Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Nyoblos


__ADS_3

Perjalanan yang ditempuh selama satu jam, tak menyurutkan semangat David dan Alia. Satu tangan memegang setir, dan tangan lainnya menggenggam erat tangan Alia. Sesekali ia mencium tangan itu mesra. Senyum terus tersungging di bibir mereka berdua.


Saling mengeluarkan canda tawa di sela obrolan mereka, bernyanyi menirukan penyanyi cina di radio, bahkan saling menggoda satu sama lain. Kebahagiaan itu terus mengiringi perjalanan mereka menuju ke tempat yang sudah David atur sebelum kepergian mereka.


Saat mobil mereka masuk ke area hutan pinus, Alia membuka sedikit kaca jendelanya. Ia hadapkan wajahnya ke kaca jendela, lalu ia hirup dalam udara sekitar. Ia pejamkan mata dan menikmati segarnya udara pegunungan hutan pinus.


David sedikit melirik Alia yang sedang menikmati segarnya udara pegunungan hutan pinus yang saat ini mereka lewati. Sinar mentari yang menyinari area hutan pinus jatuhnya nampak seperti kerlip lampu panggung yang menyoroti wajah cantik Alia. David makin mengagumi kecantikan istrinya.


Tidak jauh dari hutan pinus, sampailah mereka di sebuah kawasan villa elite. Kemudian masuklah mobil yang dikendarai David melewati gerbang megah. Terus masuk melewati gerbang megah itu menuju villa yang David sewa untuk bulan madu singkat mereka.


Alia makin membelalakkan matanya lebar melihat pemandangan di depannya. Di balik gerbang megah itu, terdapat pemandangan yang begitu luar biasa. Taman asri dipenuhi berbagai bunga tulip putih dan krisan merah muda, membuat matanya menatap lapar. Menengok kanan dan kiri taman itu hingga ia tak menyadari kalau mobil yang ia naiki telah berhenti.


Saat tanpa sadar tatapan matanya jatuh di depan mobil itu, ia menganga dan membelalakkan matanya. Ada sebuah rumah besar dan megah berdiri gagah di depannya saat ini. Rumah bergaya eropa modern yang bercat dinding putih dengan sentuhan gold di beberapa ornamennya, membuatnya tampak mewah.


"Wau.. abang, rumahnya indah sekali." ucap Alia sambil membuka pintu mobil untuk keluar. Ia berdiri di depan mobil sambil mendongak dan menatap takjub dengan rumah mewah di depannya. "Ini sih bukan rumah bang. Ini istana raja. Keren banget ini bang."


David menyusul Alia yang sudah lebih dulu keluar dari mobil. Kemudian ia raih tangan Alia dan menariknya lembut untuk ia ajak masuk ke dalam rumah itu. Pintu rumah terbuka dari dalam. Seorang pelayan berbaju kemeja putih dengan cardigan hitam tanpa lengan nampak menundukkan badan dan menyambut mereka.


"Silahkan masuk tuan dan nona. Selamat menikmati suasana."


Alia terkesiap. Ia memandang David menuntut penjelasan. Namun saat ia melihat David yang diam dengan senyum lembutnya, ia pun menurut. Ia pun hanya diam, sembari melangkah mengikuti langkah David yang berada di depannya. David masih terus menuntun Alia memasuki rumah itu.


Memasuki ruang utama, David terus melangkahkan kakinya menapaki tangga besar di sana. Suara langkah kaki mereka yang bersentuhan dengan lantai marmer rumah itu terdengar sangat merdu.


Sesampainya di depan pintu ruangan, langkah mereka terhenti. David menoleh melirik Alia dan berucap. "Al, ini kamar yang akan menjadi saksi bisu kemesraan kita di hari pertama kita menjadi suami istri. Aku harap kau menyukainya."


Alia terbengong bingung untuk mencerna maksud perkataan suaminya. Ia masih begitu terpesona dengan keindahan rumah itu. Namun lamunannya terhenti saat David membuka pintu di depannya.


krekk..


Pintu terbuka. David menuntut Alia untuk masuk ke dalam ruangan itu. Dan lagi-lagi Alia terpana dengan pemandangan di depannya. Tepat di depan pintu yang baru saja mereka buka, tebaran kelopak bunga mawar merah membentuk jalan seakan akan kelopak bunga itu adalah karpet merah sebagai pijakan awal kaki mereka. Alia terus melangkah hingga ke dalam. Dapat ia lihat hiasan mawar merah dan putih di beberapa sudut ruangan. Hingga tatapannya jatuh pada tempat tidur berukuran jumbo dengan warna sprei putih yang berhiaskan handuk putih yang dibentuk seperti sepasang merpati di atasnya.


Nafasnya tersekat saat hiasan indah di atas ranjang itu mengingatkannya tentang malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Wajahnya merona tanpa sadar. Namun tubuhnya tiba-tiba tersentak saat sepasang tangan merengkuh erat perutnya.


"Al, kau ingin mandi dulu atau kita langsung pada intinya?" hembusan nafas hangat terasa di telinga Alia saat David mendekatkan wajahnya di samping kepala Alia. Terasa hangat namun rasa geli lebih mendominasi. Alia menutup matanya sambil mengerdikkan sedikit bahunya dengan tiba-tiba saat hembusan nafas David yang terasa di telinga dan lehernya.


"A-Alia kan tidak bawa baju ganti bang."


"Di dalam kamar mandi ada bathrub. Pakai saja yang ada. Toh kamu tidak akan sempat memakai baju malam ini."


Astaga jantungku mak.. ga kuat eneng! Batin Alia dalam hati.


Alia dengan cepat menuju kamar mandi saat David melepaskan pelukannya. Sampai di dalam kamar mandi, ia menutup pintu, dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi yang baru ia tutup. Ia sentuh dadanya yang bergemuruh hebat. Ini adalah malam pertamanya. Malam pertama yang diimpikannya saat ia merasakan cinta untuk David. Kemudian ia mengedarkan pandangannya di area kamar mandi. Terdapat ruang shower yang luas, bathup yang besar dan berbagai macam produk perawatan tubuh tersedia di dalamnya. Sepertinya suaminya ini memang sudah merencanakan dengan matang.


lalu ia segera membuka pakaiannya dan membersihkan diri. Ia basuh seluruh tubuhnya dengan sabun dan aroma terapi yang menenangkan. Ia ingin memulai pertarungan dengan suaminya dalam keadaan tubuh yang maksimal. Setelah ia selesai membersihkan diri, benar saja, ia hanya mendapatkan bathrub di dalam kamar mandi itu. Tanpa berpikir panjang, ia memakainya. Ia ikat tali bathrub dan melangkah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Saat ia keluar kamar mandi, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar mencari suaminya. Namun kemudian ia melihat sosok David sedang duduk santai di sofa yang terbentang di samping ranjang yang berhadapan dengan kaca jendela yang besar. David memakai bathrub warna putih dan duduk di sofa sambil menyesap secangkir teh hangat di depannya. Pandangan mata david menutup lurus ke arah luar kaca jendela.


Alia mendekati David dan mengarahkan pandangannya mengikuti arah tatapan mata David. Ia lihat pemandangan luar kaca jendela besar itu, terdapat pegunungan hijau yang indah di sana. Namun ia terkesiap saat suara David terdengar.


"Al, kemarilah." perintah David sambil menepuk sofa yang ia duduki.


Alia mengangguk dan menurut. Ia duduk di sebelah David dengan kikuk. Lalu ia kembali menatap pemandangan di luar. "bang, indah sekali ya pemandangannya. Alia suka."


"Menurut abang, keindahan ini tak bisa dibandingkan dengan keindahanmu." ucapnya sambil menatap Alia lekat.


Alia merona. Entah sejak kapan David bisa seromantis ini. Karena sejak awal mereka bertemu, David selalu bersikap datar dan berbicara seperlunya saja.


Tubuh David makin mendekat. Ia menarik dagu Alia untuk menghadapnya. Ibu jarinya mengusap pipi Alia. Lama mereka bertatapan\, kemudian David mendekatkan wajahnya. Tatapannya jatuh pada bibir Alia yang tipis dan merah alami namun sangat sensual menurutnya. Bibir David mendekati bibir Alia. Ia menge*cup pelan bibir Alia. Sejenak berhenti menatap wajah Alia yang kini matanya terpejam. Lalu ia benamkan lagi bibirnya ke bibir Alia\, mence*cap\, mengu*lum\, dan menghisa*ap. Lidahnya pun turut bermain dan membujuk bibir Alia untuk terbuka.


Tangan David merengkuh pinggang Alia agar makin dekat. Dan satu tangannya lagi ia letakkan di tengkuk Alia. Menarik untuk memperdalam ciuman mereka. Terus bermain di dalam rongga mulut Alia sampai pukulan tangan Alia di dada david menjedanya.


Alia tersengal dengan dada naik turun. Ia menghirup nafas sebanyak banyaknya karena ciuman David yang begitu menggebu. Sepertinya Alia masih perlu belajar lagi untuk menarik nafas di sela ciumannya.


Tapi itu tak berlangsung lama. Alia tiba-tiba terpekik saat David berdiri cepat dan menempatkan tangannya di sela kakinya untuk mengangkat tubuhnya. Dengan spontan ia lingkarkan ke dua tangannya di leher David. Menatap lekat wajah David yang begitu dekat dengan wajahnya.


David menggendong Alia menuju ranjang yang tidak jauh dari sofa. Merebahkan tubuh istrinya pelan. Ia langsung menindih tubuh Alia dan kembali menyerbu bibir Alia yang sudah seperti memanggilnya.


"Mmmpphh." era*ngan tertahan Alia membuat suasana makin panas.


Da-da Alia langsung tereskpos dan tegak menantang, membuat Alia refleks menutupi da-danya dengan kedua tangannya. "Malu bang.."


"Tidak usah ditutupi Al. Milikmu sangat indah, Abang suka." ujar David sambil melepaskan tangan Alia yang menutupi bagian da-danya.


Tangan David bergerak mengelus lembut gundukan Alia yang menantang secara melingkar. Gundukan yang lumayan besar, kencang, dan sekal. David meremas pelan hingga memainkan jemarinya pada daging kecil merah muda di puncak gundukan itu. Lalu ia melahap gundukan di sebelah kanan.


"Ahh bang..." des*ah Alia sambil melengkungkan badannya.


Bibir David begitu sibuk mence*cap\, mengh*sap\, dan menggigit daging sekal Alia sebelah kanan\, sementara sebelah kirinya ia remas dan ia pilin puncak mungil itu.


"Ouhh..abang..terusss.."


Saking nikmatnya Alia semakin menyeruakkan kepala David ke gundukan da-danya untuk lebih kuat lagi menghi*sap.


David menegakkan tubuhnya, dan melepas bathrub yang dipakainya dengan cepat. Tidak lupa ia pun membuka bathrub Alia lalu ia lempar ke sembarang arah. David kemudian menatap tubuh Alia dari atas hingga bawah dengan takjub. Jakunnya naik turun menandakan ia begitu berna*su.


Pandangan matanya jatuh pada ke dua paha Alia yang mulus. Ia kuak ke dua paha Alia dengan lebar, supaya ia dengan jelas melihat bagian inti tubuh Alia. Hingga nampaklah bagian paling inti tubuh Alia yang kemerahan dan basah. Lagi-lagi ia menelan ludah.


Ia kuak bibir bawah Alia. Ia gesekkan jemarinya di ruang lembab itu. Menyentil, dan memainkan daging kecil di dalamnya.


"OOuuhhh bang... ahhh..."

__ADS_1


Tubuh ALia makin blingsatan saat David mencabut jemarinya dan menggantinya dengan lidah. Bahkan lidahnya menyeruak masuk ke dalam lubang kenikmatan itu.


"Aahh, aahh,, apa ini bang.."


Merasakan adanya desakan dari dalam perutnya, refleks Alia merapatkan pahanya menjepit kepala ALia. "Bang, Al--Alia.. mau pipis." ucap ALia tergagap.


"pipi-si aku sayang." ucap David sensual.


"Ahhh...OOgghhhhhhhhh" jerit Alia penuh kenikmatan. Tubuhnya melengkung dan tangannya mengcengkram sprei dengan begitu erat.


Tubuh ALia lunglai. Nafasnya tersengal. Matanya terpejam. Wajahnya menyiratkan bahwa ia telah mendapatkan kenikmatan tiada tara.


David mencec*p habis cairan milik Alia. Ia berdiri dan menatap tubuh Alia yang mengkilat karena keringat. Begitu seksi dan menggairahkan. Apalagi dengan kakinya yang mengangkang. Lalu ia mendekatkan lagi wajahnya le telinga Alia. "Kau sangat cantik Al, Apakah kau siap untuk hidangan utamanya?"


ALia membuka matanya. Menatap wajah David yang menatap lekat padanya. Kemudian ia mengangguk. "Lakukan sekarang bang. Inilah yang selama ini Alia tunggu." ucapnya menggoda.


Dengan tidak menunggu lebih lama lagi, David kembali meraup bibir Alia dan melu*matnya. Ia menggenggam erat ke dua tangan Alia dan ia letakkan di atas kepala Alia. Ia posisikan tubuhnya tepat di atas tubuh Alia. Lalu ia dekatkan master miliknya ke hadapan inti tubuh Alia. Perlahan ia masukkan miliknya ke dalam milik Alia. Mendorongnya sedikit demi sedikit. Tidak mudah, namun itu tak menciutkan niatnya untuk segera memiliki Alia sepenuhnya. Hingga di batas kesabarannya, ia hentakkan sedikit keras untuk memasuki inti tubuh Alia.


"Akh! Sakit bang..." jerit Alia sembari meronta untuk melepaskan diri.


"Sabar sayang, sakitnya sebentar."


Kembali David memasukkan masternya sekuat tenaga sampai masuk seluruhnya ke dalam hingga merobek lapisan tipis di dalam sana.


"Aaahhkkkk!!! Sakit bener ini bang.." Alia kembali menjerit kesakitan sambil mencengkeram tangan David dengan kencang.


David menenangkan Alia dengan memeluk dan menci*um bibir sensual istri kecilnya itu.


Setelah Alia tenang, David segera menarik masternya, kemudian memasukkannya lagi. Pelan ia terus melakukan itu berulang ulang. Namun semakin lama pergerakan maju mundur kedua alat ke**min itu kian tak terkendali.


"Aaahh,, aahh...ahh.. " Alia mend*sah patah-patah. Badannya bergoncang karena sodokan sang master.


"Ohh Al..ini nikmat sekali." ucap David sembari gencar menggenjot inti Alia. Bahkan da-da Alia bergerak tak beraturan akibat sodokan master David terhadap lubangnya. Hal itu makin membuat David brutal.


David santap lagi da-da Alia sambil terus menggoyang tubuh intinya.


"Aahh...bang, terus bang, faster!"


David makin mempercepat genjotannya dengan semakin mengkeram pinggung Alia. HIngga kemudian...


"Aaarrgghhh!!! Mereka melenguh dan keluar bersamaan


David terengah engah, begitupun Alia. Lalu ia mencium kening Alia, ke dua matanya, hingga turun ke bibirnya. "Terima kasih sayang, i love u."


David menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Alia, dan kemudian ia dekap erat tubuh istrinya yang sudah tak gadis lagi.

__ADS_1


__ADS_2