Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Cucu Nakal


__ADS_3

William membuat Angel mabuk kepayang. Sentuhan, kecupan, dan hisa*pan yang William lakukan pada dadanya memberikan sensasi tersendiri bagi Angel.


"Ahk.." jerit tertahan Angel terdengar saat William sedikit memberi gigitan pada puncak bukitnya.


Keadaan Angel yang sudah tidak tertutup bagian atasnya, membuat William makin leluasa memberi sentuhan dan tanda merah di semua bagian yang terlihat. Setiap jengkal tubuh Angel terlalu sayang untuk dilewatkan.


Apalagi desah*n merdu dari Angel membuat William makin terbakar. Suasana ini kian tak terkendali saat master andalan William yang bersembunyi di celananya menggeliat hebat.


William sadar. Ia mendongakkan wajahnya untuk menatap kekasihnya. Mata Angel yang tertutup membuatnya yakin bahwa kekasihnya inipun makin tak bisa mengendalikan diri. Mungkin kekasihnya ini akan berdiam diri apabila dirinya meminta lebih. Karena kelabilan Angel membuat rasa penasarannya lebih besar dibanding rasa kehilangan.


Lalu William mendekatkan wajahnya ke wajah Angel. Ia kecup keningnya, turun ke kedua matanya, lalu ke pipinya, dan mengecup singkat bibirnya.


Saat mata Angel terbuka, ia melihat wajah William di hadapannya. Tatapan mata penuh cinta, dengan senyum tulus menghiasi wajah tampan William. Bahkan saat ia rasakan tangan William yang mengelus lembut pipinya, membuat ia ikut tersenyum.


"Tampannya pacarku." celetuk Angel di sela keromantisan mereka.


"Hemm, cantiknya calon istriku." jawab William dengan perasaan berbunga.


"Ish, siapa yang calon istri. Memangnya kamu sudah melamarku?" sahut Angel sambil memukul pelan dada William.


Posisi William yang di atas Angel dengan pakain terbuka membuat suasana kian intim. Hingga tanpa disadari pintu kamar terbuka.


"Astaga! Cucu nakal!" teriak nenek saat melihat posisi William dan angel yang tumpang tindih dengan pakaian yang terbuka.


Mendengar teriakan nenek, sontak William bangun lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya.


Nenek berjalan mendekati mereka. Tidak lupa ia tutup pintu dan menguncinya dari dalam. "Astaga Wil.. Apa yang kamu lakukan pada Angel? Bagaimana kalau orang lain tahu apa yang kalian lakukan tadi!"


Nenek berdiri di depan William dan Angel yang sibuk membenahi pakaian mereka. Nenek meletakkan kedua tangannya di pinggang dan membelalakkan matanya menuntut penjelasan.


"Kalian! Apa kalian tidak berpikir dengan apa yang telah kalian perbuat? Dan di rumahku, kalian..kalian..."


William membantu Angel mengancingkan bajunya kembali. Lalu mereka berdua duduk diam di pinggiran tempat tidur. Menunduk tanpa berani menjawab omelan nenek.


"Nek, kami tidak melakukan apa-apa" ucap William dengan mendongakkan wajahnya menatap nenek, lalu menunduk lagi.


Tak jauh beda dengan Angel yang menunduk dengan wajah merona karena malu karena nenek melihat semua yang terjadi.


"Iya nek, tadi Willi hanya minta minum susu. Waktu Angel mau buatkan susu, Willi tidak mau. Dia minta susu dari sumbernya."


Sontak William melirik Angel dengan sedikit melotot saat mendengar jawaban polos dari Angel.


Tanpa menunggu waktu lama, telinga William menjadi sasaran. Nenek menjewer telinga William sampai ia mengaduh kesakitan.


"Wil, kamu mau meracuni gadis sepolos Angel? Dan kau Angel, kenapa kau diam saja diperlakukan seperti itu?"


Angel mendongak menatap nenek, lalu melirik ke arah William. Kemudian menunduk lagi dan berujar, "Angel tidak tahu nek. kalau susu dari sumbernya itu ternyata pay*dara. Saat Willi menyesapnya ternyata geli enak. Ya Angel diam saja."

__ADS_1


"Astaga! Angel sayang, cucu nenek ini nakal sekali, jangan tertipu dengan rayuannya."


"ehm, tapi Willi tidak pernah merayu Angel nek. Angel mau sendiri kok. Angel ingin tahu rasanya." ucap Angel gamblang.


Nenek yang mendengar ucapan polos Angel, mengusap dadanya pelan. Kok ada gadis seperti Angel. Lugu dan bodoh beda tipis rupanya.


"Angel sayang, kalau mau melakukan hal seperti tadi, kalian harus menikah dulu. Tidak boleh main serobot. Kalau memang Angel siap, kami sekeluarga akan datang melamarmu." kata nenek sambil mengusap atas kepala Angel.


William sontak mendongakkan wajahnya menatap nenek dengan ceria. "Nenek serius? Ayo nek, lamar sekarang saja. Aku sudah tidak tahan."


Bug! Bug! Bug! Tangan nenek terus memukul lengan William tanpa ampun.


"Au! Au! Au! Nek hentikan!"


"Cucu nakal! Kau benar-benar memalukan. Kau itu benar-benar kutukan di keluarga. Darimana sifatmu ini berasal! Atau kau tertukar di rumah sakit?!"


"nek, kalau aku tertukar, mana mungkin mirip ayah." jawab William sambil menghembuskan nafas berat.


"Dengar ya, ayah dan mamamu itu orang-orang yang sopan. Tidak sepertimu. Ramah! Rajin menjamah!"


Angel tertawa keras mendengar ucapan nenek. Apalagi saat melihat ekspresi William yang merengut sambil mengusap lengannya yang sakit karena pukulan nenek yang brutal.


William menoleh dan manatap Angel yang terbahak. Ia mendengus dan mengatakan, "Sayang, kau senang aku disiksa?"


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja, nenek lucu. Kata-kata kiasan yang disebutkannya tadi sangat cocok untukmu." ucap Angel sambil melanjutkan tawanya.


"Sudah! Sekarang pergi dari kamar ini Wil! Jangan dekati Angel. Kalau perlu nenek akan menemaninya tidur supaya kau tak macam-macam lagi."


Nenek menarik tangan William dan membawanya menuju ke pintu keluar. Lalu menghempaskan tubuh William keluar dari kamar yang ditempati Angel.


William terhuyung waktu nenek menghempas keras tubuhnya di depan pintu kamar itu. Setelah melihat neneknya menutup rapat pintu kamar itu, seringai licik muncul di wajahnya. 'Liat saja nanti, aku akan mencari cara agar bisa masuk ke kamarnya.' batin William.


**


Di dalam apartemen yang ditempati David dan Alia, sedang berbenah untuk menyambut kedatangan keluarga mereka dari Indonesia. Rasa bahagia menyeruak di dalam hati mereka. Apalagi saat ini mereka sudah mengantongi restu untuk menikah.


Saat ini Alia sedang menata berbagai macam kue dan buah di meja makan, Setelah tadi ia memasak rendang daging yang kebetulan kesukaan keluarga mereka. Lalu mengalirlah obrolan absurd mereka.


"Bang, kita harus nyiapin apalagi ya buat mereka?"


"Apa aja saya yang kamu siapkan, kuyakin mereka pasti suka, asal..." ujar David memutus kata-katanya sesaat.


Alia menoleh ke arah David sambil mengernyitkan dahi. "Asal apa bang?"


"Asal jangan nyiapin cucu buat mereka. Belum sah al..." ucap David sambil mengerlingkan satu matanya.


"Ih sumpah ya abang ngeselin. Alia serius ini. Abang napa sih genit banget sekarang?"

__ADS_1


"Emang kenapa kalau abang genit sama calon istri? Seharusnya kamu seneng kan?" goda David pada Alia sembari berjalan mendekat ke arahnya.


David mendekati Alia, kemudian ia letakkan tangannya di atas perut Alia dari arah belakang. David dekap erat Alia, menyandarkan kepalanya di salah satu pundak Alia.


Alia terkesiap. "Abang, ih... Geli tau." ucap Alia sambil menggeliat geli karena gesekan tubuh David di belakangnya.


Deru nafas David menyapu kulit leher Alia yang mulus. "Al, kalau kita jadi nikah besok, abang mau kasih hukuman sama kamu."


"Ha? hukuman? Memangnya Alia ngapain abang?"


"Kamu itu selalu menggoda abang. Kamu tu sadar enggak sih, kalau kamu ngegemesin banget? Rasanya pengen kukunyah."


"Idih permen kali dikunyah. Liat dulu dong apa yang mau abang kunyah?" ucap Alia dengan senyum licik dalam dekapan David.


David mendengar kata-kata absurd Alia, begitu terpancing. Ucapan kekasih kecilnya itu seperti umpan untuk memancing hasratnya. Ah, gadis kecilnya ini, selalu membuatnya panas dingin.


David tak tinggal diam. Ia membalikkan badan Alia untuk menghadapnya. Lalu ia angkat tubuh mungil itu untuk ia dudukkan di atas meja makan.


Alia terkejut namun tak bisa melawan karena itu begitu cepat. Dia hanya bisa pasrah saat David mengangkat tubuhnya.


Tubuh mereka berhadapan. Tatapan mata mereka saling mengunci. David yang begitu tampan dan cerdas, kenapa bisa menyukai seorang gadis kecil yang aneh seperti Alia. Entahlah, namun keabsurd an Alia lah awal mula benih cinta tumbuh.


David mengelus pipi Alia lembut. Begitu meresapi setiap sentuhan. Kekasih kecilnya ini, apakah siap menjadi istrinya?


"Al, abang mau tanya. Apakah kamu siap menjadi ibu anak-anak abang? sedangkan kamu masih begitu muda."


Alia terkesiap mendengar pertanyaan itu. Lalu ia tersenyum lembut dan menatap David penuh cinta. "Bang, itulah cita-cita pertama Alia. Sejak Alia selalu memandangi foto abang, Alia bercita-cita menjadi istri abang. Tapi kalau abis nikah Alia langsung hamil, abang mau kan bantuin jagain dedek bayi saat Alia kuliah?"


Mendengar itu David makin berbinar. Ah.. Dedek bayi. Kata-kata yang sangat indah. Entahlah, bagaimana mengungkapkan perasaan ini. "Iya dong, nanti dedek bayinya abang kantongi." ucap David sambil terkekeh.


"Ish abang, ama anak sendiri gitu. Ehm, abang pengen anak berapa?"


"Abang terserah Alia, kalau kuat menjalani ya pengennya abang tiga."


Senyum Alia makin terkembang. "Hem, amin. Semoga cepet dikasih ya bang. Buat sekarang yuk! Alia pengen tahu proses terbentuknya embrio."


Tuk! David mengetuk kening Alia dengan jarinya.


"Auh! Abang ihhh sakit ini."


"Kamu ini kalau ngomong suka ngawur."


"Alia serius loh bang. Alia penasaran banget. Masa pelajaran se*s education cuma teori doang. Engga efektif kalau engga dibarengi praktek."


David meraup wajahnya sebal. Dia setiap hari harus menahan diri di dekat Alia. Apalagi kalau Alia selalu memancing hasrat lelakinya dengan selalu memakai baju seksi berlalu lalang di sekitarnya. Dan sekarang dengan kata-kata gamblang nan frontal, Alia mengajak David membuat dedek bayi.


Dan sekarang makin gusar David dengan tindakan Alia saat ini. Tangan Alia merayap di resleting celananya yang nampak sudah menggembung entah dari kapan.

__ADS_1


__ADS_2