Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
IRI


__ADS_3

" aku sangat menyukai hadiahmu. Kau memang cucu kesayangan ku. Dari dulu kau selalu tau apa yang aku inginkan" sahut Aresh.


Sesekali ia memperhatikan piringan hitam yang memang sejak dulu ingin ia miliki. diusianya yang kini tak lagi muda ia bisa bernostalgia dengan piringan hitam itu.


" Dimas, usiaku sudah tak lagi muda. aku ingin agar ada seseorang yang bisa menggantikan posisi ku. apakah kau sudah siap untuk posisi itu" Tanya Aresh sambil sesekali memperhatikan wanita yang sedari tadi ada disebelah Dimas.


" maksud opah? apakah harus aku?" tanya Dimas lagi.


semua mata tertuju pada kakek tua itu. semuanya ingin tau. Siapa yang akan dipilih mewakili dan menjadi penerusnya. Jika dipandang dari keturunan maka seharusnya Rayyan lah yang menjadi penerus. karena dia adalah putra dari anak tertua.


Bramana tak Terima dengan ucapan sang ayah. sudah lama ia menantikan momen ini. momen dimana sang ayah akan menyerahkan tahta kekuasaannya pada sang Putra. tapi justru sang ayah malah mau memberikannya kepada orang lain.


" pa, bagaimana mungkin papa menjadikan Dimas sebagai pemegang tahta perusahaan. bukankah seharusnya papa memberikannya kepada Rayyan? aku tak Terima dengan keputusan papa" Bramana berkacak pinggang. ia berusaha menahan amarah. raut wajahnya sudah memerah.


Aresh mendengus kesal. ia sangat mengerti kenapa Bramana bersikap demikian. Haruskah dia membuka lembaran lama yang selama ini ia sembunyikan? "kurasa ini bukan waktu yang tepat. jika aku bicara disini, maka kemungkinan Bramana akan merasa malu. Dia pasti akan kecewa jika tau dia bukan darah dagingku.Tapi jika aku tak bicara dia pasti akan selalu menantikan putranya untuk naik tahta di perusahaan" Aresh membatin namun bibirnya masih saja diam.

__ADS_1


" opah, apakah hanya karena Dimas memberikan hadiah piringan hitam itu jadi opah lebih memilih dia? aku tidak setuju opah. aku lebih tua dari Dimas, seharusnya kedudukan itu aku yang akan mendapatkan " sahut Rayyan seraya menunjuk ke arah Dimas. Nada bicaranya sangat tinggi membuat semua pandangan tertuju padanya.


lagi Aresh masih bungkam. Dimas yang sedari tadi diam akhirnya ia juga bicara " opah, yang dikatakan Rayyan itu ada benarnya opa? aku tak apa jika kedudukan itu diambil Rayyan " jawab Dimas datar. ia tak ingin terjadi percekcokan keluarga hanya karena masalah tahta.


" Dimas , apa yang kau katakan, seharusnya kau menerima tanggungjawab yang opahmu berikan, dasar pemalas " Abimana tampak tak Terima dengan penolakan sang putra. Ia tak akan membiarkan jika Rayyan yang mengambil hak putranya.


" Keputusan ku sudah bulat. mau tak mau Dimas yang akan memegang tahta perusahaan keluarga Nugroho. kalian setuju ataupun tak setuju itu sudah menjadi keputusan akhir dariku. Bagaimana Dimas? aku akan menyerahkan kekuasaan ini hanya jika kau sudah menikah" pungkas kakek tua yang seluruh rambutnya telah memutih itu.


" tentu saja papa, Dimas sudah menikah, dan ini adalah menantu kami " Arumi yang sedari tadi hanya diam, dia segera menghampiri sang ayah mertua seraya menunjukkan sang menantu kepada Aresh.


Sementara keputusan Aresh sudah bulat, keluarga Bramana tak Terima. mereka lekas keluar dari kediaman rumah utama keluarga Nugroho tempat berlangsungnya pesta itu. Mereka pulang dengan membawa kekecewaan. mungkin untuk hari ini mereka tak banyak berdebat karena situasi yang tak memungkinkan. mereka akan membuat perhitungan dengan keluarga Abimana atau setidaknya akan meminta penjelasan kepada sang kakek.


Setelah kepergian keluarga Bramana, pesta dilanjutkan dengan menikmati sajian yang telah tersedia. aneka macam makanan dan minuman terhidang dibatas meja. semua bahagia, alunan musik yang menggema seolah mampu melupakan kejadian perdebatan antar keluarga yang sempat terjadi.


Abimana dan Arumi merasa sangat bahagia. akhirnya impian yang selama ini ia tunggu akhirnya tercapai. putra semata wayangnya yang menjadi harapan untuk bisa menggantikan Aresh Nugroho akhirnya bisa mewujudkannya mimpi itu. Arumi bisa merasakan lega, karena Aresh tak banyak bertanya siapa dan darimana asal sang menantu. bibit bobotnya juga tak sedikitpun Aresh menyinggungnya. jika sampai Aresh mengetahui asal usul Zahra yang berasal dari panti asuhan. maka Aresh akan kembali mempertimbangkan posisi yang akan diberikan kepada sang cucu. atau bisa jadi Aresh tak akan merestui hubungan mereka. Arumi mengelus dadanya lega. seketika ia menarik nafas dalam dalam kemudian menghempaskannya kasar.

__ADS_1


Berbeda dengan Rayyan, sesampainya dirumahnya, dia mengamuk. melemparkan semuanya yang ada dihadapan nya. lampu hias, kursi dan semua hiasan di ruang tamu ia lempar. Kedua orang tua nya hanya diam membiarkan kekesalan putranya itu mencari sasarannya.


" argh.... Brengksek kau Dimas. awas saja kau. aku tak kan membiarkan kau menang dariku dan mendapatkan segalanya" teriak Rayyan. matanya merah melotot, tangannya meremas kuat bantal kursi shofa di ruang tamu. kemudian ia melemparkan bantal itu sembarang arah. kemudian ia menghempaskan bokongnya di sofa. duduk meringkuk seraya menarik kuat rambutnya. Terlihat sekali raut wajahnya yang merah padam.


"arghhhh..... sial. sial kau Dimas" teriak nya lagi.


Bramana dan fania menghampiri sang putra. menjadikan Rayyan duduk di tengah antara keduanya.


" dengar Nak, kau harus mendapat apa yang seharusnya menjadi milikmu. kau cucu pertama di keluarga Nugroho bukan Dimas " Fania berusaha memanasi hati putranya. ia ingin Rayyan bangkit dan tak lemah. Hatinya sakit disaat dia teringat bagaimana dulu di saat shella sang mertua telah membeda bedakan antara dirinya dan Arumi. Shella lebih sayang kepada Arumi daripada dirinya. sakit sekali rasanya. Dia akan balas dendam atas perlakuan tak adil itu.


" bagaimana bisa si Dimas itu dalam sekejap saja sudah menikah? entah wanita mana yang sudah ia sewa untuk menjadi istri pura-pura nya. tak mungkin saja ia sudah menikah sungguhan. aku tak mendengar ada resepsi pernikahan sama sekali" gerutu Fania. ia merasa kalah karena Rayyan sendiri belum mendapatkan calon istri.


"Dengar Rayyan, mama tak mau tau kau juga harus segera menikah. mama akan bawa kamu ke hadapan opahmu dan akan bilang kalau kau juga sudah siap untuk meneruskan tahta perusahaan. kita tak boleh kalah dari mereka" sergah Fania lagi.


"Yang dikatakan mamamu benar nak, kau harus bangkit dan perjuangkan hak mu. papa akan mendukung semuanya" timpal Bramana.

__ADS_1


suasana dirumah itu kini kian memanas. sepanas hati anggota keluarga itu. panas hati karena tak bisa menyingkirkan perasaan iri dengki. sejujurnya hati yang sudah diliputi penyakit hati dia tak akan mampu lagi melihat jalan kebenaran. dihatinya hanya ada rasa kebencian saja.


__ADS_2