
Udara dingin Shanghai tidak membuat suasana di apartemen keluarga Mahendra juga dingin. Di dalamnya begitu hangat dengan celotehan putra putri papa Ronan.
Sore tadi abah Sofian dan emak Titin sudah kembali ke tanah air. Mereka sudah harus mempersiapkan hajatan besar pernikahan putri semata wayang mereka karena telah di pinang oleh putra mahkota keluarga Mahendra.
Bahkan sepanjang jalan, abah sudah menyeleksi sapi mana saja yang akan menjadi santapan di selametan pernikahan putrinya.
**
Dan di sinilah mereka berada. Papa Ronan, mama Jasmine, Angel dan Alia. Berkumpul di ruang utama dengan tatapan mata yang tertuju pada acara televisi. Hingga tercetuslah pertanyaan dari mama Jasmine.
"Al, dimana David? Kenapa setelah makan malam dia tidak terlihat lagi."
"Abang di ruang kerja mah. Benerin laptopnya Lince yang eror." jawab Alia sambil menyantap rambut nenek yang abahnya bawa dari kampung.
"Laptopmu kenapa sayang?" tanya mama Jasmine pada Angel.
"Virusnya bejibun mah. Abang kan pro. Angel males kalo harus mantengin laptop cuma buat berisihin virus." jawab Angel sambil memelintir rambut nenek menjadi bola-bola kecil sebelum menyantapnya.
Tidak lama kemudian, nampak David berjalan menuju ruang utama. Ia duduk di samping Alia dan mengambil mangkok kecil yang berisi cilok bumbu kacang di dalamnya.
"Sudah beres kan bang, laptop Angel?" tanya Angel saat melihat David duduk di sebelah Alia.
"Sudah."
"Memang kenapa sih laptopnya Angel? perasaan di Indonesia tidak ada masalah kan?" sela mama Jasmine pada David.
David menghela nafas beras. Ia letakkan mangkok ciloknya ke meja kembali. Menatap wajah mamanya untuk menjawab. "Laptopnya Angel itu kemasukan banyak virus karena dia buka website aneh. Apa karena dia mau nikah sampai harus membuat laptopnya eror?"
"Apa hubungannya mau nikah sama laptop Angel yang eror?" tanya mama Jasmine kembali.
"Iyalah mah... Dia aja buka website pilm pornoo. Pantas saja kalau virusnya ngikut. Pasti semua gambar dia lihat. Tau David sekarang bakat terpendamnya."
"Pilm pornoo??" tanya papa Ronan dan mama Jasmine bersamaan.
Pluk!
Angel melempar bantal sofa ke tubuh David.
"Abang! Orang Angel cuma nurut kata Alia kok. Tu tanya aja sama orangnya langsung."
Semua orang menghentikan sejenak kegiatan mereka dan memandang Alia yang tengah salah tingkah. 'wat de hell adik ipar gue!' teriak Alia dalam hatinya.
"Ehem, pa, ma, kayanya abah nelpon deh. Alia ke kamar dulu ya." ucap Alia sambil berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
Sedangkan semua orang hanya memandang punggung Alia yang mulai menjauh.
Mama Jasmine menepuk jidatnya pelan sambil menggelengkan kepala. "Astaga Alia. Engga berubah sengklehnya. Lagian mana ada pak haji telpon, orang sekarang masih di dalam pesawat. Angel sayang, Alia kok dapet alamat situs pornoo darimana sih?"
__ADS_1
"Kayanya dari pemuda karang taruna kampung Bojong mah."
"Lalu untuk apa kamu nonton kaya gitu sih?" tanya mama Jasmine lagi.
"Ya buat menambah ilmu pengetahuan dong mah."
"Jadi maksudmu nonton bokep itu untuk menambah ilmu pengetahuan?" sahut David
"Hem. Alia bilang Angel harus nonton itu biar Angel engga cupu. Biar bisa tahu apa saja yang harus dilakukan kalau sudah menikah."
"Mama bingung dengan pernyataanmu sayang. Masa nonton bokep menambah ilmu?"
"Mah, itu film adalah referensi hidup berumah tangga. Anggap aja tutorial gratis untuk pembelajaran kita. Masa kita tau teori aja tanpa praktek? Masa kita cuma di suruh ngapalin anatomi tubuh tanpa tahu fungsinya. Dan mana mungkin kita mendalami bagaimana terbentuknya embrio tanpa tahu prosesnya. Engga maju bangsa kita kalau selalu open book. Terlalu banyak imajinasi tanpa realisasi."
"Oh jadi itu yang kamu dapat dari menonton bokepp?" tanya David sekali lagi.
"Hehehe kalau pernyataan itu Angel kutip dari suhu tertinggi se kampung Bojong bang. Dari kakak ipar Angel tercinta. Alia Berliana binti haji Sofian. Katanya biar lebih handal saat kkn. Nonton pilm itu ibaratnya sekolah, dan kkn nya itu ya setelah menikah."
Pftt! Uhuk! Papa Ronan tersedak air teh yang baru saja ia minum.
"Mah, kayanya nanti sampai rumah kita harus selametan deh. Kita kasih nama anak kita Angel kan dengan harapan dia manis dan baik layaknya malaikat. Kok ini kaya..."
"Papa!" potong Angel mendengar papa Ronan yang membicarakannya.
David terbahak. Kemudian berucap. "Papa salah. Kita harus memanggil pak yai temennya abah Sofian. Karena hanya dia yang bisa menangani masalah ini."
"Ya buat ruqyah Angel dong pah. Kali aja anak dajal dah nyungsep ke ubun-ubunnya."
"Abang! Iya Angel anak dajal, trus emaknya istrimu itu! Angel kan cerdas gini karena jadi muridnya."
Sekarang giliran papa Ronan dan mama Jasmine yang tertawa terbahak bahak. Hingga membuat David malu sendiri.
"Ehem! Pa, ma... David permisi ke kamar nyusul Alia ya. David mau kasih hukuman buat dia." ucap David sembari berjalan menuju kamarnya.
Angel terkesiap mendengar kata hukuman dari mulut abangnya, lalu menyahut. "Abang! Jangan gitu dong. Alia kan sudah berjasa buat Angel."
David menghentikan sejenak kakinya, lalu menoleh ke arah Angel. Dia kemudian menjawab. "Hukuman enak. Tenang aja Alia suka kok. Dah ya, abang masuk dulu."
Sambil melihat punggung abangnya yang makin menjauh, Angel kembali duduk menghadap papa mamanya.
"Mah, emang ada hukuman enak?"
Papa Ronan dan Mama Jasmine berusaha merapatkan mulutnya untuk menahan tawa.
"Maksud abangmu tadi ya yang seperti kamu bilang tadi kan? Kkn."
"Ohhh. Proses pembentukan embrio ya mah. Wah, abang gercep juga. Bisa-bisa Alia cuti kuliah sebelum datang waktu kuliah ya mah."
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya mama Jasmine.
"Bisalah. Orang bunting duluan sebelum masuk kuliah. Jadi cuma setor nama doang di universitas. Datang ke kampus bukan buat registrasi tapi malah ambil cuti. Hahahaha!"
Terdengarlah tawa yang saling bersahutan di ruang keluarga itu.
**
tok,tok,tok!
"Al...buka pintunya atau abang dobrak?" ucap David sambil terus mengetuk pintu kamar mandi yang sedari tadi dikunci Alia dari dalam.
Ya, Alia begitu ketakutan setelah aibnya terbongkar oleh sahabat dekatnya sendiri.
"I-iya bang."
Cekrek..
Pintu sedikit terbuka dan mulai menampakkan tubuh indah Alia di depan David. Ia menundukkan kepalanya tak sanggup untuk berhadapan dengan suaminya.
David memandangi istrinya dengan ekspresi yang tak mudah ditebak. Ia berjalan makin dekat dengan tubuh istrinya dan berbicara dengan lembut.
"Jadi itulah kenapa kamu bisa melakukan itu tadi pagi?" tanya David dengan lirih.
Alia mengangguk lemah. "Iya bang. Alia kan harus banyak belajar biar makin pinter." jawab Alia dengan suara tak kalah lirih dari suaminya.
"Trus sekarang sudah dapat pelajaran apa aja?"
"Wah, Alia sudah banyak melihat bang." jawab Alia antusias.
"Ehm..." David makin berjalan mendekat sampai tubuh keduanya masuk ke dalam kamar mandi. "Jadi tinggal kkn nya ya?"
Alia mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya. "kkn?"
"ehm... Kata kamu kkn itu setelah menikah kan?"
Pipi Alia merona dengan sendirinya.
"Tunjukkan pada abang, pelajaran apa saja yang kamu dapat. Kalau ada sekolah pasti ada ujiannya. Anggap aja abang guru pengujimu." ucap David sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.
Glek!
Alia menelan salivanya saat melihat dadaa suaminya yang sudah kasat mata. Dadaa yang bidang, kokoh dan lembut. Sangat pas sebagai tempat meletakkan kepalanya setelah ia mengejang karena pelepasannya.
"Jangan bang..."
"Kenapa hem?"
__ADS_1
"Jangan sungkan"