
Hari menjelang petang, David memperhatikan istrinya yang tidur dengan posisi tengkurap. Lalu ia mendekatkan tubuhnya dengan punggung Alia. Ia kecupi punggung dan bahu Alia dengan lembut.
"Sayang, istirahatnya sudah kan? Bangun dong. Abang pengen nih."
Alia menggerakkan tubuhnya karena rasa geli akibat kecupan bibir David di tengkuknya.
"Bang, Alia baru istirahat sejam loh. Abang ni ya minta mulu dari tadi. Kita sudah main empat ronde loh."
David tertawa ringan. "Masih ada waktu semalaman kita di sini Al. Jadi masih bisa lima ronde lagi."
Terbelalak, mata Alia terbuka lebar. Ia membalikkan tubuhnya menghadap David.
"Abang mau bunuh Alia? Bang, ini aja masih sakit banget loh badan Alia. Lebih sakit daripada di srudug si mahmud. Bentaran napa. Alia napas dulu."
Tawa David makin keras. "Istriku sayang, jangan berpikir terlalu jauh. Maksud kata-kata abang tentang pengen itu bukan pengen yang itu, tapi abang pengen makan. Abang lapar nih, olah raganya bikin tenaga abang terkuras. Kita makan dulu yuk."
"hah.. Abang nih. Abang kelaperan, apalagi Alia. Enggak hanya laper bang, tapi juga pegelnya kebangeten kaya abis angkut karung gabahnya abah. Badan Alia diencot encot terus dari tadi. Lama-lama ni badan kaya tempe penyet."
Makin keras tawa David mendengar ucapan istrinya. Ia angkat tangannya, untuk menyangga kepalanya dan memiringkan badannya. Ia menatap lekat istrinya yang terus mengomel sambil memanyunkan bibirnya.
"Kata-katamu itu tidak sinkron dengan tubuhmu. Bilangnya udah bang... Udah.. Tapi akhirnya bilang, aahhkkkk...enak bang." ujarnya sambil menirukan gaya bicara Alia saat mengalami pelepasan.
Bug,bug,bug!
Alia memukul dada David manja. Dengan wajah memerah menahan malu. "Abang ih.. Alia malu tauuu..!" ucapnya sambil meringsek ke bawah selimut untuk menyembunyikan diri.
"Tumben malu. Katanya suhu?" tanya David dengan manahan tawanya.
"Udah deh bang, cepetan cari makan. Laper nih." ucap Alia di bawah selimut.
Tawa David menggelegar. Ia beranjak dari ranjang mengambil bathrub dan duduk di tepian ranjang. Ia ambil ponselnya yang ia letakkan di meja nakas, lalu ia menghubungi penanggung jawab villa untuk segera menyiapkan makan malam.
Sembari menunggu makan malam siap, David menyiapkan air mandi untuk Alia. Setelah air hangat siap di bath up, David menawarkan diri untuk membantu istrinya mandi.
"Sayang, ayo mandi dulu. Air mandi sudah siap."
"Iya bang, Alia udah lengket banget nih. Eeh, eh, ehhh...abang mau apa?" Alia terkesiap saat David meletakkan tangannya di bawah lututnya, dan mengangkatnya. Tubuh Alia terangkat dengan masih memegang selimut yang membungkus tubuhnya.
__ADS_1
David menggendong Alia untuk membantunya mandi. Ia ingin memanjakan istrinya setelah kelelahan karena melayaninya. Namun langkahnya terhenti sejenak saat melihat Alia masih membawa selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Al, jatuhkan selimutnya. Mana mungkin kamu mandi dengan memakai selimut."
"Alia malu bang." jawab Alia dengan wajah memerah.
"Abang sudah hapal semua Al. Tidak usah ditutupi. Nanti juga kita buka bukaan lagi."
"Abang ni ya. Sudah fulgar aja."
"Bukannya kamu yang ngajarin?" Ujar David sambil mengambil langkahnya lagi menuju kamar mandi.
Sampai ke dalam kamar mandi, David meletakkan tubuh Alia ke dalam bath up yang berisi penuh dengan air hangat. Lalu ia ikut masuk ke dalamnya. Duduk di belakang tubuh Alia.
"Abang mau apa?"
"Abang mau simulasi mandi di kali. Pura-pura nya mandi di kali sama si mahmud. Ni mahmud nya." ucap David sambil menggosok punggung Alia.
Tawa Alia meledak dan berucap, "Abang...ihhh... Nyebelin ya sekarang."
David makin bahagia melihat dan mendengar tawa renyah istrinya. Ia tahu bahwa istrinya ini menahan sakit di sekujur tubuhnya. Jadi dia berusaha menghibur agar Alia dapat mengalihkan dari rasa nyeri itu.
"Maksudnya gimana bang?"
"Ya kata orang-orang, cewek yang pertama kali dibobol, bakal mewek kesakitan engga bisa ngapai ngapain." David bercerita sambil membalurkan sabun ke punggung Alia.
"Alia ga bisa lebay bang. Apalagi memang ini yang Alia impikan dari dulu." ujar Alia sambil terkekeh.
"Astaga genit banget istri abang. Lihai banget mancing-mancing." David dengan pelan menggosokkan sabun di kulit Alia. Yang awal mulanya hanya punggung, sekarang merayap ke kulit dada Alia.
Alia terkesiap. Ia menunduk melihat tangan David yang saat ini mengelus dadanya. Mengelus, menangkup, dan memilin.
"Ahh... Abang. Kali ini bukan Alia yang mancing-mancing loh." ucap Alia sambil menggigit bibir bawahnya.
"hmm... Kenapa sayang?"
"mahmud itu cewek loh bang. Kalau simulasi mandi sama mahmud, ga bakalan gini. Mahmud tu engga punya ti*tit." ucap Alia yang merasakan senapan laras pendek suaminya berubah wujud menjadi senapan laras panjang yang menodong di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Engga tahu juga nih. Keras kepala sekali dia. Susah dibilangin. Main todong aja." jawab David sambil menikmati kulit mulus istrinya. Ia terus meraba tubuh istrinya yang berkedok membantu memandikannya.
"Au! Jangan dicubit abang...!"
"Gemes Al... Hadap sini dong. Abang pengen nge*nyot."
Alia menurut. Ia berbalik menghadap suaminya. Ia tampak malu-malu saat berhadapan dengan suaminya.
Sedangkan David yang melihat tubuh Alia yang mengkilat basah, membuat si master kembali menggeliat. Ia menelan ludahnya kasar. Istri kecilnya ini benar-benar seksi.
Tanpa menunggu waktu lama, David menarik tengkuk Alia. Ia lahap bibir merah Alia. Satu tangan memegang kepala belakang Alia, dan tangan lainnya menangkup da-da Alia.
Ia usap lembut da-da Alia. Ia pilin pucuknya. Terdengar de*sahan tertahan, yang membuat suasana makin tak terkendali.
David melepas ciuman itu. Ia tatap lekat wajah Alia yang memerah. "Al, kamu liat engga, waktu mahmud kawin?" tanya David dengan lirih.
Alia menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan matanya dari David.
"Aku tahu bagaimana gaya andalan mahmud waktu kawin dulu. Aku bisa membocorkannya padamu. Kamu pasti ingin tahu kan?"
Alia mengangguk pelan menurut seperti sedang terhipnotis.
Dengan cepat David berdiri, mengangkat Alia untuk membantunya berdiri. Lalu ia hadapkan ke arah lain, untuk membelakanginya. Lalu ia dekatkan tubuhnya, memposisikan tepat di belakang Alia, dan ia masukkan senjata laras panjangnya ke sarungnya dari arah belakang.
"Ahk!" Alia terpekik. Senjata laras panjang itu akhirnya masuk ke dalam. Awalnya sedikit nyeri, namun Alia memberi waktu dan kesempatan untuk si master menunjukkan bakatnya.
Tadinya ia bertanya tanya untuk apa ia harus berdiri membelakangi suaminya. Apalagi saat suaminya membuat tubuhnya sedikit membungkuk dan menyenderkan tangannya ke tembok. Posisi menungging ini mengingatkannya pada mahmud.
Sekarang sudah sangat jelas alasannya. Jadi ini cara si mahmud kawin? Alia jadi membayangkan body mahmud yang dimasuki ti*tit si Kelvin, high quality jomblo di komunitas kandang haji Sofian.
Cuma bedanya yang nyodok adalah ti*titnya bang David, bukan ti*titnya Kelvin. Dan waktu yang diberikan Alia pada si master untuk menunjukkan kelihaiannya makin terlihat.
Si master nampak makin membesar dan makin keras. Alia yang menerima sodokan dibuat melayang, merem melek menikmati kenikmatan surga dunia.
"Ahhh bang... Jangan... Pliss.. Jangan..."
David menghentikan sodokannya sesaat. "Kenapa sayang? Apakah sakit?"
__ADS_1
"Ahhh bang... Maksud Alia. Jangan berhenti... Plis... Lebih keras."