
Keesokan harinya, udara dingin masih mendominasi cuaca shanghai. Hingga sosok cantik dan gemulai itu menggeliat mencari kehangatan. Meringsek ke dalam pelukan pria tampan di sisinya.
David membuka sedikit demi sedikit matanya. Menyesuaikan cahaya di sekitar kamar. Membuka matanya dan melihat gadis kecil yang sudah tidak gadis lagi, tengah memeluk erat tubuhnya.
Dapat ia cium wangi tubuh wanitanya itu. Ia elus lembut pipi lalu bibir. Ia kecup lembut bibir itu.
"Sayang, apa kau tak mau kembali ke apartemen hem?"
Alia menggeliat, mencoba membuka kelopak matanya dengan susah payah. Lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah David dengan menyipitkan matanya.
"Hem... Iya bang. Alia pengen balik. Abah bakalan marah kalau Alia ga cepet pulang. Nanti Alia di hukum."
David tergelak. "Al..Al.. Kamu ini lupa. Kamu ini sudah menjadi milikku. Jadi abah ga bakalan nyariin kamu."
"Hehehe...Alia lupa bang. Tapi Alia tetep pengen balik bang. Alia bisa kurus kalau gini mulu."
"Kurus? Apa hubungannya?"
"Iyalah kurus. Olah raga mulu. Capek banget Alia ni."
"Olah raga apaaan emangnya?" tanya David dengan senyum liciknya.
"Alia pull up terus loh semalam."
David tergelak. Tertawa keras dengan jawaban istri kecilnya.
"Abang ni ya. Emang abang ga capek apa? Push up terus."
"Capeknya nagih Al.. Rasanya pengen lagi. Ini aja abang pengen lagi."
Mata Alia terbelalak. "Apa? Pengen lagi? Abang jangan macem-macem ya. Alia beneran jadi busung lapar lama-lama."
"Kok busung lapar sih Al? Kan abang kasih makan."
"Ya karena asupan tidak sesuai dengan yang dikeluarkan abang. Alia bakalan kurus banget." ujar Alia kesal. "Semalam kita main lima ronde loh bang."
David tertawa lagi. "Iya..iya sayang, abang engga tega lah minta lagi. Masih banyak waktu untuk kita bercinta lagi. Aku siapkan dulu air hangatnya, lalu kita pulang. Hari sudah siang."
**
Setelah David mandi dan memandikan istrinya, mereka menyantap sarapan yang dirapel dengan makan siang. Wajar saja karena mereka baru bangun di siang hari.
Setelah itu keluar dari villa untuk kembali ke apartemen. David menjalankan mobilnya menuju apartemen. Senyum bahagia mereka tersemat di bibir mereka. David terus menggenggam tangan Alia dan sesekali mengecupnya lembut.
"Bang, nanti kita bilang apa sama abah?"
David menoleh sedikit lalu kembali memperhatikan jalan di depan. "Ya bilang saja yang sebenarnya."
"Oh, begitu." jawab Alia sambil mengangguk.
__ADS_1
**
Setelah tiba di apartemen, mereka berdua bergegas masuk ke unit apartemen mereka. Sambil bergandengan, mereka masuk tanpa mengetahui kejutan apa yang tengah menanti mereka berdua.
Setelah sampai di depan pintu, David memencet tombol bel. Sembari menunggu, Alia tiba-tiba mendekap tubuh suaminya.
"Abang... Kaki Alia tremor nih. Lemes juga. Tapi Alia kok pengen lagi ya." ucap Alia dengan menatap wajah David mesra.
David menegang. Tubuh Alia mendekapnya dan sesekali menggesekkan dadanya ke da*da David. Meneguk salivanya. Berdekatan dengan Alia saja membangunkan keliarannya, apalagi bila Alia sudah bertindak dengan agresif. Ingin segera ia koyak pakaiannya dan menelanjanginya saat ini juga.
"Bang.." panggil Alia dengan suara serak.
Tanpa menunggu lama, David segera meraih kepala Alia untuk ia dekatkan ke wajahnya. Ia cium bibir Alia dengan menggebu. Sesekali ia remas rambut Alia dan makin memperdalam ciumannya. Menelusupkan lidahnya dan bermain di dalamnya. Hingga tanpa sadar pintu apartemen terbuka dan menampilkan sosok cantik di sana.
"Ehem."
David dan Alia menghentikan persilatan lidah mereka karena terdengar deheman seseorang.
Menoleh dan terkejut.
"Angel.
"Angel."
Sapa mereka berdua bersamaan. Alia melepaskan tangannya dari tubuh David lalu berlari ke arah Angel. Merengkuh tubuh sahabatnya yang kini menjadi adik iparnya.
"Angel! Gue kangen elu! Lama banget sih elu minggatnya." ujar Alia sambil meneteskan air mata.
"Angel, adikku." David memeluk Angel tiba-tiba. Mencium puncak kepalanya dan membelai rambut panjangnya.
"Udah ah.. Masuk dulu. Nangisnya dilanjut di dalam aja." ucap Angel kepada ke duanya.
Setelah sampai di ruang utama, Angel duduk berdampingan dengan Alia. Saling menggenggam tangan masing-masing dengan penuh rindu.
"Seneng lu ya, kawin ama abang gue?" tanya Angel pada Alia.
David yang duduk tak jauh dari mereka hanya mendengarkan obrolan absurd dua sahabat yang saling merindukan.
"Yaelah, lince... Rejeki kagak boleh ditolak. Mana bisa gue diem aja lihat yang bening-bening nganggur."
"Pake pelet apa lu godain abang gue?"
"Kagak ada ya! Gue cuma mengeksplor segala sumber daya yang gue miliki. Mendayagunakan kecantikan dan kemolekan tubuh gue buat mepet abang elu."
"Cih! Emang sok cantik lu! Badan triplek gitu bangga."
"Tapi buat abang elu, gue ini seksi nyet! Kalau engga gitu, mana mau dia minta terus."
David membelalakkan matanya mendengar ucapan istrinya. "Al, engga usah ngomong aneh-aneh ya." sahut David memperingatkan istrinya.
__ADS_1
"Ish, abang nih. Belain Alia napa. Masa diem aja istri sendiri dikatain triplek. Padahal kan da*da Alia gede ya bang. Abang aja nyusu terus."
David mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tak menyangka Alia bisa seabsurd ini kalau ketemu dengan Angel.
"Weh serius lu? Abang gue kenyang dong. Trus gimana rasanya dibogem abang gue? lu kata seneng kalau abang gue yang buat elu berdarah-darah kan? Cerita dong." pinta Angel bersemangat.
David menganga mendengar ucapan adiknya. Apa memang seperti ini obrolan para remaja jaman sekarang. Kenapa dia dulu tidak pernah ya. Dulu David selalu membicarakan tentang neraca perdagangan dengan kelompok teman-temannya. Jadi dia dibuat terkejut dengan percakapan antara istrinya dan adiknya.
"Ehem, Alia sayang..." panggilnya penuh penekanan.
"Ish abang ni ganggu aja. Yuk li! Kita ngamar aja. Kasih gue pencerahan buat enak-enak."
Angel menarik tangan Alia untuk membawanya masuk ke dalam kamar. David hanya diam sambil memandang punggung mereka yang berlalu menuju ke dalam kamar.
"Ada apa?" tanya mama Jasmine ketika masuk ke ruang utama.
"Ah, eh.. Mama. Em.. Itu Angel. Usil banget."
"Namanya aja sahabat dari orok. Ya gitu tingkahnya."
"Tapi engga pake nanyain malam pertama kan mah.. Ups!" David menutup mulutnya karena terkejut dengan ucapan yang sedikit ngelantur.
Mama Jasmin terkekeh. "Ya engga apa-apa kan."
"Angel itu masih kecil mah..."
"Emang istrimu itu udah besar? Seleramu aja yang anak-anak gitu, pake ngomongin Angel kecil."
"Maksud David, Angel kan belum nikah mah.."
"Belum kan bukan berarti tidak. Apalagi bentar lagi dia nikah."
"Oh.." David terdiam sejenak sebelum suaranya kembali menggelegar. "Apa! Menikah!"
"Pacarnya udah melamarnya kemarin. Nanti juga dia datang ke sini. Mau ketemu kamu katanya. Biar kenalan ama abang ipar."
"Mah, Angel itu masih kecil loh."
Mama Jasmine melirik sinis. Membuat David bungkam.
"Oke, David kalah. Tapi emang bener deh mah, rasa gadis polos tuh enak banget."
Bug! Mama Jasmine melempar sendok yang ia gunakan untuk mengaduk teh hangatnya ke arah putranya.
"Au! Mamah, apain sih."
"Emang Alia tu permen apa?"
"Bukan mah. Tapi kaya oreo. Diputer, dijilat, trus dicelupin."
__ADS_1
Mama Jasmine menggelengkan kepala. Mengetahui putranya yang sudah dewasa yang baru saja merasakan surga dunia.
"Kaya nya kamu ini sudah terkontaminasi tingkah istrimu itu."