Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
cinta yang tak berbalas


__ADS_3

"pak Alex, belok ke kiri, aku mau ke kantor XXpress dulu" kata Dimas pada Alex. tanpa banyak bertanya Alex pun berbelok sesuai permintaan majikannya. Ia menepikan mobil SUV itu di depan gedung yang tak seberapa besar itu.


Dengan sigap Alex membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya yang beberapa hari yang lalu sudah resmi menjadi sepasang suami istri itu.


Cindy yang pertama kali melihat Dimas masuk sontak terperanjat. Bibirnya menyunggingkan senyuman, namun perlahan senyuman itu memudar disaat di belakang Dimas juga ada seorang gadis cantik yang mengenakan hijab abu abu mengekor dari belakang. Tangannya melingkar di lengan Dimas penuh mesra. Karena melihat keberadaan Cindy, Zahra segera melepas lengannya karena belum terbiasa bermesraan di depan orang lain.


"Hai Cindy?, pak Zidane ada ?" sapa Dimas saat memasuki ruangan admin.


sesaat Cindy tertegun tak langsung menjawab sapaan Dimas " Hai juga, ah ia, pak Zidane ada diruangannya" Cindy tak fokus dengan sapaan Dimas, ia masih menelisik pada gadis cantik dibelakang Dimas. Sudah bisa Cindy tebak. siapa gadis cantik yang bersama Dimas itu. ia pasti istri Dimas. yang pernah Andi ceritakan beberapa hari yang lalu.


Kabar mengenai pernikahan Dimas dan juga status keluarga Dimas kini mencuat di mana mana Terutama di Kantor itu. Orang orang yang dulu menganggap Dimas remeh bahkan cenderung menghinanya kini seakan mereka memasang expresi bersahabat bahkan sangat menghormatinya. Andi yang menjadi saksi atas pernikahan Dimas dan tentunya ia juga tau siapa Dimas kini telah menyebarkan kabar itu pada teman teman di kantornya. Mereka pada terperanjat karena tak menyangka jika orang yang selama ini menjadi kacung ternyata seorang anak Sultan. Dengan berbangga diri Andi menceritakan status Dimas dan menceritakan kedekatannya karena telah bersahabat dengan orang yang kaya raya.


ya memang benar kata orang, ada gula pasti ada semut. atau ada juga pepatah mengatakan, tanpa harta orang akan dipandang sebelah mata. Begitu juga yang sedang terjadi pada Dimas. Dulu kala ia menjadi seorang kurir, ia selalu dihina dan diremehkan tapi setelah semua orang tau bahwa ia adalah anak pemilik perusahaan maka semua orang akan menyanjung dan menghormatinya.

__ADS_1


Dimas dan Zahra berlalu melewati Cindy begitu saja tanpa banyak bertegur sapa. Dimas berniat ingin menemui kepala kantor yang dulu pernah menjadi atasannya.


Kala Dimas dan Zahra memasuki ruangan Zidane yang tak lain kepala bagian dikantor itu dan sebelumnya ia mengetuk pintu dan Zidane mempersilahkan nya masuk.


" selamat siang Pak Zidane, apa kabar? " Dimas menghampiri Zidane dengan diikuti Zahra.


" oh mas Dimas, silakan duduk mas Dimas. maaf saya tidak tau jika selama ini sebenarnya mas Dimas adalah putra pak Abimana. sungguh saya sangat menyesal dengan sikap saya " kata Zidane dengan nada lembut, yang biasanya dia selalu kasar tapi semua sudah tampak berbeda.


" ia pak Zidane , saya kesini hanya ingin mengajukan pengunduran diri saya sebagai kurir, karena saya akan kembali ke kota bersama istri saya, oh ia kenalkan, ini adalah istri saya, Zahra" Kata Dimas seraya memandang wajah istrinya dengan senyuman bangga.


" Biar bagaimana pun saya sudah menjadi kurir. prosedur dan peraturan juga berlaku buat saya. terimakasih sudah tegas dan disiplin dalam menjalankan perusahaan" kata Dimas datar.


" ia saya mengerti mas Dimas, saya ucapkan selamat atas pernikahan mas Dimas dengan mbak Zahra Semoga pernikahannya langgeng dan selalu bahagia. maaf jika kemaren saya tidak ikut menghadiri acara akad nikah mas Dimas, setidaknya saya akan menunggu dan mengharapkan undangan di acara resepsinya " Zidane tersenyum menatap orang yang dulu pernah ia remehkan nya.

__ADS_1


" baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu, sampaikan salam saya pada yang lain" ujar Dimas sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Zidane pun membalas uluran tangan Dimas dengan senyuman dengan sedikit membungkukkan badan.


setelah itu Dimas pun keluar dari ruangan Zidane dan ketika hendaklah keluar ia berpapasan dengan Cindy. Pandangan Cindy tertuju kepada Zahra seolah dia menelisik secara detail kelebihan apa yang dimiliki wanita berhijab ini sehingga Dimas lebih memilihnya daripada melirik dirinya yang tak kalah cantik.


" oh iya Cin, aku mau pamit dulu ya, titip salam sama yang lain. nanti ditunggu undangan resepsi pernikahan kami" Dimas tersenyum malas berbicara dengan Cindy yang menurutnya arogan itu. Dimas masih ingat, bagaimana dia dulu menggoda Dimas dan memaksa cintanya diterima. Dimas mengulurkan tangan dan Cindy pun membalasnya.


" oh ya kenalkan ini istriku Zahra" Dimas merengkuh pundak Zahra seolah menunjukkan kepemilikan gadis cantik itu didepan Cindy.


"Zahra" kata Zahra seraya menjulurkan tangannya kepada Cindy, meskipun dengan rasa malas, Cindy pun menerima uluran tangan gadis yang telah merebut hati lelaki pujaannya itu.


"Cindy" jawabnya datar.


" ya sudah kami pergi dulu" Dimas pun pergi keluar dari kantor beriringan dengan Zahra. Cindy menatap kepergian lelaki yang selama ini telah mencuri hatinya. Di tatap nya Dimas dan Zahra di balik dinding kaca itu. Begitu romantisnya Dimas dan Zahra, Cindy melihat Dimas melingkarkan lengannya di lengan istrinya saat menuju mobil dan melepaskan lengan itu saat hendak membukakan pintu untuk istrinya. Hingga mereka pun tak terlihat lagi dan mobil itupun melaju pergi meninggalkan kantor itu.

__ADS_1


Cindy merasa cemburu, tangannya mengepal kuat, dengan bibir bawahnya yang tergigit. matanya memanas. apalagi hatinya, jelas tak bisa digambarkan betapa sakit rasanya saat cinta nya tak berbalas. Namun ia bisa apa. Cinta tak bisa dipaksakan. Begitulah rumus dunia. Seberat apapun mencintai seseorang jika semesta tak mendukung, pada akhirnya kita tak akan pernah memilikinya. Begitu pula sebaliknya. Sedalam apapun kebencian kita pada seseorang, jika kita berjodoh maka kita tak akan bisa menolaknya. Semesta sendiri yang akan menyatukannya. cepat atau lambat.


__ADS_2