
Malam tahun baru bagi Alia kali ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah ia alami. Bersama pria impiannya, ia bergandengan tangan menyusuri sungai Huangpu di Shanghai. Kerlap kerlip hiasan lampu dan berbagai aksesoris tahun baru ala cina bertebaran, menambah manis suasana.
Dengan memakai jaket tebalnya Alia nampak menggosok gosokkan telapak tangannya yang masih terasa kaku. Cuaca malam ini memang sangat dingin. Syal tebal pun ia sampirkan mengelilingi lehernya untuk menghalau udara dingin masuk.
David melirik sekilas Alia yang sibuk dengan kegiatannya itu. Hingga suaranya memecahkan suasana, "Al, lebih baik kita kembali ke apartemen sekarang. Cuaca makin dingin." David meraih tangan Alia dan menggenggam erat untuk menuju pulang ke apartemen mereka.
Setelah sampai ke apartemen, Alia dan David segera duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tidak lupa Alia membuat secangkir kopi untuknya dan David sebagai teman mengobrol di depan televisi. Ditemani pizza yang tadi sempat mereka beli, acara santai mereka kian bermakna.
Tidak lama setelah itu ada panggilan video masuk dari nomer telepon ayah Ronan. David mengangkat panggilan itu dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah ayah Ronan.
"Halo pah. How are you?"
"Good. Bagaimana dengan pencarian adikmu, son?"
"Aku sudah menyelidiki semua pah. Sesuai perkiraan kita. Memang ada pihak yang berusaha menyembunyikan informasi tentang Angel. Papa tenang saja, aku akan segera menemukan Angel. Aku yakin keadaannya baik-baik saja. Untuk itulah beberapa orang berusaha menyembunyikannya."
"I trust you son. Papa dan mama selalu berdoa untuk kita semua.'
Sebelum melanjutkan percakapan lagi, ada suara lain yang mengintrupsi.
"Bang, kopi hitam dengan penuh cinta sudah jadi."
David menoleh ke samping, pada Alia yang sudah duduk di sofa sambil membawa secangkir kopi. Ia tersenyum dan mengangguk. Hal itu tidak luput dari mata papa Ronan.
"Ehem." papa Ronan berdehem memecahkan suasana.
David tersentak, dan kembali memandang layar handphone nya untuk kembali fokus dengan percakapan mereka.
Alia pun ikut melirik dengan apa yang telah David lakukan saat ini. Ada wajah ayah Ronan yang terpampang di layar ponsel David.
"Om Ronan.. Selamat malam om.." sapa Alia dengan senyum manis.
"Halo Alia, bagaimana kabarmu di sana?"
"Baik om, bahkan sangat baik. Kan ada bang David di sini." jawab Alia polos.
__ADS_1
Papa Ronan terbahak mendengar ucapan polos Alia dan melihat wajah David yang memerah. "Ya, ya.. apa kau tak merindukan keluargamu di sini?"
"Tentu saja om. Alia merindukan semuanya di sana, terutama abah sama em--"
"Masa?" sahut suara lain memotong ucapan Alia.
Alia yang sedang bercakap dengan papa Ronan, membeliakkan matanya saat wajah abahnya terpampang juga di layar handphone nya. "Abah!" teriak Alia.
"Abah,, Alia kangen."
"Hais, abah tidak percaya. Kamu di sana sudah ngekepin den David, ya jelas lupa ama abah.'
"Ih abah, belum boleh ngekepin atuh. Kan belum sah.."
"Apa mau di sahkan sekarang?"
"Ih abah, malu atuh. Ada camer yang denger."
Papa Ronan tertawa terbahak bahak mendengar celetukan calon mantunya ini. Benar-benar tak ada jaim jaimnya. "Lalu maunya Alia gimana? Ini loh om sama tante sudah silaturahmi ke rumah Alia untuk membahas kelanjutan hubungan kalian."
"Woo santai son. Semangat sekali dengernya. Papa dan mama datang ke rumah pak Sofian untuk membahas keadaan kalian yang berada jauh di sana tanpa adanya ikatan resmi. Kami sempat khawatir."
"Tapi kami tidak melakukan apa-apa pah." jawab David.
"Iya om, kami tidak melakukan apa-apa, hanya ciuman saja kok." sahut Alia.
David yang mendengar celetukan Alia tanpa sadar meletakkan tangannya di mulut Alia dan membekapnya agar tidak melanjutkan pembiacarannya. Alia pun langsung sadar dan terdiam sambil melirik David seakan meminta maaf dengan ucapannya yang tanpa filter.
"Astagfirullah Alia.. Kamu ini ya." ucap pak Sofian.
"Ehm, om, papa, David bisa menjelaskan semua. Kami tidak pernah melewati batasan kami kok." Jawab David dengan kikuk.
"Papa paham son. Untuk itulah papa dan mama datang kerumah Alia untuk membahas ini. Kalian jiwa muda yang menggelora. Seberapa jauh kalian bisa menahan diri, apalagi kalian serumah. Papa, sudah melamarkan Alia untukmu." ayah Ronan berucap dengan bijaksana.
"Saya juga paham den David. Alia tu pasti yang nyosor dulu. Ah, Alia.. jaga sikapmu neng." abah Sofian jadi malu sendiri dengan sifat bar-bar putrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku ayah.. Aku seharusnya tidak melakukan itu. Aku memang tidak berpikir jauh ke depan. Seharusnya aku juga bicarakan ini dengan ayah Alia. Pak Sofian, saya David, yang saat ini sedang dekat dengan putri bapak. Saya minta maaf atas kekhilafan sikap saya terhadap putri bapak, dan Ijinkan saya bertanggung jawab atas semua yang telah saya lakukan pada putri bapak. Saya bermaksud meminang Alia untuk menjadi istri saya." ucap David lantang sambil mengggenggam tangan Alia erat.
Alia yang mendengar lamaran itupun tak kuasa menahan air matanya. Pria pujaannya ini sangat gentle. Dia berani melamarnya langsung di depan orang tuanya. Dia tidak menunggu lama untuk segera menghalalkan hubungan mereka. 'Lince, sori ya, gue bakal jadi ipar lo. Elo enggak akan lagi bisa protes sekarang."
"Ehem, den David, eh maksud abah, nak David. Bapak Ronan tadi juga sudah membicarakan ini. Sejak awal abah dan emak suka sekali dengan nak David. Kami senang Alia akhirnya segera menjadi istri nak David. Jadi abah merestui. Bahkan saat ini juga abah juga tidak keberatan kalau nak David segera menikahinya. Tidak baik kalau kalian di sana berdua tanpa status jelas. Abah tidak mau dosa nak.. Jadi kalau bisa nikahi Alia sekarang. Apalagi kata Alia tadi, kalian sudah ciuman. Itu awal dari perbuatan dosa." ujar abah Sofian memberi penjelasan.
"Iya pak Sofian. Lalu harus bagaimana? Langkah apa yang harus saya lakukan sekarang."
Papa Ronan kembali menghadapkan layar handphone nya ke depan wajahnya. "Son, jangan khawatir, kami semua akan datang ke cina. Kami bisa menikahkan kalian di sana. Untuk acara lain-lain, bisa kita bicarakan kalau Angel sudah kita temukan. Yang penting kalian sah dulu di mata agama. Jangan terus berbuat dosa.
Abah Sofian mengangguk setuju saat mendengar jawaban papa Ronan. "Iya nak David, kami yang akan datang ke sana. Abah dan emak persiapkan dulu paspor dan kebutuhan lainnya untuk kami bawa ke sana."
"Terima kasih ayah.. terima kasih restunya pak Sofian. Maksudku abah Sofian." ujar David dengan wajah meronanya.
"Alia.. apa kamu sudah mendengar?" tanya abah Sofian."
David kemudian menggeser layar ponselnya ke depan wajah Alia. Alia yang tampak berkaca-kaca dengan lamaran David kepadanya, hanya menahan isakan tangisnya. "Anak abah, gimana pendapatmu neng? Alia seneng kan?" tanya abah lirih.
"Abah," panggil Alia dengan suara seraknya. "Alia seneng bah, terima kasih. Alia sayang abah." air mata itupun akhirnya menetes. "Alia tunggu di cina. Alia kangen kalian semua." dan akhirnya Alia tergugu karena tak bisa lagi menahan tangisnya. Isakan tangis itu akhirnya terdengar nyaring.
David segera menempatkan tangannya ke bahu Alia untuk menenangkan. Ia pandang lekat mata Alia yang terus mengeluarkan air matanya. Rasa haru di malam tahun baru cina. Saat ini adalah salah satu hari bersejarah baginya. Dirinya yang tak pernah dekat dengan satupun wanita, sekarang telah memiliki pelabuhan akhir hidupnya. Seorang wanita unik yang akan terus mewarnai sisa hidupnya. Alia Berliana.
Setelah sambungan telepon mereka terputus, keadaan hening seketika. Di apartemen itu Alia mengelap ingus dan air mata yang berlinang. Setelah keadaan Alia tenang, ia melirik David yang juga sedang menatapnya dengan penuh cinta. "Abang ga romantis deh." celetuk Alia.
"Kok begitu sih Al.. Maksudnya gimana?"
"Seharusnya abang tuh ya, melamar Alia dengan suasana romantis. Makan malam romantis di tempat yang indah terus berlutut di depan Alia sambil mengulurkan cincin. Alia, maukah kau menikah denganku? Gitu bang.." ucap Alia sambil sesenggukan.
"Enak seperti ini Al.."
"Enaknya dimana coba?"
Tanpa aba-aba David mendorong pelan tubuh Alia untuk ia rebahkan di sofa ruangan itu. Alia terkesiap saat gerakan David yang tiba-tiba itu. Ia melihat wajah David yang berada di depan wajahnya. Mata David yang menatap penuh cinta membuat Alia tak berkutik.
"Inilah enaknya lamaran dadakan kita Al.." Dengan gerakan cepat ia bungkam bibir Alia dengan bibirnya.
__ADS_1
David mencium, ******* dan mengaduk mulut Alia dengan lidahnya. Ciuman yang menuntut membuat Alia hanya bisa memejamkan matanya. Alia menikmati malam tahun baru ini dengan status baru. Calon istri David Luis Mahendra.