
"siapa Ra? " kata Ambar dari dari dalam yang tentunya membuyarkan lamunan Tiara yang masih mematung di depan pintu.
" eh iya, mari silahkan masuk tante " kata Tiara kemudian, Berusaha memasang senyum semanis mungkin sambil sesekali matanya melirik wanita cantik yang menarik perhatiannya. "mungkinkah dia ibunya Dimas?" batin Tiara. ah entahlah dia harus membuktikannya sendiri agar tak merasa penasaran.
Setelah tamu yang ditunggu dipersilahkan masuk, Yulia mempersilahkan mereka duduk disofa ruang tamu , kemudian meminta Tiara untuk segera memanggil Zahra.
setelah Tiara sudah berada di kamar, Dia mendapati Zahra sudah berdandan cantik dengan kebaya berwarna putih yang menjadi favoritnya. juga hijabnya warna senada yang diikatkan kebelakang tampak sangat rapi dan cantik. tak lupa ia mengenakan kalung liontin kunci peninggalan orang tuanya. serta menyematkan cincin bermata biru di jari manisnya pemberian dari Dimas beberapa hari yang lalu.
" kau cantik sekali Ra, kalungmu tampak sangat indah. Aku sangat iri padamu, meskipun kau dititipkan ke panti asuhan tapi setidaknya orang tuamu masih memberikan kalung liontin dan gelang cantik padamu. Tidak seperti diriku. yang katanya sengaja ditinggal begitu saja oleh orang tuaku " Tiara memandangi zahra dengan perasaan iri. meratapi nasibnya yang menurutnya tak seberuntung Zahra. Semenjak kejadian Zahra diculik perlahan sikap Tiara mulai membaik pada Zahra. tak lagi sekasar dulu.
" Tiara, jangan berkata begitu. Kita syukuri apa yang kita miliki. semua sudah diatur sama yang di atas. Kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas". Zahra menggenggam tangan Tiara berusaha menenangkannya.
" Ra, didepan Dimas dan keluarga nya sudah datang. Ayok buruan keluar. mereka sudah menunggumu".ajak Tiara.
"hhhmmm" Zahra hanya bergumam sambil tersenyum. kemudian dia dan Tiara keluar menuju ruang tamu dimana tamunya sudah menunggu.
tap...tap...tap... derap langkah sepatu berhak sedang, keluar dari ruang tengah panti asuhan. Semua mata tertuju ke arahnya. Terlebih Dimas sangat terbelalak melihat gadis pujaannya keluar dengan memakai kebaya putihnya. Matanya membulat sempurna diiringi dengan senyuman tampannya.
Masih dalam wajah tertunduk, Aisyah membawa Zahra duduk di sofa paling ujung.
Arumi menatap calon menantunya seraya tak berkedip. takjub. betapa cantiknya Zahra. Meskipun dibilang wanita biasa yang berasal dari panti asuhan, tapi jika dipoles maka kecantikan nya melebihi wanita dari kalangan atas dan artis. penampilannya yang sederhana tak menutupi pesona yang ia miliki. " pantas saja Dimas langsung jatuh cinta sama gadis ini. "Ternyata putraku sangat pintar dalam memilih calon istri. Jika dibandingkan dengan Adelia, Zahra jauh lebih cantik apalagi Zahra baik hati dan tidak matrealistis" batin Arumi.
__ADS_1
Kemudian Arumi berdiri dan mendekati Zahra, ia duduk disamping calon menantunya itu. Zahra masih tertunduk tanpa melihat orang yang duduk mendekatinya. kemudian Arumi mengambil tangan Zahra dan menggenggamnya.
Zahra sontak terkejut, perlahan ia mengangkat wajahnya memandang ke arah wanita yang ada disampingnya.
Betapa terkejutnya Zahra ketika tau siapa wanita yang ada disampingnya itu.
" tante Arumi? " Zahra memicingkan matanya heran. kemudian dia menatap satu persatu wajah wajah baru yang ada di ruangan itu. dan terakhir tatapannya berhenti pada Dimas. lama dia menatap pria yang menjadi pilihan hatinya itu, menautkan kedua alisnya dan mengangkat dagu seolah meminta penjelasan dengan bahasa isyarat siapa saja mereka itu.
Dimas hanya cengar cengir saja mendapat tatapan tak nyaman dari gadis itu.
Arumi mengerti, kemudian dia tersenyum sambil memegang satu tangan Zahra.
" Zahra sayang, Aku adalah mamanya Dimas, kamu masih ingat pertemuan kedua kita? bahkan aku memintamu supaya jangan memanggilku tante, melainkan memanggil mama. Supaya nanti jika kau menikah dengan Dimas kau tak perlu repot untuk merubah panggilan itu" Arumi tersenyum.
" nak, apakah kamu bersedia menikah dengan putraku?, menerima segala kekurangan dan kelebihannya? Disaat suka maupun duka kau akan selalu menemaninya? " tanya Arumi penuh harap.
Zahra diam, namun tatapannya beralih pada Dimas, kemudian dia berganti menatap Yulia dan Ambar bergantian seolah meminta persetujuan mereka.
Yulia dan Ambar mereka pun mengangguk pertanda setuju dan mendukungnya.
" ia bu, aku bersedia " Jawab Zahra yang tertunduk seakan menutupi wajahnya yang bersemu merah menahan malu.
__ADS_1
kemudian terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. semua mata saling pandang merasa heran siapa gerangan yang datang?
Tiara lekas mendekati pintu untuk melihat siapa yang datang.
setelah pintu terbuka,
" surprise......" kata seseorang dari luar. terdengar musik tabuhan bersahutan dari arah luar. Beberapa orang masuk dengan membawa peralatan musik sederhana dan berbagai macam seserahan. tampak pimpinan dari rombongan itu seorang lelaki jangkung berbadan tegap dengan memakai jas hitam tengah tersenyum bahagia. pak RT dan bu RT juga ikut dalam rombongan itu, tentu saja setelah Abimana papanya Dimas meminta ijin untuk membawa rombongan pengiring musik ke panti asuhan itu.
" papa? " tanya Dimas tak percaya. pasalnya sejauh ini ia tak pernah memberi tau dimana letak panti asuhan tempat tinggal Zahra, dan papanya juga tak memberi tau kalau akan menyusulnya kesini.
Arumi tersenyum. " maaf Dimas, mama yang memberi tau papamu, dan mama juga yang memintanya untuk datang kesini membawa rombongan penabuh rebana untuk mengiringinya.
"Masak ia putra mama satu satunya melamar seorang gadis tanpa ada iringan musik dan membawa seserahan. malu dong? " goda Arumi dengan tertawa lebar.
Semua mata tertuju ke arah iringan musik dan pembawa seserahan. mereka memberikan aneka kue, beberapa perhiasan, uang dan tak lupa seperangkat alat sholat.
" apaan ini pa? " tanya Dimas heran. pasalnya dia tak pernah berniat untuk menikahi Zahra hari ini. ia ingin hanya bertunangan saja dulu. tapi yang di bawa papanya justru beberapa perhiasan dan seperangkat alat sholat seperti sedang membawa mahar sebuah pernikahan saja.
" jangan menatap papa seperti itu, ini semua rencana mamamu" ujar Abimana sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
" ya, ini memang rencana mama, mama tak mau kalian hanya bertunangan. mama mau kalian secepatnya menikah saja. itu lebih baik kan? "
__ADS_1
semua orang terkejut melihat acara dadakan yang dibawa orang tua Dimas, terlebih Zahra. Ia tertegun, matanya berembun. Bukan maksud Zahra ingin menolak menikah dengan Dimas, tapi karena ia ingin kelak yang akan menjadi wali nikahnya adalah ayah kandungnya sendiri. Sedangkan untuk hari ini ia belum tau apa apa tentang ayah ibunya.
" tidak pa, ma, bukan seperti ini yang Dimas mau, ini terlalu cepat. biarkan kita bertunangan dulu" Kata Dimas, ia sangat khawatir melihat expresi wajah Zahra yang berubah murung. ia takut Zahra belum siap. ia tak mau memaksanya. karena itu bisa saja membuat gadisnya tertekan. ia takut justru nanti Zahra akan meninggalkan nya.