
Dimas menatap sahabat lamanya terbaring di ranjang rumah sakit. Dimas merasa bersalah pada Andi sahabat karibnya dulu pada saat ia menjadi tukang kurir. "maafkan aku Andi. kau begini karena aku. Seharusnya aku yang terbaring disana. Kau jauh jauh dari desa untuk menemuiku, tapi apa yang terjadi sekarang padamu Andi", Dimas menatap Andi dari balik dinding kaca rumah sakit itu. Di hidungnya terpasang selang infus. Andi belum sadarkan diri semenjak ia masuk kerumah sakit. kata dokter keadaannya kritis. dia terkena racun mematikan yang tercampur di minuman terakhir yang dikonsumsi Andi. Untung saja pada saat tak sadarkan diri, manager restaurant segera memberikan minuman penetralisir racun, sehingga tak menyebabkan laki-laki kurus itu meregang nyawa. meskipun begitu, lantas tak membuat Dimas tenang, sebelum laki-laki kurus itu sadarkan diri.
polisi segera bertindak cepat, atas laporan yang diberikan Dimas, dan keterangan yang diberikan manager restaurant serta penyelidikan di kamera CCTV yang terpasang di dalam restaurant, polisi menangkap hal mencurigakan dari pelayan yang mengantarkan minuman untuk Dimas. pelayan itu pun diminta keterangan. dan dari hasil keterangan yang diberikan ternyata ada seseorang yang memasukkan sesuatu di dalam minuman itu. tapi sayang wajah orang itu tak terekam kamera CCTV.
Polisi memberikan ciri-ciri lelaki itu pada Dimas. Dimas sangat mengenal postur tubuh lelaki itu meskipun dari belakang.
"Rayyan, aku tau itu kau" gumam Dimas, tangannya mengepal kuat. berusaha menahan Emosi.
"apakah anda mengenal lelaki itu? " tanya polisi.
"ia, dia adalah anak dari pamanku" jawab Dimas.
polisi pun mengangguk. dia pun pamit dan meninggalkan Dimas di rumah sakit.
sementara di keluarga Smith, semenjak Queen sadar dari amnesia, ia sering melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di rumahnya. Ditambah lagi Queen kedatangan Aisyah, ia jadi punya teman dirumah. semenjak Aisyah keluar dari rumah sakit, Queen meminta Aisyah untuk tinggal dirumahnya hingga ia benar benar sembuh. Aisyah mendapatkan tugas untuk memberikan bimbingan mengaji di salah satu madrasah di kota Surabaya tapi musibah malah menimpanya. Queen merasa bersalah hingga ia menginginkan Aisyah sahabatnya untuk tetap tinggal di rumahnya sampai tugas tugasnya selesai. lagipula Queen sangat senang bisa punya teman dirumahnya.
"Ra, aku senang akhirnya kita bertemu lagi" kata Aisyah saat dirinya duduk di sofa ruang tamu.
"ia syah, aku juga. takdir mempertemukan kita, tapi aku sedih karena kondisimu, kenapa kau menyelamatkan aku dan mengorbankan dirimu demi aku? " tanya Queen dengan raut wajah sedihnya. Aisyah masih saja menyebutkan nama Queen dengan panggilan Zahra. ia tak terbiasa dengan sebutan Queen. ia lebih nyaman dengan panggilan Zahra.
"kita sahabat Ra. sudah menjadi tanggungjawab kita untuk saling melindungi. ingat, kita itu sahabat" jawab Aisyah sambil terkekeh kecil.
Erick memperhatikan kedua sahabat itu yang tengah mengobrol asyik dan tampak sangat dekat. Sesekali ia memperhatikan Aisyah. wanita cantik berhijab itu seakan menarik perhatiannya. cantik, putih dan tubuhnya mungil.
__ADS_1
Kemudian ia tersenyum sendiri. selama ini Erick tak pernah dekat dengan wanita manapun. tapi, kehadiran Aisyah seolah membuka hatinya untuk lebih dekat dengan gadis itu. selain terpesona pada kecantikan Aisyah, Erick sangat menyukai suara Aisyah. Di saat Queen dan Aisyah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di kamar Queen, Erick Sering mengintip mereka diam diam. lantunan ayat-ayat itu seakan mengetuk pintu hatinya. terasa sangat sejuk di hati. menyejukkan hati yang selama ini terombang-ambing tanpa arah. selama menjadi Nasrani, Erick jarang sekali mengikuti setiap acara keagamaan. meskipun mamanya kerap kali mengajaknya ke gereja, tapi ia sering menolak. ada saja alasan yang ia berikan untuk menghindari ajakan sang mama.
Tapi saat mendengarkan dua gadis itu mengaji, hati Erick menjadi tersentuh. hatinya menjadi teduh dan tenang.
"ngobrol apa'an? " tanya Erick saat menghampiri keduanya. Sesekali ia melirik pada Aisyah yang duduk di sebelah Adiknya.
"urusan cewek kak" jawab Queen acuh.
"gimana keadaanmu Aisyah? " tanya Erick basa basi. ia ingin banyak mengobrol dengan gadi mungil itu.
"Alhamdulillah, baik kak" jawab Aisyah sambil menunduk. ia merasa kikuk karena dari tadi Erick selalu memperhatikannya.
mereka mengobrol banyak hal. Erick banyak bertanya tentang agama Islam. ia sangat tertarik dengan keyakinan yang di anut sang adik. sampai terbersit dalam hatinya ia akan mengikuti agama yang dianut adiknya.
"queen, kakak berniat ingin mempersunting temanmu Aisyah, bagaimana menurutmu?" tanya Erick meminta pendapat adiknya.
Queen tersenyum mendengarnya. "apakah kakak serius suka pada Aisyah? "
Erick mengangguk.
"kalau begitu perjuangkan dia kak".
" apakah dia mau padaku? " tanya Erick tak yakin. ia sangat tau jika dia dan Aisyah berbeda keyakinan. sungguh sangat mustahil untuk mendekatinya. ibarat ada dinding penghalang antara dia dan Aisyah.
__ADS_1
"menurut kak Erick gimana? " Queen balik bertanya.
"aku dan dia beda keyakinan. apakah dia akan mau? " tanya Erick pada adiknya.
"jika kalian berada di jalan berbeda, tentu itu tak akan bisa membuat kalian bersama. buat kak Erick layak bersama dia" jawab Queen. ia yakin kakaknya mengerti dengan apa yang ia ucapkan. sebenarnya dalam hati, Queen ingin meng islamkan semua keluarganya. Ayah, ibu dan kakaknya. satu keyakinan dalam islam. dan melangkah masuk syurga bersama sama kelak di akhirat.
Erick memikirkan apa yang diucapkan adiknya. memang benar apa yang dikatakan oleh adiknya, sebuah kaki tak mungkin akan bisa melangkah bersama selama kaki itu tak berjalan sehaluan.
Aisyah adalah wanita muslimah yang taat beragama, untuk mempersuntingnya tentu tak akan mudah. dia tak akan menerima laki-laki yang tak bisa menjadi imamnya, apalagi berbeda keyakinan.
"Queen, aku ingin menjadi orang muslim sepertimu" ujar Erick sambil menatap sang adik.
"kamu yakin? " tanya Queen tak percaya.
"jangan anggap suatu keyakinan itu permainan kak, hanya karena untuk mengejar keinginan, kakak akan pindah keyakinan dan setelah kakak mendapatkan apa yang kakak inginkan, kakak akan kembali pada keyakinan lama kakak" kata Queen menegaskan. ia tak ingin kakaknya salah dalam mengambil keputusan.
"aku tak akan mempermainkan keyakinan. itu sudah menjadi keputusan ku. bawa aku bersamamu" kata Erick lagi.
"lalu, bagaimana dengan mama dan papa? apa dia tak akan marah? " tanya Queen.
"tentu tidak" kata Erick mantap.
Aisyah yang mendengar percakapan kedua saudara itu menjadi terharu. ia tadi ke belakang sebentar untuk mengambilkan air minum untuk Erick. tak sengaja ia mendengar perbincangan dua saudara itu, karena itu dia tak langsung menghampiri, ia hanya berdiri di kejauhan.
__ADS_1
"air minum untuk kak Erick" ujar Aisyah sambil menyuguhkan sebotol air dingin dari kulkas"