Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
Selamat Datang kembali QUEEN


__ADS_3

Dimas bertatapan dengan sang istri yang juga tak kalah heran. keduanya saling berpandangan seolah mencerna situasi yang baru saja dia alami.


" kepolisian? " lalu yang tadi? " tanya Dimas heran.


" apa maksud anda mas Dimas? " tanya salah satu polisi itu.


Dimas menelan ludahnya kasar. seraya berucap "tadi juga ada dari pihak kepolisian yang datang kemari sedang menginterogasi Tiara, apakah dia juga dari kepolisian yang sama? "


kedua polisi itu pun saling berpandangan.


" kami baru saja ditugaskan komandan Arif untuk kesini. tidak ada petugas kepolisian lain yang menangani kasus ini selain beliau. dan beliau memilih kami untuk kesini. kami membawa bukti pengenal kepada kalian beserta surat permintaan pernyataan dari beliau" kata salah satu polisi dengan menyerahkan beberapa lembar surat pernyataan.


Dimas menerima lembaran kertas itu dan sekilas membacanya. memang benar mereka asli petugas kepolisian. lalu mereka?


" sepertinya ada orang yang sengaja mau mengorek informasi dengan menyamar sebagai polisi " kata polisi itu.


"kami akan mengusut tuntas kasus ini, setelah mendengar keterangan baru dari kalian, sepertinya ini murni percobaan pembunuhan. kami permisi ke dalam dulu" kata polisi itu kemudian masuk untuk menemui Tiara.


" ini tak bisa di biarkan, sepertinya aku harus turun tangan. orang itu sudah tau bahwa kamu adalah pemilik asli gelang itu" kata Dimas seraya mengepalkan tangan. " siapa dalang dari semua ini? apakah dari keluarganya sendiri atau ada orang lain? " entahlah ini menjadi teka teki yang harus Dimas pecahkan.


kemudian Dimas menelpon seorang temannya yang bekerja sebagai detektif swasta. "halo Thomas Jefferson, bisa ketemu? ok. baiklah" Terlihat Dimas menutup panggilan nya.

__ADS_1


" ayo dek kita ke dalam dulu, pamitan sama bu Yulia lalu pulang " kata Dimas datar. pikirannya sedang kacau. menyadari kebodohannya karena berhasil dikelabui orang asing. Dia sangat geram sekali.


setelah itu Dimas mengantarkan Zahra pulang. ia tak mau jika seseorang melukai istrinya. Dimas yakin jika target sebenarnya adalah Zahra. setelah itu ia segera bertemu Thomas Jefferson sahabat dekatnya dulu saat kuliah.


" Hai bro, lama sekali kita tak bertemu? kudengar kau sudah menikah, kenapa kau tak mengundangku? apa kau sudah tak ingat lagi sama sahabat lamamu ini?" tanya Thomas saat mereka bertemu di sebuah kafe. tampak sekali raut wajah kekecewaan darinya.


" maaf, acaranya dadakan dan hanya sederhana saja. aku pikir kau masih diluar negeri, makanya aku tak menghubungi" kata Dimas.


" lalu, ada angin apa kau mencariku? " tanya Thomas.


" apa kau masih bekerja di organisasi detektif MATA ELANG? " Tanya Dimas tanpa basa basi. Mata Elang adalah satu nama organisasi detektif kepercayaan keluarga Dimas sejak turun temurun mulai dari tuan Nugroho, hingga ke Aresh dan turun ke Abimana sampai ke Dimas.


" ia tentu saja. ada masalah apa sampai kau membutuhkan aku? " tanya Thomas dengan tatapan tajam.


" lalu bagaimana menurutmu setelah kau mendengar ceritaku tentang kasus yang sedang menimpa Tiara? apakah menurutmu semua ini ada kaitannya dengan Zahra istriku" tanya Dimas cemas.


" ya seperti dugaanmu memang sepertinya ini sudah direncanakan" kata Thomas santai.


" kalau begitu segera lakukan sesuatu. aku tidak mau jika nanti terjadi sesuatu yang buruk menimpa istri dan keluarga ku" kata Dimas cemas.


" baiklah bro, selain urusan partner kerja, kita adalah sahabat. urusanmu menjadi urusanku juga, kalau begitu aku pamit. kalau boleh, aku mau kau kirimkan foto istrimu dan juga foto temannya itu. aku juga membutuhkan sedikit informasi tentang mereka. agar mudah bagi kami melacaknya.

__ADS_1


" baiklah akan aku kirimkan melalui ponsel nanti" jawab Dimas.


setelah dua jam mereka berbincang tampak Dimas keluar meninggalkan kafe itu. ia kembali teringat dengan kalung Zahra pemberian dari orang tuanya. ia khawatir Zahra menggunakan kalung itu dan hal buruk akan menimpanya.


buru buru Dimas pulang dan hendak menemui istrinya, ingin memintanya agar menyimpan saja kalung itu demi keamanan.


****


Ditempat lain seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi panjang datar yang terbuat dari rotan. dengan bantalan empuk di bagian kepala. duduk santai di samping kolam renang dengan hanya memakai dalaman dengan ditutup kain kimono panjang yang diikat dengan belt di bagian pinggang. kacamata hitam dan topi santai tak lupa ia kenalan untuk menutupi wajahnya dari paparan sinar matahari. tampak sensual dan elegant. wanita itu rebahan sambil ditangannya menikmati segelas jus jeruk.


cuaca jam sepuluh pagi waktu itu begitu terik. menampakkan birunya langit tanpa sedikitpun noda awan yang menghiasi langit. Angin semilir di sekitar kolam renang terasa mengurangi rasa teriknya sinar mentari. Wanita cantik setengah baya itu pun sengaja berjemur menghangatkan tubuhnya.


dua lelaki berbadan tegap dengan kepala botak dan kacamata hitam menghampiri wanita itu. " pagi nyonya, saya sudah mendapatkan informasi, ternyata kita salah sasaran nyonya. wanita yang kemaren berusaha kita lenyapkan ternyata bukan target kita. dia hanya temannya saja" kata pria itu seraya menundukkan kepala dengan kedua tangan kebelakang.


" lalu? " tanya wanita itu datar. sambil sesekali menyesap juz Jeruk di tangannya.


" Dia ternyata menantu keluarga Nugroho, salah satu orang terkaya di kota ini"


" aku tak perduli. segera lenyapkan" katanya dengan datar.


" baik nyonya " kata Kedua lelaki itu seraya pergi.

__ADS_1


wanita itu menaruh segelas jus yang ia pegang di meja samping kursi panjang tempatnya rebahan. kemudian berdiri dengan kedua tangan terlipat didada. ia berjalan mendekati pinggiran kolam, memandangi bayangannya sendiri di air kolam yang tampak tenang itu.


" permainan masa lalu yang sempat terjeda kini akan disambungkan kembali. Selamat datang kembali QUEEN" katanya sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2