
"saya mendapatkan informasi gelang ini dari nyonya Pauline. kata beliau ini gelang milik anda" kata Thomas berusaha menjelaskan.
" bagi saya itu adalah gelang terkutuk. saya tidak tau dimana saat ini gelang itu berada. yang saya tau, mereka mengatakan jika saya kecelakaan bersama putri saya dan itu mengakibatkan putri saya meninggal dunia. dan gelang itu hilang entah kemana. anda tau? kecelakaan itu sudah membuat saya tidur selama dua tahun. dan saya bangun setelahnya dengan tak mengingat apa apa". kata Elizabeth dengan mata berkaca kaca.
"oh jadi sekarang anda tak mengingat apa apa nyonya? " kata Thomas. manggut-manggut. lalu ia melanjutkan kembali pertanyaannya. " lalu bagaimana anda bisa tau perihal kecelakaan itu nyonya? "
"tentu saja mereka yang memberi tahu". kata Elizabeth.
" kapan kecelakaan itu terjadi nyonya? "
" mereka bilang dua puluh tahun yang lalu"
" jadi anda sama sekali tak ingat apapun nyonya?"
"tidak" jawabannya singkat.
" anda dari tadi selalu bertanya. memangnya anda siapa?"
" nama saya Thomas, saya anggota detektif mata elang. gelang ini milik teman saya. dan saya mendapat tugaz untuk mencarinya karena teman saya sekarang kehilangan gelang itu. Padahal gelang itu adalah identitasnya" ujar Thomas.
"identitas? apa maksudmu? " Elizabeth mengernyitkan kedua alisnya. ia bingung, bagaimana mungkin seseorang mengatakan bahwa gelangnya yang hilang malah menjadi identitas dari orang lain? . seketika Elizabeth merasa kepalanya pusing memikirkan apa yang terjadi. ia memegangi kepalanya.
"nyonya baik baik saja? " tanya Thomas.
"sepertinya saya sakit kepala, bisakah kamu pergi dulu, saya membutuhkan istirahat. lain waktu kamu bisa kembali lagi" katanya sambil masuk ke belakang seraya memegangi kepalanya. Thomas tak bisa berbuat apa. ia pun pulang dengan sedikit kekecewaan. hampir saja penyelidikan nya berhasil, tapi malah menemui jalan buntu.
__ADS_1
tak berapa lama kemudian Thomas mendapatkan kabar bahwa Dimas dan istrinya kecelakaan saat mereka pulang dari honeymoon. mungkin Thomas orang yang terakhir yang mendengarkan kabar itu, karena sejak terakhir permintaan Dimas untuk menyelidiki kasus Tiara ia sama sekali tak menghubungi sahabatnya itu. ia lekas ke rumah besar kediaman Dimas. bertanya langsung pada keluarga Dimas dan ikut mengucapkan turut prihatin atas musibah itu. satu tugas belum selesai namun kini ia mendapati bahwa sahabatnya kecelakaan. Thomas berpikir jika kecelakaan itu pun pasti ada kaitannya dengan sang istri. karena menurut penyelidikan polisi sang istri malah hilang, entah itu selamat atau sudah meninggal.
kabar kecelakaan itu juga sampai di panti asuhan. Yulia dan Ambar merasa prihatin dengan kejadian itu. teman dan sahabat Zahra juga bersedih dengan kejadian itu. Yulia mengadakan doa, bersama anak anak panti asuhan yang digelar di mushola. mereka meminta pada Yang Maha Kuasa agar melindungi Dimas dan Zahra dimanapun mereka berada. Yulia sangat yakin jika doa anak yatim akan dikabulkan Sang Pencipta.
Sementara di sebuah klinik di desa terdekat Gumitir, Dimas sedang mendapat pertolongan pertama sebelum akhirnya ia dipindahkan kerumah sakit besar di Surabaya. Karena di klinik tersebut kurangnya fasilitas yang memadai.
"bagaimana keadaan cucuku? " tanya Lelaki tua saat tim dokter keluar dari ruang operasi.
" kami sudah melakukan operasi pada kaki pasien. Setelah itu nanti pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan" kata dokter yang menangani operasi kaki Dimas.
"bagaimana kondisi kakinya? " tanya Lelaki tua yang tak lain adalah Aresh Nugroho. ia sangat khawatir jika Dimas harus melakukan amputasi.
"secara keseluruhan dia baik baik saja. hanya saja tulang kaki kanannya retak. mungkin itu karena terkena benturan yang cukup keras. tapi anda tak perlu khawatir, cucu anda bisa berjalan dengan bantuan kursi roda atau bantuan tongkat. dan itu juga bisa disembuhkan dengan cara terapi yang rajin" kata dokter itu menjelaskan.
"lakukan yang terbaik untuk cucu saya. berapa pun biayanya" kata Aresh dengan penuh penekanan.
beberapa saat kemudian Thomas datang. Aresh juga memintanya untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Dimas.
" bagaimana keadaan Dimas opa? " tanya Thomas.
" dia baru saja selesai operasi. dia belum sadarkan diri. mungkin pengaruh obat bius. bagaimana, apakah sudah ada titik terang dengan keberadaan menantuku? " tanya kakek itu.
"menurut anak buahku, Zahra sepertinya di tolong seseorang. ada pengendara yang lewat mengatakan bahwa seorang lelaki muda seusia Dimas datang dan membawanya. kami belum bisa melacak keberadaan mobil itu. tapi kemungkinan nanti kami bisa mendapatkan CCTV semua mobil yang lewat di bagian kaki gunung itu" papar Thomas.
"baiklah opa, aku permisi dulu. semoga Dimas segera pulih" ujar Thomas kemudian pergi.
__ADS_1
beberapa jam kemudian Dimas mulai membukakan mata. Dia memindai seluruh ruangan tempat ia berbaring. tampak ia seorang diri tak ada yang menemani. setelah membuka mata pikirannya langsung teringat pada istrinya.
"Zahra, Zahra, Zahra" meski melemah ia berusaha bangun hendak mencari sang istri. Dia menarik kakinya, tapi Dimas merasa ada yang aneh dengan kakinya. kaki kanannya terasa kaku untuk di gerakkan. Dengan susah payah ia mengangkat kakinya dan diturunkan.
saat Dimas mau menuruni ranjang, pintu terbuka, seorang suster datang menghampiri.
"eh mas ganteng sudah sadar mas? mau kemana mas? mas ganteng tidak boleh kemana mana. mas harus istirahat" kata perawat wanita itu.
"aku mau menemui istriku, dimana dia? " tanya Dimas dengan raut muka cemas.
" mas ganteng sabar dulu, biar nanti saya yang akan menemui istri mas. yang terpenting sekarang mas ganteng jaga kondisi mas dulu, sekarang saya akan memeriksa kondisi mas" jawab Suster itu berbohong. Akhirnya Dimas diam tak meronta setelah suster itu memeriksa keadannya. tapi dalam hatinya ia berniat akan mencari sang istri setelah perawat itu pergi.
beberapa saat kemudian, suster itupun pergi. Dimas berpikir untuk kabur dan segera mencari sang istri. Bagaimana mungkin ia bisa bersikap tenang jika belum mengetahui bagaimana keadaan belahan jiwa nya.
Segera Dimas mencabut jarum infus yang terpasang di tangan kirinya, tak peduli dengan rasa sakit dan darah yang keluar dari bekas jarum itu. Dimas sekuat tenaga ia berusaha menapaki kakinya di lantai. dan ketika kedua kakinya sudah dilantai, ia menarik nafas dalam dalam. Kemudian ia berpikir untuk melangkahkan kaki itu. namun seketika ia terjatuh. Tubuhnya ambruk ke lantai. Kaki kanannya sama sekali tak bisa ia gerakkan. Tubuh Dimas gemetar. Dimas berusaha bangkit dengan menjadikan kedua tangannya tumpuan untuk berdiri. Sekuat apapun Dimas berusaha untuk berdiri, tubuhnya tersungkur ke lantai. ia merasakan sakit yang luar biasa di kaki kanannya.
"tidak, apa yang terjadi dengan kakiku?" kata Dimas sambil berusaha untuk berdiri.
"kakiku, kenapa aku tak bisa berdiri, aaaa tidak... " Dimas berteriak sambil menangis.
setelah mendengar teriakan Dimas, Aresh, dokter dan juga seorang perawat datang.
perawat itu pun segera membantu Dimas untuk naik ke ranjang nya. Namun Dimas menepis tangan perawat itu sendiri.
"tidak. aku bisa sendiri" tolak Dimas dengan kasar.
__ADS_1
melihat pemandangan itu Aresh dan dokter itupun berpandangan. mereka seolah mengerti apa yang kini dirasakan Dimas.