Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Bucin


__ADS_3

Babak pertama yang terjadi di kamar mandi, berlanjut menjadi babak kedua saat Melda sudah berpakaian rapi. Sang daddy tirinya begitu terpukau dengan penampilan Melda hingga menimbulkan reaksi alamiah di inti tubuhnya. Pria itu terus mengamati hingga mereka sama-sama bergerak meninggalkan apartemen.


Saat mereka berdua masuk ke dalam mobil, sang daddy tidak dapat menahannya lagi. Setelah memastikan Melda menutup pintu mobil, ia kemudian menguncinya. Pria itu melirik Melda yang tengah memasang seatbeltnya. Namun segera ia tahan tangan Melda.


Melda yang sedang berusaha mengaitkan seatbelt nya pun menatap daddynya yang menahan tangannya. "Ada apa dad?"


"Sayang, kau sangat cantik hari ini." ucap daddy dengan mata penuh pemujaan.


Melda yang menyadari arti tatapan daddy tirinya pun dengan tenang menjawab, "Sudahlah dad, kita sudah terlambat. Mommy pasti memarahi kalau aku tidak segera datang ke kantor."


"Ayolah sayang, sebentar saja. Apa kau tidak tertarik melakukannya di dalam mobil? Ini sangat menantang adrenalin. Aku jamin kau akan sangat puas." bujuk daddy merayu.


Sebelum Melda sempat menjawab, sang daddy sudah menarik tengkuknya dan menyambar bibir merahnya. Menghisapnya lembut namun berhasrat.


"Emmhh.." Mulut Melda terbungkam namun terus berusaha melepaskan diri.


Namun sialnya, daddynya segera menurunkan sandaran kursi mobil untuk merebahkan tubuh Melda. Satu tangannya memegang tengkuk Melda untuk memperdalam ciumannya, dan satu tangannya merogoh dua bongkahan yang terbungkus rapi di balik jas kantornya.


"Hahh..dad.. plis jangan beg... ehhmmm..."


Melda melenguh saat tangan daddynya berhasil menemukan kelereng kecil di sana. Memelintirnya, dan terkadang memutarnya. Hingga saat pria itu sengaja mengeluarkan satu bongkahan itu dan menghisapnya. Dengan mulut yang masih sibuk di atas sana, tangannya berjalan menuju rok bawah Melda. Ia singkap rok itu dan melepas segitiga pembungkus di dalamnya. Ia usap lembut burger milik Melda dengan sesekali menggetarkan jarinya.


"OOhh dad.."


Pria itu menegakkan kembali tubuhnya, membuka resleting celana panjangnya dan membukanya. Secepat kilat ia mengangkat tubuh Melda ke atas pangkuannya. Pria itu menempatkan tubuh Melda tepat di atas senjatanya.


"Ahk!" jerit tertahan Melda begitu terdengar merdu bagi daddynya.


"Ayo sayang, selesaikan secepatnya."


Tubuh langsing Melda dengan mudah terangkat oleh tangan daddy nya. Nafasnya tersengal sengal saat berada di pangkuan daddy nya. Dia melihat keluar mobil mengamati sekelilingnya. Ia nampak lega saat tahu situasi basement apartemen saat ini sepi karena sudah masuk jam kerja.


Di rasa aman, Melda mengemudikan tubuh sang daddy. Tubuhnya turun naik di atas tubuh pria itu. Hingga membuat mobil itu bergerak tak beraturan. Dengan nafas memburu dua manusia yang sedang berusaha menuntaskan kepuasan itu,  tidak mempedulikan segalanya. Bahkan tidak mempedulikan handphone Melda yang sedari tadi berbunyi. Hingga kemudian terdengarlah lolongan panjang dari mulut sang wanita, di susul auman keras dari sang pria. Sungguh pertarungan yang menegangkan dan menyenangkan telah mereka dapat hari ini.


"Dad, aku tidak mau ini terulang lagi, oke?" ucap Melda sambil merapikan kembali pakaiannya. Lalu ia mengambil make up nya dan kembali menancapkan ke kulit wajahnya.

__ADS_1


"Ini sangat nikmat sayang. Sesekali kita harus melakukannya di alam terbuka. Daddy akan atur untukmu pekerjaan luar kota. Agar kita bisa merealisasikannya segera."


Melda melirik sinis daddynya. "Dad..tidak usah macam-macam. Mommy akan segera mencurigaimu kalau kau bertindak begitu gegabah."


Pria itu menghela nafas berat. "Sayang, aku tidak suka cara mommy mu untuk memperoleh keuntungan. Ikutlah denganku dan kita pergi dari cina. Kita buka lembaran baru di negara lain. Lalu kita bangun sendiri keluarga kecil kita. Dan kau tidak perlu lagi mengikuti permainan mommy mu."


"Dad, plis jangan lagi membahas itu. Aku tidak bisa membiarkan mommy ku berjuang sendiri. Ini adalah perusahaan ayahku, peninggalan satu-satunya dari ayahku. Lalu kenapa daddy tetap di sini? Kenapa daddy memilih untuk bertahan dengan mommy?"


"Daddy bertahan dengan mommy mu tentu ada maksud. Dan itu semua karenamu sayang. Aku tidak bisa membiarkan mommy mu terus menyiksa batinmu. Melimpahkan segala kepentingan perusahaan di atas pundakmu. Dan saat melihat mommy mu terus bersikap otoriter, rasanya ingin ku bawa pergi dirimu. Aku benar-benar tak tahan melihat wanita yang kucintai menderita."


Melda tertegun. Ia melihat pria yang ia panggil daddy dengan lekat. Pria yang berusia lima belas tahun di atasnya. Pria pertama yang menyentuhnya. Dan pria pertama yang mematahkan hatinya.


"Daddy adalah istri mommy."


"Kau tahu kalau kami menikah bukan karena cinta. jadi tidak perlu kau tanyakan lagi. Bila kau menjawab iya, maka aku akan segera mengatur segalanya agar kau bisa terlepas dari genggaman mommy mu. Dan setelah itu, kita pergi jauh. Meninggalkan segala kenangan pahit dan membuka lembaran baru."


Pria ini bernama Brian Yang. Dia ingat betul empat tahun yang lalu di saat usianya menginjak dua puluh tahun, mommynya menikah lagi dengan lelaki yang usianya lebih muda. Melda merasa hal itu tidak benar karena ayahnya baru saja meninggal. Dan belum genap satu tahun, mommynya memutuskan untuk menikah lagi.


Brian Yang, seorang pengusaha muda yang tengah naik daun, entah bagaimana ceritanya memutuskan menikah dengan janda yang sudah berumur. Bila alasan kekayaan, itu tidak mungkin. Karena pria itu tidak kalah kaya dengan keluarganya. Namun apa yang sebenarnya terjadi ternyata tidak sesederhana itu. Mommynya adalah wanita yang sangat ambisius. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan tidak segan menjebak Brian hingga tidur dengannya. Hingga mengancam Brian akan menyebarkan foto dan video saat percintaan mereka bila Bria tidak mau bertanggung jawab.


Akhirnya terjadilah pernikahan itu. Pernikahan yang sebenarnya tidak diinginkan Brian. Hingga kejadian itu menumbuhkan rasa benci terhadap mommynya. Bahkan saat ia tahu Brian yang sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini, membuatnya kian ingin membalas mommynya.


Lamunan Melda buyar saat suara daddy Brian menyapa indera pendengarannya.


"Sayang," panggil daddy Brian saat melihat Melda terdiam dengan pandangan kosong.


Melda tersentak dan menatap daddynya. "Daddy, ayo kita segera kekantor. Mommy sudah menunggu."


Daddy Brian mendengus pelan dan berkata, "Baiklah,"


**


Alia memasuki kamar Angel tiba-tiba. Melihat Angel duduk bersandar di ranjangnya. Kemudian ia naik ke tempat tidur adik iparnya.


"Apa!" ucap Angel saat melihat Alia menghampirinya.

__ADS_1


"Baca apa?" tanya Alia ingin tahu.


"Panduan menikah. Emang elu aja yang bisa nikah. Gue juga bakalan nikah." sahut Angel ketus.


Alia mengambil buku yang tengah di baca adik iparnya dengan cepat. Melihat covernya dan membuka per lembar halaman buku itu.


"Omegat, buku apaan ini Lince? Terlalu teoritis. Sedangkan yang kita butuhkan adalah buku panduan er*tisme untuk menunjang keahlian peranjangan."


"Haa? Kok engga intinya aja sih li? Maksud elu apaan? Peranjangan apaan sih?"


"Lince sayang, dengerin kakak iparmu yang cerdas ini ya. Engga perlu deh kamu baca buku panduan dalam berumah tangga, yang alurnya sudah ketebak banget. Paling isinya gimana cara melayani suami di rumah, gimana cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan, dan bagaimana cara mengelola keuangan rumah. Lakik elu tuh kaya, sudah ada yang ngatur semua kebutuhan rumah tangga. Elu cukup nunggu suami elu pulang kerja trus ngangkang di atas ranjang. Jaga kesehatan dan kebugaran agar tahan lama kalau main sama lakik elu. Secara lakik elu kan bule. Pasti gede, panjang dan tahan lama. Jadi yang perlu elu lakukan hanya olah raga dan sering-sering ke salon untuk perawatan tubuh terutama burger elu."


Penjelasan Alia yang panjang lebar itu membuat Angel bingung. Burger? Apakah dia harus pandai memasak burger juga?


"Ngapa juga masak burger di salon sih li?"


"Astaga naga Lince. Bukan burger makanan yang gue maksud. Tapi burger yang elu sempaki!"


Angel terhenyak. Seketika pandangan matanya mengarah pada selang...kangannya. "Jadi burger yang elu maksud si meky ya li?"


Alia mengangguk cepat. "Yes!"


"Li, sumpah gue makin engga paham." ujar Angel makin bingung.


"Oke, sekarang gue akan perlihatkan ke elu gimana sih sebenarnya kawin itu? Siniin laptop elu!"


Setelah mendapatkan laptop Angel, Alia segera berselancar ria di sana. Ia membuka website yang isinya berbagai permainan peranjangan. Dengan panduan sepupunya di kampung, Alia mendapatkan alamat websitenya. Dan akhirnya berbagai pilihan ada di sana. Dari permainan di bioskop, kolam renang, dan permainan dua manusia beda usia. Dan dengan ukuran rudal yang mencengangkan.


"Nih lihat! ini panduan buat kita-kita biar bisa nyenengin suami."


Angel membelalakkan matanya. Ia benar-benar tercengang. Melihat berbagai macam posisi dan berbagai macam bentuk dan ukuran tersaji di sana.


"Gila! Apaan ini! Busyettt gede amat itu. Kek tititttnya si Kevin, lakiknya mahmud."


"Nah sekarang elu enter aja yang mau elu lihat. Biar elu khatam. Gue tinggal bentar ya. Abang elu pasti pengen nyusu kalo udah capek kerja. Biar tambah semangat kerjanya, dia harus ngerjain gue dulu. Bye..."

__ADS_1


Angel hanya mengangguk lemah karena pikirannya dilanda pertanyaan. Sahabatnya yang telah menjadi kakak iparnya ini benar-benar level tinggi. Dia sampai bingung mengartikan segala ucapannya. Angel terdiam dan hanya melihat Alia melangkah pergi dari kamarnya dengan berbagai pertanyaan yang bersarang di otak kecilnya.


'Kok Lia kelihatan seneng sih dikerjain abang? Gue aja ogah dikerjain. Dasar bucin."


__ADS_2