
Tomas sedang berdiri di sebuah rumah besar, ia berdiri di depan pagar besi yang membatasi halaman rumah itu dan jalan raya. Ia bersandaran di depan mobilnya sambil sesekali memperhatikan selembar kertas kecil berisikan sebuah alamat yang ia dapat dari anak buahnya. Karena Thomas hanya seperti orang yang sedang mengintai, seorang petugas keamanan rumah itu pun menghampiri Thomas.
" cari siapa mas? " tanya seorang security dari balik pagar rumah mewah itu.
"apa benar ini kediaman nyonya Pauline? " tanya Thomas.
security itu tengah memperhatikan pria di hadapannya dengan teliti. "ada perlu apa mencari nyonya Pauline? " security itu pun balik bertanya.
" saya ada kepentingan penting dengan beliau" jawab Thomas dengan sopan.
"sudah ada janji sebelumnya? " tanya security itu lagi.
Dan Thomas hanya menggeleng kepala nya saja.
"siapa nama anda dan darimana? " tanya Security itu.
Dimas pun menyebutkan nama dan dimana ia tinggal. baru setelah itu security itu pun masuk. sepuluh menit kemudian dia baru kembali dan membukakan pagar untuk Thomas.
Thomas melangkah masuk dan membiarkan mobilnya terparkir diluar. sesekali matanya melayap memindai ke arah sekeliling. ia takjub. sungguh pemandangan halaman yang tertata dengan rapi dan bersih bergaya Eropa.
"sebenarnya nyonya Pauline sedang sakit. dia butuh istirahat. apakah anda masih ingin menemuinya? " tanya security itu lagi.
Thomas jadi tak enak hati. karena kedatangan nya sudah di waktu yang tak tepat. Namun ia sudah terlanjur. jadi akan sia sia jika ia pergi tanpa membawa informasi yang ia cari.
"tidak apa apa. saya janji saya tidak akan bicara banyak. saya hanya sebentar saja" kata Dimas meyakinkan security itu.
security itu membawa Thomas masuk ke dalam sebuah kamar dimana nyonya Pauline istirahat tentunya setelah memastikan sekujur tubuh Thomas aman tanpa ada membawa senjata yang bisa membahayakan sang majikan.
__ADS_1
di kamar itu Pauline ditemani oleh seorang perawat cantik yang selalu menemani kebutuhan Pauline.
melihat ada tamu yang dibawa security untuk menemani sang majikan, perawat itupun membantu sang majikan untuk segera duduk bersandar di Dasbord ranjang tempat tidurnya. lalu ia pun berpamitan hendak keluar, namun Pauline melarang nya. ia meminta perawat itu untuk tetap disana.
Pauline menatap tajam ke arah Thomas meskipun dengan tatapan lemah karena ia sedang sakit. ia mencoba mengingat ingat sipemilik wajah tampan itu siapa tau ia pernah melihat dan mengenalnya. Namun tetap saja ia tak mengenal pria itu.
"bagaimana kabar anda nyonya? " tanya Thomas saat berjalan mendekati ke arah ranjang. kemudian Thomas duduk di bibir ranjang dekat Pauline bersandar di dasbor ranjang.
" apakah sebelumnya kita pernah saling mengenal? " tanya Pauline dengan suara tercekat.
"tidak" jawab Thomas seraya mengulum senyum.
"lalu kenapa anda datang menemuiku? " tanya wanita yang berkebangsaan Belanda itu. tampak kulit putihnya sudah keriput namun masih jelas terlihat aura kecantikannya.
" karena saya harus meluruskan beberapa hal dimasa lalu anda nyonya, yang mungkin sampai saat ini belum terpecahkan " jawab Dimas datar. Aura seorang detektif sudah mulai terlihat di mimik wajah tampan itu.
"masa lalu? " tanya Pauline seraya mengernyitkan kedua alisnya. ia sama sekali tak merasa memiliki masa lalu yang belum terselesaikan.
Pauline memperhatikan gambar itu dengan seksama.
" ini adalah desain gelang Helene? " tanyanya. Dalam binar matanya yang sudah menua tampak sekali ia sedang merindukan seseorang.
Thomas hanya mengangguk.
" bagaimana kau mendapatkan gambar seperti ini? bukankah gelang ini tidak dijual dipasaran? tanya Pauline heran.
"tentu saja nyonya, aku mendapatkan gambar gelang ini dari pemiliknya" jawab Thomas.
__ADS_1
"pemiliknya? " tanya Pauline heran. bagaimana mungkin anak muda di hadapannya bicara si pemilik gelang itu sementara pemilik gelang itu adalah dirinya dan Helene. gelang miliknya sudah ia serahkan kepada putri satu-satunya yaitu maria dan milik Helene tentu saja ia serahkan kepada putrinya juga.
"siapa yang kamu maksud? " tanya Pauline bingung.
" saya hanya ingin melihat keindahan disain gelang ini secara langsung dari anda nyonya " melihat aura kebingungan pada Pauline, lebih baik Thomas menanyakan saja gelang itu langsung.
Pauline hanya tersenyum mendengar ucapan lelaki muda di hadapannya.
" ini adalah desain terakhir dari sahabat ku. Dia sudah meninggal. dia membuatkan dua buah gelang untuk kita. satu untuk ku dan satu lagi untuk dirinya. tapi mungkin karena sudah takdir dari Tuhan, setelah itu ia mengalami kecelakaan dan menyebabkan harus dioperasi untuk mengeluarkan bayi dalam kandungannya. Nyawanya tak tergolong, sementara bayinya selamat. Karena itulah aku memakaikan gelang Berkristal biru itu pada bayinya. sementara milikku Berkristal merah" kata Pauline saat mengenang cerita masa lalu bersama sahabatnya.
" aku sudah tua, jadi aku sudah tidak memiliki benda itu. gelang itu akan terlihat cantik jika dipakai oleh orang yang lebih muda" katanya seraya tersenyum. " apa yang kamu maksud dengan disain yang ada di tanganmu itu berwarna biru?" tanya Pauline.
Thomas hanya mengangguk saja tanpa menjawabnya.
"sebenarnya yang aku dengar, gelang kristal biru itu sudah lama hilang. mungkin yang kamu maksud sipemilik itu adalah orang yang menemukan benda itu" kata Pauline seraya menarik nafas dalam.
" bukankah anda sahabat nyonya Helene? lalu kenapa anda tidak ikut menjaga wasiat dari beliau dengan membiarkan benda itu hilang? "
"aku sudah menjaganya, bahkan aku sudah membesarkan bayinya dengan memberikannya namaku pada putri nya"
"siapa kau sebenarnya, bagaimana mungkin kau bertanya semua ini? " Pauline baru menyadari segala pertanyaan yang di ajukan orang asing seharusnya tak perlu sedetail itu.
Thomas tak menjawab, dia harus menyembunyikan identitas aslinya sebelum tujuannya tercapai.
" saya Thomas nyonya, saya bertanya karena teman saya yang memiliki gelang seperti itu. dan sekarang gelang itu pun hilang" ujar Thomas memberi alasan.
"putri Helene itu bernama Elizabeth. aku sudah memberikan gelang itu sebagaimana mestinya dan pada orang yang sudah seharusnya. aku sudah merawat putrinya seperti putri ku sendiri bahkan aku tak membedakan antara anakku dan anak Helene. Elizabeth sudah kuanggap putri sulung ku. Kurasa memang takdir juga berkata lain, Elizabeth pun mengalami kecelakaan dan gelang itu juga hilang entah kemana, sementara Elizabeth dia sempat koma tapi sekarang dia sudah sembuh"
__ADS_1
Thomas hanya manggut-manggut. di cerita terakhir sepertinya ada cerita yang berbeda, Pauline mengatakan gelang itu hilang pada saat Elizabeth kecelakaan, sedangkan Zahra di dapat karena diberikan oleh seseorang yang meminta bayinya dilindungi, dengan identitas perhiasan itu. Thomas hanya menarik nafas dalam, sepertinya ia harus menyudahi penyelidikannya di rumah Pauline. ia akan mencari informasi selanjutnya pada wanita yang bernama Elizabeth.
" baiklah nyonya, kalau begitu saya minta maaf sudah mengganggu waktunya. sepertinya saya sudah salah orang disini. mungkin lebih baik saya akan meminta teman saya agar melaporkan kehilangan perhiasan di kantor polisi saja" ujar Thomas dengan sopan. ia pun berpamitan.