
" kamu punya rencana apa Ray, terhadap sepupumu Dimas? " tanya Tanya Bram setelah mereka kembali kerumahnya.
" seperti kata kakek tua itu, Dimas akan menerima jabatan CEO setelah ia kembali dari perjalanan bulan madunya. itu akan terjadi hanya jika Dimas kembali. berbeda jika Dimas tak pernah kembali" kata Rayyan seraya meremas tangannya. sepertinya rencana busuk sudah ada di otak pria jangkung itu.
" memang kamu punya rencana apa sayang? " tanya Vania.
" nanti papa dan mama akan tau sendiri. yang penting sekarang mama baikin dulu si Istri Dimas yang bodoh dan kampungan itu. mama cari tau kemana rencana mereka untuk bulan madu, setelah itu baru kita atur rencana selanjutnya ". kata Rayyan menyeringai.
****
sementara Dimas sudah bersiap pindahan ke rumah besar Kakeknya. ia harus meninggalkan kedua orang tuanya.
" kenapa sih pa, Dimas harus pindah rumah segala, disini kan lebih enak, kita bisa ngumpul. papa Aresh ada ada aja deh. masak ia kita harus pisah sama anak kita satu satunya " Arumi tampak merajuk. ia tampak bersedih jika harus pisah sama anaknya. sewaktu Dimas mengejar mencari cintanya dan tak pulang berbulan bulan saja Arumi sampai jatuh sakit karena terlalu memikirkan Dimas. dan sekarang setelah Dimas pulang kembali, sang mertua ingin mengambilnya. " kenapa gak sekalian kita juga diminta pindahan kesana, kan lumayan disana biar rame" kata Arumi seraya memasang wajah yang cemberut.
" papa kan anak kandung papa Aresh, lalu kenapa papa gak juga tinggal disana? " cecar Arumi.
" mama lupa, bukankah dulu mama yang minta untuk kita tinggal dirumah sendiri?" kata Abi seraya melotot pada sang istri.
" ya itu kan karena dulu aku tak Terima saja jika mas Bram di belikan rumah sementara kita numpang dirumah papa Aresh " jawab Arumi.
" ya sudah, kan sekarang kemauan mama sudah dikabulkan oleh papa Aresh, kita dibelikan rumah yang sama dengan punya mas Bram. mama senang kan? "
" itukan dulu pa, tapi sekarang jika mama harus pisah sama Dimas rumah ini kan jadi sepi, mama gak mau. Dimas itu putra kita satu satunya. Coba saja adik Dimas masih hidup, kan rumah kita jadi rame" Arumi jadi termenung matanya berkaca kaca, ia jadi teringat mendiang putrinya ia meninggal saat dilahirkan dulu.
__ADS_1
" sudah lah ma, jangan terlalu difikirkan. biar nanti papa yang akan bicara sama mama Shella agar kita bisa tinggal di rumah besar juga bareng Dimas" Abi memegang pundak istrinya mencoba menenangkan hatinya.
" papa janji ya? " Arumi merengek seperti anak kecil.
Abimana dan Arumi mengantarkan putranya ke kediaman rumah besar. Disana kehadiran Dimas disambut hangat oleh kakek neneknya.
" oh cucu kesayangan omah sudah datang" wanita tua namun masih terlihat cantik itu tersenyum seraya memeluk Dimas. " rumah ini akan terasa rame dengan kedatangan mu nak. opah dan omah tidak akan kesepian lagi. apalagi nanti jika rumah ini dihiasi dengan tawa anak kecil" katanya sambil melirik pada cucu menantu.
" ma, jika mama akan merasa rumah ini ramai dengan kehadiran cucu kesayangan mama, lalu bagaimana dengan aku ma? aku akan kesepian dengan kepergian anakku satu satunya" Arumi mencoba memberanikan diri berucap.
" kalau begitu, tinggallah disini bersama kami" kata Shella.
" memangnya boleh ma, jika kami tinggal disini bersama? " tanya Abimana menyela pembicaraan.
pasangan suami istri itupun terdiam. Mereka menyadari apa yang mereka lakukan waktu itu karena terpengaruhi rasa cemburu pada Bram yang di berikan rumah baru oleh Aresh.
"sudah, jangan bicara masa lalu. jika memang kalian mau tinggal disini, maka tinggallah. kami tak keberatan. Ayo nak, kita ke atas. kami sudah mempersiapkan kamar untuk kalian. dan buat kamu Abi, kamarmu masih tetap sama tak ada yang berubah" kata wanita tua itu dengan lembut.
" kalau kamar untuk Abi dan istrinya masih ada, lalu apakah kamar untuk mas Bram juga masih ada ma? " kata Vania yang tiba tiba datang dan menyela pembicaraan mereka.
" eh, vania. kau datang nak? " tanya wanita tua itu.
" jika Abi tinggal disini, apakah kami juga boleh tinggal disini ma? " tanya Vania mengulang kembali pertanyaannya.
__ADS_1
" kenapa tidak nak, kalian sama sama putra Kami" kata Shella dengan penuh kelembutan. Shella memang wanita yang selalu bersifat lembut pada siapapun.
" kamu boleh saja tinggal disini, tapi hanya sebatas tinggal. karena rumah ini sudah aku berikan kepada Dimas. kata Aresh tegas.
Vania memasang wajah murung. ia sudah tak lagi berucap hanya tatapan nyalangnya tertuju pada Arumi. Tampak sekali kebenciannya pada Arumi. Dari dulu waktu muda, mereka memang tidak pernah berdamai. sebagai sesama menantu mereka selalu bersaing dalam hal apapun, termasuk dalam hal mengambil hati mertuanya.
"sudah jangan bertengkar. kamarmu juga masih sama nak tidak ada yang berubah, kamu bisa menginap disini kapan saja kamu mau. Rayyan juga boleh jika ia mau menginap atau tinggal disini" kata Shella menenangkan hati menantunya.
siang itu pun bik sumi yang dibantu Laila sudah menyiapkan makan siang untuk keluarga itu. Laila yang tengah membawakan makanan dari dapur ke meja makan tak hentinya ia menatap pada Dimas. ia mengagumi ketampanan cucu majikannya itu. Memang Laila masih baru di keluarga itu dan sebelumnya memang tak pernah melihat Dimas. Bik sumi yang melihat gelagat Ponakannya itu pun segera menyenggol wanita seksi itu
" kerja yang bener, jangan macem-macem" kata bik Sumi memperingati ponakannya dengan suara pelan takut didengar salah satu majikannya.
setelah di dapur, Laila pun memberanikan diri bertanya "itu den Dimas sudah menikah ya bik?"
"sudah. lalu, kamu nanya? kamu bertanya-tanya?" kata Bik Sumi menirukan kata kata yang sekarang lagi viral itu.
" ih bibi, kok gitu sih, aku kan cuma nanya " kata Pelayan cantik itu.
" sudah, jangan macem macem, kita kesini itu niat kerja, jangan sampai kita dipecat sama tuan Aresh gara-gara gak becus dalam kerja" kata Bi Sumi memberi peringatan seraya keluar membawa teko berisi jus untuk di bawa ke ruang makan.
" ngomong ngomong, kapan kamu honeymoon Dimas? " tanya vania saat mereka duduk bersama makan siang.
"ia bener, kapan dan rencananya mau kemana? " tanya Arumi penuh semangat. ia sudah tak sabar pingin punya cucu.
__ADS_1
"kalian pilih saja mau kemana, opa akan persiapkan tiketnya. mau keluar negeri juga boleh. India, Italia prancis atau dimanapun yang kamu mau". kata Pria tertua di keluarga itu.