Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
sepuluh hari


__ADS_3

siang itu hari lumayan panas . tak ada hembusan angin semilir yang bertiup di pinggiran kota kecil itu. Sebenarnya bukan kota lebih tepatnya sebuah kecamatan yang di sulap menjadi kota kecil. langit pun berwarna biru cerah tak terlihat sedikitpun awan disana. posisi sang surya tepat bertengger tepat di atas kepala yang artinya itu menunjukkan tepat jam duabelas siang.


sementara di kantor cabang pengiriman paket sudah ada sebagian kurir yang sudah kembali untuk pengambilan seasond kedua. Mereka beristirahat dulu untuk sekedar makan karena memang disebelah kantor kecil itu ada sebuah rumah makan sederhana.


" permisi..., Dimas ada? " .tanya seseorang yang tiba-tiba masuk dan menanyai Dimas. Cindy terkejut. Dia yang sedang duduk di kursi berkutat dengan layar komputer sontak menoleh ke arah datangnya suara. kebetulan hanya ada dia di kantor itu sedang yang lain masih makan di warung sebelah.


" ia ada yang bisa saya bantu pak? " tanya cindy seraya Menatap dua orang pria berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam nya.


" saya sedang mencari Dimas. apa dia ada?" tanya salah satu pria itu, sedang satunya lagi berdiri tegap layaknya bodyguard yang sedang siaga.


Cindy ketakutan, dia berpikir kedua orang itu adalah penjahat. namun dia berusaha terlihat tenang agar tak membuat orang berbadan tegap itu curiga. tapi dia memberanikan diri bicara


" Dimas belum kembali pak, silahkan tinggalkan pesan, nanti akan saya sampaikan " .


kedua orang aneh itu pun saling pandang seolah berbicara dengan bahasa isyarat.


" apa masih lama kembalinya? " tanya nya datar.


" ia pak. tadi pagi memang Dimas berpesan katanya pulang terlambat" . cindy terpaksa berbohong supaya kedua orang aneh itu segera pergi.


kedua orang itu pun berbisik kemudian bicara


" kalau Dimas datang sampaikan padanya agar dia segera pulang" .


" baik Pak" jawab Cindy singkat. akhirnya Cindy merasa lega dengan kepergian dua orang aneh itu. Tapi kata kata " segera pulang " membuat Cindy mengernyitkan alisnya. "emangnya kenapa Dimas disuruh pulang? apa jangan jangan bonyok nya sedang sakit ya?. wah gawat kalau Dimas pulang, bisa sepi ini kantor tanpa kehadirannya". Cindy membatin.


Di tempat lain di bawah langit yang sama dan cuaca yang sama, Zahra bersama Aisyah memasuki sebuah rumah makan sederhana. Dia melihat setiap sudut rumah makan itu mencari keberadaan seseorang.


" kamu yakin Ra Dimas bakalan datang? " tanya Aisyah.


" ia yakin. itu motor nya terparkir di halaman parkiran" . jawab Zahra sambil menunjuk keluar dimana motor berbonceng box itu terparkir.

__ADS_1


" tapi kok orangnya gak ada ya Ra? apa mungkin dia ke toilet? ".tanya Aisyah lagi.


" kita duduk saja dulu, ayok" . Zahra pun menarik tangan sahabatnya dan memilih tempat duduk dengan satu meja dan empat kursi yang saling berhadapan.


tak lama kemudian yang ditunggu pun akhirnya datang.


" assalamu'alaikum " sapa Dimas.


" waalaikumsalam " . jawab keduanya hampir bersamaan.


" kapan kalian datang? boleh saya duduk? " tanya Dimas kemudian.


" ia silakan " . jawab Zahra.


sedangkan Aisyah hanya tersenyum saja. melihat wajah tampan abang kurir itu dari dekat membuat jantungnya berdebar. kalau kemaren Aisyah melihat Dimas dengan memakai masker dan helm, namun kini dia bisa melihat wajah ganteng itu tanpa masker dan helm. Tatanan rambutnya agak basah mungkin Dimas membasahi nya tadi saat di toilet. membuat aura ketampanan pria itu semakin terpampang.


Dimas menarik kursi kosong itu dan kemudian duduk bersebelahan dengan Aisyah dan berhadapan langsung dengan kursi yang diduduki Zahra.


seorang pramusaji menghampiri meja mereka dan memberikan menu pesanan.


" aku ayam kecap pedas saja sama teh hangat. kamu Syah? tanya Zahra sama sahabatnya.


" sama saja kayak kamu" . jawabnya.


sambil menunggu pesanan akhirnya Zahra memulai pembicaraan.


" maaf mas Dimas, saya ngajakin mas ketemu disini sebenarnya saya mau mengembalikan ini".


Zahra mengeluarkan bungkusan dari tasnya dan meletakkan di atas meja.


Dimas menaikkan satu alisnya , dahinya berkerut. Netranya menatap tajam Zahra. " kenapa Ra? kenapa kamu kembalikan? kamu gak suka? aku iklhas memberikan tanpa ada maksud jahat sama kamu ". kata kata Dimas tersendat, tampak jelas ada raut kekecewaan disana.

__ADS_1


" Bukan begitu mas, say suka kok, tapi saya merasa tak nyaman saja menerima barang pemberian dari orang asing. Kita baru beberapa hari kenal, apa kata orang nanti jika orang tau. Lagian ini terlalu mahal mas, sayang uangnya. Kan bisa mas tabung buat masa depan " . Panjang lebar Zahra mengatakan alasan penolakannya.


Aisyah mnyaksikan drama mereka merasa tak nyaman dengan pembicaraan keduanya dia pura-pura mau ke toilet.


" Ra, aku ke toilet ya sebentar " . katanya kemudian berdiri dan mau melangkah pergi. Namun buru buru Zahra menahan lengan Aisyah. Dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Zahra tau kalau Aisyah merasa tak nyaman berada diantara keduanya.


" kalau begitu biarkan aku menjadi tak asing lagi buatmu. Dan biarkan aku menjadikanmu masa depanku" . Dengan percaya diri Dimas mengungkapkan isi hatinya. jantungnya berdegup kencang. tangannya terasa dingin seperti es. ingin sekali dia menyentuh tangan wanita idamannya. hatinya gugup sekali. Entahlah, padahal Dimas bukan kali pertama berhadapan dengan wanita.


" maksud mas Dimas? " tanya Zahra.


" ya ampun Ra, kamu sadar gak sih? Dimas itu secara tak langsung telah melamar kamu". Aisyah membulatkan bola matanya tak percaya. kemudian tersenyum lebar sambil menepuk baju Zahra


sedang Zahra melengos ke samping. merasa malu. Dia hanya diam saja, entah harus berbicara apa.


" Zahra Auliya, aku Dimas Syahputra ingin menjalin hubungan serius denganmu. Maukah kamu menerima cintaku dan menerima segala kekuranganku? ".Bisa dibilang saat itu juga Dimas menembak Zahra. ingin sekali Dimas mengungkapkan perasaannya sambil menggenggam tangan wanita cantik itu. Namun Dimas sadar, bahwa Zahra tak sama dengan mantan mantan Dimas sebelumnya.


" ayo Ra, diterima saja. lumayan ganteng. gak apa apa kurir yang penting ganteng banget" .Aisyah berbisik di telinga Zahra.


" mas Dimas, maaf bukan aku mau menolak mas Dimas, seperti yang mas tau, bahwa aku gak akan pernah pacaran kecuali dengan imamku. maksudku bersama suamiku kelak" . Zahra hanya tertunduk tak berani menatap. takut perkataannya menyinggung perasaan Dimas.


" kalau begitu ijinkan aku menjadi imammu, aku akan melamarmu pada ibu Yulia. apakah kamu bisa menerimaku yang hanya bekerja sebagai kurir dengan penghasilan tak seberapa ini? " . Dimas berusaha menyelami perasaan wanita itu. Berharap jika Zahra bukan wanita mat realistis sama seperti mantan mantannya.


" aku tak pernah memilih siapa yang akan menjadi imamku, asalkan dia bisa membawaku ke syurga itu sudah lebih dari cukup. tak peduli seberapa banyak harta yang ia miliki, karena tujuan akhirnya hanyalah akhirat saja" .


Aisyah menggenggam tangan sahabatnya, dalam hati dia sangat bangga dengan prinsip sahabatnya itu. Bahkan dia sendiri sangat berharap jika kelak dia bisa menikah dengan orang ganteng dan kaya raya. sedang Zahra sama sekali tak mengharap semua itu.


" kasih aku waktu mas, biarkan aku istikharah dulu, meminta petunjuk dari Alloh SWT. kurang lebih sepuluh hari saja mas Dimas jangan menemuiku. setelah itu mas bisa ke panti untuk menanyai keputusanku selanjutnya" .


" baiklah, sepuluh hari, aku akan menunggu. tapi aku harap, kamu jangan mengembalikan pemberian yang sudah aku berikan. aku ikhlas. tolong ya?" .


" hmm... baiklah mas" . jawab Zahra singkat.

__ADS_1


beberapa saat kemudian waiter pun datang dengan membawa pesanan.


Dan mereka pun makan tanpa ada bicara lagi. setelah itu mereka pun kembali pulang kerumah masing-masing.


__ADS_2