
Elizabeth segera berpamitan kepada sang mertua dan meninggalkannya. di Inggris ibu mertuanya tinggal bersama saudaranya, Smith sudah berulang kali mengajak sang ibu untuk tinggal di Surabaya, tapi sang ibu selalu menolak. Dengan alasan terlalu banyak kenangan bersama sang suami yang telah lebih dulu berpulang.
sesampainya di surabaya Elizabeth segera membawa queen pada suaminya.
"mas, ini queen putri kita" kata Elizabeth setelah ia sampai dirumahnya. dengan raut kebahagiaan ia tersenyum pada sang suami yang tengah duduk di sofa ruang tamu. hari ini ia tak ngantor karena memang hari ini hari minggu.
"putri kita? apa maksudmu? " tanya Smith dengan wajah tak mengerti. sesaat ia memperhatikan queen yang masih berdiri dengan koper yang baru ia bawa dari Inggris. kemudian ia beralih menatap pada sang putra yang ada dibelakang queen.
"kalian darimana saja? beberapa hari ini tak pulang? " tanya Smith dengan penuh mengintimidasi.
"mas, ada yang ingin aku ceritakan. ayo queen duduklah nak" ajak Elizabeth pada sang putri.
kemudian Elizabeth pun menceritakan semua yang terjadi padanya. di bantu Erick yang juga menceritakan semua apa yang sudah mereka alami. Tak ada yang mereka tutupi.
Smith jadi terharu mendengarnya. ia segera memeluk sang putri. dan menciumi kening queen.
" maafkan papa dan mama karena tak bisa melindungi kami nak, kami janji akan menebus waktu duapuluh tahun yang telah kami lalui tanpa kamu nak. kami akan memenuhi semua apa yang kamu inginkan, setelah ini kami akan selalu membahagiakan kamu" ujar Smith seraya mengecup kening putri mereka yang lama hilang.
"benar kan Erick? " tanya Smith pada putra sulungnya.
"ia pa, kita akan selalu membahagiakan queen setelah ini. sebagai penebusan waktu duapuluh tahun yang queen lalui tanpa kita" ucap Erick.
"apakah setelah ini kita akan membawa Queen pada keluarga besar kita?" tanya Elizabeth.
__ADS_1
"tidak" jawab Erick tegas. ia masih ingat jelas cerita dari suster Yanti yang mengatakan jika seseorang yang berniat ingin membunuh mamanya mempunyai ciri-ciri seperti Maria.
"kenapa? " tanya Smith heran.
"karena aku akan memastikan jika mereka aman untuk queen" sanggah Erick.
Erick menceritakan kecurigaannya terhadap Maria. bahwa dialah dalang di balik penculikan dan kecelakaan yang menimpa Mama dan adiknya, meskipun ia belum tau motif apa di balik semua itu.
sementara ditempat lain, Maria mengomel memarahi putrinya. karena ia mendapati laporan di bank jika sedang ada transaksi besar di kartu kredit yang sedang digunakan putrinya.
"kenapa kau menghabiskan banyak uang? apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? , jika sampai pengacara tau, bisa habis kita" bentak Maria pada Caroline.
"apa sih mam? " cuma uang segitu kok malah dipermasalahkan. mama kan pemilik butik. uang itu tak akan ada apa apanya " jawab Caroline dengan nada satu oktav lebih tinggi dari mommy nya.
Caroline terdiam. dia pusing dengan celotehan mommy nya. dia baru saja pulang dari Inggris bersama teman-teman nya. tapi sesampainya di rumah malah kena omel dari ibunya. untung saja kedua temannya sudah pulang. jadi Caroline tak harus menanggung malu di hadapan teman temannya.
"udah lah mom, aku pusing dengerin mommy ngomel. aku capek mom, mau istirahat" kata Caroline seraya melangkahkan kakinya ke tangga menuju ke kamarnya.
***
di tempat lain Dimas masih kepikiran dengan gadis yang sangat mirip Zahra. setelah kepulangannya dari Inggris ia tampak lebih bersemangat. ia sudah mau melakukan terapi demi kesembuhannya. ia akan mencari Zahra. hatinya sangat yakin kalau Zahra pasti masih hidup. entah ada di belahan bumi sebelah mana sekarang Zahra saat ini. Yang pasti ia akan mencarinya.
Arumi sangat senang melihat semangat putranya telah kembali. ia berharap Dimas bisa berjalan kembali seperti semula, dan kembali meneruskan permintaan kakeknya tuan Aresh untuk memegang dan mengelola perusahaannya.
__ADS_1
sebulan kemudian Dimas sudah bisa berjalan dengan normal meskipun masih dengan extra hati hati. ia sudah bisa kembali ke kantor, namun masih belum boleh menduduki jabatan utama, CEO, itu masih ada pada Rayyan. Dimas belum bersedia dengan jabatan itu hingga berhasil menemukan sang istri.
Di hari minggu, pagi pagi sekali Dimas mau melakukan Chek-up di salah satu rumah sakit, ia ingin melihat seberapa sembuh kakinya, seberapa kuat kakinya saat ini. saat mobil yang di lajukan pak feri melintas di sebuah gereja, kembali Dimas melihat gadis yang menurut nya sangat mirip dengan Zahra. Gadis itu terlihat masuk ke dalam Gereja, mungkin ia mau beribadat, karena hari ini hari minggu. ia, menurutnya sebagian orang Kristen banyak melakukan kunjungan beribadat di gereja pada hari minggu.
"berhenti pak feri" pinta Dimas. pak feri sopir itupun menepikan mobil itu tepat di depan gereja.
"mau apa aden Dimas berenti di gereja? " tanya Pak feri keheranan. tentu saja pak feri bingung. setau pak feri, majikannya adalah seorang muslim bukan Kristen. ini kok malah minta berenti di depan gereja. kan aneh.
tak menjawab dengan perlahan Dimas keluar. ia menatap ke arah gereja. ingin rasanya ia menyusul ke dalam, mencari tau tentang gadis itu. tapi, ah mana mungkin dia Zahra. Zahra kan muslim. itu adalah gereja tempat ibadah umat Kristen. "Zahra ku seorang muslim sejati. bahkan dia sangat mendalami ilmu agama, lebih dari diriku. tak mungkin gadis itu adalah Zahra ku" batin Dimas. kemudian ia berbalik arah dan hendak masuk ke dalam mobil. tapi sebuah suara menegurnya. suara itu begitu familiar. begitu lembut dan indah di dengar. Dimas berdiri mematung tak jadi melangkahkan kakinya. ia ingin memastikan suara itu memanggilnya kembali. suara yang benar benar nyata, bukan imajinasi.
"mas" sebuah suara yang dulu biasa memanggilnya. suara yang begitu lemah lembut, suara yang sangat dirindukannya. suara yang biasa merengek dan manja.
Dimas membalikkan badan, mencari keberadaan suara yang memanggilnya.
"Zahra? " lagi Dimas memanggil seorang gadis berkulit putih yang berdiri di hadapannya.
"namaku queen. bukan Zahra mas. mas yang waktu itu ada di kota manchester Inggris kan? " tanya Queen dengan lembut.
Dimas tak menjawab. justru kata kata yang keluar dari bibirnya malah tak nyambung.
"suara itu, suara itu milik Zahra" ujar Dimas seraya menatap queen nyaris tak berkedip.
Queen menaikkan satu alisnya. ia menatap ke arah Dimas penuh keheranan. sebenarnya dalam hati queen sangat senang bertemu lelaki yang sempat ia temui di waktu di Inggris. entah perasaan apa yang ia simpan untuk lelaki yang ada di hadapannya kini.
__ADS_1
"mas sudah bisa berjalan?" tanya queen lagi.