
William memegang tangan Melda lembut namun menariknya dengan semangat. William sudah membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti. Seminggu sudah dia menahan diri dari segala kegiatan menguras keringat. Jadi saat ini adalah saatnya pembalasan dendam.
Sampai di parkiran gedung, William segera membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Melda untuk masuk terlebih dahulu. Melda tersipu dengan segala perlakuan William yang menurutnya sangat manis. Dia tidak tahu kalau yang sebenarnya di dalam pikiran pria ini adalah hal yang dipenuhi dengan bayangan imajinasi gilanya. Wanita ini menganggap perlakuan manis William adalah bentuk rasa sayang padanya, namun yang sesungguhnya adalah sebuah drama saja bagi William. William hanya ingin menambah cemistry di antara mereka agar saat tiba waktunya mereka berkolaborasi di tempat tidur, wanita ini dapat berusaha maksimal untuk memuaskan keinginannya. Benar-benar pemain handal.
Saat sudah masuk ke dalam mobil, William mengulurkan tangannya untuk membantu Melda memasang safetybelt nya. saat sudah terpasang, wajah William yang saat ini begitu dekat dengan wajah Melda, tidak segera bergerak untuk menjauh. Di tatapnya wajah Melda dengan intens, matanya berbinar senang seakan gelombang cinta mengelilingi mereka. Melda merona saat William menatapnya lekat. Dapat Melda rasakan hembusan nafas William menerpa wajahnya. Yah, hanya hembusan nafas mereka yang terdengar di dalam mobil.
William makin mendekatkan wajahnya pada wanita di hadapannya ini. Kemudian dia arahkan bibirnya untuk menyentuh bibir wanita itu. Dia kecup lembut di awal, namun makin bersemangat pada akhirnya. Melda dengan senang hati menyambut sentuhan bibir William yang dianggapnya sangat romantis. Mereka berciuman beberapa saat namun segera dihentikannya karena William menginginkan untuk menyentuh yang lain juga.
William tersenyum manis sambil berkata "Apa kau siap baby? Aku tak akan semudah itu melepasmu."
"Apapun untukmu sayang," Jawab Melda dengan lirihan manja.
Setelah sedikit intermezo di sela waktu mereka tadi, William langsung menghidupkan mobilnya menuju kerumahnya. Saat ini dia bagaikan seekor singa yang sedang bersembunyi menunggu mangsa mereka. Mengendap-endap, untuk bisa menangkap mangsanya. Dan setelah satu taringnya menancap, maka mangsa tersebut akan langsung terkoyak habis. Dia adalah singa yang sudah seminggu ini berpuasa.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang ditumpanginya sampai di rumahnya. Lebih tepatnya apartemen William. Apartemen mewah yang terletak di pusat kota. Apartemen yang hanya ditinggali oleh kaum elit dan bangsawan kota Beijing. Tempat tinggal yang menjadi jawaban atas jati diri mereka. Bukan hanya kaya raya, namun berkuasa.
Dia tempatkan mobilnya di basement gedung apartemennya. Lalu dia bukakan pintu mobil untuk wanita itu setelah dia keluar dari mobilnya. Dia pegang tangan wanita itu, dan menuntunnya agar mengikutinya. Sangat sopan dan lembut segala perlakuan William terhadap wanita yang dibawanya itu. Memasuki lift menuju lantai tertinggi di gedung itu. Apartemen dengan harga paling mahal di gedung itu adalah milik William. Jadi tidak mudah orang asing bisa memasuki gedung apartemen itu karena dilengkapi pengamanan tingkat tinggi.
Di dalam lift, William masih menggandeng mesra tangan Melda. Lalu dia alihkan tangannya ke pinggang Melda, dan menarik tubuh Melda agar makin dekat dengan tubuhnya. Dia kembali mengarahkan bibirnya untuk menyentuh bibir melda. Dia lum*t dan dia hisap dengan kuat sampai Melda menegang karena tanpa persiapan. William ini benar-benar singa kelaparan.
Setelah lift sampai ke lantai yang dituju, William menghentikan kegiatannya. Dengan semangat yang menggebu-gebu dia menarik tangan Melda untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Dia buka pintu utama, kemudian dia mengarahkan Melda untuk segera masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Bersiaplah dulu di kamar baby, aku akan menyusul segera. Aku ambil minuman dulu."
Melda cuma mengangguk pasrah sambil tersenyum manis. Kemudian William menuju mini bar nya, untuk mengambil minuman yang berjejer di lemari bar nya. Dia ambil beberapa minuman untuk dia bawa ke dalam kamar. Namun sebelum itu, dia tenggak terlebih dahulu karena dahaganya. Dia berdiri di depan meja bar, sambil menenggak minuman keras di tangannya. Namun setelah minuman itu masuk ke tenggorokannya, dia melihat hal aneh di depan matanya.
"Apa itu?"
Angel, yang tiba-tiba bangun karena kehausan dengan segera menuju dapur untuk mengambil minum. Dia buka kulkas di dapur dan mengambil air putih kemudian segera ditenggaknya. Dia tidak sadar bahwa saat ini dia hanya memakai kaos oblong besar tanpa celana. Kaos kebesaran yang panjangnya hanya sampai setengah pahanya saja. Bisa dikatakan kaos itu hanya bisa menutupi pantatnya saja. Dengan santai dia berjalan tanpa menengok ke sekitar ruangan tersebut. Saat dirinya hendak kembali ke kamarnya, dia melihat pintu utama masih terbuka.
"Kok pintunya belum dikunci mbok Rum. Ah mungkin simbok lupa." Angel bicara sendiri sambil menutup pintu utama tanpa melihat kanan kiri. Di saat dia menuju pintu utama dari arah dapur, dia melewati ruang mini bar. Tanpa disadari ada seseorang yang berdiri di sana melihatnya melewatinya.
Wanita yang memakai kaos oblong berwarna putih yang menampakkan kaki mulusnya, tengah membuat seseorang ini bertanya-tanya. "Siapa dia?"
William, seorang pria yang melihat penampakan Angel berjalan melewatinya, hanya bisa berdiri kaku. 'Sial, aku benar-benar sudah mabuk. Aneh sekali padahal aku cuma minum beberapa gelas kecil. Aku pasti hanya berhayal' batin William. Dia melihat minuman alkohol yang baru saja ia minum, berpikir sejenak lalu membuang minuman itu segera. Kemudian ia ambil segelas air mineral untuk sedikit menyadarkan hayalannya.
William melangkahkan kakinya menuju kamar dengan semangat. Saat memasuki kamarnya, dia sedikit terperangah. Dia melihat Melda sudah duduk di atas tempat tidurnya dengan pose yang sangat menggoda. Melda sudah memasang umpan untuk menarik singa kelaparan di hadapannya. Dia lepas baju luarnya dan hanya menyisakan baju dalamnya dan duduk di atas tempat tidur William. Menghasilkan pemandangan yang selalu disukai para lelaki.
William tutup pintu kamarnya, dan menguncinya. Dia berjalan mendekati wanita itu sambil membuka pakaiannya satu persatu. "Oh baby, kau benar-benar siap untuk diterkam singa kelaparan ini?"
Melda menyeringai mendengar kata-kata yang diucapkan William. Lalu dia membuka kedua kakinya untuk memperlihatkan keindahan miliknya. "I'm yours honey, selamat menikmati.." Ucap Melda manja dengan kerlingan matanya.
**
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain. Abang David beserta Alia sudah bersiap menuju cina. Negara besar dengan penduduk terbanyak di dunia. Alia yang sudah mendapatkan ijin orang tuanya untuk mengikut David ke cina, merasa sangat bahagia. Dia menganggap perjalanan ini adalah anugerah terindah dari tuhan untuknya. Dia bisa terus berdekatan dengan seorang yang sangat disukainya.
"Untung saja aku sama Lince libur panjang ya bang. Trus nanti daftar kuliahnya gimana bang? Kira-kira cukup waktunya gak ya? Alia takut karena belum ada persiapan apa-apa nih bang."
"Jangan khawatir untuk kuliahmu dan Angel. Aku akan mengatur semuanya nanti. Aku tak akan membiarkan pendidikan kalian sulit nanti. Apakah kamu akan mengambil jurusan yang sama dengan Angel?"
"Iya bang, aku juga mau ambil jurusan kedokteran. Kebetulan aku sama Lince emang suka bang."
"Baguslah, semoga Angel cepat ditemukan, dan kalian segera kuliah." ujar David dengan senyum tulusnya.
Alia tersenyum dan menganggukkan kepalanya menurut. Dia melihat senyum David yang sangat indah untuknya. Ah...andaikan senyum itu mengandung rasa kasih sayang dan cinta, mungkin Alia saat ini akan salto sambil jingkrak-jingkrak. Meleleh hati eneng Alia nih bang...kawinin dong... eh sopan neng, anaknya haji Sofian.
Pramugari sudah menampakkan dirinya di depan para penumpang untuk memberi petunjuk penggunaan safetybelt, pelampung dan lain-lain. Saat pesawat bergerak untuk segera terbang, Alia spontan memegang segala sesuatu di dekatnya. Tanpa sadar ia memegang tengan David yang ada di sebelah tangannya karena tempat duduk mereka bersebelahan. Dia menutup matanya sambil mulutnya komat kamit. Alia merasa ngeri walaupun hanya mendengar suara deru mesin pesawat saat lepas dari landasan.
David menoleh ke arah Alia, dan mengerutkan keningnya. "Al..apa ini kali pertama kamu naik pesawat?"
Alia hanya mengangguk sambil terus menutup matanya. Alia menahan diri untuk tak menangis. Sebenarnya bukan hanya belum pernah naik pesawat sebelumnya, namun dia memang takut dengan ketinggian. Jadi dia tidak pernah bepergian dengan pesawat. Alia akan memilih kendaraan jalan darat walaupun itu memakan waktu lebih lama. Namun dia tidak mungkin pergi ke cina menggunakan kereta atau mobil kan.
David yang melihat genggaman Alia mengencang terhadap tangannya, tersenyum tipis. Kemudian tangan satunya lagi ia taruh di atas tangan Alia yang sedang memegang erat tangannya. Ia sentuh, ia belai dengan lembut sambil berkata. "Tidak akan terjadi apa-apa Al.. ada aku di sini. Aku akan selalu melindungimu."
Alia yang merasakan sentuhan pada tangannya dan perkataan lelaki di sebelahnya ini, langsung membuka matanya tiba-tiba. Dia menatap mata David dengan tegang. Berharap dengan melihat sosok David Alia dapat mengalihkan perhatiannya. "Alia takut ketinggian bang." keluh Alia sambil menahan tangis.
__ADS_1
"Pegang tanganku, atau kalau kau masih takut, rebahkan kepalamu di pundakku, dan tutup matamu."
Alia mengangguk pasrah. Benar-benar pasrah sampai mau diapain saja sama abang David. ehh...neng Alia nakal