahut kakek memuji Xialin.
"Tapi kek, wanita ini memang tidak pantas berada di antara keluarga kita."
"Gongyu! Jaga ucapanmu!" potong William dengan marah.
__ADS_1
"Sudah, sudah, kalian sesama saudara tidak boleh saling menghujat. Kita di sini untuk bersenang-senang. Kau, Gongyu, lebih baik kau berhenti mengurusi urusan sepupumu." ucap nenek menengahi.
"Nenekmu benal. Kita lebik baik mendengalkan musik saja. Ayo, siapa dali kalian yang mau memainkan musik di depan?" sahut kakek mengalihkan pembicaraan.
"Kakek, nenek, ijinkan kekasihku Melda memainkan piano di sana." ucap Gongyu mengusulkan Melda. Gongyu sengaja mengusulkan Melda untuk bermain piano karena Melda sangat mahir dengan piano. Melda yang terlahir dari keluarga kaya, memang mendapatkan banyak pelatihan musik selain pendidikan formal. Itu untuk menunjang status sosial keluarganya.
Melda yang disebut namanya pun mengangguk setuju. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan dengan angkuh menuju piano di depan. Setelah ia duduk di tempat duduk depan piano, ia duduk dengan anggun dan memulai meletakkan jemarinya pada not-not piano. Mulailah ia memainkan musik klasik.
Semua mata tertuju padanya. Melda tentu menggunakan kesempatan ini untuk semakin mendekatkan diri dengan keluarga Choi. Dan yang paling utama, dia ingin menunjukkan pada William bahwa dia adalah wanita yang paling pantas menjadi nona muda Choi. Dia akan membuat William menyesal telah menjatuhkan pilihannya pada gadis miskin itu.
Sedangkan di mata Angel, permainan piano Melda terlihat biasa saja. Seorang Angel yang notabene nona muda keluarga Mahendra, tentu sudah sangat biasa dengan permainan piano. Bukan hanya piano, namun banyak alat musik lain yang mampu ia mainkan. Karena semua tersedia di rumahnya.
Saat Melda selesai memainkan permainan pianonya, tepuk tangan terdengar dari seluruh orang yang berada di ruangan itu. Melda berdiri dari tempatnya dan sedikit mendongakkan kepalanya bangga. Dia melirik William yang juga sedang bertepuk tangan sebagai tanda menghargai usahanya. Namun tatapan William disalah artikan oleh Melda. Melda berpikir kalau William kagum dengan apa yang telah diperbuatnya.
Saat Melda kembali ke kursinya, ia tersenyum lembut pada Gongyu. Namun lirikan matanya jelas tertuju pada William. Melda merasa di atas angin saat ini. Gadis yang di bawa William tidak akan bisa menggapai langit dengan kemiskinannya.
Gongyu tersenyum bangga apalagi melihat kakek dan neneknya merasa terhibur. Dia yakin kakek dan neneknya akan mengalihkan perhatian padanya karena ia tidak salah memilih pasangan. Lalu terbesit ide licik di pikirannya. "Wil, kenapa tidak kau persilahkan kekasihmu untuk menampilkan sesuatu di sini? Anggaplah untuk menghibur kakek dan nenek kita."
"Kakak.. Jang--"
"Tentu saja" potong Wiliiam. "Sayang, apa kau bersedia? Aku tidak memaksa."lanjut William sambil menoleh ke arah Angel.
"Tentu saja. Ehm, aku ingin memainkan sitar. Karena alat musik itu baru saja aku mainkan beberapa hari. Jadi aku penasaran dengan hasil latihanku."
"Apa kau yakin Angel? Sitar adalah alat musik tradisional cina. Kau saja bukan berasal dari cina, jadi darimana kau bisa memainkannya?" sahut Xialin keberatan.
"Tidak apa-apa kalau kekasihku menginginkannya. Kuharap bisa menghibur kakek dan nenek." sahut William yakin. Dia tahu kalau Angel bukanlah gadis sembarangan. Dia adalah nona muda keluarga terhormat. Dia pasti sudah dididik sebaik mungkin oleh keluarganya.
Angel berdiri dan berjalan mendekati sitar. Ia perhatikan dengan lekat sitar tersebut. Saat ia mulai memegangnya, ia makin terpesona. Sitar itu bukanlah sitar biasa. Sitar ini mungkin sudah berumur ratusan tahun. Sitar tua ini terlihat sangat elegan, namun juga mewah.
Gongyu dan Melda yang melihat Angel meraba sitar dan memandanginya lekat, merasa sangat lucu. Gadis kecil ini mana tahu bagaimana cara bermain sitar. Apa dia tidak takut dipermalukan oleh semua orang di ruangan ini?
Angel menyentuh senar-senar yang di sana. Lalu memainkannya. Lagu Zhang Bichen berjudul heart desire at peace. Tidak lupa ia menyanyikannya juga. Suara musik mengalun seirama dengan suara lembut Angel.
__ADS_1
Semua orang yang di sana tertegun. Menatap keindahan yang ada di depan mata mereka saat ini. Sosok Angel dengan tubuh rampingnya, rambut panjangnya membingkai wajah eloknya, duduk dengan anggun dan lembut. Bernyanyi dengan indah, seirama dengan keindahan jemarinya memetikan senar sitar.
Saat selesai memainkan sitar, Angel menghembuskan nafas dan menutup matanya sejenak. Tepuk tangan gemuruh yang menggema di ruangan itu menyadarkan Angel. Ia membuka mata melihat sekitar. Banyak orang berdiri dan bertepuk tangan untuknya. Namun pusat perhatiannya tertuju pada wajah William. Senyum manis dan tatapan penuh cinta William tujukan untuknya. Di mata Angel, William makin tampan dengan senyum lembutnya. Dan senyuman itu ditujukan hanya untuknya. Omegot, ganteng bener pacar gue.