
Malam yang dingin di Shanghai entah mengapa begitu hangat dirasa oleh William. Ya, malam ini adalah perdana ia mendatangi Angel sebagai tunangannya. Ia juga tidak sabar untuk bertemu dan berkenalan dengan calon kakak iparnya. Dengan berpakaian rapi namun santai, William menaiki mobil sport hitam kesayangannya menuju apartemen calon istrinya.
Untuk seorang pengusaha kaya sepertinya, William tidak perlu pusing memikirkan tempat tinggalnya di Shanghai walaupun dia berdomisili di kota Beijing. Karena dia mempunyai rumah di seluruh kota di cina.
Dengan kecepatan sedang, William mengemudikan mobilnya. Cuaca dingin dan sedikit bersalju membuatnya harus hati-hati saat menyetir. Sepanjang jalan hanya senyuman yang tersemat di bibirnya. Wajahnya cerah secerah suasana hatinya.
Sesampainya di kawasan apartemen elite yang Angel tinggali, William segera memarkirkan mobilnya. Lalu masuk ke lobi dan menuju unit apartemen keluarga Angel, Setelah lift yang ia masuki sampai di unit yang dituju, William keluar. Sedikit berbelok ke kanan, sampailah ia di unit yang di tempati keluarga Angel. Karena kebetulan tiap unit apartemen memiliki lift pribadi, jadi tidak memungkinkan bagi sembarang orang bertamu ke sana tanpa ijin pemilik unit.
Ia pencet tombol dua kali. Hingga terdengar suara orang yang memutar knop pintu dari dalam. Setelah pintu itu terbuka, terlihatlah seseorang yang telah membukanya. Seorang wanita yang begitu cantik dan muda.
"Hai sayang.." sapa William pada gadis cantik yang membuka pintu itu.
"Halo, masuklah Wil." jawab Angel sambil tersenyum manis.
William berjalan masuk di belakang Angel. Ia amati bentuk tubuh Angel dari belakang. Walaupun pakaiannya biasa saja dan tertutup, namun masih begitu terlihat bentuk tubuhnya. Hingga membuat William menelan ludahnya kasar dan berucap dalam hati. 'Busyet..bempernya calon bini gue, bikin nyut nyutan'
Sampai di ruang utama, terlihat lelaki muda dan tampan tengah menatap kedatangan William. Dan saat Angel memberitahunya bahwa dia adalah kakak laki-lakinya, William segera menghampiri.
"Salam kakak ipar. Senang bertemu denganmu." sapa William dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
David yang melihat kedatangan calon adik iparnya pun langsung menilai. Pria itu sangat tampan, dan penuh ketenangan. Dan ketenangannya dalam bersikap itu membuatnya nampak berwibawa dan cerdas. Benar-benar tidak salah bila adiknya begitu sulit untuk menolak pesona pria itu.
Apalagi saat pria itu menyapa dan memberi salam dengan hormat padanya, nampak begitu ia rasakan ketulusannya. David segera menjawab salamnya dan mengajaknya untuk duduk.
"Silahkan duduk tuan William."
Setelah mereka duduk dengan posisi berhadapan, William segera meralat sesuatu. "Tolong jangan sungkan. Panggil William saja kakak ipar."
David terbahak. "Ya,ya,ya, langsung pada intinya. Tapi aku suka. Jadi kau pria terpilih itu? Ah adikku memang mempunyai selera yang cukup bagus. Menerima pinangan dari seorang pria kaya dan tampan."
William tersenyum sungkan dan mengatakan. "Kakak ipar terlalu berlebihan."
"Hem, William... atau kupanggil, Kaisar?"
William terhenyak. Kaisar adalah nama lain darinya. Nama samaran yang ia gunakan untuk komunitas peretas di dunia. Akhirnya ada juga seseorang yang mengetahui itu. Dan orang itu adalah calon kakak iparnya yang sudah ia ketahui sepak terjangnya. David, salah satu pengusaha muda di bidang teknologi yang sangat mumpuni di bidangnya.
William tersenyum. "Kakak ipar hebat. Benar-benar tidak salah dengan sebutan coldhand. Tidak akan ada seorang pun yang bisa luput dari genggamannya."
David kembali terbahak. Calon adik iparnya ini benar-benar luar biasa. "Tapi tetap saja aku tidak bisa mengalahkanmu. Kau bahkan bisa menyembunyikan adikku selama lebih dari satu bulan."
William tersenyum malu. "Kakak ipar terlalu merendah. Untuk menghalau dari kejaranmu, aku sampai tidak tidur beberapa malam untuk memikirkan segala cara. Yah, melawanmu benar-benar menguras otakku."
"Kalian ini sedang membicarakan apa sih?" potong Angel yang duduk di sebelah William. Sedari awal obrolan para pria itu, Angel hanya memperhatikan saja. Namun dia tetap tidak paham walaupun dia sudah berusaha untuk memahami. Dia yang bodoh atau memang mereka yang terlalu pintar?
Kedua pria itu menoleh saat suara Angel menginterupsi. Lalu keduanya tersenyum menatap wajah bingung Angel.
"Tidak apa-apa. Kami hanya membicarakan soal pekerjaan." sahut David. Ia menatap William lekat dengan serius. "Wil, aku tahu sepak terjangmu. Aku sangat tahu. "
__ADS_1
"Hem, aku juga tahu keraguanmu kakak ipar." jawab William.
"Namun saat kau mau melimpahkan seluruh sahammu kepada adikku saat menikah nanti, keraguaku menghilang. Bukan soal harta atau nilai saham yang kau miliki, tapi aku tahu hanya dengan cara inilah yang dapat kau jadikan sebagai pembuktian dari keseriusan niatmu untuk menikahi adikku."
William menghela nafas berat. Ekspresinya berubah sendu, namun masih menyisakan kewibawaan. "Aku adalah lelaki yang buruk. Mendapatkan gadis seperti Angel, tentunya adalah suatu anugerah untukku." Berhenti sejenak dan menoleh menatap Angel di sebelahnya. Ia tersenyum dan kembali berucap. "Mungkin ini alasan yang cukup klise tapi satu-satunya alasanku menikahinya adalah karena aku jatuh hati padanya. Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya."
David memperhatikan dengan detail tiap perubahan ekspresi William. Tatapan matanya terhadap adiknya dan begitu juga sebaliknya, Angel terhadap WIlliam. "Yah, kau benar. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan dan dengan siapa kita jatuh cinta. Namun apa adikku juga mencintaimu? Karena dia masih sangat labil, dan sedikit... bodoh. Jadi..."
"Kakak! apa maksudmu dengan bodoh?" potong Angel dengan berteriak.
David tertawa keras. "Kau itu memang bodoh."
"Kakak! Aku itu pintar. Kalau aku bodoh mana bisa membuat William bertekuk lutut." jawab Angel sambil menjulurkan lidahnya dan kemudian menolehkan kepalanya ke samping sambil meletakkan kedua tangannya di depan dadanya.
William tersenyum melihat tingkah calon istrinya yang sangat menggemaskan. Ia merangkul pundak Angel agar mendekat. "Sayang, kau tidak bodoh. Hanya polos dan apa adanya." ujarnya pada Angel yang ada di pelukannya. Lalu ia beralih pada David. "Kakak ipar, dia wanita yang sangat apa adanya. Tidak munafik dan sangat cantik."
"Cih! Itu karena kau sedang jatuh cinta. Sampai menutup mata dengan kebodohannya." ejek David menggoda adiknya.
"Sayang..." suara lain terdengar dari arah pintu dapur ke ruang utama. "Jangan terus menggoda Lince." Alia berjalan mendekat sambil membawa nampan dan air minum di atasnya. Kemudian ia letakkan di meja dan duduk di samping David. "Apa kalian tidak mau memperkenalkanku padanya?"
David menggenggam tangan Alia dan berucap. "Al, dia William, calon suami Angel. Dan William,, perkenalkan, ini istriku Alia Berliana."
Keduanya saling menyapa dengan sedikit menundukkan kepala. "Selamat malam kakak ipar, aku WIlliam."
"Selamat malam William, aku Alia istri David dan juga sahabat dekat Angel." jawab Alia dengan ramah.
Alia tertawa pelan. "Yah, begitulah. Kami sahabat sejak kami masih pake popok. Dan sekarang menjadi saudara ipar. Bukankah benar apa yang suamiku katakan. Kita tidak akan pernah tahu kapan dan dengan siapa kita akan jatuh cinta."
"Wau, sepertinya makin seru hubungan keluarga kalian."
"Tapi tidak lebih seru dari keluargamu Wil. Mantanmu menjadi iparmu." potong Angel menyindir William.
William tersentak. Ya, dia ingat kalau Melda kekasih sepupunya itu adalah mantan mainannya. Dan calon istrinya ini sepertinya sedang menggodanya.
"Kalau yang satu itu tidak seru sayang... tapi ngeri." sahut William cepat.
Angel tertawa. Namun suara Alia menghentikannya.
"Sudah, sudah, bagaimana kalau kita makan malam dulu. Papa, mama, abah dan emak sudah ada di ruang makan menunggu kita."
**
Di tempat lain, sebuah apartemen yang tak kalah mewahnya dengan apartemen yang ditinggali oleh keluarga Angel karena letaknya di daerah yang dekat dengan pusat perbelanjaan di Shanghai, seorang pria tengah berdiri di depan pintu setelah menekan bel.
Setelah dua kali menekan bel, pintu itu terbuka dari dalam. Tampak seorang wanita cantik dan seksi yang memakai kaos ketat dan rok pendek yang menutupi tak lebih dari setengah pahanya, tersenyum manis menyambut kedatangan pria tampan itu.
"Hai Wil.. Aku tahu kau pasti akan datang padaku." sapa wanita cantik.
__ADS_1
"Apa sepenting itukah diriku bagimu, Melda?" jawab pria itu.
"Akan segera kubuktikan." jawab Melda sambil menarik dasi pria itu untuk membawanya masuk ke dalam apartemennya.
Setelah pintu itu tertutup rapat dan terkunci, Kedua orang di dalamnya tengah saling beradu mulut.
Ya, saat pria itu di bawa masuk oleh Melda, Melda sedikit mendorongnya ke dinding dan menghimpit dengan tubuhnya dan berucap, "Wil, aku sangat merindukanmu. Aku akan memuaskanmu malam ini juga."
Lalu Melda menyergap bibir pria itu dengan semangat. Hingga tak ada pilihan lain selain membalas atas apa yang sudah dilakukan oleh Melda. Pria itu berusaha menjaga harga dirinya sebagai seorang casanova dengan membalas perbuatan orang lain terhadapnya.
Pukul dibalas pukul, tendang dibalas tendang. Kalau cium... ya sudah pasti dibalas dengan cium. Itu adalah prinsip hidup pria yang tengah beradu mulut dan bersilat lidah dengan Melda.
Namun sepertinya pria itu ingin sedikit menggodanya. Ia mendorong tubuh Melda agar sedikit menjauh. "Melda, aku tidak suka berbasa basi. Kita ke kamarmu." ucap pria itu dengan sedikit memerintah.
Melda menarik sudut bibirnya sedikit. Kemudian ia berjalan sambil menarik tubuh pria itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah masuk ke dalam kamar, pria itu langsung menguncinya. Lalu ia berjalan menuju ranjang Melda dan memencet saklar lampu yang berada di atas nakal tempat tidur Melda hingga seluruh ruangan itu gelap. Hanya dibantu oleh sinar yang berasal dari luar jendela kaca kamar itu, merubah suasana menjadi temaram. Mungkin bagi orang lain akan beranggapan itu suram, tapi bagi Melda, pria itu menginginkan suasana romantis untuk meningkatkan minat bercinta mereka.
Pria itu mendekati Melda yang masih berdiri. Ia dekatkan wajahnya ke telinga Melda. "Ganti bajumu,"
"Ah tentu sayang, tunggu aku di tempat tidur." jawab Melda. Lalu ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan lingeri merah kesayangannya. Di kamar mandi itu, Melda mempersiapkan tubuhnya dengan maksimal. Dia harus menunjukkan performanya di hadapan WIlliam, agar William sadar kalau hanya dirinya lah yang dapat memuaskannya.
Sedangkan pria itu, yang melihat Melda berlalu masuk ke dalam kamar mandi, segera melakukan sesuatu. Ia bergegas mengeluarkan sebuah benda untuk ia letakkan di beberapa sudut apartemen Melda. Benda itu sangat kecil hingga tidak akan terlihat bila tidak diperhatikan dari dekat. Tidak lupa ia ambil handphone Melda untuk ia program agar dapat memantau pergerakannya.
Setelah semuanya selesai pria itu mencoba keluar dari kamar namun sebelum keluar, pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba. Melda keluar dari kamar mandi menggunakan lingeri merahnya. Entah dari mana mengukur nilai estetikanya bila kain yang digunakan sebagai bahan lingeri itu adalah kain tembus pandang.
Pria itu menatap tubuh berbalut kain tembus pandang itu. Benar-benar transparan dari ujung sampai bawah. Ehm, tidak sampai bawah, karena lingeri itu hanya bisa menutupi sedikit pahanya. Ada bordiran halus di bagian dada untuk menutupi dua daging kecil di dua bongkahan dada Melda, dan bordiran yang sedikit memanjang di bagian bawahnya untuk menutupi area goanya.
Pria itu menatap tubuh Melda yang berbalut pakaian tembus pandang dengan rasa tak percaya. Tubuh wanita itu sangat langsing dan besar di beberapa bagian. Belum lagi kulit putih dan halus yang begitu selaras dengan pakaian yang digunakannya. Apalagi sinar yang masuk dari kaca jendela kamar yang secara tidak langsung menyinari tubuh Melda, membuat suasana makin dramatis.
Bagaimana tidak dramatis, pria ini hanya ditugaskan untuk meletakkan beberapa cctv tersembunyi di apartemen Melda, dan meretas handphone Melda sebagai langkah antisipasi, namun sekarang disuguhi pemandangan yang sangat sulit untuk dilewatkan. Lalu apa yang harus ia lakukan bila menghadapi keadaan darurat seperti ini?
Melda berjalan berlenggak lenggok ke arah pria itu. "William sayang, kamu mau pergi ke mana?"
"Aku hanya ingin mengambil air di kulkas. Tunggu di sini, aku segera kembali."
Pria itu keluar dari kamar Melda dengan cepat. Ia berjalan cepat menuju dapur. Ia buka kulkasnya dan mengambil dua botol bir. Kemudian ia kembali ke kamar dengan membawa minuman itu.
Setelah ia masuk kembali ke kamar, ia semakin terperanjat. Melda, duduk di atas ranjang dengan pose yang menantang. Ia pun menelan ludahnya kasar. 'Sialan Willi itu, memberikan tugas seberat ini. Aku lebih baik adu tembak dengan sepuluh preman dari pada harus melihat keajaiban dunia satu ini. Ah, per*etan kau Willi!' ucapnya dalam hati. Ia segera menutup pintu itu keras dan melepas jasnya.
Ia sodorkan kaleng bir kepada Melda, "Minumlah dulu." ucapnya pada Melda. Dan Melda menyambut minumnya dengan senyum menggoda. Sembari menunggu pria itu melepaskan seluruh pakaiannya, Melda meminum bir yang pria itu berikan.
Setelah seluruh pakaian pria itu terlepas, ia segera naik ke ranjang. Melda menyambutnya dengan senang hati. Ia letakkan kaleng bir yang baru ia minum ke atas nakas. Ia menggeser tubuhnya agar pria itu duduk di dekatnya. Setelah pria itu duduk bersebelahan dengan Melda di atas ranjang, Melda memeluk lengan pria itu dan bertanya, "Apa kau suka dengan yang terjadi di kantor tadi Wil?"
"Memangnya apa yang terjadi di kantor tadi? Bisakah kau mengingatkanku kembali?"
Sudut bibir Melda berkedut. Ia tersenyum menggoda. "Tentu saja, aku akan segera mengingatkanmu kembali."
Kemudian Melda bergerak. Ia turunkan tubuhnya dan mendekat ke kedua paha pria itu. Ia belai lembut paha pria itu, kemudian ia tundukkan kepalanya menuju area tengah yang dihimpit selang*kangan. Ia kembali melakukan hal yang ia lakukan di kantor William tadi pagi. Dia berpikir, kalau William suka dengan service nya hingga menuntutnya untuk mengulanginya lagi.
__ADS_1
Hingga terdengarlah suara er*ngan tertahan dan de*ahan di dalam kamar itu