
"akhirnya... aku bisa juga jalan jalan ke Inggris. kalian tau nggak, Dimas yang dulu mantan kekasih gue? sekarang dia sudah menjadi pria cacat. Hidupnya cuman duduk di kursi roda. ha.. ha.. ha... " gelak tawa Caroline menggema diantara keramain pengunjung cafe di sebuah mall.
"tapi biarpun dia cacat, kan tetap saja dia tampan" jawab jennie salah satu teman Caroline.
"percuma juga tampan, kalau gak berguna. mending Rayyan sepupunya, karena sekarang dia yang memegang jabatan CEO diperusahaan kakeknya" kembali Caroline tersenyum seraya menyesap minuman yang ada ditangannya.
" elu bisa aja deh Lin, eh ngomong ngomong gimana kabar istrinya? udah ketemu belum sih? "
tanya Lily. salah satu teman Caroline.
"palingan juga udah dimakan harimau di hutan. terus di bawa kabur ke tengah hutan. maka dari itu gak ketemu jejaknya. ha.. ha.. ha.. " kembali Caroline terbahak. seolah dia senang dengan nasib buruk yang sedang menimpa Zahra.
" oh ya Lin, gue lihat akhir akhir ini elu sering shoping. kemarin aja gue lihat elu menyandang tas yang kayaknya mahal banget. tumben banget sih" tanya jennie.
"ia dong, sekarang gue adalah pemilik butik terbesar dan tersebar di surabaya. gue yang menghendel perusahaan itu. mereka tinggal memberikan laporan kepada gue tanpa harus gue bekerja. dan gue bisa menikmati uangnya" Caroline tersenyum dengan apa yang sudah ia miliki. tanpa ia menyadari jika pergerakan keluar masuknya uang sedang di intai seseorang.
"habis ini kita cari sepatu yuk, kudengar di sini ada toko yang menjual sepatu branded yang katanya hanya ada lima dengan disain sama yang terjual di dunia. aku ingin pamer pada teman teman kita nanti di surabaya jika kita sudah pulang" kata jennie tampak antusias. Jenny adalah salah satu anak orang kaya di surabaya, ayahnya seorang pengusaha properti .
"ya tentu saja. biar nanti kita tunjukkan kepada teman teman kita di kampus, bahwa kita ini levelnya bukan kelas kampungan, ya nggak? " Caroline menyeringai seraya menatap pada Lily. Lily salah satu teman Caroline yang meskipun dia mampu, dia tak suka dengan shoping barang yang terlalu berlebihan.
"kalian sudah telat, satu jam yang lalu produk sepatu itu sudah launching" ujar Lily seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
jennie dan Caroline menatap nyalang pada Lily. kedua sahabat itu tak menyangka jika Lily banyak tau tentang dunia fashion. padahal dari tadi ia hanya diam mendengarkan.
"bagaimana elu bisa tau? " tanya Caroline dan Jennie hampir bersamaan.
Lily hanya tersenyum saja melihat kedua sahabatnya keheranan. " sepupu gue baru saja memposting statusnya, dia baru saja memamerkan produk sepatu dari brand ternama di mall ini, sekitar satu jam yang lalu" Lily cengar cengir melihat kebodohannya karena tak memberitahu kepada dua sahabatnya.
__ADS_1
"Lily" teriak Caroline dan Jennie hampir bersamaan. keduanya kesal dan menghentakkan kakinya seperti seekor kuda yang hendak dipacu.
"kalau begitu apa yang kita tunggu, tak mungkin kan, sepatu itu langsung terjual habis. sepatu itu ada lima, siapa tau masih ada" Jennie berdiri dan menarik tangan Caroline agar segera meninggal meja cafe itu.
lekas mereka bertiga beranjak pergi menuju mall yang ada di lantai tiga digedung itu. sesampainya disana. barang yang mereka tuju tinggal satu satunya. Caroline dan Jennie berlari menghambur berebutan, sedangkan Lily hanya menggelengkan kepala melihat kedua sahabatnya yang menurutnya sangat kekanakan.
saat hendak mengambil sepasang sepatu berwarna putih dengan hak tinggi dengan desain tak biasa, tiba-tiba sebuah tangan putih berjari lentik lebih dulu mendahuluinya.
"itu milikku", teriak Caroline.
" tidak, ini milikku. aku lebih dulu mengambilnya " kata wanita berkulit putih itu. dia adalah queen.
"kau" kata Caroline seraya mengernyitkan kedua alisnya.
Queen hanya menatap Caroline dengan penuh tanda tanya.
"kau ada disini? " lagi Caroline menatap queen dengan tatapan tajam yang nyaris tak berkedip. Caroline memperhatikan setiap inci bagian tubuh queen bahkan ia sampai memutarinya.
"aku istri Dimas?" queen menunjuk ke wajahnya sendiri.
"oh anda salah orang nona. namaku queen, bukan Zahra dan bukan juga istri Dimas seperti yang kau sebutkan" kata wanita itu seraya bergegas membawa sepatu yang baru saja diperebutkan bersama Caroline.
"tunggu" teriak Caroline sehingga membuat Queen menghentikan langkahnya.
Caroline tak mau mempermasalahkan siapa wanita itu. baginya yang terpenting itu sepatu keluaran terbaru dari brand ternama yang kini berada di tangan wanita cantik itu.
"kau tak akan sanggup membayarnya. itu sepatu mahal. berikan sepatu itu padaku" kata Caroline dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"aku menginginkan sepatu ini, sudah pasti aku sudah mempersiapkannya, berapa pun harga dari sepatu ini aku pasti akan membayarnya". kata Queen dengan tatapan nyalang pada Caroline karena sudah Meremehkannya.
jennie hanya menatap perdebatan dua wanita cantik itu. ia berpikir jika Caroline mengenali wanita itu.
" apa kau mengenal wanita itu? " tanya jennie pada Caroline.
"entahlah, sepertinya dia sangat mirip dengan istrinya Dimas. mantan pacar aku" kata Caroline. Jennie hanya manggut manggut saja.
"aku akan membawa nya ke meja kasir" kata Queen lalu bergegas pergi.
lantas ketiga wanita itupun mengikuti queen dari belakang.
di meja kasir saat queen hendak memberikan sepatu itu. Caroline segera merebut benda itu dari tangan queen. Sontak saja membuat petugas kasir Tercengang dengan sikap Caroline.
"kenapa anda merebutnya nona? bukankah barang itu sudah milik nona yang ini? " kata petugas kasir seraya menunjuk pada queen dengan wajahnya.
"tidak, tadi aku mau mengambilnya tapi kedahuluan wanita ini" ujar Caroline memberi alasan.
" tidak nona, nona queen yang lebih dulu mengambilnya. jika anda menginginkan sepatu yang sama, tunggulah nanti hingga satu tahun berikutnya. karena sepatu dengan brand yang sama akan keluar setiap satu tahun sekali" ucap pelayan butik itu.
"aku tidak mau menunggu selama itu. aku ingin memiliki sepatu itu" pekik Caroline dengan nada suara tinggi. "aku tidak yakin jika wanita itu bisa membayar sepatu mahal itu" tambahnya setelah beberapa saat menghela nafas.
petugas kasir terdiam. kemudian ia menatap pada queen seolah meminta kepastian. Queen hanya tersenyum tipis.
"aku akan membayarnya" kata Queen dan kemudian mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam.
mata Caroline membulat sempurna, ia tak menyangka jika lawannya memiliki black card. ia hanya memandangi gold card yang ia pegang. dengan kasar ia menelan salivanya. wajahnya memucat karena malu. bisa bisanya tadi ia meremehkan wanita yang mirip Zahra itu. tapi ujung-ujungnya dia sendiri yang dipermalukan.
__ADS_1
kedua sahabatnya pun sama. mereka tak mengira jika yang mereka lawan memiliki black card yang mereka sendiri tak memilikinya. mereka termundur perlahan kemudian membalikkan badan dan bersiap untuk kabur.
queen hanya menggelengkan kepala melihat mereka kabur dan menjauh darinya.