
prosesi ijab qobul berjalan dengan khidmat. Namun ada beberapa hal yang mengganjal di pikiran orang orang yang menghadiri acara tersebut. Desas desus semua pada berbisik saling pandang dan bertanya tanya dalam hati. mahar sebanyak satu milyar rupiah? kenapa banyak sekali? apa itu tak mencekik bagi Dimas yang hanya seorang tukang kurir? mungkin bagi orang orang yang memilik kekayaan itu tak seberapa, tapi bagi strata kelas bawah macam Dimas, apalagi hanya pekerja pengantar barang, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. Sedangkan Dimas dan keluarganya terlihat biasa biasa saja seperti tak mendapat tekanan.
Tentu saja orang orang berpikir kalau Zahra sengaja membuat mahar yang lumayan tinggi untuk membuat penekanan pihak lelaki agar tak sanggup untuk membayar mahar itu dengan tunai.
Jangankan orang orang yang pada heboh karena mahar itu, Zahra sendiri seperti nya juga terkejut. pasalnya dia tak pernah meminta uang mahar sebesar itu. Dia hanya meminta seperangkat alat sholat itu saja. sekujur tubuhnya menjadi dingin. tapi ia tak bisa protes dan berkata apapun saat Dimas menerima ucapan ijab yang di bacakan pak RT dengan menyebutkan kata tunai. Dan ketika para saksi yang hadir mengucapkan kata shah, Zahra menjadi terharu. Begitu besar mahar yang Dimas berikan untuknya. Matanya berkaca kaca. Zahra memandangi lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Kemudian Dimas menyematkan sepasang cincin pernikahan yang sudah disiapkan oleh papanya. satu untuk Zahra dan satu lagi untuk dirinya. Zahra mencium punggung tangan Dimas yang kini sudah sah menjadi suaminya, sedangkan Dimas mencium kening sang istri dengan penuh kehangatan.
Semua orang menjadi terharu dengan prosesi ijab Qobul yang terbilang sangat sederhana itu, tapi mengandung arti yang begitu dalam.
Setelah acara selesai, Yulia mengajak semua orang untuk menikmati hidangan yang seadanya. Karena memang acara itu sangat dadakan tanpa adanya perencanaan sama sekali.
Memang tak banyak orang saat acara itu berlangsung. karena memang bertepatan dengan anak anak panti asuhan sedang sekolah.
Setelah acara makan makan selesai mereka kembali ke ruang tamu, sedangkan pak RT dan bu RT dan beberapa orang rombongan penabuh musik sudah kembali pulang. Hanya menyisakan beberapa orang saja, Dimas dan keluarga serta keluarga panti dan juga Aisyah.
" maafkan saya sebelum nya, saya ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua. Mungkin selama ini yang kalian tau Dimas seorang laki-laki hanya pengantar barang atau bisa disebut sebagai kurir. Tapi saya dan keluarga sangat bersyukur karena Zahra mau menerima putra saya apa adanya. Tidak memandang latar belakang dan statusnya. Sebenarnya Dimas yang kalian tau, dia adalah putra penerus dari perusahaan tempat ia sendiri bekerja" kata Arumi yang memperjelas status Dimas.
Semua tercengang, memandang tak percaya dengan apa yang dikatakan Arumi. Seorang Dimas pengantar paket yang mereka tau ternyata adalah seorang bos besar pemilik perusahaan?
__ADS_1
Terlebih Tiara, dia yang selama ini selalu meremehkan pekerjaan Dimas, matanya membulat sempurna tak percaya.
Andi pun tak kalah terkejutnya. pasalnya selama tiga bulan terakhir dia menjadi sahabatnya pun tak tau apa apa. Yang ia tau Dimas hanyalah seorang kurir yang menjadi tulang punggung keluarga sama seperti dirinya.
sedangkan Yulia dan Ambar merasa terharu, mereka menganggap ini adalah buah kesabaran dan kebaikan yang selama ini yang berikan kepada semua orang. Alloh Akan memberi yang terbaik buat hamba-Nya yang baik pula.
Dimas hanya tersenyum malu. sambil sesekali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" maaf tante, lalu kenapa Dimas malah lebih memilih untuk menjadi kurir daripada ia menjadi dirinya sendiri? " Tiara memberanikan diri bertanya.
Arumi tersenyum mendengar pertanyaan Tiara. "ya, kamu benar nak. Dimas memang meninggalkan segalanya yang ia punya. karena dia ingin mencari cinta sejatinya. mencari wanita yang bisa menerima dia apa adanya. bukan karena harta dan jabatannya"
Tak beberapa lama Aisyah datang dengan membawa Zahra. kemudian mereka pu duduk.
" maaf Bu Yulia, bagaimana jika seandainya acara resepsi pernikahan mereka di langsungkan di rumah kami saja? " pinta Arumi pada Yulia selaku orang tua asuh Dinda.
" maaf Bu Yulia, sebenarnya kami ingin melangsungkan acara resepsi pernikahan Dimas bisa dilakukan beberapa hari setelah selesai acara ulang tahun kakeknya Dimas. Bagaimana Bu? " tanya Abimana yang melanjutkan kembali pertanyaan istrinya.
__ADS_1
Yulia dan Ambar saling tatap, saling meminta pendapat. kemudian beralih memandangi Zahra yang hanya tertunduk.
" Bagaimana nak Zahra? " tanya Yulia.
" saya terserah saja Bu, bagaimana baiknya saja" jawab Zahra singkat.
"Baiklah kalau begitu. Untuk selanjutnya, apakah kami boleh membawa Zahra ke kediaman kami? " tanya Abimana tak sabar.
" tidak pa, Aku dan Zahra masih mau di sini dulu. Zahra adalah seorang guru pasti dia membutuhkan waktu beberapa hari untuk berpamitan pada siswanya. begitu pula denganku. Aku juga masih belum sempat bertemu teman temanku di kantor" ucap Dimas, ia tak ingin terburu buru untuk mbawa Zahra pulang. biarkan saja kedua orang tuanya yang kembali duluan ke kota.
" Dimas, sekarang Zahra adalah istrimu. tanggung jawbamu. Kau harus melindunginya, menemani di kala suka dukanya " Abimana mengingatkan putranya bahwa dia bukanlah pemuda lajang biasanya hanya keluyuran tak jelas. Sekarang sudah ada Zahra yang akan menjadi tanggung jawabnya di dunia dan akhirat kelak.
Dimas hanya mengangguk. Seraya memantapkan hatinya bahwa ia pasti bisa membuat Zahra bahagia.
" Nak Dimas jangan khawatir, kalau nak Dimas berkenan, nak Dimas bisa tinggal di sini beberapa hari hingga semua urusan Zahra disekolah selesai". Yulia ikut menimpali.
"Baiklah Bu yulia, dan Bu Ambar. kalau begitu kami permisi pamit pulang dulu. Kami serahkan Dimas untuk beberapa hari tinggal disini. tolong bimbinglah dia, jika dia belum bisa menjadi suami yang baik untuk Zahra, Bu Yulia bisa memarahinya, atau bisa juga menjewernya, Kami tak akan keberatan" kata Abimana seraya tertawa. sengaja menggoda putranya, karena dia tau kalau putranya itu memang suka usil dan agak tengil.
__ADS_1
Semua orang tertawa, sedang Dimas hanya tersenyum malu pada papanya.
setelah berpamitan, akhirnya Arumi dan Abimana pulang dengan perasaan lega. urusan putranya sudah beres. kini tinggal menunggu kedatangan mereka dirumah. Dan memperkenalkan Zahra pada keluarga besar Nugroho. Dan berharap semoga Zahra dapat diterima dengan baik nantinya oleh tuan Aresh Nugroho selaku pemilik utama kekayaan keluarga Nugroho dan bisa menjadikan Dimas sebagai pewarisnya