Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Kegropyok Lagi


__ADS_3

Cuaca dingin di tahun baru cina, tidak menjadikan suasana hati dua keluarga juga dingin. Apalagi dua sejoli yang dimabuk cinta. Setelah mendapatkan kejelasan kabar Angel, David sudah menghentikan pencariannya.


"Pa, apakah kita tidak menunggu Angel dulu baru menikahkanku dan Alia?" tanya David kepada papa Ronan.


"Kau pikir papa tidak berpikir seperti itu? Papa terpaksa melakukan ini untuk menghargai keluarga Alia. Dengan kami semua melihat tingkah kalian tadi pagi, apa kita harus menundanya? Kau punya seorang adik perempuan, kalau itu terjadi pada adikmu bagaimana? Papa pun akan segera menuntut tanggung jawab sebagai orang tua yang wajib melindungi putrinya. Sesampainya di Indonesia, kita akan adakan pesta besar untuk kalian. Biar keluarga Alia senang dan tidak lagi mengingat dengan kelakuanmu itu."


"Pa, sudah kubilang, kami tidak sampai melakukannya."


"Tetapi papa yakin kalian hampir melakukannya. Jangan kau bodohi orang tuamu ini son. Sebagai pria normal disuguhi pemandangan gadis muda secantik Alia, mana mungkin kamu tidak tergoda. Bukankah bagus kalau kalian menikah sekarang, kalian bisa melakukan apapun sepuas kalian."


David menghela nafas berat. Ya, bagaimanapun mereka harus menikah saat ini juga. Karena bagi budaya Indonesia, hal tersebut masih sangat tabu. Apalagi bagi keluarga Alia yang masih menilai sesuatu dari sudut pandang masyarakat lokal dengan tradisinya yang begitu kental. Dia seperti menabur aib dalam keluarga, namun baginya ini adalah anugerah. Dia memang sudah tidak bisa menahan lagi gejolak kelakiannya saat berhadapan dengan tingkah absurd Alia. Di matanya tingkah Alia teramat menggemaskan dan sayang untuk dilewatkan. Ingin rasanya ia segera merengkuh tubuhnya dan menikmati setiap lekuk tubuhnya yang menggoda. Usia yang ranum, benar-benar menggugah selera seorang pria seperti David yang baru merasakan getaran bi*ahi dari lawan jenis.


Dan di sinilah mereka, David duduk berhadapan dengan penghulu, serta abah Alia yang berada di samping Penghulu tersebut. Mama Jasmine dan papa Ronan duduk tidak jauh dari David. David yang begitu tampan tampak sangat tenang dan percaya diri. Walaupun ketenangan terlihat, namun gemuruh di dadanya tak terbendung. Debaran di dada yang menggebu disertai keringat dingin yang tiba-tiba muncul, ikut mengiringi proses bersejarah di dalam hidupnya.


Sah!


Akhirnya proses itu terlewati. David menghembuskan nafas lega. Dan seluruh keluarga pun begitu bersyukur. Sekarang dia adalah seorang suami. Tanggung jawab yang amat sangat besar disandangnya sekarang. Bukan hanya perusahaannya saja yang harus ia pikirkan, namun ada istrinya yang tidak kalah penting untuk dipikirkan. Langkah kaki menuju ke arahnya, membuyarkan lamunannya. Ia mendongak dan menoleh ke arah langkah kaki tersebut. Alangkah terkejutnya ia melihat istrinya, Alia yang melangkah maju dengan memakai kebaya sederhana mendatanginya. Begitu cantik dan anggun. Namun tatapan David terpusat pada dada Alia yang terbungkus indah di kebaya itu. Begitu besar untuk ukuran remaja seumuran Alia. Ia menelan ludah kasar saat membayangkan bagaimana bentuk asli bongkahan tersebut.


Alia di dalam kamar ditemani emak saat David mengucapkan janji pernikahan. Tangannya menggenggam tangan emak dengan erat. Beginikah rasanya menikah? jantung terasa menghentak ingin keluar dari tempatnya. Dan emak senantiasa menggenggam tangan Alia yang sudah sangat dingin dan kaku. Sambil mengelus punggung Alia, emak selalu membisikkan kata yang sangat menenangkan.


Dan saat terdengar kata sah menggema, Alia serasa ingin loncat saat itu juga. Perasaannya seakan ia baru saja mendapatkan penghargaan. Ya, baginya menjadi istri David sudah seperti penghargaan kehidupan dari tuhan untuknya. Pria yang selama ini selalu diidamkannya, akhirnya mempersuntingnya. Memikirkan itu membuat air matanya meleleh tanpa sadar. Begitupun emak Titin yang berada di sana. Rasa haru menyeruak di hati mereka berdua, hingga membuat mereka saling berpelukan sambil meneteskan air mata.


Emak meraih tangan Alia, dan menariknya pelan. Ia gandeng putri kesayangannya dengan hati-hati untuk keluar dari kamar persembunyian mereka. Mereka berdua keluar dari kamar menuju ruang utama apartemen. Senyum merekah dan tatapan penuh cinta sangat terlihat di mata Alia saat melihat suaminya di hadapannya saat ini. Suami.. ya David adalah suaminya sekarang.


Pernikahan dadakan yang sebenarnya sangat diinginkan Alia akhirnya berlalu dengan baik. Saat ini ia nampak sedang melayani suaminya yang sedang makan. Senyum bahagia terkembang di bibir kedua pengantin baru itu terus menghiasi suasana di sana. Membuat seluruh keluarga ikut merasakan bahagia.


Setelah acara makan siang kedua keluarga, mereka saat ini berkumpul di ruang utama. Saat ini pembahasan mereka bukanlah tentang david dan Alia lagi, namun Angel adalah topik utama dari obrolan mereka. Keluarga Choi sudah berjanji untuk mendatangi apartemen keluarga Mahendra dengan membawa Angel. Karena saat ini Angel berada di rumah kakek dan nenek Choi, jadi mereka perlu bersabar untuk bisa bertemu dengan Angel.


Menimbang jarak kota Shanghai dan kota Guilin lumayan jauh, bisa dipastikan baru esok mereka bisa bertemu dengan Angel kembali. Rasa bahagia di hati papa Ronan dan mama Jasmine begitu ketara.


Papa Ronan berucap di tengah obrolan mereka. "David, setelah kita menemukan Angel, bawalah istrimu bulan madu. Resepsi pernikahan bisa kita lakukan setelah kalian pulang. Karena kami harus mempersiapkan segalanya dengan matang. Karena papa yakin keluarga Alia juga mempunyai rencana sendiri untuk perayaan resepsi kalian. Benar begitu besan?" tanyanya pada abah Sofian.


Abah Sofian terbahak dengan sindiran besannya. Ya, siapa yang tidak mengenal haji Sofian seorang tuan tanah dan peternak sapi yang terbesar di kota Bogor. Tentu saja mereka sudah mempunyai bayangan tentang pesta resepsi untuk putri mereka satu-satunya. Apalagi mendapatkan besan pengusaha besar seperti pak Ronan, sudah pasti tak akan tanggung-tanggung seberapa besarnya pesta itu.


"Ah besan, anda tahu saja. Maklumlah Alia adalah putri kami satu-satunya. Jadi kami akan membuat pesta besar di kampung kita. Dulu saya pernah bilang istri saya kalau saya akan membuat pesta rakyat tujuh hari tujuh malam saat anak saya menikah."


Semua terhenyak dan membelalakkan mata mendengar ucapan abah Sofian.


Pesta rakyat tujuh hari tujuh malam?

__ADS_1


"Abah! gempor Alia kalau pestanya seperti itu. Sudahlah abah, yang sederhana saja. Toh yang penting dalam pernikahan kan bukan pestanya, tapi kehidupan rumah tangga suami istri." sahut Alia cepat.


Abah Sofian tersenyum menatap putrinya yang makin dewasa dalam berpikir. "Abah mempunyai tujuan untuk pesta ini nak. Dengarkan dulu alasan abah. Kenapa abah sebut pesta rakyat, karena ini akan kembali kepada rakyat juga. Abah akan membeli semua dagangan para pedagang menengah kecil di kampung kita, lalu kita siapkan tempat untuk mereka berjualan, dan seluruh masyarakat di kampung kita dapat menikmati seluruh jajanan di sana dengan gratis. Jadi seperti pasar malam gratis untuk warga kampung kita. Selain membantu perekonomian para pedagang kecil, seluruh warga juga bisa makan gratis sepuasnya."


Papa Ronan bertepuk tangan mendengar jawaban besannya. "Wow, besan.. pemikiran anda sangat bagus. Kenapa tidak terpikirkan hal ini dari dulu. Itu termasuk membantu perekonomian warga kampung kita. Sembari kita juga kasih makan enak sama para warga. Tadinya saya pikir, ide itu tidak masuk akal. Ternyata itu maksud baik dari pak haji."


"Ini juga sebagai bentuk rasa syukur kami sebagai orang tua Alia, yang telah melepas putri kami ke tangan pria yang tepat, insyaallah."


"Amin." jawab seluruh orang di sana bersamaan.


"Alia bersahabat dengan Angel semenjak mereka kecil. Kami menyaksikan sendiri tumbuh kembang Alia. Tidak menyangka kalau sekarang Alia benar-benar menjadi putri kami. Saya pribadi sangat senang. David mendapatkan istri sebaik Alia." ujar papa Ronan dengan rona kebahagiaan.


Abah Sofian terbahak mendengar pujian pak Ronan terhadap putrinya. "Pak Ronan ini terlalu berlebihan. Alia itu remaja yang banyak tingkah. Tidak bisa diam di rumah. Sukanya main di kali. Jujur saya tidak bisa membayangkan bagaimana dia nanti kalau sudah jadi ibu."


Ucapan abah tentang Alia yang jadi ibu, membuat seluruh orang di sana tertegun. Akankah itu pertanda untuk Alia tidak menunda kehamilannya?


Terutama Alia yang disebut namanya. Wajahnya memerah tanpa sadar. "Abah, Alia kan baru aja nikah. Udah ngomongin cucu segala. Dibobol bang David aja belom."


Byur! David menyemburkan kopinya yang baru saja ia teguk. Ucapan Alia yang fulgar membuatnya tak bisa menelan kopi yang ia minum.


Sedangkan semua orang di sana tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Alia.


"Kamu yang bikin abang gini Al. Omongan kamu tu enggak ada saringannya. Losdol terus." ucap David setengah berbisik.


Papa Ronan menghentikan tawanya sejenak. "Tidak apa-apa Al, papa seneng dengarnya. Kamu itu obat stres."


Dan di tengah canda tawa kedua keluarga yang sedang berbahagia, David mendekatkan wajahnya di telinga Alia untuk membisikkan sesuatu. "Al, nanti sore kita jalan-jalan yuk. Udah sah ini."


Alia yang mendengarnya menyahut lirih. "Iya bang, kita kencan yuk. Kencan halal."


**


Berbeda dengan suasana di rumah kakek dan nenek William yang saat ini nampak ketegangan yang tinggi.


Ayah Xian dan mama Berta menempuh perjalanan udara dari Shanghai ke Guilin memerlukan waktu dua jam. Setelah sampai di bandara Guilin, mereka berdua bergegas menuju ke rumah orang tua mereka. Setelah sampai di rumah kakek dan nenek, beberapa pelayan menyambut kedatangan nyonya dan tuan muda mereka.


Tidak lupa kakek dan nenek yang sudah berdiri di depan pintu, menunggu dengan tidak sabar anak dan menantu mereka. Saat melihat Xian dan istrinya memasuki rumah besar mereka, kakek dan nenek langsung berjalan mendekat dan memeluk Xian dan istrinya. Senyum merekah terpatri jelas di wajah mereka.


"Ayoyo.. Apakah peljalanan kalian lancal?" tanya kakek.

__ADS_1


"Iya ayah, segalanya baik-baik saja. Di mana Willi?"


obrolan ringan menyertai langkah mereka memasuki ruang utama keluarga Choi. Bagi masyarakat cina, tahun baru imlek adalah hari yang sangat spesial. Seperti yang dilakukan para muslim di Indonesia saat merayakan lebaran. Di saat seperti itu adalah waktunya seluruh keluarga berkumpul. Tradisi turun temurun yang sudah mendarah daging pada masyarakat cina pada umumnya.


"Duduklah dulu. Sepertinya Willi masih di dalam kamarnya. Kau tahu sendiri, perayaan tahun baru bisa mengurangi istirahat malam kita. Jadi mungkin ia masih kelelahan." ucap nenek sambil menuntut menantunya Berta duduk di kursi ruangan utama.


Nenek menyuruh salah satu pelayan membangunkan William dan Angel.


Saat pelayan tersebut mengetuk pintu William untuk membangunkannya, tak terdengar sahutan dari dalam. Pelayan tersebut akhirnya memutuskan untuk sedikit membuka pintu kamar William dengan pelan. Ia mendongakkan ke arah dalam, mengamati dan mengedarkan pandangannya ke ranjang dan ke seluruh ruangan kamar itu. Tak nampak sosok William yang dicarinya. Akhirnya pelayan tersebut menutup pintu kembali.


Menimbang kembali, akhirnya pelayan tersebut mengurungkan niatnya untuk mencari William. Ia lebih dulu membangunkan Angel, yang diketahuinya sebagai calon istri William agar gadis itu dapat segera bersiap-siap untuk segera bertemu dengan tuan dan nyonya Xian.


Ia menuju kamar Angel, dan mengetuknya. Ia tempelkan telinganya di pintu kamar tersebut. Namun ia tetap tak mendengar sahutan dari dalam. Kemudian ia mengerutkan keningnya bertanya-tanya. Apakah tuan muda Willi dan kekasihnya sudah bangun dan sudah tidak berada di kamarnya saat ini?


Akhirnya pelayan itu nekat memeriksanya sendiri. Ia memutar kenop pintu kamar Angel, dan menyorongkan kepalanya sedikit masuk agar dapat memeriksa keadaan sekitar kamar Angel. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, kemudian tatapannya terkunci pada ranjang yang di tempati Angel. Matanya terbelalak dan terkejut. Di ranjang kamar itu memang ada yang memakainya. Namun tidak hanya Angel yang didapatinya tidur di atas ranjang itu, namun tuan mudanya juga berada di sana.


'Astaga tuan muda dan nona muda tidur bersama. Aduh apa yang harus kukatakan pada tuan dan nyonya besar."


Akhirnya pelayan itu berlari menuruni tangga dan melangkah menuju ruang utama untuk memberikan laporannya kepada nyonya besar.


Dengan nafas tersengal, pelayan itu mendekati nenek dan membisikkan sesuatu. "Nyonya besar, sepertinya anda harus memeriksa sendiri di kamar nona Angel."


Nenek terhenyak dan memandang pelayan itu penuh tanya. Dan anggukan kepala pelayan itu sudah memberikannya kode untuk memeriksanya sendiri. Entah kenapa nenek seperti tahu akan ada kejadian seperti ini.


Nenek memandang ke arah Xian dan Berta yang menatapnya penuh tanya saat pelayan rumah itu berbisik di telinga nenek. "Xian, bawa istrimu ikut bersamaku. Aku mempunyai sesuatu yang harus kita bicarakan bersama."


Segera mereka bertiga mengikuti langkah kaki nenek yang menaiki tangga menuju kamar yang ditempati Angel. Setelah sampai di depan pintu, nenek membuka dengan pelan. Lalu nenek masuk diikuti oleh ketiganya. Tidak lupa nenek menyuruh Berta mengunci pintu kamar itu sebelum mereka semua masuk ke dalam.


Alangkah terkejutnya saat mereka semua melihat pemandangan di dalam kamar itu. William tidur berpelukan dengan Angel di ranjang yang sama.


Melihat itu, nenek segera bertindak. Ia angkat tangannya memukul pantat Willi dengan keras.


Plak!


Tubuh William terhentak kaget akibat pukulan keras di pantatnya.


"Au! Siapa yang memukulku?" ucap William sambil memicingkan matanya berusaha membuka lebar matanya untuk melihat siapa yang telah memukulnya.


Terkejut, ia langsung tegakkan tubuhnya. Lalu ia goyangkan bahu Angel pelan sambil berbisik. "Sayang, bangun sekarang."

__ADS_1


Karena gerakan tubuh William yang tiba-tiba dan bisikan yang terdengar di telinganya, Angel menggeliat. Ia membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Namun bayangan beberapa orang yang berdiri di depannya membuatnya makin tersadar. Dengan cepat ia bangun dan duduk segera. Memastikan bahwa benar ada beberapa orang di kamar itu, ia membekap mulutnya dengan ke dua tangannya. "Omegot, Wil... kita digropyok."


__ADS_2