Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Otewe Ketemu Camer


__ADS_3

David mengeringkan rambut Alia yang basah. Ia dudukkan Alia di tepian ranjang. Dengan senyum merekah, David begitu tulus melayani istrinya.


"Kenapa bibirnya manyun gitu Al? Abang caplok lagi loh."


"Ih sumpah ya abang nyebelin banget. Liat deh bang, kaki Alia tremor. Bergetar terus dari tadi."


"Masa? Emang kenapa bisa tremor gitu? Kedinginan? Apa kamu butuh kehangatan? Ayok lah abang siap ngangetin."


Cubitan kecil oleh tangan Alia turun juga ke perut David.


"Au! Sayang sakit." ucap David sambil mengusap perutnya.


"Abang ni kok engga ngrasa salah sama Alia?"


"Emang salah abang apa?"


"Pake alasan simulasi mandi di kali ama mahmud. Tapi mandi sambil nungging. Endingnya encot-encotan lagi. Kaki Alia mpe keder tau"


"Oh.. Engga suka? Kalau engga suka kenapa tadi minta jangan berhenti?"


"Sumpah ya bang. Cengok banget tadi Alia. Alia tu sampe bleng loh. Awalnya bilang simulasi mandi sama mahmud di kali. Kok jadi simulasi kawinan si mahmud ya."


"Enak kan? Kira-kira kita nanti praktekin simulasi kawinannya siapa lagi ya Al?"


Mata Alia membelalak kaget. "Astagfirullah abang! Encok bener ini pinggang Alia!"


"Heleh, bilangnya udahan tapi merem melek keenakan. Lihat kamu keenakan mana mungkin abang berhenti. Abang engga tega dong."


"Abang ni ya, udah punya bini, sekarang me*sum nya amit-amit. Dulu aja sok jual mahal. Sekarang nyosor mulu. Nyesel Alia ngegodain abang terus. Kaya membangunkan gorila tidur."


"Yang bener membangunkan singa tidur Al..."


"Gorila abang... Ti*titnya gorila lebih gede daripada singa."


"Oh... Mengakui kalau ti*titnya abang lebih gede?"


"Auk ah!"


"Al, nanti simulasi kawinannya serangga yuk."


"Haa? Serangga? Emang kawinannya serangga kek mana bang?"

__ADS_1


"Tubuh betina di atas tubuh si jantan."


Betina di atas tubuh si jantan?


Perkataan itu terus terngiang. Pipi Alia merona. Pikirannya melalang buana dengan bentuk serangga yang sedang bergumul.


"Ehem, bang, kok jadi aneh ya Alia ngebayanginnya. Serangga apaan ya bang? Kasih kisi-kisinya dong biar Alia engga cengok."


"Entar juga abang kasih tahu. Yang penting makan dulu, biar ada tenaga. Abis makan abang pijitin kakinya, biar kuat naik turun."


"Naik turun? Emang mau ke mana?"


"Abang ajak ke nirwana, surga dunia."


Alia sang gadis bukan perawan cuma melongo dengan banyak pertanyaan. Ternyata ilmu yang ia dapat dari pelajaran biologi di sekolah masih sangat minim. Ia sangat bersyukur menikah dengan David yang mempunyai lebih banyak referensi dalam proses pembentukan embrio. Sepertinya David jadi anak Ipa dari Smp deh. Sedangkan Alia masuk Ipa pas Sma aja, makanya ilmunya beda tingkatan. Ahh makin cinta sama abang.


**


Di tempat lain, di tengah sidang putra terbaiknya dengan gadis kecil yang sepertinya sudah jadi korban putranya. Bagaimana tidak menjadi korban, gadis yang seharusnya polos dan lugu, kini tengah menuju dewasa sebelum waktunya. Ia merasa kasihan karena Angel sudah menyusui, sedangkan ia belum mempunyai anak. Dan yang disusuinya adalah putra semata wayangnya.


"Angel, ayah dan mama sudah bertemu dengan keluargamu."


"Apa?"


"Ba-bagaimana bisa?" sahut Angel gagap.


"Ayah, apa maksud ayah menemui mereka?" tambah William.


"Tentu saja melamar Angel untukmu! Bukankah kau harus bertanggung jawab karena sudah menodai Angel!"


"Ayah...aku tidak melakukan hubungan intim dengannya. Aku benar-benar menjaga kesuciannya."


"Nah, itu kau tahu. Angel adalah wanita suci. Dan sekarang kesuciannya kau kotori dengan tubuhmu yang tak suci. Pria yang suka lubang berjalan."


"Oh ayolah ayah.. Aku sudah tobat. Aku ingin membina rumah tangga. Aku serius kali ini."


"Justru itulah kamu harus segera menghadapi keluarganya. Nanti malam kita ke shanghai. Kita harus bertemu dengan orang tua Angel. Itulah yang akan membuktikan keseriusanmu."


**


Menjelang petang, ayah Xian beserta keluarga besar keluarga Choi lainnya menaiki pesawat pribadi untuk menuju ke shanghai. Apartemen yang disewa keluarga Mahendra.

__ADS_1


Di dalam pesawat pribadi yang mewah itu, terdapat sofa oval sebagai ruang utama. Di sana ada orangtua William, kakek nenek, paman dan bibi William beserta putra putri mereka. Tidak lupa Gongyu mengikut sertakan Melda yang sudah diakui sebagai calon istrinya.


Xialin mencoba memecah suasana. "Paman, apa benar Willi akan menikahi Angel?"


"Benar. Sebelumnya kami sudah melamar Angel di Indonesia. Dan hari ini adalah giliran Willi bicara sendiri dengan keluarga Angel. Mereka harus tahu bagaimana bentuk calon menantu mereka."


"Paman, apa paman yakin memilih Wanita itu menjadi menantumu?" tanya Gongyu menyela.


Ayah Xian mengernyitkan keningnya, lalu tatapannya tertuju pada putranya. Dan ia semakin paham arah pembicaraan keponakannya itu setelah melihat senyum tipis di bibir Willi.


"Oh, apa ada yang salah? Kenapa aku harus keberatan dengan pernikahan Willi dan Angel. Mereka sangat cocok." jawab ayah Xian.


"Paman, wanita itu hanya seorang pembantu."


"Ehem. Gongyu, jaga bicaramu." potong ayah Gongyu menyela. "Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan urusan sepupumu."


Ayah Xian tersenyum kecil. Ia menganggukan kepalanya. Keponakannya ini memang dari dulu bermulut tajam. Bahkan di depan semua orang dia berusaha menjatuhkan Willi dan Angel.


"Gongyu, paman dan bibi beserta kakek dan nenek sama sekali tidak keberatan. Kami sangat menyukai pilihan Willi. Angel adalah gadis cantik dan baik. Hanya dialah yang bisa merubah Willi ke arah lebih baik. Bukan wanita-wanita malam lainnya." ucap ayah Xian sambil melirik tajam ke arah Melda.


Melda yang merasa di tatap tajam oleh ayah William pun refleks menundukkan kepalanya. Dia serasa menjadi tersangka di pengadilan. Dia tak menyangka sebelumnya kalau orang tua William tahu tentang apa yang sudah ia lakukan bersama putra mereka. Namun ia tidak berani menyuarakan pendapatnya. Karena siapapun orang di Beijing tahu bagaimana karakter keras orang tua William. Keluarga besarnya benar-benar hancur kalau ayah Xian bertindak. Tidak, dia tidak boleh gegabah.


"Paman, maafkan kakakku. Kakak hanya terlalu memikirkan sepupu. Kami semua cuma ingin memastikan yang terbaik untuk saudara sepupu kami." sahut Xialin dengan ramah.


Ayah Xian tersenyum sembari menatap keponakan kecilnya itu. "Xialin, kau tidak berubah dari dulu. Selalu baik dan perhatian. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan selalu."


"Terima kasih paman. Tapi sayangnya Toni menolak cintaku. Aku belum bahagia paman."


Bug! Nenek melempar bantal sofa ke kepala Xialin.


"Au! Nenek... Kenapa nenek selalu menyiksaku?" ucap Xialin sambil mengelus kepalanya.


"Siapa suruh kau genit. Nenek malu mendengar cucu nenek mengemis cinta dari seorang pria. Kamu tenang saja, nenek akan mencarikan jodoh yang baik untukmu. Toni itu tidak jauh beda kelakukannya dengan Willi. Jadi tidak usah berharap terlalu banyak."


"Tapi aku suka yang seperti itu nek. Toni pasti punya banyak pengalaman untuk bisa diajarkan padaku."


"Pengalaman apa maksudmu?" tanya nenek ingin tahu.


"Pengalaman bercinta dong."


Bug!bug!bug!

__ADS_1


Nenek melayangkan tas jinjingnya ke kepala cucu perempuannya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Xialin. Ternyata bukan hanya Willi yang konslet otaknya.


Sedangkan seluruh keluarga yang disana hanya menggelengkan kepalanya. Ada yang meratapi kebodohan Xialin, ada yang menertawakan selera pria pilihan Xialin. Seorang nona muda keluarga Choi jatuh hati pada pria pengelana wanita malam. Sungguh ironi.


__ADS_2