
"Nak, apa kamu masih ingat saat kamu berusia sepuluh tahun, waktu itu ada seseorang yang ingin mengadopsi kamu? tapi malah aku tak mengizinkan kamu untuk menjadi anak adopsi orang itu?, kamu malah marah dan ngambek hingga tak mau makan dan juga tak mau sekolah. Katanya kamu ingin memiliki keluarga lengkap seperti Aisyah temanmu itu" Yulia mengingatkan kejadian silam.
Zahra hanya tertunduk. sebenarnya dari kecil ia selalu bermimpi mempunyai keluarga lengkap layaknya anak anak yang lain. Bahagia bersama ayah dan ibunya. Masih jelas ingatannya waktu ia ngambek bahkan ia sampai tak mau pulang kembali ke panti dan menginap di rumah Aisyah.
Sangat malu rasanya jika mengingat kenangan konyol di masa kecil. Kenangan yang selalu saja ia menyusahkan Yulia dan Ambar selaku pengganti ayah dan ibu kandungnya. Ia tersenyum tipis dengan wajah bersemu merah.
" lalu, mengenai perhiasan ini, apa kamu mau menerima dan bersedia memakainya nak? " tanya Yulia.
Zahra hanya terdiam, tertunduk sambil memilin ujung kuku tangannya. tak tau apa yang harus ia lakukan. kemudian Ambar mendekatkan duduknya merapat ke samping Zahra. ia memegang pundak Zahra seraya mengangguk memberi persetujuan, apapun keputusannya ia akan selalu mendukung
masih dengan wajah tertunduk, Dadanya kembang kempis seperti sedang menahan sesuatu. Antara takut tapi juga penasaran dengan identitasnya sendiri. Identitas yang kelak akan membawa namanya di akui dunia.
Pada akhirnya, Zahra pun menerima kalung ber liontin kunci dan gelang emas charm bracelet itu. Ditatap nya perhiasan itu dengan tatapan tajam, kelopak mata Zahra hampir tak berkedip seraya menautkan kedua alisnya. Seribu pertanyaan menari nari dalam otaknya. ada apa? kenapa? mengapa? . Entahlah, darimana dia bisa menjawab semua pertanyaan itu. Mungkin dengan memakainya ia bisa mencari tau jati dirinya.
"simpanlah, dan jaga baik baik perhiasan ini. Jangan sampai jatuh ke tangan orang yang tak berhak memilikinya. Pesan ibu, selalu Berhati-hatilah, jaga dirimu karena kita tak pernah tau apa yang akan terjadi esok atau lusa" Pesan Yulia pada Zahra.
***
" halo Assalamu'alaikum Zahra? selamat pagi calon istriku yang cantik" Pagi-pagi sekali Dimas sudah menelpon wanita pujaannya.
"hmmm. waalaikumsalam mas" terdengar suara lembut tapi parau di seberang sana. Ya hari ini setelah tadi malam Yulia menceritakan tentang masa lalunya, kondisi fisik nya sedang tak baik baik saja, terlalu banyak pikiran membuat kepalanya jadi sakit. jadi hari ini ia putuskan untuk libur tak kesekolah. ia ingin istirahat saja.
" kamu sakit ya Ra? terdengar suara Dimas cemas.
__ADS_1
" oh nggak. aku hanya sedikit butuh istirahat aja. aku baik baik saja kok. emang ada apa mas Dimas menelponku?
" Ra, hari ini aku akan membawa ibuku untuk menemuimu. aku akan membuktikan keseriusan ku padamu. aku akan melamarmu di depan ibuku, kamu bersedia kan Ra"
" ia mas, aku bersedia. Aku akan menunggumu mas" terdengar suara Zahra yang lemah di seberang sana.
" baiklah Ra, aku tutup dulu ya, sampai jumpa nanti. assalamu'alaikum " Dimas mematikan telponnya setelah Zahra menjawab salam darinya.
Dengan langkah berat ia segera menemui Yulia ingin memberitahu rencana kedatangan Dimas.
Yulia yang sedang di dapur lagi memasak bersama Ambar kaget dengan teriakan Zahra.
" ada apa Ra? kok kelihatan panik gitu " Tanya Ambar sambil mengaduk aduk masakannya di atas kompor.
" Wah..., mbak Zahra mau kedatangan tamu istimewa ya? goda Ani, dia adalah salah satu tetangga yang sering bermain dan suka bantu bantu di panti.
Zahra hanya tersenyum malu. baginya ini adalah pengalaman pertama,
" ya sudah, sana kamu siap siap dandan yang cantik. biar kami yang siapkan menu hidangannya nanti" kata Yulia sambil membereskan meja meja yang berantakan.
" Coba aja mbak Zahra mau sama anak saya, pasti anak saya akan bahagia sekali. tapi sayangnya mbak Zahra tidak tertarik dengan anak saya. sungguh beruntung laki-laki yang bakal menjadi suami mbak Zahra, selain cantik, baik sopan lagi. ah pokoknya mbak Zahra itu beneran menantu idaman deh" goda Ani sambil tersenyum.
" ah mpok Ani bisa aja, jangan gitu deh mpok. saya do'akan jaka anak mpok mendapat jodoh yang lebih baik dari saya" ujar Zahra sambil berlalu kekamar untuk bersiap siap.
__ADS_1
" memangnya siapa tamu spesial mbak Zahra itu bu? sepertinya Zahra bersemangat sekali" tanya Ani pada Ambar. ia penasaran sekali pasalnya Jaka putranya yang sudah mempunyai pekerjaan tetap di sebuah kantor perusahaan swasta malah ditolak oleh Zahra dengan alasan belum siap menikah.
" namanya Dimas mpok " jawab Ambar singkat.
" apa pekerjaannya? " tanya Ani penasaran. pikirnya mungkin kali ini lelaki yang dipilih Zahra mungkin seorang bos atau seseorang yang kaya raya.
" pekerjaannya sebagai jasa antar kirim barang mpok"
" hah... maksudnya kurir gitu? " Ani tampak terkejut, kelopak matanya membulat sempurna. sangat tak percaya jika Zahra malah memilih kurir dibanding anaknya yang jelas jelas kerja di kantoran.
Yulia dan Ambar hanya tersenyum melihat expresi wajah Ani.
" namanya juga cinta mpok, jika cinta sudah hadir dalam hati, tak peduli pada siapa kita bisa memilih. Zahra tak memandang status sosial. sudah banyak puluhan lelaki yang mau meminangnya, tapi Zahra menolak. mungkin dia menyadari karena dia sendiri bukan siapa siapa. Dia lebih memilih lelaki yang sepadan dengannya, yakni sama sama dari Strata bawah" Yulia tersenyum seraya melirik pada mpok Ani.
Mpok Ani memajukan bibirnya cemberut. padahal dia sangat berharap agar Zahra bisa menjadi menantunya.
" seperti kata novel yang pernah saya baca TERPAUT CINTA ABANG KURIR, wkkw wkkk... " Ambar cengengesan sambil menutup mulutnya berusaha menyembunyikan suara tawa yang keluar dari mulutnya.
Beberapa saat kemudian anak anak panti berangkat ke sekolah masing-masing setelah mereka sarapan bersama tentunya. Yulia, Ambar dan mpok Ani sudah menyiapkan penyambutan untuk kedatangan Dimas. juga tak luput Tiara hati ini libur kerja karena tak ingin melewatkan acara Zahra. Dia sangat penasaran bagaimana sih keluarga Dimas.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu. terdengar ucapan salam diluar sana yang tak lain adalah suara Dimas.
Serempak mereka menjawab salam itu. Yulia meminta Tiara untuk membukakan pintunya. Sedang Zahra masih belum keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Saat pintu terbuka tampak seorang wanita paruh baya berdiri di depan Tiara. Tiara menatap tk berkedip wanita cantik yang usianya tak lagi muda itu. namun jika dilihat dari penampilannya , mulai dari pakaian, tas dan sepatunya sepertinya semua barang yang bermerek.seperti tampilan orang kaya. Tiara sempat berpikir wanita itu salah alamat. tapi setelah tatapannya beralih ke samping ternyata ada Dimas berdiri tepat disamping wanita itu dan juga ada dua orang lelaki dibelakangnya, yang satu berbadan tegap layaknya bodyguard dan yang satu lagi kurus.