Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
Dendam masa lalu


__ADS_3

"tidak, aku bisa sendiri" kata Dimas dengan kasar.


Namun kembali Dimas berusaha berdiri, kaki itupun terasa nyeri yang luar biasa, sehingga mengakibatkan ia tak sanggup menahannya, dan sekali lagi ia ambruk ke lantai. Kakek itupun segera berlari menghampiri sang cucu yang terlihat pucat karena putus asa.


"Dengar nak, kakimu belum sepenuhnya bisa digunakan. kau harus meminta bantuan kursi roda untuk menggunakannya. Kakimu terluka parah dan mengalami retak" papar Aresh dengan suara berat. ia sendiri tak sanggup melihat bagaimana nantinya sang cucu harus menerima kenyataan jika ia harus hidup berdampingan dengan kursi roda.


"tidak opa, aku tidak mau. aku pasti bisa" teriak Dimas seraya menangis.


melihat mental Dimas seperti belum bisa menerima kenyataan, dokter pun menghampiri nya. "Dengar nak, bersyukurlah karena kau masih bisa selamat dari kecelakaan itu. bersyukur karena hanya kakimu hanya retak daripada kau harus kehilangan kakimu karena amputasi. Kakimu pasti bisa disembuhkan jika kau rajin terapi. Dan itu semua membutuhkan waktu yang tak sebentar. Lapangkan hatimu. Alloh pasti akan memberikan kesembuhan padamu" ujar sang dokter memberi semangat pada Dimas.


mendengar perkataan dokter, membuat Dimas tak lagi meronta. ia terdiam. berusaha melapangkan hati dan tegar dalam menghadapi cobaan. kata demi kata yang pernah ia dengar dari sang istri menari nari dalam benaknya. Kemudian setitik air mata kembali jatuh dari sudut matanya.


"lalu bagaimana dengan Zahra, opa? bagaimana keadaannya?" tanya Dimas cemas.


"istrimu belum di temukan" hanya itu yang keluar dari mulut kakeknya. "Orang orang suruhan opa belum menemukannya " sambungnya setelah menelan salivanya dengan berat.


"tidak, tidak mungkin opah, lalu kenapa opa tidak mencarinya lagi? " Dimas kembali meronta setelah mendengar kabar istrinya. Emosinya tak stabil. dadanya naik turun karena terasa sesak. Ia berusaha turun dari ranjang lagi. Namun kakek tua itu dibantu suster segera menahannya.


dokter segera mengambil tindakan dengan memberikan suntikan penenang pada Dimas. jarum infus pun kembali di pasang setelah tadi Dimas mencabutnya paksa. Akhirnya Dimas kembali tertidur karena pengaruh obat yang disuntikkan pada lengan Dimas.


***

__ADS_1


sementara di tempat lain, polisi sudah berhasil menangkap pelaku pemotong kabel rem di mobil Dimas. ia bernama Dion asal desa Sawahan kecamatan Sukosari. itu adalah desa tempat dimana Zahra dibesarkan di panti asuhan.


***flashback***


saat itu Dion tengah berlibur di Bali. Dia pemuda berasal dari desa Sawahan dimana Zahra dibesarkan. Hari itu Dion berjalan jalan di pantai Kuta bersama teman-temannya tak sengaja ia melihat Zahra dan Dimas sedang asyik bercanda ria bermain pasir putih di pinggiran pantai itu. Lekas Dion berbalik badan agar keberadaannya tak diketahui oleh Dimas dan Zahra.


"ada apa? " tanya salah satu temannya.


"aku ada tugas untuk kalian. cepat cari tau dimana sepasang kekasih itu menginap" kata Dion seraya menunjuk pada Dimas dan Zahra dari kejauhan.


"untuk apa? kurang kerjaan banget sih. emangnya mereka artis? " tolak teman Dion yang merasa konyol saja jika harus mengintai orang asing.


"ia, ia bos. santai, aku kan cuma bertanya. bukan bermaksud menolak" ujar temannya dengan penuh ketakutan.


"mereka adalah musuhku. karena mereka aku harus ditahan polisi. untung saja bokap ku membayar jaminan untukku sehingga aku tak jadi ditahan, tapi bokap harus mengeluarkan uang puluhan juta untuk membayar tebusan. Kali ini mereka tak akan lolos dari ku" ujar Dion seraya mengepalkan tangan kanannya.


keesokan harinya Dion selalu mengintai keberadaan Dimas, hingga kapan jadwal Dimas check out pun Dion tau.


Siang itu Dion tak sengaja berpapasan dengan Alex ketika Alex turun dari mobil Ferrari hitamnya.ia hendak menjemput Dimas yang masih di hotel. saat Di lobi hotel Alex bertanya dimana kamar tempat Dimas menginap. Dion pun langsung memberi tau dimana kamar Dimas. Bak mendapatkan lampu hijau, di otaknya langsung terpikir pada mobil hitam yang sedang terparkir di halaman hotel. Dengan pergerakan yang sedikit tak menimbulkan kecurigaan, ia menyelinap di antara mobil mobil yang berderet diparkiran. Kemudian ia masuk ke bawah kolong mobil itu. entah apa yang sedang ia lakukan. ditangannya memegang alat seperti gunting. beberapa saat kemudian ia keluar dengan senyum sumringah.


Agak lama Dion menunggu mobil itu dikendarai. Hingga rasa kantuk menyerang, dua jam ia menunggu. akhirnya ia memilih meninggalkan tempat persembunyiannya dan kembali ke penginapan nya.

__ADS_1


***flashback off***


polisi menemukan rekaman CCTV yang terpasang di parkiran hotel. ia melihat gerak mencurigakan pada sosok pria berbadan gempal itu. Pada Akhirnya polisi menangkap Dion tanpa perlawanan di kediamannya di desa Sawahan. Dion yang merencanakan kecelakaan mobil yang ditumpangi Dimas dan istrinya, dengan motif dendam pada Dimas karena rencananya untuk mendapatkan Zahra digagalkan Dimas. Dan karena hal itu pula Dion harus ditahan beberapa hari di kepolisian sebelum akhirnya ia dibebaskan karena jaminan uang tebusan oleh ayahnya yang seorang camat. Kini karena kejahatannya ia kembali berurusan dengan polisi untuk yang kedua kalinya.


Setelah memastikan bahwa otak di balik kecelakaan yang sudah menewaskan Alex sopir pribadi keluarga Nugroho, Akhirnya Aresh mengumumkan pada publik berita ditemukannya Dimas sang pewaris. Namun Aresh masih belum mengizinkan wartawan untuk menemui Dimas secara langsung.


"sial, bagaimana mungkin si Dimas selamat? " teriak Rayyan saat di ruang kerjanya. ia melemparkan beberapa tumpukan berkas yang ada di atas meja. Berkas berkas itu pun berserakan di lantai.


Kemudian Bram datang dari balik pintu. ia masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


melihat expresi anak lelakinya, Bram sudah bisa menebak apa yang terjadi.


"kau sudah mendengar berita di temukannya Dimas? " tanya Bram.


"kenapa ia harus kembali pa?, kenapa gak mati sekalian bersama si Alex. atau gak sekalian hilang seperti istrinya" ujar Rayyan. wajahnya memerah karena amarah.


" kau tenang saja. mungkin ia belum ditakdirkan mati di tangan orang lain tapi ditakdirkan mati ditangan kita. tapi kita lihat dulu, bagaimana mungkin dia akan bertahan jika istrinya tak bersamanya " ujar Bram seraya tersenyum sinis. Otaknya kembali akan menyusun rencana selanjutnya untuk menyingkirkan keponakan angkat nya.


"ruangan ini berantakan, segera kau panggilkan OB untuk membereskannya. setelah itu kita akan ke rumah besar untuk melihat kondisi sepupumu. Kudengar katanya hari ini ia pulang dari rumah sakit. setelah itu baru kita rencanakan langkah selanjutnya" ujar Bram seraya merapikan jas putranya yang mulai berantakan.


" baiklah papa, ayo kita pergi" kata Rayyan setelah ia selesai menelpon sekretaris nya untuk membereskan ruang kerjanya yang berantakan itu.

__ADS_1


__ADS_2