
Malam ini William mengurung diri di kamar setelah asisten pribadinya, Toni menyerahkan beberapa berkas yang harus ia periksa.
Di tengah kesibukannya tersebut terdengar suara ketukan pintu. William mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu segera membukanya dan masuk ke ruangan segera.
Angel masuk ke dalam setelah dipersilahkan tuannya. Ia berjalan menghampiri William yang tengah duduk dengan laptop yang menyala dan tumpukan berkas yang berada di atas meja kerja.
"Kopinya tuan."
William hanya berdehem tanpa melirik Angel. Dia sangat fokus pada yang dikerjakannya saat ini karena besok harus sudah selesai semua.
Angel segera melangkah mundur setelah meninggalkan secangkir kopi di atas meja William. Namun baru dua langkah, ia berhenti tiba-tiba.
"Tuan, ini ada berkas yang jatuh di bawah meja."
Tanpa melihat William menjawab, "Buang saja".
"Tidak bisa tuan, ini sangat penting. Ini perjanjian perusahaan tuan dengan perusahaan penyedia bahan mentah."
William menghentikan kegiatannya, dan mengangkat kepalanya untuk melihat Angel yang menyodorkan kertas padanya. Lalu ia ambil kertas itu dan melihatnya.
Ya, ini tidak salah. Ini tepat seperti yang Angel katakan. Tetapi ada yang membuatnya bertanya-tanya. Bagaimana Angel tahu, sedangkan yang tertulis di kertas itu tulisan yang memakai bahasa Rusia.
"Permisi tuan," ucap Angel sebelum pergi meninggalkan ruang kerja William.
"Tunggu!" interupsi William. Dia berdiri dari kursinya lalu melangkah mendekati Angel yang berdiri di dekat pintu. Dia berdiri di depan Angel sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya.
"Bagaimana kamu tahu itu surat perjanjian distribusi bahan mentah perusahaan. Apa kamu bisa mengerti apa yang tertulis di sana? Apa kamu menguasai bahasa Rusia?
"Sedikit tuan. Kebetulan nenek Angel dari pihak mama asli Rusia."
"Lalu bahasa apalagi yang kamu bisa?"
"Ehm, selain indonesia, ada bahasa Inggris, Rusia, Perancis, dan sedikit Jerman. Tapi saya tidak bisa bahasa cina tuan."
"Ah.. Begitu. Apa kamu mau diajari bahasa cina? Kalau kamu mau, aku bisa mengajarimu."
"Oh ya? Angel mau tuan. Angel suka sekali sesuatu hal yang baru. Angel cepat belajar kok. Angel tidak akan mengecewakan tuan." ujar Angel dengan penuh semangat.
Sedangkan William yang mendengarkan mengartikan lain maksud dari kata-kata Angel.
Suka dengan sesuatu yang baru
__ADS_1
Angel cepat belajar
Sepertinya William memakai sudut pandang yang berbeda dengan yang dilakukan Angel. Sudut pandang gadis kecil lugu, dengan sudut pandang seorang suhu peranjangan sepertinya tidak akan bisa berjalan beriringan.
Namun sang suhu, William tentu akan dengan mudah menyelaraskan cara berpikirnya agar dipahami dengan baik oleh gadis kecil ini. Bagaimana caranya? Tentu dengan sedikit terapi yang langsung dipraktekan.
Gadis kecil ini suka sesuatu hal yang baru, tentu saja karena dia anak baru gede yang akan selalu penasaran dengan segala yang baru ia temui. Dan William akan memberikan sesuatu yang baru untuk dia berikan pada Angel. Pelajaran berharga untuk menambah ilmu pengetahuan gadis itu. Dan gadis secerdas Angel yang katanya cepat menyerap pelajaran, tentu membuat semangat William membuncah untuk segera menjadi gurunya. Apalagi Angel sendiri yang mengatakan tak akan mengecewakan. Baiklah, kira-kira apa yang akan diajarkan William pada anak bau kencur ini?
Bagaimana caranya berciuman
Bagaimana caranya memuaskan
Dan bagaimana caranya bercin--
Ah William... Isi otakmu.
"Baiklah, aku dengan senang hati akan menjadi gurumu. Kau sendiri yang bilang tidak akan mengecewakanku kan? Jadi kau harus nurut apa yang aku suruh." ujar William dengan menarik sudut bibirnya sedikit.
Matanya memicing menatap wajah Angel yang ayu dengan beberapa rencana pengajaran yang akan ia terapkan.
"Satu jam lagi temui aku di kamarku untuk memulai pelajaran pertama." perintah William lugas.
"Iya tuan, saya akan datang tepat waktu. Angel orangnya selalu disiplin waktu kok."
...****************...
Di waktu yang sama di tempat berbeda, Alia dan David kembali merasakan kekecewaan. Orang yang baru saja mereka temui bukanlah yang mereka cari.
Di sinilah mereka berdua sekarang. Duduk di sebuah bangku taman yang tenang dan sunyi. Mereka melepas lelah setelah perjalanan panjang mereka.
"Bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami ya bang." Keluh Alia sembari menghela nafas berat.
David yang duduk di sebelahnya menoleh. "Apakah kamu sudah bosan?"
Alia menggeleng dan mengucap, "Tidak bang, bukan itu, tapi Alia khawatir banget. Lince tu lugunya kebangetan. Alia takut ada yang memanfaatkan keluguannya."
"Kamu dulu juga lugu." ucap David tiba-tiba.
"Ih abang nih, sumpah ya nyebelin. Bibir Alia jontor nih ya lama-lama. Kebas loh bang diisepin abang terus."
David menyentil pelan kening Alia. "Ish kamu tu ya. Ngomongnya fulgar banget."
__ADS_1
Alia mengusap keningnya pelan sambil nyengir memperlihatkan gigi putihnya. "Hilih, abang sok jaim. Alia pikir abang alim, eh suhu juga rupanya. Suka nyosor anak gadis orang."
"Halah, kamu juga suka." ucap David sembari merangkul pundak Alia posesif. "Awas aja kamu kalau genit sama cowok lain."
"Alia ga pernah ya genit-genit gitu. Tapi digenitin sering." ucap Alia bangga.
"Kamu serius mau kuliah kedokteran?" David bertanya dengan nada serius.
"Iya bang, Alia pinter loh di sekolah. Terutama pelajaran biologi."
"Oh ya. Bagian mana yang kamu suka."
"Yang bagian alat reproduksi." Jawab Alia dengan lantang.
David mengernyitkan keningnya tanda bertanya.
"Alia tu ya bang, pengen jadi dokter kandungan. Alia dulu merasa kagum dengan makhluk kecil yang hidup di dalam perut wanita. Itu suatu hal yang... Menakjubkan. Ciptaan tuhan yang menjadi anugerah bagi beberapa orang. Bayi kecil yang tumbuh di rahim wanita adalah keajaiban menurutku bang." jelas Alia dengan mata yang berbinar terang.
David tersenyum sambil memandang Alia lekat. Gadis lugu ini makin menggemaskan baginya.
"Tapi menurut Alia ada satu hal lain yang lebih seru bang."
"Oh ya, apa itu?"
"Yang seru itu adalah bagaimana proses terbentuknya makhluk kecil itu. Bagaimana cara sel sp***a masuk ke dalam buat ketemu sama sel telur." ucap Alia sambil mengerlingkan satu matanya.
Nafas David bagai tersendat dengan semua penjelasan kekasih kecilnya itu. Apalagi Alia menjelaskan dengan posisi tubuh yang sangat dekat dengan tubuhnya, dan memainkan satu kancing kemejanya. Ditambah sedikit elusan di dada David, dan suara manja namun seksi mengiringi kesyahduan.
Satu tangannya menangkup tangan Alia yang memainkan kancing kemejanya. Ia tatap mata Alia dengan tatapan yang mulai membara.
"Al, jangan mancing-mancing lagi deh."
"Alia kan menjelaskan yang tadi abang tanyain. Alia juga sekarang mulai tertarik dengan pelajaran biologi yang lain bang."
"Hem, apa itu?"
"Tentang anatomi tubuh manusia." ujar Alia sembari menurunkan tangannya yang tadinya dalam genggamam David menuju ke arah perutnya David.
Alia sedikit meraba perut David sambil menahan tawanya agar tidak meledak. Alia memperhatikan ekspresi David yang mulai tidak nyaman dengan sentuhan Alia di beberapa tubuhnya.
Arah pandangnya menuju jakun David yang naik turun. Lalu ia sentuh jakun David dengan lembut, kemudian pertanyaan kembali ia utarakan.
__ADS_1
"Abang enggak nanya bagian tubuh mana yang Alia suka?"