
Pagi pagi sekali Arumi segera mendatangi rumah kosan Dimas. Dia tak sabar menunggu hingga menemuinya ditempat kerja. Dia berpikir jika menemuinya pagi pagi, Dimas pasti masih belum berangkat kerja.
Sesampainya di kosan, Arumi lagi lagi ketemu sama Andi " Tante kesini lagi? masih cari Dimas ya tan? " Andi menyeringai. tampak ia memasang wajah tak bersahabat pada Arumi.
"Dimas nya ada? " masih saja Arumi tersenyum menanggapi sikap dingin Andi.
"ada di dalam, masih tidur"
Arumi lalu memasuki kamar kost putranya. Dia mengelus dada melihat putra tersayangnya tidur hanya berkasur tipis di lantai. Sedangkan dirumahnya ada ranjang besar yang super jumbo dan empuk yang selalu menantinya.
" putraku Dimas" Arumi mendekati Dimas yang masih tidur, membelai rambut putranya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Dimas sontak terbangun.
" mama... Mama disini? Dimas celingak celinguk takutnya disitu ada Andi. Dia tak mau jika rahasianya terbongkar sekarang. Tapi sayangnya Andi dari tadi mengintip dari balik pintu yang ditutup tak rapat itu. Dia penasaran saja apa yang akan dilakukan tante cantik itu pada sahabatnya. sayang sekali Andi tak mendengar percakapan mereka hanya melihat mereka yang sedang berpelukan.
Andi geram pada keduanya karena tengah berpelukan. Dia pikir mereka sedang melepas rindu antara seorang laki-laki dan perempuan. Dia tak tahan lagi akhirnya dia masuk dan melerai mereka berdua.
__ADS_1
" apaan sih lo Dimas, kau tak tau malu, beraninya main cinta dengan emak emak. lalu kau anggap apa Zahra? kalau mau uang ya kerja, bukannya malah jadi simpanan tante tante! " Andi menyeringai marah. Dia melerai pelukan ibu dan anak itu secara kasar. Sedangkan Dimas dan Arumi keheranan.
kemudian Dimas tertawa terbahak bahak. Dia mengerti apa yang dimaksud sahabatnya itu. Sekalian saja dia berniat menggoda sahabatnya itu. Dia menciumi pipi Arumi berkali-kali bahkan Dimas memeluknya erat erat di depan Andi.
Andi merasa jijik pada sahabat nya itu. "cih.. Dasar playboy cap katak. emak emak diembat juga, maaf saja jika aku mengganggu. silahkan saja lanjutkan" tak mau berurusan terlalu lama Andi memilih pergi. tapi ketika hendak melangkah, Dimas menahan pergelangan Andi sambil tertawa lepas.
" apa salah jika gue mencium nyokap gue? " tanya Dimas sambil mencibir. sebenarnya dia masih ingin merahasiakan identitasnya, tapi sekarang Andi sudah tau. biarlah sekalian dia akan menceritakan siapa dirinya.
" apa? jadi dia mamamu? " Andi tersipu malu, terasa berat rasanya saat menelan salivanya sendiri. sudah bersikap dan berpikiran yang tidak tidak pada lelaki jangkung yang sudah lama menjadi sahabatnya itu. Dia sudah salah sangka dan berpikiran buruk pada sahabatnya itu. " maafkan saya tante, saya sudah salah paham" lanjutnya sambil menggaruk garuk tengkuknya yang tak gatal.
Akhirnya Dimas pun menceritakan siapa dirinya pada Andi dan apa tujuannya datang kesana. Dan Andi merasa terharu pada sahabatnya itu.
****
Siang itu saat jam istirahat sekolah, Zahra dan Aisyah sedang makan di rumah makan dekat sekolah. Mereka sengaja makan diluar sekolah karena merasa tak nyaman jika sedang mengobrol hal pribadi malah di dengar oleh siswanya.
" Ra, masih ingat nggak saat kita terakhir kali bertemu Dimas di restaurant itu? saat aku ijin ke toilet itu tuh? " Aisyah mengingatkan Zahra kejadian beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"hhmmm, memangnya kenapa? " respon Zahra datar sambil sesekali mengaduk minuman dinginnya.
" tau nggak Ra, saat aku ke toilet, aku bertabrakan dengan cowok yang ganteng sekali. Namanya Erick. Anehnya Ra, kok dia mirip banget sama kamu Ra? hidungnya, wajahnya, yang lebih mirip itu matanya mirip sekali sama kamu Ra, rada rada sipit gitu. Coba sini Ra aku lihat mata kamu" Aisyah menarik Zahra dan memperhatikan kelopak mata Zahra dengan seksama. " tuh kan, iris mata kamu berwarna biru mirip banget sama mata Erick, cuma bedanya kamu itu kulit putih, sedang Erick sawo matang "
" yang namanya manusia itu memang katanya Ada tujuh kembaran yang mirip di dunia, mungkin dia salah satunya. Kata Zahra acuh sambil Menyendokkan nasi ke mulutnya
" Tapi ini beda Ra, siapa tau dia adalah keluarga kamu. kamu kan berasal dari panti asuhan siapa tau kalian ada hubungan darah atau kerabat. Bisa jadi kan Ra? " tangan Zahra terhenti saat dia hendak memasukkan suapannya ke mulut. menaruh sendok itu kembali ke piring.
melihat expresi Zahra, Aisyah baru menyadari kata katanya telah menyinggung perasaan sahabatnya. "maaf Ra, aku tak berniat menghina asal usul kamu. Tapi sumpah itu adalah kata dari hati aku , kenapa tidak kau tanyakan saja mengenai asal usul kamu sama bu Yulia atau sama bu Ambar? gak ada salahnya kan Ra? "
" entahlah, aku tak berniat tau siapa orang tua kandungku. aku sudah bahagia hidup seperti ini. kalau pun mereka ada, seharusnya mereka yang mencariku.bukan malah sebaliknya. karena merekalah yang telah menitipkan aku di panti asuhan " jawab Zahra datar. Terlihat biasa saja dengan praduga Aisyah, namun sungguh didalam hatinya dia menangis perih. Mengapa sampai ia bisa di besarkan di panti asuhan. Namun semua itu tak pernah ia tanyakan kepada Yulia. toh dia tak pernah kekurangan kebahagiaan meskipun tanpa kedua orang tuanya. biarlah takdir sendiri yang akan membawa Zahra kemana.
" Ra, ngomong ngomon, kalau seandainya nanti si Erick adalah keluarga kamu, jangan lupa ya sama aku. Kalau bisa jadikan aku kakak ipar, juga boleh" Alis Aisyah naik turun dengan sudut bibir yang terangkat. Aisyah tertawa lebar menggoda Zahra.
" apaan sih Sya, mana mungkin aku anak orang kaya seperti yang kamu pikirkan. Kebanyakan baca novel sih kamu. sadar, ini tuh dunia nyata. bukan dunia maya" Zahra menggeleng geleng-geleng kan kepala, malas mendengar omong kosong sahabatnya.
Meskipun begitu, Zahra tak pernah sakit hati mendengar godaannya Aisyah. Aisyah adalah sahabat terbaiknya yang selalu membersamainya dikala susah dan dikala senang. Sudah lama berteman sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang.
__ADS_1