Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
penyelidikan 2


__ADS_3

"mommy, udah denger berita nggak? , Dimas dan istrinya kecelakaan mommy, dan sampai sekarang katanya mereka belum ditemukan" Teriak Caroline saat pulang kerumah dan memasuki ruang tamu rumahnya dimana sang ibu sedang duduk di sofa sedang mbaca koran .


"lalu? " kata Maria tanpa menoleh ke arah putri semata wayangnya. ia masih fokus pada benda tipis yang ada di tangannya.


" ih mommy nyebelin . kok reaksinya gitu sih? gak asik banget " kata Caroline dengan wajah kesel.


"hhhhmmm" hanya gumaman yang keluar dari mulut wanita cantik setengah baya itu.


"rasain. itu namanya kualat, siapa suruh kamu mengabaikan aku. makanya kecelakaan, puji Tuhan" ujar Caroline seraya mengumpat. tak henti hentinya ia menyumpahi Dimas dan istrinya.


beberapa saat kemudian, Maria beranjak hendak pergi. lalu Caroline segera bertanya "mommy mau kemana?"


"mommy mau menemui tantemu Elizabeth" katanya datar.


"aku mau ikut mom, dah lama aku gak kesana" ujar Caroline.


mereka pun pergi, hanya butuh waktu setengah jam mereka sudah sampai di rumah Elizabeth.


" apa kabar Ell saudariku? " sapa maria pada saat mereka sampai disana.


Elizabeth tersenyum. "baik, aku baik baik saja. tumben kalian kesini? bagaimana kabar ibu? " tanya Elizabeth.


"ibu? ya kamu taulah. ibu sudah tua. di usianya sekarang, ibu sering sakit sakitan" kata Maria datar. matanya memindai sekeliling.


"cari siapa kamu? " tanya Elizabeth karena melihat maria yang celingak celinguk mencari sesuatu.


"kamu sendirian Ell? yang lain kemana? " tanya Maria


" Smith seperti biasa, ia dikantor. sedangkan Erick entah dimana, sudah dua hari ia tak pulang. katanya lagi healing sama teman temannya " jawab Elizabeth.

__ADS_1


"yah, kupikir Erick ada dirumah, makanya aku ikut mommy. tau Erick tak dirumah mending aku ke butik aja" tampak Caroline kecewa karena tak mendapati Erick disana. Caroline sudah lama menaruh hati pada lelaki yang masih berstatus sepupunya itu. tak peduli apapun status nya yang penting bukan saudara kandung itu yang Caroline pikirkan.


"kalian duduklah. Biar nanti bi Cici buatkan minuman" kata Elizabeth lembut. Elizabeth memang selalu ramah dan lembut terhadap siapapun. Apalagi terhadap Maria. ia sangat menyayangi adiknya itu, meskipun terkadang sikap Maria selalu bersikap dingin terhadapnya.


" tidak perlu, kami pulang saja, sebenarnya kedatangan ku kemari hanya ingin menyampaikan bahwa ibu sedang tak enak badan dan ia merindukanmu " ujar Maria memberi alasan.


" kan ibu bisa saja menelpon ku untuk kesana? "


" ia memang. tapi, aku ingin kesini melihat kondisimu. bagaimana? apakah kau masih sering mengalami pusing? " tanya Maria seraya menatap saudarinya tak berkedip. mencari tau lebih dari raut wajah Elizabeth bukan hanya sekedar jawaban saja.


" tidak, aku baik baik saja. sepertinya rasa trauma itu sudah hilang. aku sudah sembuh " kata Elizabeth seraya tersenyum tipis.


"jadi apakah kau sudah mengingat semua masa lalumu? " Tanya Maria penasaran. jantungnya berdebar. kemungkinan apa yang akan dikatakan saudarinya itu.


"tidak. aku tidak ingat apapun. mungkin aku sudah tak membutuhkan ingatan itu lagi. karena kehidupan ku yang sekarang sudah cukup bahagia. aku tak membutuhkan masa lalu" jawab Elizabeth.


"owhh, baiklah kalau begitu. aku pulang dulu" kata Maria kemudian pergi diikuti Caroline dari belakang.


"maaf, apa ini rumah Nyonya Elizabeth?" tanya lelaki tampan yang mengenakan kemeja kotak abu abu itu. Maria tak lantas menjawab pertanyaan lelaki itu, ia masih menyelidiki siapa dan mau apa lelaki ini menanyai Elizabeth. Sementara Caroline menatap lelaki tampan dihadapannya itu seraya tak berkedip. mulutnya ternganga. ia takjub dan kagum. pria tampan campuran negara timur itu berdiri di hadapannya.


Belum sempat ibu dan anak itu menjawab pertanyaan lelaki tampan itu, Elizabeth yang keluar melihat kepulangan saudarinya itu lantas berteriak sambil mendekati pintu pagar halaman.


" mas kurir ya? saya Elizabeth. sini mas masuk" kata Elizabeth.


mendengar saudarinya menyebutkan nama kurir lantas Maria sedikit mengurangi kecurigaan nya terhadap pria tadi. Berbeda dengan Caroline, ia justru malah sedikit murung. "ganteng ganteng kok malah kurir" batin Caroline.


Lantas keduanya pun meninggalkan Maria berdua dengan lelaki itu yang tak lain adalah Thomas.


merasa tuan rumah menyebut nama kurir lantas Thomas menoleh ke belakang. takut takut memang wanita itu sedang menunggu kurir. merasa tak ada siapapun, ia pun masuk dan mendekati wanita itu.

__ADS_1


"dengan nyonya Elizabeth? " tanya Thomas.


"ia saya sendiri" katanya seraya tersenyum.


"maaf nyonya, saya bukan kurir. saya ... " belum sempat Thomas melanjutkan kata katanya. Elizabeth keburu memotong.


" ya, saya tau kamu bukan kurir. yuk silakan masuk " katanya seraya membukakan pintu.


"silakan duduk. saya buatkan minuman dulu" kata Elizabeth,


beberapa saat setelah itu Elizabeth kembali dengan bik cici yang membawakan nampan berisi kopi dan makanan kecil.


"silakan dinikmati hidangan nya" kata Elizabeth seraya menghempaskan bokongnya di sofa panjang ruang tamu.


Thomas pun mengangguk sopan seraya berkata "terimakasih nyonya".


" ada hal apa sampai anda mencari saya? " tanya Elizabeth.


"maafkan saya sebelumnya nyonya, saya hanya butuh beberapa informasi mengenai gelang ini. gelang charm bracelet berkristal biru" kata Thomas sambil menunjukkan desain gelang milik Zahra yang hilang.


Elizabeth terperangah melihat desain itu. bukannya menjawab, Elizabeth malah bertanya "siapa kau? bagaimana kau bisa menanyakan perihal benda itu padaku? " Sorot mata Elizabeth menatap tajam lelaki muda di hadapannya.


"saya tidak tau, saya tidak mengenal benda itu. bagaimana mungkin kau bertanya hal itu padaku? " Elizabeth seperti sedang menahan amarah. ia memalingkan wajahnya dari pria itu seolah ia menyembunyikan raut wajah sedihnya.


"maafkan saya nyonya. tapi, informasi yang sudah saya dapat mengatakan kalau nyonyalah pemilik terakhir gelang ini" kata Thomas menjelaskan.


"apa maksud kamu, saya tidak mengerti. informasi apa? informasi untuk apa dan untuk siapa? " kembali Elizabeth bertanya dengan raut wajah kesal. asal mula ramah kini berubah marah.


"saya pikir nyonya mengetahui sesuatu. lalu tadi kenapa nyonya bilang kalau saya kurir, padahal nyonya tau saya bukan kurir? " Thomas tak mengerti dengan Sikap Elizabeth. Ia pikir jika Elizabeth sedang menyembunyikan sesuatu. tapi ia tak tau jika Elizabeth justru ingin menyembunyikan keberadaan putranya dari Maria dan Caroline, bukan menyembunyikan informasi mengenai gelang itu.

__ADS_1


Elizabeth terdiam. sebenarnya ia mengira lelaki tampan itu adalah temannya Erick putranya. ia tak ingin Maria dan Caroline mengetahui di mana putranya. Elizabeth sudah tau kalau Caroline menyukai Erick. Maria dan suaminya mendukung penuh agar Caroline dijodohkan dengan Erick. tapi Elizabeth menolak, dia tak setuju karena Elizabeth tau bagaimana sikap buruk Caroline. Sedangkan Pauline pun juga menyetujuinya. Karena itulah Erick jarang dirumah. ia lebih suka keluar bersama teman temannya.


__ADS_2