
Setelah makan malam selesai, mereka dipersilahkan duduk kembali ke ruang utama. Sambil disuguhkan berbagai cemilan dan teh hangat, kedua keluarga bercengkerama dengan bahagia. Rasa puas begitu di rasa oleh ke dua keluarga atas kelancaran acara lamaran ini.
Namun mama Berta berusaha menyela dengan sopan. "Tuan dan nyonya Mahendra, maafkan untuk lamaran yang begitu mendadak ini, kami keluarga Choi kurang memperhitungkan semua. Jadi kami hanya membawa seadanya karena kurangnya persiapan. Ini ada sedikit seserahan dari pihak keluarga Choi sebagai simbolis dalam mengikat Angel sebagai calon menantu kami. Untuk acara pernikahan nanti, kami pastikan tidak akan mengecewakan keluarga Mahendra."
Mama Berta, ayah Xian beserta William berdiri dan memberikan satu set perhiasan kepada Angel yang juga berdiri dengan diapit kedua orang tuanya.
Mama Berta memberikan satu set perhiasan yang sudah ia persiapkan secara mendadak. Ia memandang wajah cantik calon menantunya. "Angel, calon menantuku, ini sedikit seserahan sebagai simbolis untuk mengikat hubungan kalian dari pacaran ke jenjang pertunangan. Terimalah nak..." ucap mama Berta sambil membuka kotak perhiasan itu.
Klik!
Setelah terbuka, semua mata terbelalak. Di dalam kotak perhiasan yang dibawa oleh keluarga Choi bukanlah sesuatu hal yang bisa diremehkan. Cincin merah muda itu bernama the perfect pink, salah satu berlian termahal di dunia yang ditafsir dengan harga tiga ratus empat puluh lima milyar. Lalu kalung itu bernama the heart of kingdom, kalung emas bertahtakan berlian merah muda, yang ditafsir seharga dua ratus milyar. Beserta anting berlian yang bernama golconda diamond earings dengan harga seratus dua puluh enam milyar.
Satu set perhiasan bernilai fantastis telah dipersiapkan keluarga Choi untuk melamar Angel. Namun dengan mudahnya bibi Berta kurang persiapan. Apa ini lelucon? Batin Gongyu.
"Wauuu amazing! Angel kau beruntung sekali!" seru Xialin girang. "Aku iri sekali, aku juga ingin cepat menikah!"
Nenek mendekati Xialin dan menjewer telinganya hingga Xialin mengaduh. "Astaga bisa diam tidak sih kamu itu!"
"Au! Nenek... Kalau begitu cepat nikahkan aku dengan Toni." ucap Xialin sambil mengusap telinganya yang merah akibat jeweran nenek.
Setelah hadiah pertunangan diserahkan keluarga Choi ke Angel, maka selesailah sudah acara itu. Seluruh keluarga Choi berpamitan dan segera pulang.
Sebelum pulang, Willi ijin untuk dapat bicara berdua dengan Angel. Dan di sinilah mereka berdua. Berdiri, berhadapan saling memandang dengan penuh cinta di balkon samping dekat dengan taman mini apartemen.
"Sayang, maaf karena tidak dapat memberikanmu acara lamaran yang indah. Aku ingin segera mengikatmu, agar kau tak lari lagi."
Angel terkekeh. "Mana mungkin aku lari dari pria setampan dan sekaya dirimu."
"Oohh sayang... Kau lucu sekali." ucap William sambil mendekap tubuh Angel lembut.
__ADS_1
Di tengah rengkuhan William, Angel berucap. "Wil, terima kasih. Terima kasih kau tidak menuntut banyak padaku."
"Hem.. Tidak sayang. Aku akan menjadi sayapmu. Aku yang akan mendukungmu agar bisa terbang setinggi tingginya. Asal satu hal yang harus kau ingat."
Angel mendongakkan kepala dan memandang wajah William. "Ada satu hal? Hal apa?"
"Sesibuk sibuknya dirimu, kau harus menyediakan waktu untuk memanjakanku. Memanjakan alat reproduksiku sayang.." ucap William dengan membawa tangan Angel menuju bawah perutnya yang tengah menonjol sempurna.
Angel terbelalak saat tangannya dibawa ke arah inti tubuh William yang menonjol keras. Mengusapnya dari atas ke bawah. "Ya tuhan, Wil.. Besar sekali. Seperti daging tumbuh."
"Ini memang daging tumbuh sayang... Tumbuh dengan sempurna saat berdekatan denganmu. Dan ini hanya milikmu, segera."
Mereka saling menjauhkan tubuh mereka. Kedua tangan William berada di atas bahu Angel. Lalu ia dekatkan kepalanya ke wajah Angel. Ia kecup kening Angel mesra. Saling menatap dengan senyum indah.
Lalu, William dekatkan lagi wajahnya untuk merengkuh bibir angel. Mengecup bibir merah alami itu sejenak sebelum akhirnya ia kulum dan menusukkan lidahnya ke dalam mulut Angel. Mereka saling mengkaitkan lidah, bertumpang tindih dan saling menghisap. William rengkuh kepala Angel agar ciuman mereka makin dalam dan intens. Suara decapan itu terdengar bergitu merdu. Ciuman itu membuat mereka lupa terhadap sekitar. Hingga suara lain menginterupsi kegiatan mereka.
"Iya iya mah... " jawab Willi sebal karena mamanya mengganggu kegiatan enak mereka. Lalu ia menoleh menatap Angel. "Sayang, aku pulang dulu. Besok aku datang lagi. Karena aku belum bertemu dengan kakakmu." Sebelum berjalan menjauh, Willi kecup lembut kening Angel terlebih dahulu.
**
Angel duduk bersama kedua orang tuanya. Lalu tidak lama di susul abah dan emak Alia. Angel mencium tangan dan memeluk tubuh emak Titin dengan erat.
"Emak, Angel kangen banget."
"Neng Angel baik saja kan? Abah sama emak ikut mikir loh."
"Ehem, Angel sayang, duduklah dulu. Kami ingin mengatakan sesuatu padamu." potong papa Ronan sambil meletakkan cangkir teh di meja.
Papa Ronan melirik mama Berta dan mengangguk. Kemudian mama Berta berinisiatif untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sayang, mama ingin menjelaskan sesuatu. Mama harap berita ini tidak membuat hatimu sedih."
"Ada apa ma.. Pa? Hal apa yang bisa membuatku sedih?"
"Ini tentang kakakmu."
"Ha! Ada apa dengan kakak mah?"
"Kakakmu sudah menikah sayang..."
"Apa! Menikah! Sebentar, sebentar ma. Bagaimana bisa kakak menikah? Dengan siapa?"
"Dengan sahabatmu, Alia."
"Apa!! Alia!"
"Iya, mereka kami nikahkan dengan beberapa alasan."
Angel tertegun, terkejut, terhenyak, entahlah bagaimana cara menggambarkan wajah cengok Angel saat ini.
"hehehe... Ya, ya, ya.. Angel paham mah." Akhirnya Angel mendapatkan pencerahan setelah berpikir sejenak.
"Paham? Maksudnya bagaimana sayang?" tanya mama Jasmine ingin tahu.
"Emm.. Maksud Angel itu, mana ada laki-laki yang tak suka dengan Alia. Gadis cantik dengan pembawaan ceria dan menyenangkan. Bukankah mama dan papa juga sangat mengetahui bagaimana karakter alia.. Jadi Angel yakin abang pasti terpesona dengan sosok Alia yang seperti itu. Benarkan mah..."
"Iya sayang, kamu benar. Mama dan papa sangat menyukai Alia. Kami bahagia memiliki menantu sepertinya."
Melihat kebahagiaan keluarganya, Angel hanya bisa bersyukur. Melirik menatap abah dan emak, Alia jadi berpikir. Alia tu titisan siapa sih sebenarnya. Abah sama emak orang yang baik dan bijak. Nah si Alia? Ya ampun... Abang kayanya khilaf deh. Abang yang innocent mana tahan kalau dipepet gadis seksi macam Alia. Mana orangnya agresif lagi. Gila...pelet si Alia. Kayanya gue harus ruwat seluruh rumah karena kedatangan ondel-ondel kampung.
__ADS_1