Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
melindungi baby queen


__ADS_3

"dengar bi, bi Asih bisa saja salah dengar. tak mungkin seseorang menginginkan menculik queen". kata Elizabeth dengan sedikit tak percaya.


" sumpah non, bibi tak bohong " kata bi Asih dengan wajah sedikit panik.


"baiklah bi, begini saja, aku tau bibi orang kepercayaan mas Smith untuk menjagaku. kita atur rencana. bagaimana kalau kita gagalkan rencana penculikan itu? " ujar Elizabeth tanpa ada keraguan sedikitpun dengan rencananya.


"suster Yanti akan berpura-pura menjadi aku disini, menggantikan aku di ranjang ini" kata Elizabeth santai.


"saya? tapi non, jika saya menggantikan posisi non Elizabeth, saya akan kena marah dokter" kata suster Yanti ketakutan.


"kau ada disini karena suamiku yang membayar". kata Elizabeth. Suster Yanti tak banyak bicara, karena memang kenyataannya dia ditugaskan untuk menjaga Elizabeth selama kepergian Smith.


Elizabeth segera mencabut jarum infus yang ada di tangan kirinya. ia meringis kesakitan namun ia masih bisa bertahan.


" nyonya El baik baik saja? ingat non, non baru saja melahirkan, non harus istirahat. biar saya saja yang akan menjaga baby queen bersama bi Asih. atau kalau perlu biar saya laporkan rencana penculikan itu ke polisi". kata Suster Yanti.


"tidak perlu. aku hanya ingin mengetahui siapa orang yang berniat mencelakai ku dan bayiku" kata Elizabeth.


Elizabeth mengambil tangan suster Yanti dan memasang bekas selang infus yang tadi ia pakai dan kini beralih ke tangan suster Yanti. kemudian dengan asal Elizabeth memberikan plester pada selang itu agar tidak lepas dari tangan suster Yanti.


"sekarang kamu berbaring, kenakan selimut ini agar tidak ada yang mengenali bajumu atau kalau perlu kenakan masker juga" perintah Elizabeth. suster Yanti pun hanya diam saja dan mengikuti perintah majikannya.

__ADS_1


"puji Tuhan, semoga Tuhan Yesus melindungi kita" kata Elizabeth.


"aku dan bi Asih akan mengintip dari luar di dekat ruang perawatan bayi" kata Elizabeth seraya pergi dan diikuti oleh bi Asih dari belakang.


malam itu rumah sakit agak lengang tidak seperti biasanya, entah mungkin karena ruang yang ditempati adalah ruang bersalin kelas VVIP jadi suasana sangat tenang. tak banyak orang yang berlalu lalang di koridor tempat Elizabeth dirawat, atau mungkin karena memang jam yang sudah menunjuk jam sembilan malam. Sehingga jam pengunjung sudah habis.


tepat jam sembilan malam dua orang berpakaian putih putih khas seorang perawat dengan mengenakan masker masuk ke ruang perawatan bayi. mereka mencari cari nama Queenzha dan setelah menemukannya dia segera keluar meninggalkan ruangan itu. saat hendak keluar bi Asih segera mencegat perawat palsu itu.


"maaf, itu bayi mau dibawa kemana pak, saya sudah ijin sama perawat kalau saya mau membawa bayi itu ke ibunya karena ibu bayi itu menginginkan bayi itu" kata bi Asih dengan sedikit rasa takut. namun ia berusaha bersikap tenang. kedua perawat palsu itu saling berpandangan.


dengan segera bi Asih menghampiri dua lelaki itu dan mengambil baby queen. Karena terkejut dan gugup kedua perawat palsu itu tak menyadari jika bayi yang mereka gendong kini beralih pada wanita lusuh setengah baya itu.


"tunggu, kata salah seorang perawat palsu itu seraya mengejar bi Asih. Bi Asih tak menghiraukan panggilan perawat palsu itu ia mempercepat langkahnya menuju tempat yang ditentukan Elizabeth majikannya. sebuah ruang perawatan yang terlihat kosong


Elizabeth berniat mau menelpon polisi, tapi sayang hanphonnya tertinggal diruang perawatan bersama suster Yanti.


belum selesai rasa gugup itu, terdengar suara orang mengetuk pintu dari depan. bi Asih dan Elizabeth panik. mereka ketakutan.


"apa yang harus kita lakukan non? " tanya bi Asih seraya mendekap baby queen dipangkuannya.


" kita tak punya pilihan lain bi, kita harus kabur dari tempat ini" entah karena apa, tiba-tiba Elizabeth melepas gelang dan kalungnya dan memberikannya pada bi Asih.

__ADS_1


" bi, pegang ini, ini adalah identitas anakku. bawa sejauh mungkin agar penculik itu tak dapat menemukan anakku. jika memungkinkan bawalah dia kembali padaku jika situasi sudah aman" ujar Elizabeth. sebenarnya ia tak bisa memberikan bayinya kepada pembantunya, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. ia baru saja melahirkan sehingga tak mungkin baginya untuk bisa membawa lari baby queen. penjahat itu pasti dengan mudah akan menangkapnya.


lagi terdengar gedoran pintu dari luar. meskipun tak keras tapi ia tahu jika itu pasti penjahat yang tadi Membuntuti bi Asih.


Elizabeth membuka pintunya, tapi bi Asih bersembunyi di balik pintu seraya membekap baby queen dalam gendongannya, dan nanti jika memungkinkan ia akan lari.


"mana bayi itu? " tanya perawat palsu itu seraya masuk dan mencari keberadaan baby queen.


"disini tidak ada bayi" jawab Elizabeth dengan suara parau karena ia berusaha menahan rasa takutnya.


melihat kedua perawat palsu masuk dengan segera bi Asih melarikan diri, lari dengan sekencang kencangnya. menyadari ada yang lari keluar, perawat palsu itu segera berbalik badan dan mengejar sosok bi Asih dan meninggalkan Elizabeth sendiri diruangan itu.


"ya Tuhan, lindungilah bayiku" kata Elizabeth seraya melangkah keluar.


sementara bersamaan dengan itu di tempat suster Yanti, seorang wanita mengenakan masker dan kacamata hitam masuk dengan membawa suntikan beracun di tangannya. ia melihat ke ranjang dimana suster Yanti yang terbaring membelakangi pintu. ia mengira jika itu adalah Elizabeth yang sedang tertidur. Dengan langkah pelan bahkan nyaris tak di dengar oleh suster Yanti ia mendekati infus yang tergantung ditiang. kemudian dengan tersenyum ia menyuntikkan cairan beracun itu ke infus yang tergantung pada tiangnya. setelah itu pun ia melangkah pergi. meskipun suster Yanti tak mendengar derap langkah kaki orang yang masuk keruangannya, tapi ia mengetahui jika orang misterius itu menyuntikkan sesuatu pada infusnya. ia melihat bayangan seorang wanita di tembok karena memang lampu ruangan masih menyala dengan terang. suster Yanti sama sekali tak bereaksi karena ia tahu jika selang infus tak tertancap di nadinya melainkan itu hanyalah di tempel begitu saja tanpa jarum sehingga menurutnya itu tak akan berbahaya baginya. racun itu tak akan masuk ke tubuhnya.


setelah dirasa orang itu sudah pergi, baru suster Yanti bangun dan duduk seraya mengusap dadanya merasa lega. lalu iapun segera mencabut plester yang merekat di pergelangan tangannya sehingga selang infus itupun terlepas.


Elizabeth masuk dan menemui suster Yanti dengan terengah engah, ia tampak panik dan ketakutan sekali. ia segera mencari henponnya dan menelpon polisi. tanpa bertanya masalah apa yang tadi di alami suster Yanti diruangan itu.


setelah menelpon polisi baru setelah itu ia menatap suster Yanti dan bertanya.

__ADS_1


"apa tadi seseorang datang kemari dan Mencelakaimu? " tanya Elizabeth dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


suster Yanti mengangguk lalu ia menceritakan apa yang barusan ia alami.


__ADS_2