Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
Keraguan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Hari ini adalah hari ke sepuluh dimana dia memberikan waktu untuk Dimas datang dan menemuinya. Zahra deg degkan. sudah semalaman dia gelisah tak bisa tidur. Perasaan takut, cemas dan entahlah apa yang ad dipikiran wanita itu. jika bicara Tentang jodoh seorang gadis seprti Zahra tentu hatinya akan berdegup kencang. Berbeda dengan gadis lainnya yang sudah terbiasa dengan pergaulan bersama lawan jenis. Zahra tak sedikitpun terjamah. Bahkan sedari sekolah pun dia tak pernah mengalami yang namanya pacaran.


Pagi itu setelah selesai sholat subuh Zahra masuk ke kamarnya disitu sudah ada Tiara yang tengah tidur di kasur sebelahnya. Tiara tidak ikut sholat mungkin dia sedang berhalangan.


Dengan perlahan Zahra mendekati nakas. Diraihnya gagang pintu nakas itu dan perlahan membukanya. Sebisa mungkin dipelankan agar tak menimbulkan suara berisik takut mengganggu tidur Tiara. Zahra mengambil sebuah bungkusan kecil berbentuk kotak. perlahan ia membukanya. Didalam kotak yang terbuat dari kardus tebal itu terdapat sebuah kotak cincin berwarna merah dan berbentuk hati yang berbahan beludru.


Zahra meraih benda itu, kemudian meraba di setiap bagian kotak cincin itu. Pandangannya menelisik kotak berwarna merah itu. Dia tersenyum sumringah namun tetap saja jantungnya berdegup kencang. Perlahan ia membukanya, terselip sebuah cincin berlian berwarna putih bening. Nampak indah sekali.


Zahra ragu ragu untuk memakainya. Ia masih teringat jelas siapa yang memberikan cincin itu.


" jangan kau buka kotak ini sebelum sepuluh hari dari sekarang. Dan setelah hari itu tiba, jika kamu menerima cinta ku, maka pakailah. Jika kamu menolaknya maka jangan pakai" . itu adalah kata kata Dimas saat terakhir kali mereka bertemu di rumah makan.


" Ya Alloh, berikan hamba kemantapan hati. Hamba hanyalah insan yang tidak tau apa apa. Engkaulah yang Maha Tau. Jika lelaki pemilik cincin ini adalah jodoh hamba, maka yakinkan hati hamba dan permudahkan lah hubungan kami menuju jalan yang Engkau Ridlo'i. Dan jika dia bukan takdir hamba, maka temukanlah jalan agar hamba sesegera mungkin bisa menjauhinya" . Zahra memejamkan matanya, berdo'a dalam hati dan dengan segala keyakinannya perlahan dia menyematkan cincin berlian itu di jari manisnya.


Pas. Terlihat sangat cantik di jari manis Zahra. Jari yang lentik berhias cincin berlian sungguh indah jika dipandang. Dengan memakai cincin itu, artinya Zahra sudah membuka hati untuk Dimas. Dan kini hanya tinnggal menunggu kedatangan sang pangeran saja.


*****


Di kantor tempat Dimas bekerja, Cindy sangat gelisah. Belakangan ini dia tak pernah melihat kehadiran Dimas disana. Dia sangat cemas apakah Dimas sengaja menghindarinya setelah kejadian beberapa hari yang lalu.


" Andi, elo kan satu kost sama Dimas? kenapa dia belum kembali?. Apa dia ada pesan kapan dia akan kembali? " Tanya Cindy pada Andi. secara memang Andi lah satu satunya teman yang paling dekat dengan Dimas.

__ADS_1


" gue gak tau. kemaren itu bilangnya cuma beberapa hari saja pulang kampung katanya ibunya sakit. itu aja yang gue tau". jawab Andi ketus. Andi memang paham betul kalau Cindy selalu perhatian sama Dimas. Dia selalu kesel jika ketemu Cindy, pasalnya jika ketemu Cindy dia selalu menanyakan kabar Dimas. Sedang ia sendiri tak tau jawaban apa yang harus diberikan.


Memang Dimas sengaja menonaktifkan nomor HP nya. Sedang teman temannya tak ada yang tau kalau dia pakai nomor yang lain.


***


Hingga sore hari, orang yang diharapkan Zahra belum juga ada jejak kabarnya. Ia ingin menelponnya tapi rasanya sangat tak pantas jika seorang wanita menelpon seorang pria duluan. Akhirnya dia hanya menunggu saja.


sore itu Zahra sedang berjalan ke swalayan terdekat untuk berbelanja kebutuhan anak anak panti atas permintaan bu Ambar . Zahra berjalan kaki karena memang jarak swalayan itu tidak terlalu jauh dari rumah panti. Di depan swalayan dia melihat seorang kurir yang sedang berdiri membelakangi nya. " mas Dimas" sapa Zahra dari belakang.


merasa ada yang memanggil, sontak saja kurir itu berbalik dan menatap si pemilik suara.


" eh ilham, maaf ya , tadi aku pikir... " . Zahra urung meneruskan kata katanya.


" kamu pikir aku adalah Dimas? itu kan maksud kamu? " tanya ilham dengan menaikkan satu alisnya seraya tersenyum masam.


" anu eh anu... " Zahra kebingungan dengan sikapnya sendiri.


" ia, aku tadi sempat dengar kalau kamu menyebut nama Dimas? " Zahra, kamu mengenalnya? " tanya Ilham


" ia . Ham aku mengenalnya. Kamu bekerja di tempat yang sama dengan Dimas? " Lanjut Zahra. Dia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya di saat menyebut nama Dimas pada Ilham yang tak lain teman Zahra waktu sekolah dulu.

__ADS_1


" Ra, kamu sudah punya tunangan? ". Tanya Ilham sambil melirik ke cincin di jari manis Zahra.


" Belum. tapi mungkin ia" . kata Zahra malu malu.


" siapa laki-laki yang beruntung dapetin hati kamu Ra?. Aku saja yang dari dulu suka sama kamu, tak pernah sekalipun kamu mau membuka hati untuku Ra. Aku yakin pilihanmu yang terbaik Ra" .


Ilham serasa patah semangat melihat Zahra yang tersenyum bahagia dengan pilihannya. Sudah tak ada gunanya mengejar cinta wanita jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi ada juga pepatah yang mengatakan " kejarlah cinta mu sebelum janur kuning melengkung " . Tapi itu tak berlaku untuk Ilham. Dia terlalu pengecut untuk memaksakan orang lain untuk menerima cintanya. Percuma juga bisa memiliki raganya tapi tidak dengan jiwanya.


"Ra. Selamat ya?. oh iya Ra, kuharap kamu jangan dekat dekat dengan Dimas. Karena aku yakin dia punya niat tak baik sama kamu!"


" maksud kamu apa Ham? " tanya Zahra. ia tak percaya saja dengan ucapan Ilham.


" maksud ku. Lebih baik kamu jauhi Dimas. sepertinya dia menyukai kamu. maaf saja bukan aku mau menghasut kamu atau memfitnah Dimas. Dimas itu orangnya playboy. Sana sini dia selalu ada wanitanya. Dengan wajahnya yang tampan apalagi seperti anak gedongan itu, pasti banyak cewek-cewek yang nempel sama Dia" . Terang Ilham.


"ya sudah Ra, aku duluan ya". pamit Ilham yang langsung menaiki motor dan berlalu pergi.


Zahra tertegun mendengar kata kata Ilham. tenggorokan terasa kering, terasa sulit rasanya menelan salivanya. Tangannya mengepal, matanya punbterasa panas. Berusaha setenang mungkin untuk tidak menjatuhkan bulir bening di sudut matanya. Malu rasanya jika kelihatan menangis di depan umum. Tapi siapa yang sangka jika hati sudah terluka tentu kita tak akan bisa memilih dimana kita bisa menjatuhkan air mata. Dengan segera ia menyapu bulir bening yang lolos dari sudut matanya dan cepat cepat ia melangkah masuk ke swalayan. Menyelesaikan tugas yang diberikan bu Ambar untuk berbelanja.


Dan secepatnya ia pun segera pulang ke panti.


Di sepanjang perjalanan pulang, Zahra tak hentinya memikirkan perkataan Ilham. Sambil sesekali dia menyeka air matanya" apakah aku terlalu cepat mengambil keputusan? sudah seberapa jauh aku mengenal mas Dimas?. Ya Alloh apakah mas Dimas tengah mempermainkan perasaanku? ".

__ADS_1


__ADS_2