Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
aku akan menunggu


__ADS_3

Yulia sudah mempersiapkan kamar untuk Zahra dan Dimas, yang awalnya Zahra harus berbagi kamar dengan Aisyah, kini ia berganti harus berbagi kamar dengan suaminya. Malam itu sehabis sholat Isyak Yulia sudah mengumpulkan semua anak anak panti untuk memperkenalkan Dimas sebagai suami Zahra di ruang tamu.


" anak anak, sekarang kita kedatangan seseorang yang spesial buat kak Zahra. Dia adalah kak Dimas. dan sekarang Kak Dimas sudah menjadi suami dari kak Zahra. Ibu harap kalian bisa menghormati kak Dimas sebagaimana kalian menghormati kak Zahra. oke anak anak? " kata Yulia pada anak anak asuhnya.


" baik bu", kata mereka serempak.


" nah sekarang kalian bisa memperkenalkan diri satu persatu pada kak Dimas" perintah Yulia pada mereka. Mereka pun memperkenalkan diri satu persatu dengar menyebutnya nama mereka. Dimas tersenyum melihat antusias anak anak yang sedang menyalaminya.


Begitupun dengan Zahra. ia sangat terharu. dulu ia sama seperti mereka tak memiliki siapa pun. dan kini ia telah menikah. ia sudah menemukan tujuan hidupnya. Tinggal menghitung hari ia akan segera meninggalkan panti asuhan tempat ia dibesarkan selama dua puluh tahun terakhir.


Zahra duduk di shofa panjang itu, dia menghempaskan badannya bersandar di pinggiran sofa dengan kepalanya menengadah ke atas. kedua matanya terpejam. memorinya kembali mengenang banyak hal yang selama ini sudah ia lalui selama di panti asuhan ini. Tak lama lagi ia akan pergi meninggalkan panti asuhan yang selama ini banyak memberikan kenangan hidup. Dan akan menuju lembaran baru yang ia sendiri tak tau akan seperti apa.


Melihat kegundahan hati yang Zahra alami, Yulia dan Ambar memahaminya. mereka menghampiri dan duduk bersebelahan dengan menjadikan Zahra duduk di tengah tengah antara kedua ibu panti itu.


" kenapa nak? jangan bersedih, mungkin ini adalah takdirmu. kau jalani saja semuanya dengan ikhlas " kata Yulia seraya memegang pundak Zahra.


" hmmm" Zahra tersenyum. walaupun sebenarnya terasa berat jika nanti harus berpisah meninggalkan dunianya dan kembali ke dunia Baru.


Hari sudah malam. taK terasa jam menunjukkan jam sepuluh malam. semua anak anak panti pun diminta untuk beristirahat dan kembali ke kamar masing-masing. terlebih Zahra dan Dimas pun sudah di kamar yang di sediakan Yulia.


Di satu kamar dengan satu ranjang bersama seorang lelaki meskipun itu adalah suaminya sendiri bagi Zahra membuat nya berasa canggung. Dia bingung tak tau harus apa. takut dan cemas, perasaan itu campur aduk jadi satu. Tangannya terasa dingin sedingin es. Namun sebisa mungkin ia berusaha untuk menutupi kecanggungan nya di depan Dimas, orang yang sudah sah menikahinya beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


melihat gelagat istrinya, Dimas notice. untuk menghilangkan kecanggungan suasana dikamar ia mencoba mendekati dan mengajak Zahra berbicara. Sebenarnya dia sendiri juga merasa canggung meskipun dalam hal wanita Dimas termasuk suhu. Namun berhadapan dengan Zahra seolah ia tak tau apa yang harus ia lakukan.


" Ra, maaf ya. aduh aku ini bicara apa sih? " tampak sekali Dimas sangat canggung untuk bicara. " hhhmm... enaknya aku panggil kamu dengan sebutan apa ya? kita kan udah sah menjadi suami istri"


Zahra hanya tersenyum sambil berkata " terserah mas Dimas saja, enaknya manggil apa, saya tak akan keberatan "


" kalau aku panggil dek Zahra boleh ya? " tanya nya kemudian.


" ia mas. boleh" kata Zahra lagi.


Dari tadi Dimas hanya berbicara sambil berdiri. sedangkan Zahra duduk di tepian ranjang yang tak terlalu besar,Jika dibandingkan dengan kamar Dimas yang ada di rumah orangtuanya.


" mas Dimas kenapa berdiri saja? apa gak capek berdiri terus? gak merasa pegel kakinya? " tanya Zahra memberanikan diri.


" kamu kenapa sih mas? emang kapan aku melarang mas Dimas duduk disini? " Zahra mengukir senyuman, membuat Dimas seketika terpana.


Akhirnya Dimas pun Memberanikan diri mendekati ranjang tempat Zahra duduk bersandar di dasbor ranjang dengan kaki berselunjur sambil membacanya buku.


" Dek Zahra gak takut sama aku? " tanya Dimas. ia merasa takut saja, sebagai pengantin baru biasanya sepasang suami-istri pasti sangat menantikan malam pertamanya.


" memangnya mas Dimas hantu? " Tanya Zahra heran.

__ADS_1


" bukan begitu dek, kita kan sudah menikah, kita sudah halal dalam hal apapun. aku tidak akan berdosa jika menyentuhmu, bukan? , apa kamu tak keberatan jika aku... " Dimas menjeda kalimatnya. Dia yakin jika Zahra mengerti apa yang ia maksud.


Zahra sendiri merasa sangat gugup, dengan pertanyaan suaminya. deru jantungnya berpacu cepat seperti balap kuda saja. wajahnya memerah karena malu.


" tapi jika kamu masih belum siap, aku tak akan marah. aku akan selalu menunggu hingga kamu siap " lanjut Dimas kemudian.


kalau boleh jujur. ya, Zahra memang belum siap. Tapi biarlah dia pasrah saja, layaknya air mengalir.


Dimas tak mau memaksa. Dia mendekati istrinya. mendaratkan kecupan di kening wanita berkulit putih itu. perasaan canggung dan gugup melanda Dimas saat mereka saling menatap. setiap detak jantungnya seperti lonceng yang berdentang di telinganya. mengalun dengan irama yang semakin cepat.


keduanya terdiam dalam kebeningan. Namun ada rasa yang kuat dan begitu mngikat batin keduanya. .


Dimas memeluk Zahra dan mendekap nya. Dimas merasakan denyut nadi di dadanya meningkat seiring mata mereka bertemu. Degupan jantungnya seakan-akan melesatke langit langit. membuatnya terengah engah dalam kegugupan yang tak terkendali. Ketika pandangan wajah Dimas menyapu wajah cantik Zahra, hatinya bergetar seperti sehelai daun yang tersapu oleh daun lembut.


Raut wajah Zahra yang lembut dan sorot matanya yang teduh. membuat Dimas terpesona.


" sudahlah ayo kita tidur. besok kita harus bersiap untuk ke madrasah untuk mengurus kepindahanmu. jangan sampai kita kelelahan. istirahatlah yang cukup "


" ia mas". hanya itu yang keluar dari mulut Zahra.


sesaat Zahra memejamkan mata, ia terkejut karena tiba-tiba sebuah lengan melingkar di perutnya. seketika tubuhnya terperanjat. Dan denyut nadinya berdetak semakin cepat. perasaan deg degan menyusupi di setiap hembusan nafasnya. Perasaan deg degan Zahra semakin lama semakin dalam ketika ia menyadari bahwa lengan itu membawa ketenangan dan kelembutan.

__ADS_1


Dekapan itu semakin erat. seolah mengajak Zahra tenggelam dalam buaian mimpi bersama sang suami tercinta


__ADS_2