
Setelah penjelasan William tentang data diri Angel yang sebenarnya, Kakek dan nenek William terdiam. Mereka saat ini sedang membaca dengan teliti dokumen yang ada di tangan mereka, Di situ terdapat berbagai macam info tentang keluarga, sekolah, foto dan kehidupan Angel beserta keluarganya.
Nenek menghela nafas panjang. Lalu menatap gadis kecil itu. Kemudian berdiri dan duduk di sebelah Angel. Ia menyentuh dan mengelus kepala Angel pelan, sambil berbicara. "Betapa malangnya nasibmu nak, masuk ke kandang buaya."
"Hei, apa maksud nenek? Aku yang telah menyelamatkannya. Coba bayangkan kalau orang lain yang menemukannya? Bisa-bisa dia berakhir di tempat hiburan. Coba lihatlah paras cantiknya nek. Lelaki mana yang tidak terbuai."
"Cih! berlagak jadi pahlawan. Lalu apa bedanya dengan dirimu yang mengurungnya di apartemenmu? Kenapa tidak kau kembalikan pada keluarganya?"
"Jangan! Jangan nek.. Angel tidak mau dipaksa menikah." sahut Angel cepat.
"Lalu bagaimana dengan hubunganmu dan William? Apa dia memaksamu menerima cintanya?" cecar nenek makin dalam.
"Ehm, awalnya iya nek. Tuan memaksa menciumku, lalu menyatakan cintanya padaku dan aku tidak boleh menolak. Tapi.."
"Apa!!" potong kakek dan nenek bersamaan.
William yang mendengar cerita Angel pun memukul keningnya pelan. Kekasih kecilnya ini perlu diajari ilmu kehidupan agar tidak selugas ini. "Kakek..nenek, dengarkan dulu ceritanya sampai habis."
Angel melirik William, kemudian beralih ke neneknya. "Nek, Angel lanjutkan dulu ya. Angel awalnya terpaksa menerima cinta tuan William, tapi... setelah dipikir-pikir Angel tidak perlu menolaknya. Terima saja dulu untuk saat ini, kalau tuan William bertingkah aneh lagi, Angel langsung tinggalkan saja dia. Mudah kan?" jelas Angel sembari tersenyum bangga. Bangga karena pemikiran cerdasnya.
"Hahaahaha" tawa meledak dari kakek dan nenek William mendengar penjelasan gadis kecil ini. Mereka berdua tidak menyangka sesederhana itu pemikiran gadis remaja ini. Mungkin anggapan gadis kecil ini hubungan yang ditawarkan William hanya sepintas pacaran ala remaja yang bisa putus nyambung sesukanya. Benar-benar gadis polos.
Sedangkan William yang mendengarkan jawaban Angel, hanya membulatkan matanya dengan mulut sedikit terbuka. Bingung, terkejut atas kenyataan ini. Seorang cassanova yang biasanya mempermainkan perasaan wanita, saat ini sedang dipermainkan perasaannya oleh seorang gadis remaja. Dia yang baru pertama memberikan ketulusannya, sekarang nampak dijadikan lelucon oleh kekasih barunya.
"Sayang, Mengapa jawabanmu harus seperti itu? Apa kau tidak mau serius denganku?" tukas William sedikit sebal.
"Ehm... tidak. Angel kan hanya menerima tuan menjadi pacar Angel, bukan suami Angel. Angel kan belum cinta bener sama tuan."
"Hahahaha" sekali lagi tawa menggelegar di ruangan itu oleh kakek dan nenek. Belum lagi mbok Rum yang tengah berdiri di sudut ruangan, menutup mulutnya untuk mencegah tawanya terdengar di sana. Saat ini William benar-benar dibuat malu oleh kekasih kecilnya.
Kakek dan nenek tertawa terbahak-bahak atas jawaban polos dari kekasih baru cucunya ini. Mereka tidak mengira ternyata ada juga wanita yang tidak terperosok oleh pesona cucu tampannya itu. Ini adalah kabar bahagia yang harus mereka umbar ke grup chat keluarga. Entah kenapa kakek dan nenek sebegitu bahagianya saat cucunya itu terlihat tak berguna di mata seorang gadis.
Angel yang melihat ekspresi bingung dan sedih terlintas di mata William mencoba untuk menjelaskan lagi. "Tuan, hidup ini sekali. Tidak akan terulang lagi. Jangan sampai keputusan terpenting dalam hidup kita begitu mudah kita permainkan."
William menoleh dan menatap Angel seakan menuntut penjelasan lagi. Dan dia begitu memperhatikan segala yang terucap dari bibir Angel.
"Tuan adalah sosok hebat. Selain tampan tuan ini adalah seorang pria mapan dan dari keluarga terpandang. Wajar juga kalau banyak yang menginginkan untuk bersanding dengan tuan. Sedangkan Angel, masih begitu belia. Belum menghasilkan apapun dalam hidup. Hanya bergantung dengan nama besar keluarga. Apalah Angel bila disandingkan dengan tuan. Angel perlu waktu untuk mempersiapkan diri agar pantas bersanding dengan tuan."
Seluruh orang di ruangan itu terdiam dan terkesiap. Jawaban yang diutarakan gadis kecil ini seperti bukan berasal dari pemikiran gadis remaja pada umumnya. Kakek nenek makin menatap lekat wajah cantik gadis di hadapannya. Angel bukanlah sepolos yang mereka pikirkan. Ada banyak hal bijak yang berasal dari pemikirannya sendiri.
__ADS_1
"Ya tuhan, gadis cantik ini. Kenapa kau sangat pintar menjawab. Sekarang nenek tahu mengapa William begitu terpesona olehmu. Selain cantik, kamu juga jujur apa adanya. Tidak munafik seperti wanita-wanita lain di luaran sana." ujar nenek sembari melirik sinis cucunya.
"Iya nek, kepolosan dan ketulusannya itulah yang membuat aku jatuh hati padanya." sela William sambil memegang tangan Angel dan menggenggamnya erat.
"Ehm.. dan juga..." Angel mencoba melanjutkan penjelasannya lagi, "Angel membutuhkan waktu untuk tuan membuktikan keseriusannya. Apakah benar Angel yang akan menjadi pelabuhan akhir baginya. Tidak bawa pulang wanita ke rumah lagi."
Brak!! Nenek memukulkan tongkat kayunya di meja yang berada di depannya. "Kalau sampai dia macam-macam lagi, nenek dan kakek akan benar-benar menghapus namanya dari kartu keluarga!"
Semua orang terkejut dengan suara keras dari tongkat kayu nenek. Lebih terkejut lagi dengan ancaman dari neneknya. Bila itu terjadi maka siap-siap William akan jadi gelandangan.
William bergidik ngeri dengan ultimatum kakek neneknya. Dia menelan ludahnya kasar. Membayangkan dirinya yang akan dibuang. Namun dia masih berusaha meyakinkan lagi. "Aku akan berusaha agar kau lebih percaya padaku. Andai waktu itu datang, aku mohon kita segera menikah."
Bug! kakek melemparkan bantal sofa tiba-tiba ke arah William. "Haiya...Apa maksudmu segela menikah?"
"Kakek, kenapa melemparku. Aku hanya berkata kenyataan. Mana mungkin aku harus menunggu lama untuk memilikinya. Aku tidak bisa berpuasa lama kek. Aku tidak bisa kalau tidak bercinta."
Nenek berdiri dengan mengangkat tongkat kayunya untuk dia pukulkan ke kepala William. Anak nakal ini benar-benar tidak tahu malu. Apakah keluarganya kurang sedekah sampai mempunyai keturunan luknut sepertinya.
William yang melihat nenek akan memukulnya, telah sigap untuk menghalau hempasan tongkat kayu itu dengan menutup kepalanya dengan kedua tangannya. "Nenek mau aku gegar otak?"
"Iya! biar kau gegar otak, lalu hilang ingatan. Jadi aku bisa mencuci otakmu dan kembali mengisinya dengan memori baru." ucap nenek sambil mendengus sebal.
"Apa!!" teriak William tidak terima. "Tidak kek, tidak boleh. Dia tidak boleh pergi dariku. Dia harus selalu bersamaku."
"Hei, kau lupa dia orang mana? Gadis kecil ini orang Indonesia. Budaya sana mana bisa menerima kalian yang hidup di atap yang sama tanpa status yang jelas. Nenek juga tidak percaya padamu. kalaupun dia tinggal di sini, nenek dan kakek juga harus tinggal bersama kalian." putus nenek dengan senyum liciknya.
William menghela nafas berat. Batal sudah maksud William yang ingin lebih dekat dengan Angel. William yang sudah mempunyai banyak rencana matang untuk menjadi guru kehidupan bagi Angel, sekarang akan nampak sangat sulit menerapkan bila nenek dan kakeknya mengawasi. Ah, harus bermain solo terus kalau seperti ini.
Memangnya mau ngajarin apa sama Angel sih Wil..? Guru kehidupan? Apanya yang hidup wil? hahhh..
***
Di sebuah kamar, seorang pria tampan terbangun dan nampak sedikit panik. David terduduk setelah bangun dari tidurnya yang melelahkan. Yah, semalam ia bermimpi. Bermimpi dengan Alia, melakukan sesuatu yang sangat melelahkan dan nikmat bersamaan. Sesuatu hal yang tertahan akhirnya tumpah juga. Pagi ini ia terbangun dengan keadaan basah di celananya.
David menghela nafas dan menyugarkan rambutnya ke belakang. "hahh.. begini lagi. Mengapa tiap malam aku selalu mengompol? Mengapa tiap malam selalu bermimpi enak?"
Ia segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aroma tubuh yang tercampur dengan aroma kenikmatan yang bercampur padu harus segera ia hilangkan. Lalu ia simpan celananya di tempat baju kotor.
Setelah selesai membersihkan diri, ia berjalan menuju ruang laundry. Tidak lupa ia bawa celana yang telah basah, untuk segera ia cuci. Namun di tengah perjalanannya menuju ruang laundry, Alia menghadangnya.
__ADS_1
"Mau ngapain bang?" tanya Alia penasaran.
David terkejut sampai menjatuhkan celana yang ia bawa untuk ia cuci. Alia terheran atas sikap David yang mencurigakan. Lalu ia melihat celana yang David jatuhkan karena terkejut. Kenapa abang harus sebegitu terkejutnya hanya karena bertemu denganku? tanya Alia dalam hati.
Cepat-cepat David mengambil celana yang ia jatuhkan dan ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Ia tidak mau sampai Alia melihatnya. Itu akan sangat memalukan baginya bila Alia mengetahui rahasia laki-laki di saat bangun tidur. "Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya mau mencuci baju."
"Oh, ya sudah sini, biar Alia aja yang cuci baju."
"Oh, eh, jangan. Abang bisa sendiri." jawab David dengan sedikit terbata.
Ekspresi aneh yang terlihat dari wajah David membuat Alia curiga. Tidak seperti biasanya seorang David yang selalu tenang dan percaya diri, sekarang nampak sangat gugup. lalu ia berpikir dan memiliki ide. Ia dengan gerak cepatnya meraih celana yang David sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Aha! dapet!"
"Alia! Kembalikan! Itu hanya baju kotor." David gugup dan berusaha merebut kembali celananya yang telah ada di tangan Alia.
Alia merasakan celana yang ada di tangannya sedikit basah. Lalu ia bawa celana itu ke hadapannya. "Bang, celananya basah ya?"
"Oh i--iya, tadi jatuh di kamar mandi." jawab David terbata.
Alia memicingkan matanya menatap kegelisahan David hanya karena celana basah. Celana basah? Di pagi hari? Bangun tidur? Ahaa! Alia telah mendapatkan hilalnya.
"Basah karena air kran atau karena air..." ucap Alia sembari menatap bagian tubuh bawah David.
Secara spontan David menangkup bagian inti tubuhnya dengan kedua tangannya atas perkataan Alia.
Alia yang melihat itu kemudian tertawa terbahak bahak. "Abang.. abang, kenapa harus malu sih. Alia mah biasa lihat sapi kawin. Tititnya lebih gede, jadi ga kaget kalau lihat ***** yang lebih kecil."
Wat!! ***** lebih kecil??
David terpancing dengan perkataan Alia yang menurutnya sangat merendahkan harga diri tititnya. Ni anak bisa-bisanya bilang tititku kecil. Ya, kalau dibandingkan sapi jelas beda lah.
"Al, Tititnya abang tidak sekecil itu." ucap David sambil menatap tegas Alia.
"Masa? Mana lihat?" tantang Alia sembari mengerlingkan satu matanya. Jiah..Alia mah suhu. Tontonannya aja pilm 365 days.
**********************************************
Astagfirullah anaknya haji Sofian...
__ADS_1