
malam itu menjadi malam pertama bagi Zahra tinggal dirumah besar Dimas. ia keluar dari kamarnya dengan mengenakan Dress cantik yang tentunya sangat nyaman saat dipakai dimalam hari. Saat pertama kali memasuki kamar Itu, ternyata sudah tersedia berbagai macam baju muslimah di lemari pakaian di kamar Dimas. Ternyata Arumi sudah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh menantunya. Sudah berjejar berbagai baju, sandal juga sepatu bermerek yang tentunya bukan dengan harga yang murah.
Dimas dan Zahra turun ke lantai bawah untuk makan malam. Di ruang makan sudah menunggu Abimana dan Arumi. Abimana duduk di kursi bagian ujung dengan Arumi duduk di sebelah kanan Abimana.
Dimas meraih kursi di sebelah kiri Abimana dan Zahra di sebelahnya.
Berbagai macam menu makanan sudah terhidang di atas meja. salah satu menu favorit Dimas, Ayam bakar dan udang saus padang juga terhidang di atas meja. Dimas menelan ludahnya mengiler.
" wah mam, enak banget ini". kata Dimas, ia sudah tak sabar ingin segera melahap makanan itu.
"eits, tunggu dulu. mama sengaja masak banyak karena ingin menyambut menantu mama. Sekarang ayo Zahra, sesuai tradisi kita, kamu harus bisa menebak makanan yang mana yang menjadi makanan favorit suami kamu? " dari sekian banyak makanan di atas meja ada salah satu yang sangat menjadi favorit Dimas" Arumi memberikan tantangan sederhana untuk menantunya.
" sebenarnya ini seharusnya kamu sendiri harus ikut memasak, tapi aku merubah sedikit tradisi ini. Kamu cukup menebak saja ya" Arumi tersenyum hangat kala menatap menantunya.
"Bi... Bi sumi! " Teriak Arumi seraya menoleh ke arah dapur.
"ia Nya" Seorang wanita yang berusia kira kira setengah abad itu lari ter gopoh gopoh dari arah dapur. Ia berdiri dan menunggu hal apa yang akan diperintahkan oleh majikannya.
" Bi, tolong ya panggilkan semua orang yang ada disini. Saya mau memperkenalkan seseorang" Kata Arumi seraya mengukir senyuman.
Sumi pun kembali ke dapur, tak lama kemudian datang kembali dengan beberapa orang. semuanya berdiri berjejer di samping meja makan itu.
__ADS_1
" emang harus seperti ini ya mam? " tanya Dimas heran.
" ia dong. mama juga dulu seperti ini. waktu mama pertama kali masuk rumah ini" Arumi tersenyum jumawa.
" Bi hari ini saya akan memperkenalkan seseorang. gadis ini namanya Zahra. Dia adalah istrinya Dimas, dan hari ini dia juga akan menjadi majikan kalian. Tolong layani ya segala kebutuhannya "Kata Arumi tersenyum seraya melirik pada Zahra.
Zahra berdiri dan mengangguk tersenyum pada beberapa asisten rumah tangga keluarga Nugroho itu.
" sekarang giliran kalian yang harus memperkenalkan diri" timpal Abimana.
Semua asisten berdiri berjejar kesamping. ada lima orang disana. Tiga diantaranya wanita dan dua laki-laki.
"Saya sumi non. asisten senior di sini. non Zahra bisa memanggil saya bi sumi" katanya seraya mengangguk hormat. kemudian perkenalan berganti ke sebelah nya.
" saya Laila non, saya masih baru disini" kata asisten ketiga itu. Dia masih baru dan usianya juga masih muda, mungkin usianya tak jauh beda dari Zahra, duapuluh tahunan. Arumi memang beberapa bulan ini memanggil asisten baru untuk membantu kedua asistennya yang sepertinya mulai kerepotan mengurus rumah besarnya.
Meski dalam keadaan tertunduk tak berani menatap istri majikan nya itu. Laila menggerutu dalam hatinya. " enak banget tuh cewek. statusnya hanya berasal dari panti asuhan tapi bisa bersanding dengan tuan muda Dimas. lihat saja nanti aku bakalan jadi istri mudanya tuan. tuan pasti akan jauh lebih sayang sama aku. secara aku kan lebih seksi dari dia" batin Laila.
"saya pak ujang non, saya tukang kebun di sini" pak ujang memperkenalkan diri seraya tersenyum.
"kalau saya feri non, saya supir dirumah ini" feri pun mengangguk sopan.
__ADS_1
" nah sekarang kalian sudah memperkenalkan diri. tetap disitu ya. saya mau menguji menantu saya. kalian jadi saksinya. ayo Zahra sekarang tunjukkan makanan dan minuman kesukaan suamimu" Arumi tampak terlihat sangat tegas kali ini. kalau biasanya dia terlihat lembut namun kali ini suaranya agak meninggi. Zahra sangat cemas. Pasalnya dia baru beberapa hari saja mengenal Dimas tak mungkin sedetail itu memahami apa yang di sukai dan tak disukai suaminya. Namun Arumi tak mau tau itu. baginya tradisi tetap lah tradisi.
Dimas memperhatikan raut wajah istrinya sangat tegang. sedikit agak pucat. namun terlihat senyuman tipis mengembang di bibir cantiknya. Berusaha baik baik saja di hadapan mertuanya.
" ma, sudahlah. gak usah pake acara beginian. kita langsung makan saja kan beres ma, aku sudah kelaparan nih" Dimas merengek membujuk ibunya agar tak melanjutkan acara tebakan makanan kesukaan itu. Dia khawatir tebakan istrinya salah.
" mama bilang kamu diam ya, ini sudah menjadi tradisi kita Dimas. dulu mama juga begitu. gak lama kok, cuma sebentar " kata Arumi menyunggingkan senyuman lebar.
melihat mamanya kekeh dengan rencana itu. Dimas pun berencana akan meng iyakan apapun pilihan Zahra. dengan begitu Zahra tak akan malu jika salah tebak.
" ayo nak Zahra, silakan pilih yang mana kesukaan Dimas, dan yang mana yang bisa membuat Dimas alergi" tanya mama Arumi lagi.
Zahra terdiam sekejap memandangi mama mertuanya lalu beralih pandang pada suaminya. Dimas mengangguk memberi kepercayaan bahwa pasti Zahra bisa.
Saat memandangi beberapa masakan yang tersaji di atas meja makan besar itu, Zahra justru teringat saat pertemuan nya dengan Dimas di restauran. ia teringat jika Dimas sangat menyukai ayam goreng serundeng. itu yang ia ingat. lalu dia juga ingat kalau Dimas memesan minuman bersoda pinky Drink. ya itu minuman yang dijadikan penutup saat Dimas selesai makan.
netra Zahra mencoba mencari makanan dan minuman itu. sekilas netra Zahra tertuju pada ayam goreng serundeng yang berada ditengah meja. selain ayam goreng serundeng, di meja itu juga ada ayam goreng kecap dan juga ayam ceker. Tangan Zahra meraih sepiring ayam goreng serundeng itu menciumi aromanya yang lezat, kemudian menghampiri Dimas. " kalau saya tidak salah, suami saya sangat menyukai ayam goreng serundeng ini" kata Zahra sambil meletakkan satu dada ayam goreng serundeng di piring Dimas.
Dimas tersenyum lega, ternyata Zahra tak salah pilih. pertemuan nya di restauran waktu itu ternyata ada faedahnya juga.
semua orang dirumah itu tau apa kesukaan Dimas, karena itu semua orang bertepuk tangan. Terlebih Abimana tepukan nya terdengar paling keras diantara yang lain. ia teringat waktu dulu Arumi malah salah tebak. Arumi tersenyum menyeringai seraya menatap tajam suaminya. ia tau kalau suaminya tengah mengejek dirinya karena dulu ia sendiri malah salah tebak. Tapi ini justru tak di alami oleh menantunya.
__ADS_1
Abimana menghampiri menantunya, dia memberikan hadiah yang sudah ia siapkan di kantong celananya. Begitu juga Arumi. mau tak mau diapun harus memberikan hadiah.