Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
Keputusan Aresh


__ADS_3

Dikediaman utama keluarga Nugroho, Rumah besar berlantai dua dengan pagar halaman rumah yang hampir menutupi disekeliling area rumah itu . Rumah besar bernuansa Eropa klasik berwarna putih dengan pikar pilar besar tinggi menjulang. pertemuan keluarga besar sedang diadakan. pemilik rumah besar itu tengah mengadakan rapat keluarga. Dua pangeran penerus keluarga itu pun diminta hadir. Abimana dan Bramana dengan membawa keluarga masing-masing.


semua duduk di sofa besar ruang tamu terkecuali para menantu saja yang berdiri berjejer di samping sofa.


Seorang tuan besar Aresh Nugroho yang usianya tak lagi muda duduk di kursi paling ujung di kursi kebesarannya seraya memimpin rapat keluarga itu.


" aku sengaja meminta kalian untuk hadir di sini untuk meneruskan pembicaraan masalah pergantian jabatan yang pernah aku bicarakan beberapa hari yang lalu. Kakek tua itu menghela nafas dalam sambil sesekali memperhatikan semua orang yang hadir malam itu.


semua orang terdiam tak ada satupun yang menyela pembicaraan kakek itu.


"usiaku sudah tak lagi muda, kapanpun bisa saja aku tutup usia. dan sebelum itu terjadi, aku ingin menuntaskan masalah harta dan warisan di keluarga ini" kakek itu menghela nafas dalam kemudian melanjutkan kata katanya. " sesuai yang kukatakan sebelumnya aku menginginkan Dimas putra dari Abimana yang akan memegang jabatan tertinggi di perusahaan kita beserta dia pula lah yang akan mendapatkan rumah ini dan seisinya "


Abimana menyunggingkan senyum kebahagiaan namun berbeda dengan Bramana dan keluarga nya, ia harus menelan kekecewaan dengan keputusan sang Ayah.


Bramana berdiri karena ingin menyampaikan ketidak setujuannya dengan keputusan sang Ayah.


" tapi ayah" wajah Bramana memerah karena menahan amarah, tangannya mengepal kuat.


Aresh pun mengangkat satu tangan kanannya memberi isyarat agar tidak ada yang membantah akan keputusannya. " jangan menyela, aku belum selesai bicara, apa alasan dibalik keputusan ku ini" kata Aresh datar.

__ADS_1


Rayyan mengepal erat tangannya. marah. namun ia masih bertahan untuk menunggu kata kata Kakek tua itu selanjutnya.


" aku lebih memilih Dimas sebagai penggantiku karena dia darah dagingku satu satunya, putra Abimana, sementara Bramana adalah putra angkatku"


semua nya kaget. Bramana terkejut dengan ucapan Aresh. ia menggelengkan kepala tak percaya. "Bagaimana mungkin aku anak angkat. selama ini tidak ada tanda tanda yang menunjukkan bahwa aku adalah anak angkat" batin Bramana.


" ya, Kamu, Bramana adalah putra angkatku. karena dulu sewaktu aku menikah, Shella istriku tak bisa memiliki keturunan karena itu aku mengadopsi kamu dari panti asuhan. hingga tiga tahu akhirnya dia bisa melahirkan Abimana. Namun meskipun demikian, kami tak pernah membedakan kalian berdua. kalian sama sama putraku" kata Aresh. seraya memandangi sang istri dangan tatapan penuh cinta.


" oh jadi setelah opa mendapatkan paman Abimana jadi opa tidak menganggap lagi papa? " Rayyan tak bisa lagi membendung amarahnya, ia bangkit tak Terima dengan keputusan kakeknya.


" kenapa kau tidak Terima saja kenyataan bahwa kau hanyalah anak angkat saja? " teriak Abimana.


" cukup. diam kalian semua. ini sudah keputusan ku, dan kamu Bram, aku memang tak menjadikanmu pewaris utama, bukan berarti kamu tidak akan mendapat apa apa. Kau tetap putraku, ingat itu" tegas Aresh. meskipun dengan nafas berat ia berusaha menetralkan sesak didadanya. dadanya kembang kempis naik turun. Shella segera menghampiri sang suami yang terlihat tidak baik baik saja.


semua terdiam. mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Zahra mengelus dadanya sendiri ia berpikir segitu rumitnya kehidupan orang kaya. ia pikir, jika seseorang menjadi kaya raya maka semuanya akan lebih mudah. tapi justru yang terjadi sekarang di keluarga suaminya, malah sebaliknya. Harta dan kedudukan jika disertai keserakahan maka hanya akan berakibat pertengkaran dan perselisihan.


" mulai besok, Dimas akan tinggal disini. perusahaan XXpres pusat akan dipegang dan dikendalikan oleh Dimas. sedangkan kamu Rayyan akan memegang perusahaan XXpres bagian cabang" kata lelaki tua itu lagi.

__ADS_1


Arumi tersenyum sumringah, hatinya merasa lega dengan keputusan sang mertua. Dia menatap vania sang ipar, tersenyum penuh kemenangan. kemudian dia meraih tangan sang menantu. "selamat ya nak, aku yakin kau bisa membimbing suamimu ke jalan yang benar, selalu ingatkan dia agar tidak sombong dan terlalu berbangga diri dengan harta dan jabatan" nasehat Arumi terdengar begitu lirih.


" insyaallah ma" jawab Zahra seraya tersenyum.


Sementara Vania yang berada di sampingnya hanya melengos ke samping tak tahan dengan drama Arumi dan menantunya.


Dimas hanya bisa pasrah dengan keputusan sang kakek. meskipun sebenarnya ia lebih suka menjadi karyawan biasa daripada menjadi seorang bos.


" bagaimana Dimas, apakah kau sudah mempersiapkan segala sesuatunya, mental dan fisikmu harus kuat. sekuat baja. Banyak hal yang pastinya akan kau hadapi di kemudian hari. Nasib perusahaan tergantung dari caramu memimpin". kata lelaki yang seluruh rambutnya itu sudah memutih.


Dimas hanya mengangguk dengan pertanyaan sang kakek. ia hanya menggaruk garuk tengkuknya yang tak gatal.


" aku akan meminta Steven untuk menjadi asisten kamu. Dia yang akan mengajar kan kamu banyak hal. selama ini dia sudah banyak membantuku. Dan kamu Rayyan, perusahaan yang kamu kendalikan, buat perusahaan itu semaju mungkin tapi tetap di bawah naungan XXpres pusat.


" pa, apa tidak sebaiknya kita beri waktu seminggu lagi untuk Dimas agar bisa keperusahaan, kasihan pa, dia masih pengantin baru. biarkan dia menikmati bulan madu dulu" kata Shella lembut Seraya memegang pundak sang suami. Dimas adalah cucu kesayangan Shella waktu kecil, dia sangat manis dan penurut berbeda dengan Rayyan kecil yang sangat nakal dan suka membangkang.


" baiklah, aku beri waktu seminggu untuk Dimas berbulan madu, setelah itu dia harus siap masuk ke perusahaan. untuk sementara biar Abi dulu yang memegang perusahaan. Aku sudah tua dan lelah. aku mau dirumah saja menikmati masa tua. sekarang giliran kalian yang mengembangkan perusahaan" kata pria tua itu, tangannya menggenggam erat tongkat kayu berukir yang menjadi penopang tubuhnya saat berjalan.


" baiklah opa. aku Terima, tapi setelah aku pulang dari bulan madu" kata Dimas seraya melirik ke istrinya.

__ADS_1


" baiklah Dimas, jabatan itu memang akan menjadi milikmu tapi itu jika kamu dan istrinya bisa pulang dari perjalanan bulan madu. karena aku tak akan membiarkan kau kembali" batin Rayyan seraya tersenyum tipis dengan wajah tertunduk.


"Baiklah semua sudah jelas, sekarang kita bisa makan malam bersama. pelayan sudah menyiapkan berbagai macam menu makanan di meja makan. Mari kita makan malam bersama" ajak Aresh seraya bangkit, dengan bantuan tongkat yang ia pegang.


__ADS_2