
"Alex, coba cari tahu panti asuhan terdekat di daerah sini. dan antar aku kesana" pinta Arumi di saat kembali dari kantor XXpress cabang tempat Dimas bekerja jadi kurir. Terlihat wajah Arumi sangat kesal. kesal sama sang putra sendiri karena lebih memilih menjadi kurir padahal dia adalah putra penerus pemilik perusahaan pengantar jasa XXpress. " Dasar anak bandel, awas saja nanti jika ketemu, aku jewer telinganya. Diberikan kekayaan melimpah eh malah lebih memilih jadi hidup susah. lihat saja nanti jika si anak panti itu tidak sesuai dengan kriteria keluarga Nugroho. aku tidak akan memberikan restu" Arumi merutuki jalan yang dipilih anak semata wayangnya.
" kamu kenapa masih disini sih Lex, cepat cari tahu . Aku tunggu di sini. jangan lama lama, segera kembali" Arumi ngomel ngomel. sedari tadi dia kesal karena Dimas, sekarang Alex pun jadi sasaran kekesalannya.
" tapi Nya. bagaimana dengan nyonya disini sendirian? " Alex tak ingin meninggalkan Majikannya sendirian.
" kelamaan kamu, sana pergi. aku gak papa. aku mau tunggu kamu di mini market itu" Tunjuk Arumi pada sebuah mini market di seberang jalan.
" baik nyonya, saya permisi dulu" Alex pun segera pergi.
Beberapa saat setelah kepergian Alex, Arumi melangkahkan kakinya menuju minimarket, ia ingin membeli minuman dingin karena cuaca hari ini sangat panas. Arumi melihat kanan kiri jalan, dirasa sudah aman dia segera menyebrang tanpa ia sadari tiba-tiba ada sebuah mobil keluar dari tikungan jalan dan melaju begitu cepat. Bersamaan dengan itu pula Zahra sedang melintas di jalan yang sama. Dia melihat ada sebuah mobil yang melaju begitu cepat dari arah belakang mendekati Arumi.
" bu, awas ada mobil" Zahra berteriak. Namun Arumi tak menyadari teriakan Zahra.
karena Arumi tak mendengarkan teriakan Zahra, Zahra pun akhirnya berlari dan mendorong Arumi ke samping kiri jalan. Keduanya pun terjatuh bersamaan. Sedang mobil itu pun terus melaju tanpa menyadari apa yang terjadi di belakang.
" ibu tak apa apa? " Zahra menghampiri Arumi saat menyadari dirinya baik baik saja.
" ia aku baik baik saja" jawab Arumi sambil memeriksa disemua sekujur tubuhnya. "kamu sendiri baik baik saja nak? terimakasih sudah mau menolong saya"
" ia bu, saya juga baik baik saja" jawab Zahra . Kalau memang ibu tidak kenapa kenapa, saya permisi dulu ya bu"
" apa gak sebaiknya kamu ikut saya ke mini market saja untuk sekedar membeli minuman atau makanan, biar ibu yang akan bayar sebagai tanda terimakasih kasih saya sama kamu"
__ADS_1
" ia terimakasih bu, saya sedang buru buru. permisi saya duluan ya! " tolak Zahra secara halus. Zahra pun meninggalkan Arumi tanpa mengetahui siapa nama wanita itu.
Arumi menatap kepergian Zahra dari belakang. "cantik, gadis yang sangat cantik dan sempurna sekali secantik hatinya" gumam Arumi.
kemudian Arumi pun kembali menuju Mini market untuk membeli minuman. Beberapa saat kemudian Alex pun datang dengan membawa informasi mengenai panti asuhan yang dimaksud Arumi.
"Nyonya, saya sudah mengecek panti asuhan di daerah sini . Dan ternyata hanya ada satu panti asuhan yaitu panti asuhan Kasih Bunda. Letaknya juga tak terlalu jauh dari sini" terang Alex.
" kalau begitu ayo antar aku kesana" Ajak Arumi tak sabar.
Alex pun segera melajukan mobilnya menuju panti Asuhan tempat Zahra tinggal.
sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah panti asuhan yang tak terlalu besar namun memiliki halaman yang cukup luas dengan sebuah Musholla di sudut halaman.
Alex membukakan pintu untuk majikannya. setelah majikannya keluar dia menutup kembali dan tetap standby disana.
Dari luar memang tampak sepi panti asuhan itu. Arumi memasuki halaman panti itu "permisi... " katanya.
lama tak ada jawaban di sana. kemudian terdengar suara pintu di buka. Tampak keluar seorang wanita seusia Arumi" cari siapa bu" tanyanya.
" maaf apa ini panti asuhan kasih Bunda? tanya Arumi.
" ia benar, ada yang bisa saya bantu bu? tanya wanita panti itu yang tak lain adalah Yulia
__ADS_1
" begini bu, kebetulan saya sedang ada rejeki . saya mau menyumbangkan sebagian rejeki saya untuk anak-anak panti" Arumi tersenyum. Hanya itu alasan yang tepat agar bisa masuk ke panti asuhan itu.
" oh begitu, mari silahkan masuk bu" Yulia mempersilahkan masuk tamunya. dan membawanya ke ruang kerjanya.
" silakan duduk bu " Yulia mempersilakan duduk tamunya.
Arumi pun mengambil kursi itu dan duduk, sesekali matanya melihat lihat ke Sekeliling.
" perkenalkan nama saya Yulia, saya ibu panti disini. nama ibu siapa dan darimana? " tanya Yulia.
Arumi tersenyum. saya Arumi, saya dari kota. ini saya ada sedikit rejeki untuk anak anak panti" Arumi mengeluarkan amplop berisi beberapa uang yang sudah ia siapkan.
"Sebentar ya bu, saya mau mendata dulu sumbangan yang ibu berikan" kata Yulia sambil mengambil beberapa lembar kertas.
" oh tidak perlu bu Yulia, saya rasa anda tidak perlu mendata saya. ini hanya tak seberapa. kalau anda tak keberatan saya ingin mengenal anak anak panti disini berikut dengan kegiatannya. karena saya akan menjadikan diri saya sebagai donatur di panti asuhan ini"
" baiklah bu Arumi mari ikuti saya, kita akan berkeliling di panti ini. tapi maaf bu, karena sebagian dari anak anak panti disini ada yang masih belajar diluar" Yulia keluar dan diikuti Arumi dari belakang.
satu persatu kamar anak anak panti Yulia perlihatkan tak ada yang terlewat hingga terakhir pada kamar Zahra dan Tiara.
" ini kamar Zahra dan Tiara, memang sengaja saya isi dengan dua ranjang karena mereka sudah dewasa. Alhamdulillah Zahra sudah menjadi tenaga pengajar di salah satu madrasah didaerah sini, sedangkan Tiara dia lebih memilih untuk bekerja. Terang Yulia.
Arumi menautkan kedua alisnya. Bibirnya tersenyum tipis, teringat dengan nama yang sering disebut oleh putranya. "Zahra?"
__ADS_1
" ia Zahra, ibu mengenalnya? " Yulia mengernyitkan alisnya melihat expresi wajah Arumi.
" tentu saja saya tidak mengenalnya. hanya saja namanya begitu cantik. pasti orangnya juga cantik. kalau boleh saya tau kenapa dia bisa ada di panti ini bu? apa orang tuanya sengaja menitipkan kesini karena masalah ekonomi? atau karena masalah lain? " tanya Arumi penuh selidik. Berharap jika saja Zahra bukanlah bayi yang dibuang karena hasil dari perzinahan yang tidak dikehendaki kelahirannya.