
Elizabeth sudah habis kesabarannya. ia tak bisa mentolerir putranya yang akhir akhir ini jarang pulang, hanya karena menghindar dari Caroline dan mamahnya.
ia tahu, jika Erick sekarang ada di Inggris. Inggris adalah tanah kelahiran suaminya, dengan kata lain jika Erick sekarang ada di rumah opanya. ia berniat akan mengunjungi putranya. berkali kali ia meminta sang putra untuk pulang, tapi Erick hanya berkata nanti dan nanti.
saat tiba di kediaman mertuanya Elizabeth langsung masuk tanpa ia mengetuk pintu dulu. ia terperanjat saat melihat ada seorang wanita cantik duduk di kursi ruang tamu dengan koran di tangannya.
"siapa kau? " tanya Elizabeth. wajah gadis cantik itu terasa familiar baginya. tapi ia tak tahu dimana ia pernah menjumpai gadis itu.
Queen tercengang. kenapa tiba-tiba saja ada wanita paruh baya masuk ke rumahnya. padahal yang ia tau ia tinggal dirumah itu hanya bersama kakak laki-laki nya juga neneknya. queen meletakkan koran itu di atas meja kemudian ia berdiri.
"anda siapa? kenapa anda masuk ke rumah saya?" tanya queen heran. meskipun demikian ia tetap bersikap ramah dan menghormati wanita itu.
"dimana Erick? " Elizabeth tak mau berbasa basi lagi. ia sudah menduga jika wanita itu pasti kekasih putranya. ia betah tak pulang karena mempunyai simpanan di Inggris. "kuranga ajar sekali anak itu. baru mengenal dunia perempuan sudah melupakan kedua orang tuanya" batin Elizabeth.
โbelum sempat queen menjawab pertanyaan Elizabeth, Erick datang menuruni tangga.
"mama? " sapa Erick.
Elizabeth tampak berkacak pinggang. tampak sekali wanita itu marah padanya. Erick menyadari jika kedatangan ibunya kali ini tidak bersahabat.
"jelaskan apa semua ini" ujar Elizabeth penuh amarah.
"sabar dulu ma, mama jauh jauh kesini harusnya istirahat dulu ma, atau mama ketemu oma dulu di dalam" bujuk Erick untuk mengurangi emosi sang ibu.
mendengar kata oma, perlahan Elizabeth meredam emosi nya. ia tak menjawab kemudian masuk ke dalam dan menemui sang ibu mertua.
beberapa saat kemudian, mereka semua duduk di ruang keluarga setelah selesai makan siang bersama.
Elizabeth menatap lekat gadis yang sedari tadi menjadi pertanyaan dalam hatinya. ia memperhatikan queen dengan begitu dalam.
__ADS_1
"siapa gadis ini?" tanya Elizabeth dengan suaranya yang lembut tak lagi dengan penekanan seperti saat baru pertama kali datang.
"namanya Queenzha. apakah mama tidak mengenalinya? apa mama tak merasakan sesuatu saat bertemu dia?" Erick malah balik bertanya.
Elizabeth beralih menatap gadis itu. entah perasaan apa yang kini ada di dalam hati wanita setengah abad itu. Dia merasa bahwa dirinya begitu dekat dengan gadis itu.
"mama masih belum juga mengenalinya? lihatlah kalung yang ada dileher gadis itu" ujar Erick lagi. ia yakin jika sang mama pasti merasakan sesuatu. seperti kata orang, naluri seorang ibu tidak akan salah. atau juga pasti ada ikatan batin antara seorang ibu dan anak. itu yang ada dipikiran Erick.
Elizabeth semakin bingung. Sebenarnya ia merasa seperti ada ikatan batin dengan gadis itu. tapi apa? ia sendiri belum pernah melihat gadis itu. memang sekilas ia seolah melihat ada gambaran dirinya pada gadis itu. Elizabeth versi muda. kemudian Elizabeth melihat pada kalung dan liontin kunci yang menggantung di leher putih gadis itu. tanpa terasa kepalanya mendadak pusing. ia memegangi kepalanya yang semakin berdenyut. sekelebat bayangan masa lalu seolah melintas tapi tak jelas. semakin ia memikirkan dan mencoba mengingat rasanya kepalanya semakin sakit.
sementara queen kebingungan dengan apa yang dimaksud Erick kakak nya. selama ini Erick dan neneknya yang merawat queen ketika queen sakit. queen tak pernah tau jika ia masih mempunyai ibu, Erick tak pernah menceritakan soal kedua orang tuanya.
Queen menatap netra Elizabeth sendu. ia bahagia sekali jika memang wanita itu ibunya.
"mama?" kata queen.suaranya lirih bahkan nyaris tak terdengar. matanya berkaca kaca. selama ini ia tak tau siapa ibunya. ia sangat merindukan sosok seorang ibu. bahkan di tengah malam ia sering bermimpi aneh. kadang ia bermimpi selalu dalam pelukan seorang ibu. dan kadang pula ia bermimpi seseorang terjerumus kedalam jurang tangannya berusaha menggapai orang itu tapi terlepas dan membuat orang itu terjatuh. ia tak bisa melihat dengan jelas orang itu karena semua dalam kegelapan. mimpi mimpi aneh itu selalu datang bergantian membuat tidur malam queen menjadi terganggu.
queen menatap laki-laki yang selama ini mengaku sebagai kakaknya, kemudian beralih menatap wanita tua yang duduk di kursi roda seolah meminta jawaban dengan situasi saat ini. sang nenek tersenyum. lalu ia mengangguk pelan.
Elizabeth terkejut. bagaimana mungkin ada seorang gadis dikatakan Erick adalah putrinya. "apa semua ini Erick? mama tak mengerti? "
Erick kemudian menceritakan semuanya.
**** flashback****
hari itu Erick berjalan jalan ke Bali bersama teman temannya. tanpa sengaja Erick bertemu dengan suster Yanti di sebuah kedai makan di salah satu desa di Bali. Erick masih ingat jelas dengan wajah suster yang dulu merawat sang ibu saat ibunya hamil. Meskipun waktu itu Erick masih kecil namun Erick masih bisa mengingat wajah suster Yanti. waktu suster Yanti merawat sang ibu, ia masih gadis dan sekarang setelah dua puluh tahun tentu saja wajah suster itu sudah berubah. namun Erick masih bisa mengingatnya.
"suster Yanti?" tanya Erick saat seorang paruh baya melintasi meja makan Erick bersama teman temannya.
wanita itu menoleh, ia mengernyitkan kedua alisnya karena memang ia tak merasa mengenal pemuda yang tengah memanggilnya. suster Yanti itu adalah profesi nya dulu waktu muda. dan sekarang ia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kerjanya hanya mengurus anak anak dan suaminya.
__ADS_1
"siapa ya? "
Erick berdiri dan mendekati mantan suster itu.
"apakah anda suster Yanti? " tanya Erick memastikan.
"nama saya memang Yanti, tapi saya bukanlah seorang suster, panggilan suster itu hanyalah panggilan di waktu saya muda dulu" kata wanita itu.
"apa suster tidak mengenali saya? tanya Erick lagi. ia tersenyum melihat suster yang dulu sempat merawat dia sewaktu ia masih kecil.
suster Yanti menatap lekat pada Erick. namun ia tak bisa mengenali lelaki muda di hadapannya.
" saya Erick, suster. putra bapak Smith dan Elizabeth" jelas Erick.
"nyonya Elizabeth? " seketika wajah suster itu tersenyum karena sudah bisa mengingat siapa pria muda ini.
"Erick. sudah sebesar ini?, apa kabarmu nak? " tanya suster itu Seraya mencubit pelan pipi Erick.
"baik suster, kabar suster sendiri bagaimana? " tanya Erick.
" aku baik baik saja" jawab suster itu Seraya tersenyum. " lalu bagaimana kabar kedua orang tuamu?"
"mereka baik baik saja" jawab Erick.
"lalu bagaimana dengan baby queen? apakah dia sudah ditemukan? " tanya suster itu lagi.
Erick menaikkan satu alisnya karena tak mengerti dengan arah pembicaraan mantan suster yang dulu sempat merawatnya.
melihat Erick kebingungan, suster itu pun paham. ia masih mengira jika waktu itu Erick terlalu kecil untuk mengingat semua kejadian waktu ia bekerja di keluarga Smith.
__ADS_1
"apakah kamu ada waktu untuk kita mengobrol?" tanya Mantan suster itu. "ada sesuatu yang ingin aku tanyakan" tambahnya lagi.
Erick hanya mengangguk karena penasaran.