
Malam itu di halaman rumah Aresh Nugroho sudah dipadati berbagai mobil mewah, semuanya terparkir rapih berjejer bak sebuah showroom mobil. mereka adalah para orang kaya yang tengah menghadiri pesta tuan besar Aresh Nugroho seorang pengusaha besar di kota surabaya. para relasi bisnisnya dari berbagai kalangan pun turut menghadiri dan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada tuan besar yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 65 tahun. Tak hanya relasi bisnis saja yang hadir, anggota keluarga besarnya pun juga hadir.
Gemerlap mewah pesta tampak disana. Ruangan yang dihias begitu megah dengan berbagai macam lampu hias. di salah satu sudut dilengkapi dengan berbagai dekorasi dan aksesoris dan lampu gantung yang besar terpasang ditengah tengah ruangan.
Seorang lelaki yang sudah berumur berdiri dengan tegap di antara beberapa tamu yang hadir. Mengenakan jas mewah hitam dipadu dengan celana warna senada. Meskipun tubuhnya yang tak lagi gagah namun terlihat jelas kalau lelaki tua itu masih saja menampakkan gurat wajahnya yang tampan. Dia lah Aresh Nugroho.
Tampak disana hadir pula Abimana dan Istrinya juga kakak tertuanya Bramana dan istrinya.
Dimas dan Zahra juga menghadiri acara pesta itu. ia mengenakan kaos hitam dipadu dengan jas warna senada membuat penampilannya tampak simpel dan kasual namun tak sedikitpun mengurangi aura ketampanannya. Sedangkan Zahra mengenakan dress muslim warna putih dengan hijab warna senada juga membuat ia tampak cantik sekali di antara para wanita yang hadir yang sama sekali tak ada yang mengenakan hijab. Semua mata tampak tertuju pada wanita yang kini tengah di gandeng Dimas. Karena memang dia satu satunya yang berbeda dari yang lain. Dari segi busana saja sudah jelas berbeda. Namun Zahra sama sekali tak mengindai orang orang yang tengah memperhatikan nya.
Sosok lelaki jangkung dengan mata sipit sedari tadi tengah memperhatikan pasangan Dimas dan Zahra. ia adalah Rayyan putra dari Bramana Nugroho. Rayyan hendak menghampiri Dimas, namun karena terdengar suara pembawa acara sedang mengumumkan bahwa acara akan dimulai, ia urung mendekati.
Acara sebentar lagi akan dimulai. semua keluarga sudah berkumpul . Acara pemotongan kue pun dilakukan. tak terlalu dramatis seperti acara para anak muda. Aresh hanya melakukan potong kue dan tiup lilin saja. Dia tak mau saja karena mengingat usianya yang tak lagi muda. Riuh tepuk tangan menggelegar di dalam ruangan itu, kala Tuan Aresh memotong kuenya dan potongan pertama ia berikan kepada istri tercintanya Shelomita. setelah itu acara pemberian hadiah. Sebagai seorang tertua di keluarga besarnya, ia ingin tau hadiah apa yang akan di berikan oleh anak anaknya dan juga cucu cucunya. Sebenarnya ia tak butuh apapun dari mereka, mengingat ia sudah punya segalanya. Tapi baginya yang sudah tak lagi muda, kasih sayang tak bisa ia ukur dengan uang. ia ingin tau seberapa besar kasih sayang dan rasa cinta anak anaknya terhadap dirinya.
Tepuk tangan Meriah saat pasangan Bramana selaku putra tertuanya memberikan hadiah sepatu baru pesanan khusus yang tentunya dengan harga selangit. ia berharap hadiahnya lah yang akan menjadi hadiah yang paling berkesan bagi ayahnya.
Aresh tersenyum mendapatkan hadiah dari putra pertamanya. Ia meminta pelayan untuk segera menyimpan hadiah itu. Seketika wajah Bramana menjadi kecut. ia tau hadiahnya kurang berkesan bagi sang ayah terbukti dengan adanya sang ayah malah meminta menyimpankan hadiah itu. Tapi Bramana optimistis saja, jika hadiahnya kurang berkesan setidaknya masih ada hadiah dari Rayyan putranya yang akan mencuri perhatian sang ayah.
Sedangkan pasangan Abimana memberikan hadiah tongkat kayu berukir dengan di desain bagian kepala tongkat berlapis emas. Abimana pikir ayahnya tak akan butuh apapun selain tongkat itu untuk membantunya berjalan mengingat usia ayahnya yang sudah sangat tua.
__ADS_1
Tepuk tangan pun kembali bergemuruh. Aresh pun tersenyum hangat, tampak tersirat di wajahnya ia merasa jika putranya sudah memperhatikannya. tentu saja ia sangat bahagia mendapatkan sebuah tongkat yang mungkin suatu saat sangat ia butuhkan. Dia memegang tongkat itu seraya tersenyum.
kemudian Aresh menatap pada kedua cucunya. tampak Rayyan yang sedang menggandeng seorang wanita cantik tersenyum.
"Rayyan, hadiah apa yang sudah kau siapkan untukku?" tanya Aresh dengan nada sedikit penekanan.
Rayyan memberikan sebuah hadiah jam tangan mewah untuk kakeknya. Dengan bangganya ia menyerahkan jam itu.
Abimana saat melihat jam tangan yang dibawa Rayyan, sebagai hadiah, penasaran hadiah apa yang dibawa Dimas untuk kakeknya.
ia menghampiri sang anak. " kau membawa apa untuk opahmu?" tanya Abimana penasaran.
" apa? piringan hitam? tidakkah kau berpikir apa opahmu mau menerima barang tak berguna seperti itu? Bahkan hadiah Rayyan jauh lebih baik dari hadiahmu" kesal Abimana. "Kamu hanya akan mendapatkan ejekan dari keluarga Bramana karena hadiahmu itu sama sekali tak berguna"
" sudahlah pa, aku rasa opah tak akan membutuhkan jam tangan Rayyan, opah sudah tua, dan sebentar lagi matanya akan rabun. Jadi, hadiah Rayyan hanya akan menjadi koleksi di lemari opah saja" sahut Dimas santai.
Abimana merasa kesal. ia sangat yakin jika kali ini, keluarga Bramana lah yang akan menarik perhatian ayahnya.
" kau Dimas, Hadiah apa yang kau bawa untukku?"tanya Aresh pada cucunya. Sebenarnya Aresh tengah melihat Cucu kesayangannya sedang menggandeng wanita cantik yang berhijab. ia tak banyak bertanya karena Aresh tau jika cucunya itu memang sering gonta ganti pacar.
__ADS_1
Dimas melepas lengan Zahra yang sedari tadi menempel ditubuhnya. ia segera menghampirimu sang kakek lalu memberikan hadiah yang ia bawa.
" apa ini? " tanya Aresh saat menerima bungkusan kado dari Dimas.
" opah buka saja " jawab Dimas singkat.
" piringan hitam? " Kata Aresh setelah tau apa isi kado itu.
Bramana dan istrinya tersenyum mengejek melihat piringan hitam yang dipegang Aresh. ia yakin sang kakek pasti akan membuang benda yang sama sekali menurutnya tak berguna itu.
Tapi lelaki tua yang rambutnya sudah memutih itu pun justru memberikan reaksi sebaliknya. ia justru tersenyum. tampak dari gurat wajahnya ia sangat menyukai piringan hitam itu.
"Kau mendapatkan nya dari mana? , aku sudah lama mencari benda ini" tanya sang kakek.
aku mendapatkan nya dari salah satu kolektor barang antik terkemuka. aku tau kalau opah pernah ingin membelinya tapi mereka menolak karena barang itu sudah milik seseorang. Dan aku sengaja mendapatkannya hanya untuk opah. apakah opah menyukainya " tanya Dimas.
" tentu saja aku sangat menyukainya. aku bisa memutarkan tembang kenangan di sini kapan saja aku mau. jawab opah Aresh.
semua orang menatap tak percaya jika piringan hitam itu justru yang mampu mencuri hati sang kakek.
__ADS_1