Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
surat dari Pauline


__ADS_3

Maria mengepal kan tangannya. ia tak Terima jika butik di berikan kepada Queen. seharusnya Caroline yang berhak, secara selama ini dialah yang mengelola dan membesarkannya butik itu.


"awas kau Queen. mungkin dulu kau bisa selamat tapi tidak sekarang. aku akan melenyapkan mu" batin Maria. ia bersiap di dalam mobilnya sedang menunggu seseorang.


Queen adalah targetnya. ia menunggu Queen yang sedang ke masjid untuk mengajar anak anak mengaji. sudah lama ia mengintai segala aktivitas Queen. agar ia mudah untuk menjalankan aksinya.


dari kejauhan ia memperhatikan Queen. menunggu wanita cantik itu keluar. Queen memang selalu di antar jemput oleh Erick. dan Erick akan menjemputnya dan menunggu adiknya diseberang jalan. Maria sudah hapal betul kapan Queen akan selesai mengajar. Dari kejauhan ia sudah melihat targetnya. dengan cepat ia menarik gas mobilnya. ia melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Queen yang berjalan tak menyadari jika di kejauhan ada mobil yang ingin menabraknya. Aisyah yang juga keluar dari masjid dan berada di belakang Queen melihat jika mobil itu mau menabrak sahabatnya itu. dengan cepat ia mendorong tubuh Queen hingga Queen terjerembab ke samping kiri tepatnya di dekat mobil Erick yang hendak menjemput adiknya.


"brak... queen terbentur mobil kakanya hingga menimbulkan suara keras. Erick yang ada di dalam mobil pun terkejut dan segera keluar dari mobil. ia mendapati Queen jatuh di samping mobilnya. namun Queen tak terluka parah.


berbeda dengan Aisyah ia terpelanting keras ke samping kanan. ia terluka parah. darah pun berceceran di jalan aspal itu. sementara Maria kabur entah kemana. ia tak mau jika dirinya tertangkap.


Queen berteriak histeris. sementara Erick terkejut dengan apa yang terjadi. dia tak tau jika ada seorang wanita lain yang menjadi korban tabrak lari. sementara orang orang yang ada di masjid semua berkerumun ke jalan untuk melihat apa yang sedang terjadi.


" Aisyah... " queen berteriak sambil lari mendekati tubuh Aisyah yang berdarah. "kak, cepat tolong Aisyah, bawa dia kerumah sakit" pintar Queen pada kakaknya dengan suara tercekat.


tanpa pikir panjang Erick segera membopong tubuh Aisyah ke dalam mobil dan membawanya kerumah sakit. disana ia langsung ditangani dokter. queen tak hentinya menangis. ia tau jika mobil tadi ingin menabraknya, tapi Aisyah justru menyelamatkan dirinya dan membiarkan tubuhnya yang tertabrak mobil itu.


"kenapa Syah, kenapa kamu lakukan ini. seharusnya aku yang tertabrak. bukan dirimu" kata Queen terisak dalam pelukan sang kakak.


"apa?, jadi mobil itu ingin menabrak kamu? " tanya Erick. ia tak menyadari karena posisi mobil yang ingin menabrak adiknya ada dibelakang mobilnya. dan ia sendiri di dalam mobil lagi fokus sedang main game kesukaannya sambil menunggu adiknya keluar dari masjid.

__ADS_1


Queen hanya mengangguk. kemudian Erick menelpon seseorang.


"cari orang yang ingin mencelaki adikku sekarang. periksa di halaman masjid itu pasti ada CCTV. jangan sampai ia melarikan diri" kata Erick lagi lalu menutup sambungan telepon nya.


Dimas yang mendengar kabar itu langsung menuju ke rumah sakit. ia ingin memastikan jika istrinya baik baik saja. sampai sekarang Queen masih bersama keluarganya. ia meminta waktu seminggu pada Dimas, dan setelah itu ia akan kembali bersama dirinya. tapi belum seminggu semenjak Queen sadar dari amnesia, malah ada kabar jika ada seseorang yang berniat mencelakainya.


"bagaimana kabarmu Ra? apa kau terluka? " tanya Dimas cemas. sebaiknya kau juga memeriksakan dirimu sayang " ajak Dimas. ia melihat sebagian baju yang dikenakan Queen agak sobek sedikit mungkin karena tadi terkena bebatuan di pinggir jalan saat di dorong Aisyah.


"aku baik baik saja mas, tapi Aisyah, ia terluka parah mas" kata Queen sambil terisak.


"kita berdoa saja untuk keselamatan Aisyah" kata Dimas lagi.


beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruang operasi. segera mereka berhambur mendekati sang dokter, ingin tau bagaimana kondisi Aisyah.


"Alhamdulillah keadaannya baik baik saja. tidak ada luka seriuss di tubuhnya. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. kalian bisa menemuinya jika pasien sudah sadarkan diri. pasien masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat" kata dokter itu pun kemudian pergi.


semua berucap syukur Alhamdulillah. karena Aisyah tak mengalami luka serius. Dimas memeluk sang istri dan menciumi keningnya. "dokter bilang Aisyah baik baik saja. kau tak perlu khawatir" ucap Dimas.


tak butuh waktu lama, orang suruhan Erick pun menelpon. ia memberi kabar kalau pemilik mobil berwarna hitam yang menabrak Aisyah sudah bisa di lacak. mobil itu adalah mobil sewaan. dan yang memyewa adalah Maria. polisi langsung bergerak dan membawa Maria ke kantor polisi.


Mendengar Maria dibawa ke kantor polisi, Pauline syok berat. penyakit jantungnya kambuh. mau tak mau suster Siska yang biasa menemani Pauline membawanya ke dokter untuk mendapatkan penanganan.


Elizabeth mengunjungi sang ibu. ia tak tega melihat kondisi sang ibu yang begitu melemah.

__ADS_1


"bu, bagaimana kondisi ibu? " tanya Elizabeth dengan raut wajah sedihnya.


Pauline menatap Elizabeth dengan sendu. ia merasa bersalah pada wanita yang selama ini ia rawat. sebenarnya Pauline mengetahui kejahatan yang diperbuat Maria putri kandungnya. namun, kasih sayang yang terlalu berlebihan telah membutakan mata hatinya. meskipun ia tak ikut andil dengan kejahatan maria, tetap saja dia merasa bersalah, karena tak mampu membimbing sang putri ke jalan yang benar.


Pauline menggenggam erat tangan Elizabeth. dengan terbatas dia berusaha bicara.


"Elizabeth..., maafkan I bu... " katanya dengan suara berat.


"kenapa ibu harus meminta maaf. seharusnya aku yang meminta maaf. aku tak bisa menjaga ibu dengan baik" kata Elizabeth dengan lembut.


"maafkan aku juga ya bu, Maria sudah bersalah, dia ingin melukai Queen putriku. dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara" kata Elizabeth lagi.


Pauline tak bisa berbicara terlalu banyak. jantungnya melemah. ia sudah memprediksi semuanya. ia meminta suster Siska jika suatu saat hal semacam itu terjadi dia harus memberikan surat yang ditulis oleh Pauline dengan tangannya sendiri pada Elisabeth. banyak hal yang ingin ia sampaikan kepada Elizabeth yang selama ini ia besarkan seperti putri kandungnya sendiri.


suster Siska memberikan selembar kertas putih berisikan tulisan tangan Pauline.


"apa ini suster?" tanya Elizabeth pada suster Siska.


"ini adalah tulisan tangan nyonya Pauline. dia sengaja menulis semua yang tak bisa ia katakan secara langsung pada anda nyonya. nyonya Pauline menulis semua ini saat ia masih sehat. dan ia berpesan padaku, jika suatu saat terjadi sesuatu pada nyonya Pauline, dia menyuruhku memberikan tulisan ini untuk anda nyonya" terang suster Siska.


Elizabeth menatap selembar kertas berwarna putih itu. kemudian beralih memandang sang ibu yang kondisinya semakin melemah.


Pauline hanya mengangguk pelan. nafasnya tersengal sengal. terasa berat saat di hembuskan.

__ADS_1


Elizabeth kembali menatap kertas itu. lalu perlahan ia membukanya.


__ADS_2