Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
calon suami


__ADS_3

Zahra terdiam seribu bahasa mendengar pengakuan Dimas. Dia tak menyangka bahwa dirinya serendah itu. tapi apapun yang ia lakukan ia sama sekali tak mengingatnya. Sambil menundukkan kepala, air matanya lolos jatuh di pelupuk mata. Zahra sangat malu dengan dirinya sendiri.


" maafkan aku mas, bahkan aku sudah meragukanmu. terimakasih karena sejauh ini sudah menjagaku. Kalau seandainya kamu tak bisa menahan diri, mungkin kita sudah terjerumus ke lembah zina yang sangat di benci Alloh SWT. sekali lagi maafkan aku mas" Zahra tertunduk sambil sesegukan.


melihat orang yang sangat dicintainya tengah rapuh hatinya dan menangis, ingin sekali Dimas memeluknya dan memberikan bahunya sebagai sandaran. Namun semua itu hanya sebatas keinginan saja karena itu tak mungkin.


" jangan menangis Ra, aku adalah calon suamimu. toh nanti semua itu juga akan terjadi pada kita jika nanti kita menika. iya kan" Dimas sengaja menggoda wanita berhijab itu, agar hatinya tak lagi bersedih.


Zahra hanya tersenyum malu mendengar ucapan Dimas. Wajahnya memerah dan tertunduk.


"Ra..., setelah ini aku janji akan membawa orang tuaku untuk menemuimu. kamu mau kan bertemu ibuku? " tanya Dimas


Zahra hanya menganggukkan kepala saja.


Sementara saat Aisyah baru keluar di toilet tanpa sengaja dia menabrak seseorang


" bughhhh... " seorang pria jangkung tanpa sengaja menabrak dirinya.


" awww... aduh, siapa sih nih orang jalan gak pake mata ya? " Aisyah memekik kesakitan saat punggungnya jatuh mendarat di lantai. Dia menggerutu tanpa menoleh kearah yang menabraknya tadi.


" maafkan saya nona saya tidak sengaja" seseorang menjulurkan tangan untuk membantu membangunkan Aisyah.


Tatapan Aisyah tertuju pada tangan besar dan kekar yang terjulur dihadapannya. Aisyah mendongakkan wajahnya beralih menatap wajah si pemilik tangan itu.


melihat pria tampan berkulit putih dengan hidung mancung dan mata rada sipit mirip Zahra tengah menjulurkan tangan, membuat Aisyah tak bisa menolak, dengan segera ia menerima tangan kekar itu sambil tersenyum.

__ADS_1


" ia mas ganteng, ga pa-pa. aku juga yang salah karena gak hati hati" Aisyah tersenyum lebar sambil tak hentinya menatap wajah pemuda tampan di hadapannya.


"it's okay. kenalkan namaku Erick. Erick smith" nama kamu siapa cantik? " Erick menjulurkan tangan nya pada Aisyah.


" waduh, boleh nggak ya aku Terima jabat tangannya? kalau diterima kan bukan muhrim, tapi kalau di tolak kan sayang, ganteng banget sih kayak bulek, kapan lagi aku kenalan dengan cowok seganteng dia, pasti dia orang kaya" batin Aisyah


" nama saya Aisyah" Aisyah menerima uluran tangan Erick sambil tersenyum lebar.


" it's okay, kalau kamu tidak apa apa, aku duluan ya, sampai jumpa Aisyah " Erick pamit sambil melambaikan tangan pada Aisyah.


sedang Aisyah sendiri hanya tersenyum manis sambil mengedip ngedip kan kelopak matanya.


Erick kembali ke depan tanpa sengaja dia bertemu dengan Dimas.


" Dimas, elo Dimas kan? Dimas putra tuan Abimana ? " Erick berjalan mendekat seraya memastikan siapa pria yang ada di hadapannya. sedang Dimas sendiri seolah acuh dan pura-pura tak mengenali. Dia segera merogoh ponsel miliknya seraya pura-pura menelpon seseorang.


Dimas segera menjauh dari Erick. " duh kenapa harus ada Erick disini sih? " Dimas sengaja mengabaikan lelaki jangkung itu demi untuk merahasiakan identitasnya di depan wanita pujaannya itu. Dia tidak mau rencananya gagal. Biarlah ada waktu tersendiri dimana nanti Zahra akan Mengetahuinya. Setelah memastikan Erick sudah tak ada lagi, Dimas pun menghampiri Zahra dan disana sudah ada Aisyah yang baru kembali dari toilet.


" hai.. sudah kembali Sya dari toilet? lama amat kupikir kamu sudah dimakan hiu disana" goda Dimas pada Aisyah. sedang yang digodain malah mendelikkan bola matanya.


" enak aja kalau ngomong. emang sih tadi ada hiu bulek yang lagi nyamperin aku, makanya aku lama" Aisyah malah cengengesan tak karuan.


sementara ditempat lain seorang wanita usia setengah abad berdiri menghampiri kantor XXpress, mengenakan dres warna grey selutut dipadu dengan atasan kardigan warna senada dengan kacamata yang bertengger di atas kepala.


"Permisi mbak mau tanya, apa Dimas bekerja di sini? " wanita itu menghampiri meja admint dimana Cindy sedang bekerja.

__ADS_1


sontak Cindy mendongakkan wajahnya menatap si pemilik suara.


Cindy menautkan kedua alisnya, berpikir sejenak untuk mengingat siapa wanita di hadapannya. akhirnya dia teringat pada saat beberapa hari yang lalu dia di berbelanja di swalayan sempat melihat wanita itu. Cindy menemukan sesuatu yang terjatuh dari dompet wanita itu saat mengeluarkan uang di depan kasir untuk membayar belanjaan.


" bu, maaf ada yang ketinggalan, fotonya jatuh bu" teriak Cindy waktu itu. tapi yang dipanggil sama sekali tak mendengar. justru malah pergi.


karena tak menjawab, akhirnya Cindy memeriksa sebuah foto keluarga yang tadi jatuh itu. Cindy mengernyitkan kedua alisnya. " ini kan Dimas" batin Cindy. akhirnya Cindy memberanikan diri bertanya kepada kasir.


" maaf mas, mas tau ibu ibu yang berbelanja tadi? ini ada fotonya yang terjatuh". kata Cindy seraya meberikan selembar foto tadi. dan penjaga kasir itu pun menerima foto itu karena memang meja kasir lagi legang.


" ini kan foto abimana nugroho si pengusaha kaya di bidang antar kirim jasa itu kan? memangnya mbak belum tau? mungkin ini adalah foto keluarga beliau " terang petugas kasir itu seraya tersenyum kemudian kembali menatap layar laptopnya.


" oh ia mas Terima kasih " jawab Cindy lalu pergi.


" halo mbak, mbak baik baik saja? " wanita itu membuyarkan lamunan Cindy.


" eh ia bu, saya baik baik saja" Cindy mengerjakan kaget. tapi kemudian tersenyum. Dia paham siapa kini yang berada di hadapannya.


" waduh ini mamahnya Dimas, pantas saja anaknya ganteng, ibunya saja produk import. kesempatan besar nih buat gue untuk ngedekatin nyokapnya. kalau anaknya tidak bisa di dekati siapa tau nyokapnya malah memberikan restu. gue gak akan ngelepasin Dimas begitu saja. ternyata selama ini elo nyembunyiin identitaa elo mas" tentu saja cindy hanya berbicara dalam hati.


" ia bu, ada yang bisa saya bantu? " tanya Cindy lembut sambil tersenyum semanis mungkin


Arumi tersenyum " Dimasnya ada kah mbak"


" Hari ini Dimas tidak masuk bu, apa saya harus menghubunginya dan memintanya untuk kesini bu? "

__ADS_1


" oh tidak perlu. biar saya ke tempat kostnya saja. terimakasih ya mbak" jawab Arumi singkat kemudian segera beranjak pergi.


"belum banyak bicara untuk sekedar basa basi eh malah pergi, gimana sih? ketus amat wanita itu, persis anaknya" gerutu Cindy kesal.


__ADS_2