
"Zahra? , itu Zahra kan? " tanya Dimas dengan suara sendu. Steven yang ada dibelakang mendorong kursi roda Dimas sontak menghentikan kursi roda itu, lalu bertanya.
"Zahra? " dimana? " tanya Steven.
"Zahra". Dimas menunjukkan ke arah wanita cantik yang sedang berdiri di depan gereja. sepertinya wanita itu baru saja keluar dari gereja dan ia sedang menelpon seseorang.
" sekilas sih memang mirip Zahra, tapi mana mungkin Zahra ada disini. lagian Zahra kan wanita muslimah, dan dia juga berhijab. ia kan?
sedangkan wanita itu justru kebalikannya " celoteh Steven menyadarkan sepupunya bahwa Zahra adalah wanita yang taat beragama. Meskipun Steven tak terlalu mengenal Zahra tapi ia tau dari cerita Dimas, bahwa Zahra adalah wanita yang taat beragama.
Mengingat kembali kepribadian Zahra, sesaat kemudian wajah Dimas murung. ia juga menyadari tak mungkin belahan jiwanya ada di Inggris. Zahra adalah wanita yang menutupi auratnya. Dia berhijab. Bagaimana mungkin Dimas menyamai istrinya dengan wanita lain dan bahkan wanita itu tak berhijab.
meskipun pikiran nya menentang kalau wanita bergaun putih di depan gereja itu bukan Zahra, namun hatinya berkata lain. mata Dimas tak mau berhenti menatap wajah wanita berkulit putih itu. tentu saja mirip, Zahra juga wanita yang berkulit putih. Bahkan Zahra juga berwajah ke Eropa an.
Sementara Steven pandangannya tak berhenti memandangi sekeliling pusat kota manchester.
Gedung gedung tinggi menjulang, tak biasa dan tak sama dengan bangunan yang biasa ia jumpai di Indonesia. Takjub, itulah yang dirasakan Steven.
Sementara Dimas, hanya diam saja, seolah pemandangan luar biasa kota Manchester sama sekali tak membuatnya takjub. Dimas berbalik ke belakang melihat saudara sepupunya. Melihat Steven sedang asyik memotret ke sana kemari sekedar untuk mengabadikan moment keberadaannya di kota impian Manchester. Kursi roda Dimas menggunakan gestur sensor tangan yang memudahkan ia memindahkan kursi roda itu tanpa bantuan Steven.
Dimas mendekat kan kursi rodanya ke wanita bergaun putih dengan topi ala wanita Eropa di atas kepalanya. Jarak mereka kurang lebih tiga meter. Dimas memandangi wanita itu seraya tak berkedip. Dalam hati dia terus bertanya-tanya. kenapa mirip sekali?
__ADS_1
Karena merasa diperhatikan seseorang, wanita itu mematikan sambungan telponnya . Dia menatap ke arah Dimas. Wanita itu merasa mungkin pria yang sedang duduk di kursi roda itu membutuhkan bantuannya. wanita itu pun menghampiri Dimas.
"hello, can I help you? " kata wanita itu. tangannya melambai lambai di depan wajah Dimas, karena sedari tadi Dimas tak berhenti menatap kearah wanita itu bahkan nyaris tak berkedip.
Steven yang menyadari Dimas tak ada di sampingnya segera mencari Dimas, ia melihat Dimas ta jauh darinya dan sedang memperhatikan seorang wanita. Steven menghampiri mereka.
karena tak mendapat jawaban, wanita itu kembali mengulangi perkataannya. " can I help you? "
Steven yang mendekat langsung menjawab. " oh no, thank you miss" jawab Steven tersenyum.
Steven langsung membawa kursi roda Dimas menjauh dari wanita itu.
"ya ampun Dimas, kamu kenapa sih? " tanya Steven dengan wajah kesal. "kita kesini untuk membuat kamu melupakan Zahra, kok malah ada orang yang justru mirip dengan Zahra. kapan move on nya?. Hadeh" gerutu Steven seraya memukul jidatnya sendiri.
Steven tak lagi menghiraukan sepupunya, ia justru mendorong kursi roda itu semakin menjauh dari gadis itu. Sementara gadis itu hanya menatap intens pada pria berkursi roda itu. entah perasaan apa yang sedang ia rasakan. entah rasa kasihan karena pria itu menggunakan kursi roda, atau perasaan lain. entahlah. yang jelas wanita itu juga tak mau melepaskan pandangannya.
"queen" seseorang menepuk pundak belakang wanita berkulit putih itu. Sontak saja gadis itu terkejut dan menoleh ke belakang.
"kakak?, bikin kaget aja" kata Queen seraya mengerucut bibirnya. Namun pandangannya kmbali kembali mengarahkan ke dua pria yang tadi sempat bertegur sapa dengannya.
"lihat siapa? " kata lelaki jangkung di samping queen.
__ADS_1
" itu tadi ada orang sepertinya dari Indonesia, kasihan sekali kak, sepertinya orang itu tak bersemangat sekali. kasihan, mungkin karena ia menggunakan kursi roda hingga membuat hidupnya tak bergairah" kata queen sambil menatap dua lelaki itu.
Erick menatap dua lelaki itu. ia merasa sepertinya dia sangat familiar dengan bentuk tubuh pria yang mendorong pria yang duduk di kursi roda itu. tapi dia kembali menepis perasaan itu. memang dari belakang seperti Steven, tapi mana mungkin. lagian banyak pemuda Inggris yang memiliki postur tubuh seperti postur tubuh yang dimiliki Steven.
"udah lah, ayo kita pulang" kata Erick mengajar sang adik untuk segera masuk mobil.
sementara Dimas, masih belum percaya dengan apa yang ia lihat. ia sangat yakin jika wanita itu adalah zahra istrinya yang hilang.
Di mobil Dimas hanya diam saja tak berkata apapun. pandangannya tertuju keluar jendela. mencoba mencari jawaban dengan berbagai pertanyaan yang ada di hatinya.
"tahi lalat itu? itu sama dengan tahi lalat yang ada pada Zahra. suara itu juga sama. itu suara yang dimiliki Zahra" gumam Dimas sambil menatap keluar memandangi pemandangan kota manchester.
Steven mendengar gumaman yang diucapkan sahabat sekaligus saudara sepupunya itu. meskipun terdengar pelan, namun Steven masih bisa mendengarnya.
"kenapa kamu masih berpikir itu Zahra? "
Dimas menoleh ke arah Steven yang ada di sampingnya. "suara itu milik Zahra, tahi lalat di pergelangan tangannya juga sama. aku tak mungkin salah" kata Dimas Seraya menatap Steven tajam. ia seolah mencari pembenaran dengan ucapannya.
Steven masih tak bisa membenarkan apa yang dikatakan saudaranya itu. karena ia sendiri tidak pernah tau dan berbicara dengan Zahra. apalagi soal tahi lalat, ia sama sekali tak tahu. Steven hanya bisa menepuk pelan bahu Dimas tanpa mengucapkan apapun. Berharap agar Dimas bisa mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.
"apa kau tak percaya padaku? " tanya Dimas dengan suara sendu.
__ADS_1
"maaf bro, bukan aku tak percaya padamu, tapi aku tak tau banyak tentang istrimu. mungkin saja wanita itu memiliki banyak kemiripan dengan istrimu, tapi apakah kamu yakin jika wanita itu memang istrimu? itu artinya Zahra istrimu pindah agama, karena yang aku lihat tadi sepertinya dia itu salah satu jemaat di gereja itu" kata Steven berusaha menyadarkan Dimas.
mendengar perkataan Steven, hati Dimas mencelos. bahunya meluruh, wajahnya murung. tak bisa ia berkata apa apa lagi. matanya berkaca kaca. lekas ia memalingkan wajahnya ke luar jendela. dan dengan segera ia mengusap air matanya yang meluap dari sudut matanya. Kerinduan yang teramat sangat. Seketika cahaya semangat hidup kembali meredup di saat Steven menyadarkan nya jika wanita itu bukan Zahra istrinya.