Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Kegropyok


__ADS_3

Keesokan harinya, pesawat pribadi kekuarga Mahendra mendarat aman di bandara shanghai cina. Tiga keluarga besar turun bersamaan dari sana.


Keluarga ayah Xian tentu sudah menyiapkan seluruh akomodasi beserta segala perlengkapan yang dibutuhkan oleh calon besannya.


"Tuan Xian, kami akan langsung ke apartemen putra kami. Anda tidak usah repot menyiapkan segala keperluan kami di sini." ucap papa Ronan dengan sopan.


Ayah Xian berpikir dan mengangguk. Ya, lebih baik memang mereka berpisah dulu. Mereka harus mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar Angel untuk putra mereka. "Baiklah tuan Mahendra, tolong jangan sungkan untuk menghubungi kami. Saya juga akan segera memberitahu angel tentang kedatangan tuan sekeluarga. Dia pasti sangat senang."


"Iya tuan. Terima kasih sudah melindungi dan merawat Angel dengan baik. Entah bagaimana nasib putri kami andai bukan keluarga anda yang menemukannya." sahut papa Ronan.


"Kami permisi, sampai jumpa lagi." ucap ayah Xian sambil membungkukkan badannya kepada calon besannya. Begitupun mama Berta.


Di tengah perjalanan keluarga Mahendra dan abah Sofian, begitu bahagia dirasa. Akhirnya mereka segera bertemu dengan anak-anak mereka.


Dengan diantar supir keluarga ayah Xian, keluarga Mahendra dan abah Sofian, akhirnya sampai ke apartemen yang ditinggali David dan Alia.


Papa Ronan menekan tombol password pintu, dan akhirnya terbuka. Mereka semua langsung masuk ke dalam, menatap sekeliling ruangan.


"Aneh, kenapa sepi." ujar mama Jasmine.


"Apa anak-anak masih tidur? Ini masih sangat pagi." sahut papa Ronan.


"Mama akan periksa kamar mereka dulu pa." ucap mama Jasmine.


Papa Ronan mempersilahkan calon besannya untuk duduk terlebih dahulu, sambil menunggu istrinya membangunkan putra mereka. Namun tidak lama setelah itu, terdengar teriakan nyaring dari salah satu kamar.


"Astaga David!" teriak mama Jasmine terkejut.


Sontak papa Ronan dan abah Sofian beserta emak berlari mendekati asal suara. Mereka masuk ke dalam kamar, menjumpai mama Jasmine yang berdiri kaku dengan membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Pandangan mereka kemudian beralih pada sosok yang ada di hadapan mama Jasmine.


"Astagfirullah Alia!" teriak abah Sofian dan emak bersamaan.


Mama Jasmine yang membuka pintu kamar putranya, merasa aneh karena di sana kosong


Tidak nampak sosok David yang masih tidur di atas ranjangnya. Lalu, ia beralih ke kamar satunya. Karena kebetulan di apartemen itu ada tiga kamar, jadi mama Jasmine akan memeriksa satu per satu kamar di sana.


Tanpa rasa curiga, mama Jasmine kemudian membuka pintu di kamar selanjutnya. Ia masuk ke dalamnya. Ia melihat ada sosok yang sedang terlelap di atas ranjang. Mendekat, ia melihat ada dua, dua orang berbeda jenis kelamin sedang tidur berpelukan dengan keadaan si pria yang tidak memakai pakaian atasnya, dan si wanita yang hanya memakai baju tidur tipis menerawang. Sontak membuat mama Jasmine terkejut dan berteriak.


**


Di sinilah mereka berada. Dua orang berbeda jenis kelamin yang ketahuan tidur bersama di ranjang yang sama dengan saling berpelukan, tengah duduk di sofa ruang utama dalam keadaan diam dan menunduk.


Mereka semua berkumpul, duduk di sofa ruang utama dengan menatap kedua putra dan putri mereka.


"Papa kecewa padamu David." Papa Ronan berucap pertama kali untuk memecah suasana. "Apa yang sudah kalian lakukan selama ini?"


"Papa, mama dan abah beserta emak, maafkan kekhilafan David. Tapi David benar-benar tidak berbuat apa-apa dengan Alia. Maksud David, kami tidak benar-benar melakukannya. Kami hanya...hanya..."

__ADS_1


"Papa malu terhadap keluarga Alia. Kau melempar kotoran pada wajah ayah dan ibumu David!"


David makin menunduk melihat kemarahan papa Ronan. Dia sangat tahu bagaimana kerasnya watak ayahnya. Hingga membuat semua orang di sekelilingnya begitu patuh dengan segala ucapannya.


Mama Jasmin memegang lengan suaminya, mengelusnya pelan untuk menenangkannya.


Papa Ronan menghela nafas panjang. "Pak Sofian, kesalahan putra kami begitu besar. Kami mohon maafkanlah kami yang tidak bisa mendidik putra kami dengan baik. Tapi tenang saja pak, putra kami akan bertanggung jawab segera. Benarkan David?"


David mendongakkan kepalanya, Menatap wajah papanya, kemudian beralih menatap wajah abah Sofian. "Abah, emak, sejak awal David tidak bermaksud mempermainkan Alia. Saya benar-benar mencintainya, dan ingin segera mempersuntingnya. Saya mohon, abah dan emak segera memberikan kami restu dan segera nikahkan kami."


Bug!


"Aduh! papa.. Apalagi?" David mengaduh saat papanya melempar tas jinjing mama Jasmine yang dipegangnya.


"Nikahkan? Enak sekali kamu ingin segera dinikahkan?" sahut papa Ronan kesal dengan ucapan putranya yang tanpa basa basi.


"Pa, Aku tidak bisa menahan lebih lama."


Bug! Sekali lagi lemparan bantal kursi mendarat di kepala David oleh papa Ronan. Putranya ini sejak kapan begitu lugas mengemukakan keinginannya.


"Ehem." Abah Sofian menyela dengan berdehem. "Pak Ronan mohon sabar. Kita bicarakan baik-baik. Saya juga akan bertanya dengan Alia juga. Neng, kamu melakukan apa sama nak David?"


Alia mendongakkan wajahnya menatap abahnya dengan rindu. Ah, kenapa juga abah sama emaknya datang sekarang. Kenapa tidak besok saja sih. Alia kan belum berdarah-darah.


"Iya bah, Alia minta maaf bah. Tapi Bang David memang tidak berbohong bah. Kami cuma ketiduran bersama." jawab Alia malu-malu.


Mendengar itu Alia menangis. Air matanya mengalir tanpa henti. Melihat itu, sontak David mendekat dan memeluknya erat.


Papa Ronan yang melihat putranya memeluk Alia, langsung berdiri dan mendekat. Meletakkan tangannya pada telinga David dan menjewernya. "Astaga kamu ini! Bisa-bisanya memeluk anak gadis orang tanpa sungkan sedikit pun!"


"Auu, aauu, aauuu, papa lepaskan telingaku."


Kemudian abah Sofian melerai amarah papa Ronan kepada David. "Tenang pak Ronan. Kita bicarakan baik-baik. Begini saja, karena kejadiannya sudah sejauh ini, dan nak David sudah mau mempertanggungjawabkan, seharusnya itu sudah menjadi penyelesaian masalah. Maaf pak Ronan, apakah keberatan kalau saya ingin segera menikahkan mereka? Daripada mereka makin terperosok dalam dosa." ucap abah dengan bijaksana.


Semua orang di sana sontak memandang ke arah abah Sofian. Mendengar ucapan abah Sofian, membuat kedua pasangan yang tengah memadu kasih itu merasa bahagia. Inilah yang mereka harapkan, segera menikah dan melakukan banyak hal bersama.


Papa Ronan menghela nafas, "Saya setuju pak Sofian. Sekarang juga kita nikahkan mereka. Kalian berdua, bersiaplah, papa akan memanggil pengulu."


David segera melangkah masuk ke dalam kamarnya, untuk membersihkan diri. Di ikuti mama Jasmine di belakang. Masuk ke kamar David, mama duduk di tepian ranjang. "Sayang, kamu benar-benar tidak melakukan apapun dengan Alia kan?"


David yang sedang mengambil pakaian gantinya di almari baju, sontak menoleh ke arah mamanya. "Ma, percayalah pada David. David tidak mungkin melakukan hal seperti itu. David hanya ketiduran setelah bercerita panjang lebar dengan Alia."


Setelah mengatakan itu David mengalihkan pandangannya menuju arah almari bajunya lagi. Sengaja ia menghindari tatapan mamanya atas jawaban yang ia berikan. Entah bagaimana reaksi mama dan papanya yang tahu kalau dia dan Alia hampir melakukannya. Pasti mereka akan bertambah kecewa.


Setelah David mengambil setelan jas yang akan dia gunakan untuk pernikahannya nanti, ia kemudian berjalan ke arah mamanya dan berlutut di hadapan mamanya. Ia mendongak menatap wajah cantik mamanya dan bertanya, "Mah, David boleh tanya sekali lagi? Apakah benar papa dan mama memberikan kami restu untuk menikah?"


Tuk! Mama Jasmine mengetuk kening David dengan jarinya. "Kamu itu! Tentu saja kami merestui. Alia itu anak baik dan dari keluarga baik-baik."

__ADS_1


"Tetapi Alia bukan dari keluarga pengusaha. Mereka hanya keluarga peternak sapi."


Mendengar itu, mama Jasmine menunduk sedih. Iya, alasan itu juga yang membuat keluarganya terpisah. Angel, putrinya melarikan diri dari rumah karena dijodohkan oleh papanya. Dijodohkan oleh keluarga pengusaha kaya raya. Tanpa mengerti bagaimana perasaan Angel, ia dan suaminya mengambil langkah salah. Dan ia sangat menyesal.


Mama Jasmine menghela nafas, air matanya menetes di kedua pipinya.


"Ma, plis jangan menangis. Maafkan David melukai perasaan mama."


"Tidak son. Kamu benar. Bahkan Angel pun terluka karena keputusan kami. Kami merasa anak-anak akan bahagia kalau mereka mendapatkan pasangan dengan status sosial yang sama. Kami tidak menyadari perasaan anak-anak kami. Mama sangat menyesal. Seharusnya mama bisa memperjuangkan anak-anak. Tidak membiarkan papa kalian bersikap seenaknya."


David meraih tubuh mamanya yang mulai menua. Ia belai rambut mamanya dengan sayang. "Ma, Angel baik-baik saja. Tuhan melindunginya."


Mama Jasmin menjauhkan tubuhnya dari tubuh David, sambil mengusap air matanya. "Sudah, cepatlah bersiap. Papamu sudah memanggil penghulu. Kau harus tampil sebaik mungkin untuk hari spesialmu nak. Setelah kita sampai ke Indonesia, kita adakan acara resepsi di sana. Dan Angel... Kita akan turut membawanya pulang."


David mengangguk mengerti. Ya, setelah keluarga ayah Xian datang kerumah keluarga Mahendra, papa Ronan sudah menghubungi David dan menceritakan tentang Angel dan William. Yang akhirnya David mengetahui tentang seberapa berkuasanya keluarga William di Beijing. Hingga ia menyadari kekuasaan yang dimiliki William sampai-sampai keberadaan Angel tak dapat terlacak olehnya. Sepertinya ia harus banyak belajar dari calon adik iparnya itu tentang kecanggihan tegnologi yang dimiliki oleh perusahaannya, hingga bisa menyembunyikan Angel dengan sangat baik.


**


Sedangkan di kamar satunya lagi. Emak ikut membantu mempersiapkan Alia. Sesaat tadi bahkan emak membantu Alia dengan memandikannya.


"Emak, ihhh...apa-apain sih. Tadi mandiin Alia, sekarang mau pakein Alia baju. Alia sudah besar emak..."


Yah, saat ini emak sedang bersiap memasangkan bra untuk Alia. Sontak Alia menutup dadanya cepat karena malu dengan kelakuan emaknya.


Namun saat Alia mengatakan keberatannya, tiba-tiba emak terdiam dan menatapnya sedih. Emak menangis. Air mata yang sedari tadi ditahannya tak mampu lagi terbendung.


"Emak, kok emak nangis. Alia ada salah ya mak? Maafin Alia mak. Jangan nangis dong." Ucap Alia sambil memeluk emaknya.


"Neng, ini terakhir kali emak memakaikanmu baju. Setelah ini, suamimu lah yang lebih berhak atas dirimu." ucap emak dengan lirih.


Mendengar itu, Alia terhenyak. Omegot, gue nikah. Itu artinya gue bakal jadi milik suami gue. Lalu abah dan emak... Omegot!


"Emak kok bilang gitu sih. Alia kan ga pergi kemana-mana. Orang kita juga masih sekampung kan. Alia juga bisa pulang kapan saja."


"Tidak neng, kamu kalau sudah jadi istri, harus nurut suami. Kalau mau keluar rumah, meski ke warung sebelah, juga harus ijin suami. Jangan buat malu abah sama emak. Kami mendidikmu dengan baik. Jadi kamu harus membuktikan kalau nak David tidak salah memilihmu jadi istrinya." ucap emak sambil mengusap pipi Alia dengan sayang.


"Iya mak, Alia akan berusaha jadi istri yang baik. Doakan Alia ya mak. Alia juga butuh dibimbing terus sama emak dan abah untuk dapat mengarungi rumah tangga dengan abang." jawab Alia sambil meneteskan air mata tanpa sadar. Isakan terdengar dari mereka berdua di sela perbincangan mereka. Tangisan haru campur bahagia di antara ibu dan anak.


Emak menyeka air mata Alia, dan dirinya. Kemudian ia teringat sesuatu. "Neng, kok kamu bisa sih menggaet nak David?"


"Iya dong mak... Siapa dulu. Alia anak juragan sapi. Cerdas otaknya karena dicekoki susu sapi tiap hari."


Ampun mak... Jangan sampai emak tahu Alia ngegodain abang terus. Berabe ntar, dijitak ama abah.


"Lha trus tadi ngapain di kamar berdua neng"


"Cuma ngetes ombak aja mak.. Mengenal medan tempur."

__ADS_1


__ADS_2