
Zahra mengintip sahabatnya di balik dinding kaca yang kini terbujur lemah di dalam ranjang ICU. Airmatanya kembali berurai. tak tega rasanya melihat Tiara terbujur lemah tak sadarkan diri. Meskipun dulunya Tiara sering ngejailin dan bahkan sering iri terhadapnya. Zahra juga ingat dia berhutang budi pada sahabatnya itu. Dia yang pernah memberikan informasi penyekapan yang dilakukan Dion sehingga Dimas berhasil menyelamatkan nya.
" Ra, bangun Ra, sebentar lagi aku akan mengadakan resepsi pernikahan, bukankah kau telah berjanji untuk menghadirinya bersama... " seketika Zahra teringat bahwa Tiara datang ke kota karena seseorang? Seseorang yang kemungkinan ia salah satu relasi bisnis keluarga Nugroho.
" ya Alloh, aku juga sampai lupa tidak mengabari ibu yuli dan ibu Ambar. apa yang sudah aku lakukan?" Karena terlalu cemas ia sampai lupa tak memberi kabar. Buru buru Zahra segera mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tasnya. dan segera mengabari keadaan Tiara. Tiara tidak punya keluarga. Zahra dan semua anak panti adalah satu satunya keluarga yang ia punya. setelah selesai menelpon panti asuhan ia kemudian menelpon sang suami.
"assalamu'alaikum mas Dimas"
" waalaikumsalam ia dek Zahra"
" nanti habis pulang kantor, mas kerumah sakit dulu ya? "
" ia sayang, apa dek Zahra sudah makan? kalau belum biar nanti sekalian mas bawain ?
" ia boleh mas, sudah dulu ya mas, assalamu'alaikum " kata Zahra menutup panggilan telponnya setelah Dimas menjawab salam darinya.
Zahra berniat nanti akan menanyakan perihal relasi bisnis yang dekat dengan Tiara. Kalaupun di memang punya hubungan dekat dengan Tiara, seharusnya dia ada disini untuk menemani Tiara di saat kritis. Tapi ini justru sebaliknya.
beberapa saat kemudian Arumi dan Abimana juga datang. mereka ingin mengetahui kondisi Tiara. memang Arumi sudah pernah mengenal Tiara pada saat di panti asuhan beberapa hari yang lalu.
" Bagaimana keadaan temanmu itu nak?" tanya Arumi saat sudah sampai disana.
Zahra yang sedari tadi duduk diruang tunggu pun bangkit karena mendengar sapaan mertuanya.
" kata dokter masih kritis ma, setelah kejadian itu dokter langsung mengoperasi Tiara. Dia mengalami patah tulang. tapi kata dokter dia juga cedera otak ma, makanya sampai sekarang Tiara masih belum sadarkan diri" . Kata Zahra dengan raut wajahnya yang sedih.
" sabar ya sayang. Biar nanti papa yang akan mengusut tuntas masalah ini. ya kan pa? " tanya Arumi pada suaminya.
" ia, tapi menurut polisi untuk dugaan sementara Ini kasus bunuh diri. karena sama sekali tak ditemukan sidik jari siapapun" timpal Abimana.
" oh ya nak, apa kamu sudah mengabari ibu panti? biar bagaimana pun mereka adalah ibunya Tiara. mereka yang telah mengasuh dan membesarkan kalian " kata Arumi memperingatkan menantunya.
" ia sudah ma, mungkin nanti malam mereka akan sampai kesini" jawab Zahra singkat.
__ADS_1
hening, tanpa ada yang bicara sepatah katapun mereka duduk bersandaran diruang tunggu dengan pikiran masing-masing. dua jam kemudian Dimas pun sudah tiba dimana Zahra sedang menunggu Tiara.
" mas", Zahra langsung berdiri dan menciumi punggung tangan suaminya.
kedua orang tua Dimas tersenyum melihat pemandangan di hadapan nya. begitu adem bagaimana wanita Islami memperlakukan suaminya.
" bagaimana kondisi Tiara? apakah ada perkembangan? " tanya Dimas.
" belum mas" jawab Zahra.
" mas ada yang ingin aku sampaikan " Zahra sudah tak sabar ingin segera menceritakan apa yang menjadi unek-unek dalam hatinya. sampai ia tak peduli kalau Dimas membawakan makanan untuknya.
" tak makan dulu saja dek, kamu pasti lapar" kata Dimas.
" tidak mas, ini lebih penting" kata Zahra seraya menarik nafas dalam.
" penting?" Tanya Dimas penasaran.
" begini mas, selain aku curiga pada pria misterius yang kemaren, aku juga tak menemukan gelang ku di tangan Tiara. aku sudah menanyakan pada suster yang merawat Tiara siapa tau mereka menyimpannya. tapi mereka bilang Tiara dibawa kesini tanpa gelang. lalu, dimana gelang ku itu mas? apa mungkin pria misterius itu yang telah mengambilnya? "
" assalamu'alaikum " sapa Yulia dan Ambar ketika mereka sampai disana.
" waalaikumsalam " jawab mereka serempak seraya menoleh ke sumber datangnya suara.
"ibu? " kata Zahra seraya menciumi punggung tangan mereka bergantian. kemudian memeluknya.
" bagaimana keadaan Tiara nak? " tanya Yulia.
" masih belum sadarkan diri bu". jawab Zahra.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Yulia.
kemudian Zahra pun menceritakan semua kejadian nya bahkan pertemuannya dengan Tiara saat sebelum kejadian dimana Tiara meminjam gelang milik Zahra. sampai terjadinya peristiwa nahas itu.
__ADS_1
Yulia dan Ambar pun saling berpandangan seolah mereka sedang berkomunikasi. keduanya seolah sedang menduga duga sesuatu.
" Mbar, apakah semua ini ada hubungannya dengan gelang itu?" tanya Yulia dengan suara berat.
" bisa jadi mbak" kata wanita yang sudah dianggap adik oleh ibu panti asuhan itu.
semua mata tercengang. menatap ke arah Yulia dan Ambar. kemudian beralih memandang Zahra.
mendapatkan tatapan yang begitu mengintimidasi dari suami dan mertuanya Zahra pun angkat bicara.
" itulah yang tadi aku bicarakan mas, aku tak melihat gelang ku di tangan Tiara. apakah... " Zahra tak jadi meneruskan kalimatnya. tubuhnya bergetar. ia sangat takut jika semua yang menimpa Tiara seharusnya itu terjadi pada dirinya.
" sudah bisa dipastikan jika sebenarnya orang itu salah sasaran. aku yakin sasaran yang sebenarnya adalah kamu Ra, bukan Tiara. orang itu telah melihat Tiara sedang memakai gelangmu. mungkin dia berpikir Tiara adalah pemilik gelang itu, karena itu dia mencelakai nya" Yulia sangat yakin sekali dengan pemikirannya.
" apa? " salah sasaran? tanya Abimana yang merasa tak percaya.
" ia pak, aku sangat yakin sekali". kata Yulia lagi.
" sebenarnya ada rahasia apa dalam gelang itu? kuharap kalian menceritakannya kepada kami. karena sekarang Zahra adalah tanggungjawab kami. jadi kami haruslah tau masa lalu Zahra " kata Abimana.
Dimas dan Arumi pun mengangguk sependapat dengan Abimana. akhirnya Yulia pun menceritakan bagaimana ia telah menemukan Zahra bayi. tak ada satupun yang ia tutupi.
semua orang manggut manggut mendengarkan kisah masa lalu Zahra.
" kalau begitu kita harus menjaga ketat menantu kita ma, kalau perlu kita menyewa bodyguard untuk Zahra " kata Abimana pada istrinya.
" pa, apa kita segera melaporkan semua ini kepada polisi?" tanya Dimas pada sang ayah.
" jangan dulu, biar polisi bekerja sendiri. papa akan menyewa detektif keluarga kita untuk mencari tau" kata Abimana penuh percaya diri.
" aku merasa bersalah sama Tiara mas, seharusnya aku yang berada di ruang itu, bukan Tiara. maafkan aku Ra" kembali Zahra meneteskan air mata. Rasa bersalahnya kian bertambah disaat praduga bu Yulia semakin kuat. Zahra menempelkan wajahnya di dinding kaca ruang ICU itu dan meraba raba kaca itu seolah sedang membelai Tiara.
" ya Alloh... sembuhkanlah Tiara, dia tidak bersalah ya Alloh " doa Zahra dalam gumamnya.
__ADS_1
" sabar lah nak, ini bukan salahmu, ini sudah takdir Tuhan. kita tak bisa melawan kuasa-Nya"