Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Menyelinap


__ADS_3

Malam makin larut. Seluruh penghuni sudah menempati kamar masing-masing untuk beristirahat.


Angel meyakinkan nenek untuk tidur menempati kamarnya sendiri, karena nenek terus memaksa untuk menemani Angel tidur. Namun saat membaca raut wajah tak senang kakek, ia pun paham.


"Nek, Angel bisa tidur sendiri. Jangan khawatir. Kalau perlu nenek kunci saja pintu kamarku dari depan."


"Ah sayang, maafkan nenek yang membuatmu tak nyaman. Nenek hanya khawatir kalau cecunguk itu membuat ulah. Baiklah, nenek akan kembali ke kamar nenek. Kunci saja pintunya dari dalam. Dan jangan bukakan pintu kalau curut itu minta masuk." pinta nenek tulus.


Angel mengangguk mengerti. Dia masuk ke kamar, menutup pintu dan menguncinya. Sebelum tidur ia membersihkan diri dulu.


Piyama tidur sudah melekat, dan ia sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Baru mau menutup mata, ada suara aneh terdengar pelan.


Tok! Tok! Tok! Ssttt! Buka.


Suara pelan namun masih dapat didengar Angel. Keningnya mengernyit. Memastikan kembali suara itu. Lalu ia tegakkan kembali tubuhnya untuk mencari asal suara itu.


"Suara apa ya? Perasaan sebelum masuk rumah ini gue permisi dulu deh."


Tok!Tok! Sayang...buka pintunya. Sekali lagi suara terdengar makin jelas.


Angel menoleh. Ia melihat ke arah pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya, berdiri dan berjalan mendekati pintu kaca itu.


Ia buka kordennya. Angel terhenyak dan mundur dua langkah karena terkejut. Bagaimana mungkin tak terkejut, kalau suara tadi berasal dadi kekasihnya. Lalu ia membuka pintu kaca itu.


"Astaga Willi. Apa yang kau lakukan di balkon? Bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanya Angel dengan berdiri kaku menghadap Willi.


Bagaimana ia tidak terkejut. Saat ini kamar yang ia tempati ada di lantai dua. Lalu bagaimana Willi dapat sampai ke balkon kamarnya? Apa ia terbang? Tidak mungkin. Apa ia melompat dari bawah? Itupun mustahil.


Angel menarik tangan Willi masuk ke kamarnya. Lalu ia menggoyangkan bahu Willi dan sedikit memutar-mutar badan Willi untuk memastikan tak ada luka di tubuhnya.


"Sayang, aku baik-baik saja" ucap Willi bahagia. Tindakan Angel yang begitu mengkhawatirkannya, telah menjadikannya yakin kalau kekasihnya itu mulai jatuh hati padanya.


Angel menghela nafas lega. "Syukurlah kau tak apa-apa. Aku takut kamu terluka Wil. Karena kalau ada apa-apa padamu nanti, siapa yang akan memberiku ongkos pulang ke Indonesia."


William membelalak. Ongkos pulang? Dia memikirkan ongkos pulang? "Astaga sayang! Kenapa kau hanya khawatirkan ongkos pulang? Apakah kau tidak memikirkanku? Apa kau tidak menyayangiku?" tanya William dengan wajah yang memelas.


Angel terkesiap. Lalu tiba-tiba ia memeluk William erat. "Sstt... Jangan bersedih. Aku menyayangimu, oke?" ujar Angel dengan tangan menepuk pelan punggung Willi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Willi sedikit mengangkat tubuh Angel dari depan.


"Ahk! Willi apa yang kau lakukan?"


Willi meletakkan tubuh Angel ke atas tempat tidurnya. Setelah Angel ia rentangkan di atas kasur, Willi pun ikut menjatuhkan diri. Bukan di atas kasur, tapi di atas tubuh Angel.


Willi kurung tubuh mungil itu. Ia tatap dengan lembut. Lalu tangannya ia gunakan untuk mengusap pelan pipi Angel. "Sayang, kau itu benar-benar menggemaskan."


Kata-kata William membuatnya sadar dari keterkejutannya. Ia memandang lekat mata Willi yang memandangnya penuh dengan cinta. Dan ia nikmati belaian tanga Willi pada pipi mulusnya.


"Menggemaskan? Aku? Bagaimana bisa?"


"Karena kau satu-satunya wanita yang tidak tergoda padaku?"


"Haruskah? Haruskah aku tergoda padamu? Ehm, bukannya aku sudah tergoda?" bulu mata lentik Angel bergerak seiring bergeraknya kedipan mata. Sangat manis.


"hem, kamu belum mencintaiku. Aku tahu itu. Aku tahu yang ada di otak kecilmu itu hanya ada rasa penasaran anak remaja."


Angel dengan cepat mengangguk. Senyum manisnya mengiringi anggukannya. "Tapi aku suka Willi kok. Willi baik padaku. Willi juga sangat tampan dan kaya. Aku suka, aku suka."


Kekehan pelan Willi terdengar. Kekasih kecilnya ini benar-benar luar biasa. Segala macam cara Willi lakukan untuk menarik perhatiannya, namun dia terlihat biasa saja. Apakah karena usianya yang belum waktunya untuk serius menjalani hubungan? Ah Willi makin galau.


"Ya, menurutku baik-baik saja kalau kita menikah sekarang. Asal kau mengijinkanku menggapai impianku."


Senyum lebar William terkembang mendengar ucapan Angel. Dia tahu apa yang dimaksud dengan kekasihnya ini. Impian Angel tentang menjadi dokter anak, dan memiliki klinik gratis untuk anak-anak terlantar. Impian yang sangat mulia.


"Tentu sayang, apapun yang kau inginkan. Pasti akan kudukung. Dan aku akan memfasilitasi segala kebutuhanmu sebagai penunjang karirmu. Bagaimana?"


Angel mengangguk cepat. "Kalau begitu ayo kita menikah sekarang." ucap Angel dengan mata berbinar.


William terbahak mendengar itu. "Tentu sayang, segera kita akan menikah. Tapi, kamu tidak menunda untuk punya anak karena sekolahmu kan?"


Angel terkesiap mendengar pertanyaan Willi. Ia membenarkan kalau hamil bersamaan dengan sekolahnya, tidak akan mudah ia jalani bersama. Namun ia kembali menatap lekat mata Willi. "Bukankah kau sendiri yang bilang akan selalu mendukungku? Kalau aku hamil dan punya anak, kau yang harus menjaganya saat aku kuliah. Atau kau sewa babysitter terbaik untuk menjaganya selama aku sekolah. Benarkan?"


Pembicaraan ini, membuat dadanya berdegup kencang. Ah, begini rasanya jatuh cinta. Menikah? Anak? Ya tuhan, tidak sabar rasanya untuk segera menikahi gadis aneh ini.


"Aku akan segera melamarmu sayang. Dan saat itu tiba, kau tidak boleh melarikan diri seperti ini. Oke?"

__ADS_1


Tawa Angel meledak. "Wil, kalau aku tidak melarikan diri, kita tidak akan bertemu. Tapi aku akan melarikan diri lagi dan tidak akan pernah kembali padamu, kalau kau berani berselingkuh dariku."


Willi lalu menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Angel. Ia memeluk tubuh angel dengan hangat hingga benar-benar rapat. "Aku akan membuktikannya padamu. Dengan kau memberikan kesempatan dan berusaha memberikan kepercayaan padaku, aku sangat bahagia. Dan aku berusaha untuk tak mengecewakanmu. Tidurlah sayang."


Mendengar Angel yang manguap sambil menutupi mulutnya, akhirnya ia membiarkannya tidur di pelukannya. Mereka terlelap hingga esuk.


**


Begitupun dengan David dan Alia. David yang meletakkan tubuh Alia di atas meja makan, dan tangan Alia yang diletakkan di atas resleting celana David, membuat suasana menegangkan di antara mereka.


David menahan nafasnya sejenak saat merasakan tangan Alia mengelus benda keramat yang selalu ia simpan rapat-rapat. Semenjak memiliki kedekatan dengan Alia, piaraannya itu tidak pernah memberikan ketenangan padanya. Selalu menggeliat liar bila berdekatan dengan kekasih kecilnya ini. Ini tidak bisa dibiarkan!


"Al, tidak sekarang, oke? Aku sudah menahan ini sejak lama. Bersabarlah, sebentar lagi kita menikah."


"Ehm, bukankah seharusnya aku yang bilang itu ya bang. Sabar ya..." ucap Alia sambil mengelus lembut pada benjolan di celana David.


David yang melihat ekspresi wajah Alia yang mengga*rahkan, mengeratkan rahangnya. Apalagi saat tangan Alia mengurut gundukan di tengah selangkangannya. Sialll!


Ia segera menggendong Alia dari depan dan berjalan membawa Alia ke dalam kamarnya. Ia rebahkan tubuh Alia di atas kasur. "Al, kamu harus bertanggung jawab, mengakhiri apa yang telah kamu mulai lebih dulu."


Saat Alia merasakan gendongan David yang penuh semangat, dia bahagia. Ternyata David begitu lucu saat digoda. Senyum licik terlintas di wajahnya. 'Ayo bang, kita buat baby sekarang.' ucap Alia di dalam hati.


Apalagi saat David meletakkan tubuhnya di atas kasur, dia makin bersemangat. Dan matanya terbelalak saat David membuka resleting celananya.


Dan apa maksud ucapan David tentang dia harus yang harus bertanggungjawab? Apakah karena dia merayu David?


"Tentu bang, Alia akan bertanggung jawab. Apapun yang abang mau, Alia pasti akan melakukannya." ucap Alia sambil mengedipkan satu matanya.


**


Beberapa saat setelah waktu berlalu. David memeluk Alia erat. Senyumnya merekah puas setelah Alia mempertanggung jawabkan ulahnya.


"Bang, Alia tidak mau lagi bertanggung jawab. Sumpah deh, mulut Alia capek bang. Abang lama banget keluarnya." ucap Alia sambil memukul pelan dada David yang tengah memeluknya.


"Salah sendiri kamu suka mancing-mancing. Abang ga kuat lama-lama nahannya. Lagian kok kamu tahu tentang yang tadi sih? Anak gadis kok mahir banget? Hayo pernah liat ya?"


"Liat di pilm bang. 365 days." jawab Alia dengan cengiran cantiknya.

__ADS_1


"Astaga Alia, anak gadis haji Sofian."


__ADS_2