Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
fitting baju pengantin


__ADS_3

"Dimas, kapan kau akan merasmikan resepsi pesta pernikahan kalian? " tanya Abimana saat sedang duduk bersantai diruang keluarga. "jangan lama lama, cepatlah diresmikan. umumkan pada khalayak agar mereka tau kalau kau sudah menikah dan setelah itu segeralah ke kantor untuk bergabung dengan yang lain" lanjutnya seraya menarik nafas dalam.


" ia pa, aku akan tanyakan pada Zahra dulu" jawab Dimas.


"loh kok mau tanya Zahra dulu. Disini yang membuat keputusan adalah kamu. bukan Zahra" jawab sangat mama yang datang dan duduk disebelah suaminya. " kalau minggu depan gimana?" tanya sangat mama.


"hhmmm, terserah mama lah. mama yang atur ajalah, aku ikut" jawab Dimas singkat. malas rasanya berdebat dengan sang mama yang selalu mau mengaturnya.


" kalau begitu, besok kau ke butik langganan keluarga kita. kau minta buatkan baju pernikahan kalian disana, mintalah yang terbaru dan terbaik. Berapa pun akan kami bayar. buatlah pernikahan ini tampak mewah. ingat kau adalah putra orang penting disini. jangan membuat pesta yang sederhana. Tapi tunjukkan pada dunia bahwa pernikahanmu adalah yang terbaik di antara para Sultan di negeri ini" kata arumi lagi.


" kau pasti akan tampan sekali dan Zahra pasti akan sangat cantik , benarkan pa? " kata arumi seraya melirik sangat suami yang tengah membaca koran.


keesokan harinya Zahra dan Dimas sudah bersiap ke butik langganan keluarga Nugroho. Disana ia disambut dengan pelayanan spesial. Dipersilahkan masuk keruang pribadi pemilik butik. Disana Dimas menjelaskan kedatangannya kesana untuk fitting baju pernikahan yang terbaik dan elegant.


pelayan butik itupun segera mengukur tinggi badan dan postur tubuh Zahra untuk dibuatkan baju pengantinnya nanti. ketika ia sedang mengukur tinggi badan Zahra, pelayanan itu sedang memperhatikan gelang yang dipakai oleh Zahra. " gelangnya cantik mbak, sepertinya itu gelang yang dipesankan secara khusus ya? " tanya pelayan yang bernama Elsa itu.


" ini peninggalan orang tuaku" jawab Zahra dengan senyuman.


Elsa hanya manggut manggut tak banyak bertanya lagi.


Sementara Dimas masih menunggu di sofa ruang pribadi butik itu sedang menunggu sang istri, tiba tiba pintu terbuka, seorang wanita cantik berambut pirang dengan mengenakan rok span selutut warna merah dengan sedikit belahan di bagian paha menampakkan kulit putih mulus wanita itu.


" Hai Dim, apa kabar sayang? lama kita tak bertemu? " wanita Cantik itu hendak mendekati dan ingin memeluk Dimas, tapi Dimas segera mundur dan menolak secara halus.


"oh, iam sorry "wajah wanita itu tampak masam, sepertinya ia menahan malu karena pelukannya tadi sempat ditolak oleh Dimas.


" hai juga Caroline" jawab Dimas seraya tersenyum tipis. malas rasanya di bertemu gadis ini. Caroline adalah mantan kekasih Dimas dahulu.

__ADS_1


" Aku dengar dari pelayan butik ku katanya kau fitting baju pengantin. apakah itu benar?" tanya Caroline seraya matanya sedang mencari kesana kemari sosok yang bisa ia anggap sebagai istri Dimas. Caroline memang mendapat chat dari Elsa, Elsa adalah sahabat Caroline dan ia sedang bekerja di butik milik keluarga Caroline.


beberapa saat kemudian keluar lah Elsa bersama Zahra diruang khussus fitting baju pengantin.


Caroline yang sedang menghadap Dimas ia lekas berbalik karena mendengarkan derap langkah dari ruang fitting.


" owh, jadi ini Calon istrimu Dimas? Seleramu boleh juga, dia lumayan cantik. tapi sepertinya dia kurang modis dalam berpakaian " katanya seraya menaikkan satu sudut bibirnya.


Dimas segera bangun dan menghampiri sang istri" Dia bukan calik istriku. melainkan sudah sah menjadi istriku " jawab Dimas seraya merangkul pundak Zahra karena ingin menunjukkan kepemilikannya pada Caroline.


" kenalkan aku Caroline, aku pemilik butik ini. dan aku.. " Caroline menjeda kalimat nya yang ingin menyebut bahwa dirinya adalah mantan kekasih Dimas tapi urung. lalu ia menjulurkan tangan pada Zahra.


Zahra menyambut uluran tangan wanita seksi itu


"saya Zahra istrinya Dimas";jawab Zahra singkat.


" tentu, dan terimakasih banyak sudah melayani kami dengan baik" jawab Zahra sambil tersenyum.


Caroline menatap Zahra dari ujung kaki hingga kepala. seperti sedang merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. tapi apa? mencoba berulang kali mencari apa yang menyebabkan dia begitu familiar dengan gadis berhijab ini. tapi ia tak dapat menjawab pertanyaannya sendiri.


Selesai fitting baju pengantin, Dimasdan Zahra keluar dari butik itu tanpa sengaja di halaman butik Zahra bertabrakan dengan wanita setengah baya dengan mengenakan kacamata hitamnya.


tas yang dipegang wanita paruh baya itupun jatuh.


" maafkan saya tante, saya tak sengaja " kata Zahra seraya mengambilkan tas wanita itu.


Wanita itupun tertegun menatap Zahra, tangannya menerima tas pemberian dari Zahra tapi tatapannya tertuju pada Zahra. ia menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tanpa ada sedikitpun senyuman ia melangkah pergi, masuk ke butik itu.

__ADS_1


" aneh" kata Zahra menggerutu.


" Dia adalah tante maria, ibunya Caroline" Kata Dimas seraya membawa sang istri untuk keluar dari butik itu dan masuk ke dalam mobilnya.


" kita mampir makan dulu yuk" kata Dimas saat sedang menyetir mobilnya.


" tapi mas, pasti mama akan menunggu kita makan siang dirumah" tolak Zahra, dia tak ingin jika nanti mertuanya menunggu untuk makan siang.


" gak apa apa. mama juga paling gak ada dirumah. palingan dia lagi arisan sekarang sama teman temn sosialita nya " jawab Dimas. ia tau aja jika hari sabtu atau hari minggu, mamanya akan sibuk dengan teman temannya.


" ya terserah mas saja deh" jawab Zahra malu malu.


" kalau terserah mas, gimana kalau kita ke hotel saja ya? " goda Dimas sambil menggenggam tangan istrinya. ya meskipun sudah berhari-hari menikah tapi mereka sepakat tidak akan bersentuhan suami istri sebelum hari resepsi pernikahannya dilangsungkan.


benar saja pipi Zahra langsung bersemu merah. ia segera membuang muka ke samping jendela mobil takut terlihat suaminya kalau ia sedang malu.


" mas, udah mulai deh" jawab Zahra lembut.


" ia sayang, mas masih ingat kok kesepakatannya kita. tapi kalau sudah pada waktunya janji kan tak akan menolak apapun yang aku lakukan? " Dimas menyeringai sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda.


Zahra kembali membuang muka, seraya begidik membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika malam pertamanya telah tiba.


" ayo.. lagi membayangkan ya? " goda Dimas sambil tertawa lebar melihat istrinya salah tingkah.


" iiiiih apaan sih mas, becanda mulu. fokus kedepan deh, kan lagi nyetir" Zahra memukul lengan sang suami lembut. ia tampak kesal saja karena suaminya selalu menggodanya.


"ia, ia sayang. tapi jadi makan kan kita? " tanya Dimas.

__ADS_1


__ADS_2