
David masuk ke dalam kamarnya. Mengedarkan ke segala arah, namun istri kecilnya tak terlihat. Jadi ia yakin Alia pasti di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri apalagi memang terdengar gemericik air di sana. Akhirnya ia menunggu Alia dengan duduk di ranjang dan bersandar di sandaran tempat tidur. Ia membuka handphone nya untuk membalas email para koleganya. Namun semua itu terhenti di kala pintu kamar mandi terbuka.
Alia yang hanya memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya keluar dari kamar mandi untuk mengambil baju ganti. Dengan rambut panjang yang terikat tak beraturan, membuatnya semakin seksih. Berjalan tanpa dosa tak menghiraukan suaminya yang menatapnya seperti singa yang mengintai mangsanya.
Alia membuka lemari pakaiannya, namun dengan tak sengaja ia menjatuhkan pakaian yang akan ia pakai. Hingga segeralah ia mengambilnya. Berjongkok, hingga David yang berada di belakangnya dapat melihat lipatan daging merah yang tersembunyi di balik handuk itu.
Glek!
David meletakkan handphone nya ke atas nakas. Tatapan matanya tak lepas dari Alia. Jadi saat Alia akan mengenakan pakaiannya, David terlebih dahulu merengkuh tubuhnya.
"Ahk!" teriak Alia.
Tubuh Alia terbalik oleh tangan seseorang. Ingin ia berteriak sekali lagi namun ia urungkan saat ia melihat wajah suaminya di hadapannya.
"Abang ngagetin aja."
David menghimpit tubuh Alia di lemari pakaian. Meletakkan kedua tangannya di sisi kepala dan menatapnya lekat seperti ingin menerkamnya.
"Abang kenapa?" tanya Alia yang bingung dengan cara menatap David padanya.
"Al, apa kamu tidak menyadari kesalahanmu?"
"Kesalahan? Alia ada salah apa sama abang?"
"Apa kau lupa kalau sudah punya suami? Kenapa seharian ini tidak punya waktu untukku. Malah terus meladeni keinginan Angel."
"Astaga! Jadi karena itu? Abang marah sama Alia karena Alia main sama Angel?"
"Al, kau masih ingat nasehat pak yai di kampungmu itu kan? Kamu sebagai istri harus nurut suami kalau mau masuk surga."
Alia mengerutkan keningnya. Ia ingat dengan ceramah pak yai di mushola kampungnya. Memang iya sih, gue sering denger pak yai Somad bilang ibu-ibu ga boleh marahin suaminya terus. Harus nurut apa kata suami. Apa itu cuma karangannya pak yai biar ibu-ibu kampung engga bawel lagi ya? Ah mana mungkin pak yai bohong.
"Iya bang, katanya harus nurut suami. Jadi Alia sekarang engga boleh main sama Angel?"
"Bukan gitu maksudnya sayang. Tapi kamu harus lebih mengutamakan suamimu daripada siapapun di dunia ini. Terutama Angel. Anak itu suka merampas waktumu untukku. Apa kamu tidak sadar kalau sudah mengacuhkan suamimu, hem?"
"Maaf bang." ucap Alia sambil menunduk merasa bersalah.
David yang melihat Alia yang menurut pun begitu gemas. Ingin rasanya tertawa tapi ia menahan. Ah, istrinya ini begitu lugu. Sangat berbanding terbalik dengan sikapnya saat di atas ranjang. Garanggggg
"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat."
Alia mendongakkan kepalanya. "Apa bang? Alia akan lakukan."
Sudut bibir David sedikit tertarik ke atas. "Malam ini kau harus memberi kompensasi." ucap David sambil berbisik ke dekat telinga Alia.
__ADS_1
Mata Alia terbelalak. Ia menelan salivanya kasar. Kemudian ia mendapatkan suatu petunjuk dari yang maha kuasa. 'Sepertinya lakik gue ini sedang ngerjain gue. Oh.. oke, elu jual, gue beli.'
Dengan sedikit akting malu-malu, Alia tersenyum dan menunduk. Kemudian ia kembali menatap David. "Abang pengen gaya apa? Alia jabanin."
Alia berucap sambil menggigit bibir bawahnya. Apalagi suara yang serak dan mendayu membuat nafas David terasa sesak. Istri kecilnya ini kenapa pintar sekali membuat dia on. Dan suasana saat ini makin tak bisa di prediksi oleh David saat tangan istrinya mulai menggapai gundukan di celananya. Mengelus dan sedikit meremasnya.
"Ahh.." refleks David mengeluarkan de'sahannya dengan mata yang tertutup. Namun itu tak bertahan lama saat sesuatu terjadi. David membelalakkan matanya dan mengarahkan tatapan matanya ke bawah.
"Oh shi'**!" teriak David pelan saat kepala Alia berada di bawahnya.
Bahkan saat ini David menyandarkan tangannya pada lemari baju untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dia makin terkejut saat mulut Alia bekerja di bagian intinya.
Ia tengadahkan kepalanya ke atas, menutup matanya dengan mulut menganga. Hingga akhirnya ia tak dapat menahannya lagi. Ia benar-benar tak menyangka kalau Alia mengetahui cara seperti ini untuk memuaskan si mister.
"Ohh, sayang ini nikmat sekali." Satu tangannya memegang lemari baju, dan satu tangannya memegang kepala Alia yang maju mundur dengan mulut yang masih meng'ulum inti tubuhnya. Hingga akhirnya, tubuh David menegang dan sedikit bergetar.
"Aaarrgghhh!!!"
David terengah engah mencoba mengatur nafasnya. Ia menunduk menatap Alia yang tengah mengelap mulutnya. Dan itu terlihat sangat seksih di matanya.
Alia kembali berdiri dan menegakkan tubuhnya. Ia menatap David dengan mata sayu. lalu ia menjauhkan tubuh David darinya. Berjalan ke arah ranjang. Kemudian menjatuhkan dirinya di sana. Dengan menyilangkan kakinya, ia duduk dengan posisi yang tak biasa. Kemudian ia gerakkan tangannya dan ia goyangkan jarinya.
"Kemarilah bang. Kita belum pernah melakukan simulasi cicak kawin kan?" Lalu ia membuka ikatan handuknya dan membuangnya sembarangan.
David mulai kembali menegang saat disuguhi pemandangan indah tubuh istrinya hingga terlihat kembali kalau sang mister menegakkan tubuhnya.
**
Keesokan paginya, Melda mengerjapkan kedua matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk dan mengenai wajahnya. Ia menggeliat dan menguap. Kemudian ia teringat akan kejadian semalam. lalu ia menoleh ke samping.
"Kemana William? Apakah dia sudah bangun?"
Kemudian ia membuka selimutnya dan mendapati tubuhnya yang tidak menggunakan apa-apa. Lalu ia tersenyum riang. Apakah William semalam menikmati tubuhnya? Ah, memikirkan itu ia semakin bahagia. Ia yakin walaupun ia tertidur, WIlliam tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan memasukinya walaupun ia tangah tertidur. Kemudian ia duduk, dan mendapati sebuah pesan di atas nakasnya. Dia mengambil kertas itu dan membacanya.
"Servicemu sangat memuaskan."
Bibir Melda tersungging senyum manis. Dia semakin yakin kalau William sudah menggunakan tubuhnya semalaman. Itu sudah terbukti dengan rasa yang tidak nyaman pada tubuhnya. Dia merasa begitu lelah dan sedikit pusing saat bangun pagi ini.
"William sayang, kau akan selalu ada dalam genggamanku." gumam Melda dengan rasa yang membuncah. Kemudian ia segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya.
Wanita itu membuka pintu dan segera menutupnya. Ia menuju ke bawah shower dan menghidupkan aliran air. Air yang hangat benar-benar membuatnya tenang. Ia menutupi mata dan menikmati tiap tetesan yang membasahi tubuhnya. Rambut panjangnya yang hitam sudah sangat basah. Mata Melda perlahan terbuka saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
"Apa kabar sayang?" ujar seorang pria.
Melda bungkam. Ia membiarkan pria itu memeluknya erat dan mencium bahunya. Mata Melda kembali terpejam saat tangan pria itu menjamah tubuhnya dan ia tak menolak sentuhan itu.
__ADS_1
"Melda, aku menginginkanmu saat ini." bibir pria itu bermain di leher bagian belakang Melda. Dan jemari tangannya memainkan tubuh bagian atasnya.
"Daddy, apa mommy tahu daddy kesini?" Melda menggigit bibirnya, ia bertahan untuk terlena.
"Hanya sebentar, kumohon." pria itu membalikkan tubuh Melda hingga berhadapan dengannya. Pria itu segera melahap bibir wanita itu dan menahan tengkuk Melda.
Melda tak kuasa untuk melawan. Ia benar-benar tenggelam ke dalam permainan pria ini. Hingga akhirnya ia membalas cium'an bibir pria itu.
Guyuran air membuat keduanya benar-benar larut, mereka saling memberi dan melupakan waktu. Melda merasakan sesuatu yang mengeras, mengenai bagian perutnya dan tangan pria itu tetap menahan tengkuknya.
Sambil terus menyesap bagian leher Melda, tangan pria itu tak hentinya bermain di bawah sana.
"Dad-dy..ah..jangan permainkan aku!" tegas Melda saat pria itu terus menyesap lehernya.
"Mommy mu sedang rapat sayang.. kita bisa sedikit bersenang-senang."
"Daddy.. aku harus segera ke kantor atau mommy akan kembali memarahiku. Kumohon cepat selesaikan permainan ini!"
Pria ini tahu bagaimana posisi putri tirinya ini. Melda adalah calon pewaris perusahaan keluarga, jadi istrinya saat ini tengah berusaha membentuk jiwa kepemimpinan Melda untuk menjadi penggantinya. Jadi ia mengerti kenapa Melda tak bisa memberontak.
"Ahk! Daddy, kau suka sekali mempermainkanku!" tegas Melda. Wanita itu bergerak gelisah. Satu jari daddy tirinya kini berhasil memasuki di bawah sana. Melda menarik nafasnya pelan, mengatur detak jantung yang menggebu.
Pria itu menyeringai di balik kegiatannya pada puncak gunung Melda. Apalagi saat Ia memaju mundurkan jarinya, memainkannya dalam tempo yang cepat di dalam sana.
"Ah,..yah.." Melda mengalungkan kedua lengannya pada leher pria itu, ia memeluk erat tubuh daddy nya yang kekar dan begitu nyaman.
Pria itu menghentikan ulahnya. ia segera mengubah posisi Melda untuk membelakanginya. Pria itu mengatur posisi Melda sedikit membungkukkan tubuhnya lalu kedua tangan Melda bertumpu pada dinding kamar mandi.
Melda hanya bisa pasrah, ia hanya bisa menerima sekarang. Wanita itu memejamkan mata, dengan bibir yang sedikit terbuka kala pria itu melakukannya dari arah belakang. Pria itu memegang pinggulnya, sedangkan pinggul pria itu bergerak guna memompa dirinya ke dalam tubuh Melda.
"Melda, sstt..kau benar-benar membuatku gila!" pria itu bergerak pelan. Ia berusaha menikmati tiap gesekan dan juga pijatan di dalam tubuh Melda.
"Ahhh, daddy,,, lebih cepat!" pinta Melda. Wanita itu merasakan sensasi yang luar biasa berbeda saat pria itu melakukannya dari belakang. Melda melirik ke belakang, ia melihat daddy nya yang membalas tatapan dengan seringaian.
Pria itu tak mengindahkan permintaan Melda, ia bergerak pelan dan membiarkan wanita itu bergerak guna mencari kepuasan.
"Daddy! jangan main-main!" ujar Melda di sela gerakannya. Ia tak bisa bermain sekarang. Ia harus segera ke kantor atau mommy nya akan datang dan menyeretnya secara paksa.
"Memohonlah Melda."
"Daddy..aku mohon." ujar Melda lagi.
Pria itu segera mempercepat gerakannya, ia memeluk Melda dari belakang dan meremas bagian tubuh menonjol lainnya.
"Ah..ah...daa-dy.. ahk..yah..begitu." desah Melda saat pria itu tanpa ampun memasukinya. Wanita itu menahan nafasnya, memejamkan mata dan menggigit bibirnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya keduanya mengalami puncaknya bersama-sama.